
Seseorang misterius itu berjubah putih panjang dan memakai tutup kepala sehingga wajahnya pun tak nampak sama sekali.
Lalu seseorang misterius itu berkata dengan lantang, menyuruh para kesatria kesatria tersebut agar menghentikan perjalanan misi yang mereka emban.
Mendengar perkataan seseorang itu, Pangeran Jatiwijaya beserta para kesatria yang lainnya segera turun dari kereta kuda mereka.
"Maaf siapa kisanak sebenarnya, kenapa tiba-tiba menghentikan laju kereta kuda kami, dan kenapa juga melarang kami untuk tidak meneruskan perjalanan mengemban misi yang selama ini kami laksanakan dengan penuh perjuangan", kata Pangeran Jatiwijaya dengan bijak dan sopan.
"Ya benar, kisanak sangat keterlaluan berani memerintahkan kami seenaknya, dan dari mana kisanak bisa tahu bahwa perjalanan kami adalah mengemban misi", Jatmiko yang ikut serta menanggapi seseorang misterius itu.
Kemudian seseorang itu menjawab bahwa dia adalah utusan dari kahyangan.
Dia diutus oleh Dewa Indra agar menghentikan para kesatria kesatria tersebut menjalankan misinya.
Sebab sebentar lagi putra mahkota suryaloka yaitu Pangeran Gunawijaya akan segera kembali dari kahyangan.
Maka dari itu Dewa Indra berpesan kepada para kesatria kesatria tersebut agar berlatih kemampuan yang mereka miliki supaya mereka semua bisa menjadi lebih hebat dari yang sekarang.
Jadi mereka para kesatria kesatria itu harus disiapkan terlebih dulu mulai sekarang untuk persiapan menghancurkan para pendekar aliran hitam suatu saat nanti.
Waktu itu Mahapatih Damarwijaya beserta para keluarga Wijaya yang lainnya juga sempat menyaksikan kejadian tersebut, karena mereka semua waktu itu memang sedang mengantarkan kepergian Pangeran Jatiwijaya beserta para rekan-rekannya tersebut, otomatis semua para anggota keluarga Wijaya tersebut menyaksikan kehadiran seseorang misterius itu.
Lalu Mahapatih Damarwijaya berkata pada putranya yaitu Pangeran Jatiwijaya, bahwa ada benarnya apa yang diomongkan oleh seseorang itu.
Saat itu Pangeran Jatiwijaya masih ragu kepada seseorang tersebut.
Maka dari itu untuk mencari tahu akan kebenaran tentang seseorang itu, Pangeran Jatiwijaya menyuruh Kedasih untuk melihat seseorang itu dengan kemampuan khususnya.
Lalu apa yang dilihat dan dirasakan oleh Kedasih, ternyata seseorang itu memiliki energi kebaikan yang luar biasa, maka dari itu Kedasih yakin bahwa seseorang itu adalah orang baik.
Kemudian untuk memperkuat keyakinannya, Kedasih dengan sangat sopan menyuruh seseorang itu membuka penutup kepalanya.
Seseorang tersebut akhirnya mau menuruti permintaan dari Kedasih.
Alangkah terkejutnya mereka semua melihat sosok seseorang itu yang membuka penutup kepalanya.
__ADS_1
Ternyata seseorang itu adalah seorang laki-laki yang sangat tampan.
Laki-laki itu adalah Pangeran Gunawijaya.
Dengan jurus kalapati yang sudah berhasil ia kuasai, kini Pangeran Gunawijaya menjelma menjadi manusia setengah dewa.
Ia bisa memanipulasi keadaan apapun dan termasuk bisa merubah suaranya, sehingga orang-orang yang disitu tidak mengenali dirinya sama sekali, apa lagi saat itu Pangeran Gunawijaya memakai jubah putih yang panjang dan memakai tutup kepala dari jubah tersebut.
Otomatis penyamaran Pangeran Gunawijaya jadi sangat sempurna.
"Kanda Pangeran Gunawijaya, apa banar, apa yang kulihat ini kanda Pangeran", kata Pangeran Jatiwijaya dengan perasaan terkejut.
"Ya dinda Jatiwijaya, kau tak salah melihat, ini aku Pangeran Gunawijaya", jawab seorang putra mahkota suryaloka.
Kemudian dengan meneteskan air mata, Kedasih hanya memandangi kedatangan Pangeran Gunawijaya.
Lalu saat Pangeran Gunawijaya menyadari hal tersebut, ia segera menghampiri Kedasih dan mengusap air matanya yang akan jatuh berlinang, sembari ia tersenyum pada Kedasih.
Kedasih pun tersipu malu dibuatnya.
Ratu Kencanawangi nampak bahagia sekali melihat putra kesayangannya telah kembali dari kahyangan.
"Sehat sahat selalu putraku, kau adalah seorang kesatria pilihan Dewata", kata Ratu Kencanawangi sembari mengecup kening putranya tersebut yaitu Pangeran Gunawijaya.
Semua orang yang berada di istana suryaloka sangat gembira dan bahagia dengan kedatangan putra mahkota suryaloka yaitu Pangeran Gunawijaya.
Kemudian Pangeran Jatiwijaya dan para rekan-rekannya tersebut tidak jadi berangkat meneruskan misi perjalanannya mengumpulkan kekuatan pendekar aliran putih, sebab Pangeran Gunawijaya melarangnya dengan alasan tersebut.
Akhirnya mereka semua berkumpul didalam istana suryaloka.
Lalu Pangeran Jatiwijaya mengenalkan pada Pangeran Gunawijaya, bahwa ada beberapa kesatria baru yang telah gabung dalam kelompoknya selama Pangeran Jatiwijaya mengemban misi.
Akhirnya ki Maung, Harun dan Marlan mereka bertiga memperkenalkan diri pada Pangeran Gunawijaya.
"Baiklah, kalian semua adalah para kesatria kesatria pilihan yang hebat, maka dari itu persiapkan diri kalian semua untuk menghadapi pertempuran maha dahsyat suatu saat nanti melawan para pendekar aliran hitam yang ditunggangi oleh begawan sakti Ludoyo yang punya niatan untuk menghancurkan tanah jawa", Pangeran Gunawijaya berkata.
__ADS_1
"Maka dari itu, mulai sekarang giatlah berlatih untuk meningkatkan kemampuan yang kalian miliki", anjuran Pangeran Gunawijaya.
Kemudian para kesatria kesatria tersebut segera melaksanakan anjuran dari seorang Pangeran Gunawijaya, untuk segera berlatih meningkatkan kemampuan mereka.
Singkat cerita, pada beberapa hari kemudian di kerajaan suryaloka, Pangeran Jatiwijaya berusaha melatih Marlan, agar Marlan bisa menyempurnakan kesakitannya yaitu jurus pukulan naga api.
Marlan sangat antusias sekali dilatih oleh Pangeran Jatiwijaya yang mengangkat dia sebagai muridnya.
Kemudian di kerajaan suryaloka, oleh Mahapatih Damarwijaya sudah di sediakan tempat yang istimewa bagi para kesatria kesatria tersebut untuk berlatih kemampuannya.
Pada saat itu, Jatmiko meminta ijin kepada ki Maung agar dia bisa diterima untuk berlatih bersama.
Ki Maung sangat mengijinkan Jatmiko jika dia ingin berlatih bersama sama, karena dengan berlatih bersama, bagi ki Maung itu malah akan mempermudah langkah mereka agar segera bisa meningkatkan kemampuan mereka masing-masing.
Waktu itu para kesatria kesatria tersebut sangat bersemangat saat berlatih kanuragan dan kesakitan mereka.
Mereka semua merasa sangat dihormati sekali di suryaloka, dan mereka sangat berterimakasih kepada Mahapatih Damarwijaya yang telah menyediakan tempat yang istimewa untuk mereka berlatih.
Pada saat itu tiba-tiba Pangeran Gunawijaya menghampiri Kedasih yang sedang berlatih sendirian.
Kedasih waktu itu nampak cantik sekali, keringat yang membasahi pipi dan keningnya membuat dia makin mempesona.
Tak disangka, Pangeran Gunawijaya mengusap keringat Kedasih yang akan jatuh menetes menggunakan sehelai kain putih yang ia bawa dari dalam istana.
Kedasih sangat terkejut dengan kejadian itu, jantungnya berdebar debar, rasa Cinta dihatinya pada Pangeran Gunawijaya semakin menggelora.
Kedasih hanya tersenyum manis saat Pangeran Gunawijaya mengusap keringatnya itu.
"Kalau kau lelah, beristirahatlah dulu Kedasih, jangan paksa dirimu", kata Pangeran Gunawijaya.
Kedasih sambil tersenyum, dia menganggukkan kepalanya dan menjawab, "sendiko Pangeran".
Saat itu para kesatria kesatria pada terbengong melihat kejadian saat Pangeran Gunawijaya sedang berduaan dengan Kedasih.
"Husss... kalian semua ini pada lihat apa sebenarnya, anggap tidak ada apa-apa, agar kalian bisa fokus berlatih", kata ki Maung.
__ADS_1
Akhirnya setelah ki Maung berkata seperti itu, para kesatria tersebut segera berlatih kembali sambil cengar cengir sehabis melihat Kedasih yang sedang berduaan bersama Pangeran Gunawijaya.