PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
30. Pertarungan yang tak terduga


__ADS_3

Beberapa saat kemudian tibalah Maha Patih Damarwijaya beserta Pangeran Gunturwijaya dimarkas keprajuritan pasukan khusus prajaloka dengan pengawalan ketat untuk menemui kanjeng abdi pranata suryaloka atau biasa dipanggil dengan sebutan Begawan Winara. Lalu Begawan Winara merasa bangga sekali dirinya kedatangan kedua tamu agung dari keluarga kerajaan, keluarga besar wijaya yaitu Maha Patih Damarwijaya beserta Pangeran Gunturwijaya. Kemudian Begawan Winara menyambutnya dengan sangat baik kedatangan mereka dimarkas keprajuritannya tersebut.


"Mari-mari, silahkan masuk Maha Patih Damarwijaya dan juga Pangeran Gunturwijaya", Sambutan Begawan Winara.


"Pasukan, cepat siapkan makanan dan minuman untuk tamu agung kita", Kata Begawan Winara.


"Sendiko kanjeng!", Jawab para pasukannya.


Kemudian bercakap-cakaplah mereka yang pada awalnya membahas tentang kesejahteraan kerajaan suryaloka dan sampai pada akhirnya Maha Patih Damarwijaya menceritakan tentang masalah pemberontakkan Adipati Burhansangkala yang telah ia ketahui kebenarannya dari Raden Mahesasangkala putra dari Adipati Burhansangkala itu sendiri dan Raden Mahesasangkala telah menceritakan tentang semua kebenaran pemberontakkan yang akan dilakukan Ayahndanya tersebut pada suryaloka.


"Maaf Maha Patih, menurut hamba keterangan dari Raden Mahesasangkala itu sangat berguna bagi kita, sebab ia adalah orang dalam dari kadipaten karang menjangan, apa lagi ia adalah putra dari yang bersangkutan yaitu Adipati Burhansangkala, jadi tujuan kita untuk menghancurkannya sangat tepat, hamba berpesan segeralah Maha Patih beri perintah penyerangan pada suryaloka untuk segera menghancurkan karang menjangan", Kata Begawan Winara.


"Ya benar Begawan Winara, memang seharusnya saya beri perintah penyerangan pada karang menjangan, tapi saya harus menunggu kedatangan Pangeran Gunawijaya dulu sebelum memberi perintah penyerangan?", jawab Maha Patih Damarwijaya.


"Kapan Pangeran Gunawijaya tiba Maha Patih, jika kita menunggu sampai tibanya Pangeran Gunawijaya yang tak tahu kapan ia datangnya, apa kita tidak malu sewaktu-waktu malah pihak penghianat yaitu karang menjangan yang malah menyerang duluan pada suryaloka, suryaloka adalah kerajaan terbesar setanah jawa, jangan sampai suryaloka dipermainkan oleh salah satu daerah kekuasaannya sendiri, jika memang ada bukti tindakkan acaman pada suryaloka, segera hancurkan, karena biar tidak jadi benalu dalam kerajaan kita ini, suryaloka", Tanggapan Begawan Winara yang berkarakter tegas keras dan berambisi, itu semua demi kedamaian dan kejayaan suryaloka.

__ADS_1


"Maaf paman Patih, menurut hamba apa yang dikatakan Begawan Winara itu ada benarnya, jika kita menunggu sampai tibanya kanda Pangeran Gunawijaya, bisa-bisa kita duluan yang diserang oleh karang menjangan, suryaloka harus bisa menjunjung tinggi harga diri paman", Kata Pangeran Gunturwijaya dengan alasan yang tepat pada pamannya yaitu Maha Patih Damarwijaya.


Akhirnya setelah mendapat saran dari Begawan Winara beserta Pangeran Gunturwijaya, Maha Patih Damarwijaya memutuskan untuk menyerang karang menjangan secepat mungkin tanpa harus menunggu kedatangan Pangeran Gunawijaya, karena harga diri suryaloka lebih penting dari segala-galanya. Apa lagi suryaloka banyak didukung oleh punggawa-punggawa hebat, jadi untuk menyerang karang menjangan terlebih dulu itu bukan jadi masalah meski tanpa menunggu kedatangan Pangeran Gunawijaya. Akhirnya setelah mendengar keputusan Maha Patih Damarwijaya, Begawan Winara segera menyiapkan bala pasukan khusus prajaloka yang siap tempur demi kejayaan suryaloka, tak ketinggalan juga kedua pendekar tangguh utusan Pangeran Gunawijaya yaitu Sanjaya dan Mandala belum lagi ada Raden Mahesasangkala yang ikut berjuang membela suryaloka meski ia adalah putra dari Adipati karang menjangan yaitu Adipati Burhansangkala. Sebab Raden Mahesasangkala tidak mendukung gerakan pemberontakkan Ayahnya karena Raden Mahesasangkala menganggapnya itu adalah hal yang salah tidak pantas untuk dibela. Dan belum lagi ditambah dengan punggawa-punggawa hebat yang lainnya, yang siap mati demi suryaloka, dengan begitu suryaloka tidak akan kehilangan tajinya dimata kerajaan-kerajaan yang lainnya.


Kemudian didaerah karang menjangan, para anak buah dan tangan kanan sesosok misterius sudah tiba dan menghadap pada penguasa karang menjangan yaitu Adipati Burhansangkala, mereka menyampaikan tawaran untuk membantu dan bersekutu untuk melancarkan aksi pemberontakkan Adipati Burhansangkala pada suryaloka. Lalu dengan situasi yang sangat menguntungkan bagi Adipati Burhansangkala, Beliau langsung menerima tawaran para pendekar aliran hitam itu untuk membantu aksinya, dan kemudian Adipati Burhansangkala bertanya kenapa sesosok misterius tidak ikut datang dalam tujuannya itu. Lalu tangan kanan sesosok misterius menjawab bahwa Beliau akan datang disaat meletusnya peperangan tersebut.


"Tapi apa ada persyaratan tertentu didalam dukungan kalian pada karang menjangan?", tanya Adipati Burhansangkala pada para pendekar aliran hitam pengikut atau anak buah sesosok misterius.


"Ampun kanjeng Adipati, Beliau sesosok misterius tidak meminta imbalan apapun dalam tujuannya ini", kata tangan kanan sesosok misterius.


Disisi lain Pangeran Gunawijaya beserta pengawalnya yang sedang perjalanan menuju kesuryaloka, tiba-tiba mereka dihadang oleh segerombolan pendekar aliran hitam suruhan dari sesosok misterius untuk membunuh Pangeran Gunawijaya, sebab ia adalah putra mahkota suryaloka, calon Raja suryaloka, jadi ia wajib dibunuh, karena itu adalah salah satu dari misi sesosok misterius untuk membunuh semua Raja-Raja tanah jawa biar mereka tidak menghalangi tujuannya untuk menghancurkan tanah jawa. Apa lagi sesosok misterius itu tahu bahwa Pangeran Gunawijayalah yang diberi tugas oleh Nyi Roro Kidul untuk menyatukan para kekuatan aliran putih guna untuk memerangi sesosok misterius beserta pengikutnya yaitu para kekuatan aliran hitam yang akan menghancurkan tanah jawa. Maka dari itu sesosok misterius menginginkan Pangeran Gunawijaya mati terlebih dulu, dengan cara apapun ia harus dihabisi secepatnya.


"Maaf Pangeran, Hamba merasakan ada hawa jahat sedang mendekat pada kita?", Kata Kedasih pada Pangeran Gunawijaya, Kedasih merasakan hawa jahat dengan menggunakan jurus rahasia milik keluarganya.


"Berapa jumlah mereka Kedasih?", Kata Pangeran Gunawijaya yang sangat penasaran.

__ADS_1


"Sangat banyak Pangeran, sekitar kurang lebih lima puluh orang jumlahnya", Jawab Kedasih.


"Baiklah, siapkan diri kalian semua, kita akan segera kedatangan tamu tak diundang!", Kata Pangeran Gunawijaya dengan bersiap diri.


Kemudian Pangeran Gunawijaya menyuruh para pengawalnya untuk mempercepat laju kudanya, itu semua bukan karena takut, tapi Pangeran Gunawijaya mencari tempat yang pas untuk menghadapi mereka semua yang sedang memburunya. Para pendekar aliran hitam itu semakin dekat dengan Pangeran Gunawijaya beserta pengawalnya, tapi Pangeran Gunawijaya beserta pengawalnya sudah siap menghadapi mereka semua.


Kemudian Pangeran Gunawijaya memberi isyarat dengan mengangkat tangannya?


"Berhenti semua, kita tunggu kedatangan mereka disini, karena tempat ini cocok untuk menghadapi mereka".


"Ampun Pangeran, biar kami saja nanti yang menghadapi mereka semua, Pangeran tidak usah repot-repot turun tangan untuk menghadapinya", kata senopati Balawarman dengan penuh semangat akan pertarungan yang akan ia hadapi.


"Baiklah senopati, masalah ini ku serahkan pada kalian semua", jawab Pangeran Gunawijaya.


"Sendiko Pangeran!", kata mereka semua dengan serempak.

__ADS_1


Tak lama kemudian datanglah mereka semua para pendekar aliran hitam yang sedang memburu Pangeran Gunawijaya.


__ADS_2