PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
61. Keputusan ki Maung


__ADS_3

Beberapa hari kemudian ki Maung yang tinggal ditengah hutan giritunggal bersama para warganya, dia berencana akan mencari tahu tentang kedua anaknya yang hilang beberapa tahun yang lalu, kabar terakhir yang dia ketahui dari Pangeran Sutabirawan bahwa kedua anaknya tersebut pernah ia dengar berada di daerah suryaloka.


Akhirnya ki Maung berangkat menuju suryaloka beserta kedua pengawalnya yang bernama Harun dan Untung.


Kedua pengawal ki Maung tersebut adalah murid terbaiknya selama ini, mereka sangat setia pada gurunya yaitu ki Maung, kemanapun ki Maung pergi mereka berdua selalu mengawalnya.


Ki Maung bertubuh kurus tua brewok dan berjenggot panjang, sedangkan kedua pengawalnya tersebut yaitu Harun dan Untung masih muda dan gagah.


Perjalanan ki Maung ke suryaloka sangat lancar dan tanpa hambatan, mereka saat itu tiba didesa sentong di daerah giriseta pecahan dari daerah giritunggal.


Mereka bertiga yaitu ki Maung beserta kedua pengawalnya Harun dan Untung sedang beristirahat disebuah gubuk tua didekat persawahan didesa sentong. Sambil melepas lelah sore itu mereka bertiga menikmati indahnya pemandangan persawahan didesa tersebut.


Mereka sambil membakar singkong hasil pemberian warga sekitar, lumayanlah karena singkong itu bisa membuat mereka kenyang yang tadinya mereka bertiga merasa lapar.


"Permisi ki sanak, maaf mengganggu, kalau boleh tahu kalian bertiga dari mana dan mau kemana, sebab kalian bertiga sepertinya bukan orang sini", kata seorang pak petani yang memberi singkong pada mereka bertiga yaitu ki Maung, Harun dan Untung.


"Kami tidak merasa terganggu sama sekali dengan kehadiran bapak, justru kami lah yang sangat berterimakasih pada bapak karena sudah memberikan kami singkong untuk bisa kami makan, memang benar kami bertiga bukan orang sini, kami dari giritunggal mau perjalanan ke suryaloka", jawab ki Maung pada petani tersebut.


Kemudian pak petani itu menawarkan pada mereka bertiga agar mau bersinggah dirumahnya karena haripun juga sudah mulai gelap, alangkah baiknya jika mereka bertiga mau menginap semalam dirumah nya, sebab mereka tidak sedang terburu-buru untuk pergi ke suryaloka.

__ADS_1


Akhirnya ki Maung menerima tawaran tersebut karena menghormati kebaikan bapak petani itu, lalu setibanya di rumah petani tersebut ternyata rumahnya lumayan besar. Mereka bertiga disambut dengan baik oleh istri dan kedua anaknya dari pak petani tersebut.


Oya nama dari pak petani itu ialah pak Subur, istrinya bernama buk Jum dan kedua anaknya itu bernama Murni dan Marno kakak beradik perempuan dan laki-laki.


"Buk buk, tolong siapkan makanan untuk tamu kita ini", kata pak Subur.


"Ya pak, saya akan segera siapkan makanan tersebut untuk para tamu kita", jawab buk Jum.


Setelah makanan sudah siap, pak Subur sekeluarga beserta para tamunya yaitu ki Maung, Harun dan juga Untung akhirnya menikmati hidangan makan malam tersebut. Waktu itu suasana sangat ceria sekali, mereka semua makan bersama penuh kehangatan.


Sambil mengobrol kecil-kecilan, tiba-tiba pak Subur segera menyuruh putrinya yang masih remaja yaitu Murni untuk segera bersembunyi didalam bunker atau ruang bawah tanah yang sudah disiapkan oleh pak Subur.


"Maaf, kenapa pak Subur menyuruh neng Murni untuk segera bersembunyi, sedangkan dia masih makan, ada apa sebenarnya ini pak?", tanya ki Maung yang sangat penasaran akan hal itu.


Kemudian saat pak Subur akan menjelaskan hal tersebut, tiba-tiba pintu rumah pak Subur didobrak paksa oleh orang-orang suruhan pak Ujang.


Orang orang tersebut memaksa masuk kerumah pak Subur dan akan membawa Murni untuk segera diserahkan kepada pak Ujang. Rumah pak Subur digeledah habis habisan oleh orang orang tersebut, tapi mereka tak kunjung menemukan Murni anak gadis pak Subur.


Lalu ki Maung yang menyaksikan hal itu dia tak kuasa melihatnya, hilanglah kesabaran ki Maung atas ulah orang orang itu, akhirnya kesepuluh orang orang tersebut lari tunggang langgang, karena telah dihajar habis-habisan oleh ki Maung beserta pengawalnya yaitu Harun dan Untung.

__ADS_1


Akhirnya setelah kesepuluh orang orang tersebut pergi, pak Subur menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi didesa tersebut yaitu didesa sentong.


Pak Ujang sebenarnya adalah kepala desa kampung tersebut, dia mempunyai kebiasaan yang tak manusiawi. Setiap tiga hari sekali dia harus meniduri gadis gadis didesanya itu untuk sebuah ritual agar dia semakin kaya dan sakti. Selama ini tidak ada yang berani melawannya karena dia berilmu tinggi dan juga memiliki banyak anak buah, maka dari itu warga desa sentong selalu pasrah jika anak gadisnya sudah waktunya untuk melayani napsu bejatnya pak Ujang dalam waktu tiga hari sekali secara bergiliran.


Dan pada saat ini pas gilirannya anak gadis pak Subur yang bernama Murni yang harus melayani napsu bejatnya pak Ujang. Jadi semua anak gadis didesa sentong yang sudah remaja, kini mereka semua sudah tak perawan lagi karena ulah pak Ujang yang selalu menidurinya tiap tiga hari sekali.


Kejadian tersebut sudah lama sekali dilakukan oleh pak Ujang, dan banyak dari para gadis-gadis itu sampai melahirkan anak-anak hasil hubungannya dengan pak Ujang selama ini.


Tapi jika para gadis-gadis itu baru saja melahirkan, bayi bayi hasil hubungannya dengan pak Ujang harus langsung diserahkan padanya yaitu pak Ujang untuk dijadikan tumbal pesugihan.


Jika ada para warga yang menentang, pak Ujang tak segan-segan untuk membunuh dan juga menghabisi seluruh keluarganya tanpa tersisa satupun.


Maka dari itu tak ada satupun dari para warga yang berani menentang pak Ujang dari tujuannya yang selalu meniduri anak-anak gadis mereka selama ini.


Dan baru kali ini pak Subur lah satu-satunya warga yang berani menentang pak Ujang, dengan cara menyembunyikan anak gadisnya yang bernama Murni didalam ruangan bawah tanah atau bisa dibilang bunker.


Itu semua dilakukan pak Subur karena dia sangat menyayangi anak gadisnya tersebut, maka dari itu dia siap mati demi kebebasan anak gadis itu dari cengkraman durjana macam pak Ujang, dan pak Subur pun yakin bahwa suatu saat nanti pasti akan ada dewa penolong bagi penderitaan para warga desa sentong.


"Sepertinya kita harus menunda kepergian kita ke suryaloka, sebab ada tujuan yang lebih mulya dari tujuan kita tersebut yaitu membebaskan kegelapan yang dialami warga desa ini dari kejahatan tersebut", kata ki Maung pada kedua pengawalnya.

__ADS_1


Dan kedua pengawalnya tersebut sangat menyetujui keputusan gurunya yaitu ki Maung, sebab hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena kekejaman ini sudah melampaui batas kemanusiaan dan harus segera dihancurkan dengan cara apapun.


__ADS_2