PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
38. Kisah kedua senopati


__ADS_3

Lalu senopati Sandiaga jabatannya sebagai ketua pasukan khusus prajaloka dari kerajaan suryaloka, dan sedangkan senopati Barda sebagai ketua pasukan khusus garda sura dari kadipaten karang menjangan, sebenarnya mereka berdua adalah prajurit senior yang paling berbakat sehingga mereka berdua diangkat sebagai senopati oleh junjungan mereka masing-masing didalam pemerintahannya, dan pada akhirnya mereka masing masing ditunjuk sebagai ketua didalam kesatuan kedua kubu pasukan khusus tersebut.


Senopati Sandiaga dari kubu suryaloka sebenarnya adalah sahabat karip dari senopati Barda dari kubu karang menjangan.


Mereka berdua waktu kecil sudah hidup sendirian tanpa keluarga dan mereka berdua hidup dijalanan, untuk mencari makanpun mereka berdua harus mengharap belas kasihan dari para warga atau penduduk sekitar, kadang kala banyak warga yang tidak memberikan apa-apa pada mereka berdua karena mereka berdua dianggap sebagai anak iblis, sebab diwaktu-waktu tertentu kadang mereka berdua berubah wujud menjadi manusia harimau yang suka mengamuk tanpa terkendali.


Entah dari mana asal usul kedua anak itu, para warga tidak ada yang mengetahuinya karena kedua anak itu suka berpindah-pindah tempat sebab mereka sering diusir dari perkampungan karena keanehannya itu.


Maka dari itu untuk mencari makan kadang kala mereka berdua harus mencuri untuk bertahan hidup.


Dan pada akhirnya tibalah mereka berdua di salah satu perkampungan suryaloka.


Pada saat itu mereka berdua yaitu Sandiaga kecil dan Barda kecil sedang meminta-minta disetiap rumah warga, dan ternyata masih ada saja warga yang tidak suka memandang dirinya, lalu warga itu mengusir mereka dari rumahnya.


"Pergi kau anak kecil, jangan meminta-minta disini lagi!", kata seseorang yang mengusir mereka berdua yaitu Sandiaga kecil dan Barda kecil, bukan hanya mengusir, orang itu juga menampar dan menendang mereka berdua hingga mereka terpental jatuh kejalanan.


Dengan perlakuan kasar seseorang tersebut, seketika itu Sandiaga kecil beserta Barda kecil berubah wujud menjadi sesosok manusia harimau karena amarah mereka berdua telah tersulut keluar karena teraniaya oleh seseorang yang menampar dan menendangnya itu.


Disaat mereka berdua berubah menjadi manusia harimau, mereka mengamuk diperkampungan dan telah membunuh seseorang yang telah menganiayanya.

__ADS_1


Para warga kampungpun pada ketakutan oleh kebringasan kedua anak itu yang telah berubah menjadi manusia harimau.


Banyak rumah yang hancur dan banyak juga para warga yang terluka akibat amukan Sandiaga kecil dan Barda kecil yang telah berubah menjadi manusia harimau.


Tak disangka saat Sandiaga kecil dan Barda kecil mengamuk diperkampungan, datanglah begawan Winara beserta kawannya yaitu senopati Baskoro yang kebetulan sedang melintas diperkampungan tersebut.


Mereka berdua adalah punggawa hebat suryaloka yang sangat disegani dan ditakuti oleh para punggawa-punggawa suryaloka yang lainnya karena begawan Winara dan senopati Baskoro sangat terkenal akan kesaktiaannya.


Lalu begawan Winara dan senopati Baskoro yang tiba-tiba datang diperkempungan itu, dan melihat kerusuhan yang dilakukan oleh Sandiaga kecil dan Barda kecil yang telah berubah menjadi manusia harimau, akhirnya begawan Winara dan senopati Baskoro mengatasi kedua anak aneh tersebut dengan kesaktian mereka.


Akhirnya dengan cepat kedua anak itu dapat dilumpuhkan oleh begawan Winara beserta senopati Baskoro, wargapun nampak senang karena manusia harimau itu sudah dikalahkan.


Setelah itu begawan Winara dan senopati Baskoro membawa kedua anak itu pergi dari kampung tersebut.


"Wahai kawanku senopati Baskoro, saya melihat ada kekuatan terpendam dalam diri kedua bocah ini, hal yang istimewa darinya adalah perubahan wujudnya menjadi manusia harimau, maka dari itu saya punya niatan untuk merawat bocah-bocah ini supaya kelak mereka menjadi pendekar tangguh, saya ingin menyempurnakan kekuatan terpendamnya agar mereka bisa mengendalikan kekuatannya itu dengan sempurna", kata begawan Winara pada kawan baiknya yaitu senopati Baskoro.


Lalu senopati Baskoro menjawab?


"Melihat keistimewaan bocah-bocah ini sayapun juga berniat untuk mendidiknya supaya kelak dia bisa jadi pribadi yang tangguh, maka dari itu saya mohon izin untuk membawa salah satu dari bocah ini, karena saya akan mendidiknya karang menjangan".

__ADS_1


Akhirnya dari hasil percakapan itu begawan Winara membawa salah satu bocah itu yang bernama Sandiaga dan sedangkan senopati Baskoro membawa bocah yang bernama Barda. Kemudian mereka berdua dididik disebuah organisasi keprajuritan pasukan khusus oleh kedua pembesar kerajaan tersebut, Sandiaga kecil dididik di organisasi pasukan khusus prajaloka yang dibawah kepemimpinan begawan Winara dan bertempat dipusat yaitu di kerajaan suryaloka.


Sedangkan Barda kecil dididik di organisasi keprajuritan pasukan khusus garda sura yang dibawah kepemimpinan senopati Baskoro dan bertempat di kadipaten karang menjangan yang berada dibawah kekuasaan kerajaan suryaloka. Pada akhirnya mereka berdua yaitu Sandiaga kecil dan Barda kecil tumbuh menjadi seorang pemuda yang tangguh berkat didikkan dari kedua organisasi pasukan khusus tersebut, dan pada akhirnya mereka lulus sebagai pasukan khusus paling berbakat dan diberilah mereka berdua jabatan sebagai seorang senopati didalam pemerintahan masing-masing, Sandiaga mengabdi sebagai seorang senopati dikerajaan suryaloka sedangkan Barda mengabdi sebagai senopati dikadipaten karang menjangan daerah bawahan kerajaan suryaloka. Tapi pada akhirnya mereka berdua sebagai senopati harus saling berhadapan dimedan perang membela pemerintahan masing-masing yang telah membesarkan dirinya.


Kemudian dimedan perang, senopati Sandiaga yang berhadapan dengan senopati Barda berkata bahwa kita sekarang bukan sahabat melainkan musuh. Lalu senopati Barda menjawab, memang ini sudah takdir, dulu kita susah senang bersama sekarang kita harus saling membunuh satu sama lain. Akhirnya sehabis percakapan itu bertarunglah kedua senopati hebat tersebut yaitu senopati Sandiaga melawan senopati Barda, seketika itu mereka berdua berubah menjadi manusia harimau dan bertarung menggunakan kekuatannya satu sama lain, mereka berdua saling serang dengan kemampuannya, wujud mereka yang telah berubah menjadi manusia harimau mempunyai keistimewaan yaitu kebal terhadap senjata dan memiliki kekuatan tujuh kali lipat dari kekuatan harimau sesungguhnya dan mempunyai cakar yang sangat tajam seperti pedang yang bisa merobek tubuh seseorang dan bisa menghancurkan sebongkah batu besar hanya dengan sekali cakar karena cakar mereka sangat kuat bagai baja yang tak bisa terpatahkan. Pertarungan mereka sangat sengit, sampai-sampai para prajurit dari kedua kubu suryaloka dan karang menjangan yang bertarung didekatnya sangat ketakutan melihat pertarungan senopati Sandiaga melawan senopati Barda yang telah berubah wujud manjadi manusia harimau.


Kemudian para pendekar aliran hitam yang berperang melawan pihak suryaloka, mereka semua terdesak oleh para prajurit suryaloka yang sangat hebat. Lalu pertarungan senopati Kolomonggo yang bertarung melawan Raden Mahesasangkala yang dibantu oleh kedua pendekar hebat Sanjaya dan Mandala, dia sangat kuwalahan melawan ketiga punggawa suryaloka tersebut, tapi meski sendirian senopati Kolomongo masih bisa mendesak ketiga punggawa suryaloka tersebut karena senopati Kolomonggo adalah seorang kesatria tangguh se karang menjangan, dia mahir dalam urusan peperangan, apa lagi dia juga terkenal hebat dalam urusan bela diri, meski dia tertekan tapi dia pandai mencari cara untuk memperbalik mendesak lawannya.


Raden Mahesasangkala tak mudah menyerah begitu saja melawan senopati Kolomonggo, akhirnya kedua pendekar hebat itu Sanjaya dan Mandala mengeluarkan senjatanya yaitu kujang kembar milik Sanjaya dan belati kembar milik Mandala, sedangkan Raden Mehesasangkala mengeluarkan pedangnya untuk menghadapi senopati Kolomonggo yang bersenjatakan sebilah keris pusaka Haryamurti warisan mendiang Ayahnya yaitu senopati Baskoro kawan baik dari begawan Winara. Kesaktian keris pusaka haryamurti ialah bisa menyerap cakra atau tenaga dalam lawannya jika terkena goresannya.


"Sanjaya, Mandala, berhati-hatilah dengan keris pusaka senopati Kolomonggo, itu adalah keris haryamurti yang bisa menyerap tenaga dalam jika mengenai lawannya", kata Raden Mahesasangkala dengan perasaan was-was akan pusaka yang dimiliki senopati Kolomonggo.


Akhirnya senopati Kolomonggo menggandakan wujudnya menjadi tiga bagian dengan menggunakan ajian bolo sewu untuk mengimbangi pertarungan yang dia hadapi melawan ketiga punggawa suryaloka yaitu Raden Mahesasangkala, Sanjaya dan Mandala. Dan dari setiap bagian wujud senopati Kolomonggo, masing-masing dari ketiga wujudnya itu juga membawa keris pusaka haryamurti. Kemudian Maha Patih Damarwijaya beserta Pangeran Gunturwijaya mereka berdua bertarung melawan sesosok misterius.


"He kau!, kalau kulihat dari ciri-cirimu pasti kau adalah sesosok misterius yang akan menghancurkan tanah jawa, maka dari itu aku Maha Patih Damarwijaya dengan Pangeran Gunturwijaya akan segera menghabisimu dimedan perang ini", Maha Patih Damarwijaya dengan penuh keyakinan yang tinggi.


"Sombong kau Damarwijaya, baiklah kalau begitu hadapi aku!", kata sesosok misterius yang wujudnya masih tertutup kabut hitam.


Akhirnya bertarunglah sesosok misterius menghadapi kesatria tangguh suryaloka yaitu Maha Patih Damarwijaya beserta Pangeran Gunturwijaya. Adu bela diripun tak terkelakkan, Maha Patih Damarwijaya beserta Pangeran Gunturwijaya menggempur habis-habisan sesosok misterius dengan keahlian bela diri mereka berdua, tapi sesosok misterius dapat dengan mudah mengimbangi gempuran jurus-jurus bela diri mereka berdua yaitu Maha Patih Damarwijaya beserta Pangeran Gunturwijaya, karena sesosok misterius adalah seorang sakti mandraguna, ia tidak mudah dikalahkan begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2