PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
166. Binasanya senopati bala marwan


__ADS_3

Tapi tiba-tiba Pangeran Jati Wijaya terkena hantaman dari elemen pasir emas milik Maharaja Sabda Wijaya.


Pasir emas itu membentuk sebuah kepalan tangan yang sangat keras, dan menghantam Pangeran Jati Wijaya hingga dirinya tak berkutik.


Karena kepalan tangan dari elemen pasir emas itu sangat besar sekali.


Dan waktu itu Pangeran Jati Wijaya tak sempat menghindar dari serangan tersebut.


Ternyata Maharaja Sabda Wijaya bisa mengendalikan kekuatan elemennya, hanya dengan mengendalikan pikirannya saja.


Meskipun tubuh Maharaja Sabda Wijaya telah terlilit oleh seekor ular besar, tapi hal itu ternyata tidak mempengaruhi kehebatannya.


"sial, Serangan itu membuat tubuhku sepertiku seperti lumpuh, ternyata kakekku sungguh hebat sekali, kukira dengan seranganku dia sudah tak berkutik, tapi nyatanya aku yang dibuat tak berkutik", kata pangeran jati wijaya.


Melihat kejadian tersebut, Mahapatih Damar Wijaya segera bergegas untuk membantu dan menolong putranya, yaitu Pangeran Jati Wijaya.


Tapi apa daya, niat hati ingin membantu dan menolong putranya tersebut, Mahapatih Damar Wijaya malah dihadang oleh Maharaja Arya Wijaya.


Lalu terjadilah pertarungan mereka berdua, kedua Kesatria pengendali lima elemen alam, yaitu Mahapatih Damar Wijaya dan Maharaja Arya Wijaya.


Tak beberapa lama kemudian, datanglah kedua Senopati tersebut, bala warman dan bala Marwan, segera membantu Mahapatih Damar Wijaya melawan Maharaja Arya Wijaya.


"Gusti Mahapatih Damar Wijaya, segera bantulah putramu tersebut, biar kami yang akan menghadapi Maharaja Arya Wijaya", kata Senopati bala Warman.


Kemudian Mahapatih Damar Wijaya segera bergegas untuk membantu dan menolong putranya tersebut.


Ternyata elemen pasir emas dari Maharaja Sabda Wijaya, bukan cuman sebagai senjata penghancur tapi juga bisa menyerap Cakra lawannya.


Maka dari itu Pangeran Jati Wijaya setelah terkena serangan mutlak, dari elemen pasir emas tersebut, kini dirinya lemas tak berdaya, seakan lumpuh rasanya.


Sebab hal itu dikarenakan, Cakra dari Pangeran Jati Wijaya sudah terserap habis akibat Serangan tersebut.


"aku sering kehabisan Cakra, tapi rasanya tidak pernah seperti ini, jika aku harus mati, setidaknya aku sudah ikut berjuang sampai titik darah penghabisan dalam pertempuran ini", Pangeran Jati Wijaya berkata dalam hatinya.


Kemudian Maharaja Sabda Wijaya, akan memberikan serangan terakhir kepada Pangeran Jati Wijaya, yang sudah tidak berdaya.


Maharaja Sabda Wijaya menggunakan kekuatan elemen pasir emasnya kembali, untuk menghabisi Pangeran Jati Wijaya.


Elemen pasir emas itu sudah membentuk kepalan tangan yang begitu besar, tepat di atas pangeran jati wijaya yang sudah tak berdaya karena kehabisan Cakra.


Saat itu Pangeran Jati Wijaya sudah kembali kau wujud manusianya.

__ADS_1


Lalu dengan cepat elemen pasir emas tersebut menghantam Pangeran Jati Wijaya dengan begitu keras.


Seketika itu dentuman suara dari elemen pasir emas tersebut menggelegar dengan kencang.


"Apakah aku sudah mati, tapi kenapa aku masih merasakan detak jantungku", kata Pangeran Jati Wijaya dari dalam hatinya, sembari dia menutup matanya.


Tapi saat Pangeran jati wijaya pelan-pelan membuka matanya, tiba-tiba dia melihat kubah kristal yang melindunginya.


Ternyata Mahapatih Damar Wijaya tidak terlambat menolong putranya tersebut.


"Mandala, cepat kau selamatkan Putraku, Pangeran Jati Wijaya", perintah Mahapatih Damar Wijaya.


"sendiko Gusti Mahapatih", Mandala menjawabnya.


Lalu dengan jurus teleportasinya, Mandala membawa pangeran Jati Wijaya pergi dari tempat tersebut.


"Saya rasa tempat ini Aman pangeran", kata Mandala yang membawa pangeran Jati Wijaya menjauh dari medan perang.


"Mandala tolong cepat sembuhkan diriku, agar aku bisa secepatnya kembali ke medan perang", kata Pangeran Jati Wijaya.


Kemudian Mandala segera memulai proses penyembuhan tersebut.


Meskipun tidak sehebat Sanjaya dalam ilmu pengobatan, tapi setidaknya Mandala sangat menguasai ilmu pengobatan tersebut.


Lalu di Medan perang para Ksatria yang menghadapi para raja-raja yang telah dibangkitkan tersebut, sepertinya mereka para Ksatria sedang kewalahan untuk menghadapinya.


Kedua Senopati bala warman dan bala Marwan, mereka bertarung menghadapi Maharaja Arya Wijaya.


Entah kenapa Maharaja Arya Wijaya kini menjadi lebih kuat, setelah dia bangkit dari kekalahannya.


Ajian birawa Sakti milik kedua Senopati tersebut, sudah tak mampu menandingi kekuatan Maharaja Arya Wijaya.


Lalu kedua Senopati itu dihajar habis-habisan oleh Maharaja Arya Wijaya.


Dengan kekuatan seribu gajahnya, Maharaja Arya Wijaya berhasil menumbangkan kedua Senopati itu.


Tapi untung saja kedua Senopati tersebut bukanlah seorang manusia, Mereka berdua adalah bangsa jin yang menyerupai manusia.


Sebab kedua Senopati itu, adalah tangan kanan Nyi Roro Kidul.


Tapi Maharaja Arya Wijaya tahu bagaimana cara untuk membinasakan kedua Senopati tersebut.

__ADS_1


Ternyata tanpa disadari oleh kedua Senopati tersebut, Maharaja Arya Wijaya mengeluarkan kekuatan elemen api hitam.


Elemen api hitam adalah sumber kekuatan dari elemen api, apapun bisa di bumi hanguskan oleh api hitam tersebut.


"Percuma saja kau menggunakan elemen api untuk menyerang kami, sebab kami tak akan bisa mati oleh serangan kekuatan elemenmu Maharaja Arya Wijaya", kata Senopati bala Marwan.


Tapi Senopati bala warman sangat terkejut, melihat Maharaja Arya Wijaya bisa mengeluarkan kekuatan elemen api yang sangat legendaris tersebut, yaitu elemen api hitam.


"Ternyata legenda api hitam itu benar-benar ada, sungguh mengerikan sekali api tersebut", Senopati bala Warman berkata dalam hatinya dengan rasa was-was.


"Kanda bala Warman, Kenapa kau terlihat cemas dan panik sekali", tanya adiknya tersebut, yaitu Senopati bala Marwan.


Sebelum Senopati bala Warman sempat menjawab pertanyaan adiknya tersebut, tiba-tiba Maharaja Arya Wijaya menyerang Senopati bala Marwan atau adik dari Senopati bala Warman, menggunakan kekuatan elemen api hitam.


Mengetahui adiknya tersebut akan diserang menggunakan kekuatan elemen api hitam, Senopati bala Warman segera berlari untuk menyelamatkan adiknya tersebut.


Senopati bala Warman akan menggunakan tubuhnya untuk membentengi atau melindungi adiknya tersebut, yaitu Senopati bala Marwan.


Serangan dari api hitam itu sangat cepat sekali, sehingga membuat Senopati bala Marwan tak sempat bisa menghindarinya.


Tapi sebelum api hitam itu mengenainya, dengan sangat cepat Senopati bala Marwan, menggunakan ajian Bayu bajra untuk membuat kakaknya yaitu Senopati bala Warman terpental.


Tujuan dari Senopati bala Marwan, menyerang Kakaknya sendiri menggunakan ajian tersebut, agar supaya kakaknya yaitu Senopati bala warman gagal tidak bisa melindungi Senopati bala Marwan atau adiknya tersebut.


Ternyata Senopati bala Marwan tahu juga tentang legenda api hitam tersebut, yang bisa membinasakan bangsa jin maupun bangsa siluman.


Dia berkata sedemikian karena untuk menghibur diri sebelum ajalnya tiba.


Setelah itu Boom!! api hitam tersebut mengenai dan menyambar Senopati bala Marwan.


Tak perlu menunggu lama, tubuh Senopati bala Marwan langsung lebur dan sirna begitu saja, akibat terkena api hitam tersebut.


"Dinda bala Marwan.....!!!", teriak Senopati bala Warman.


Melihat kematian adiknya tersebut, Senopati bala Warman sangat murka.


Dia segera menyerang Maharaja Arya Wijaya, dengan kekuatan yang tersisa.


Tapi setiap serangan dari Senopati bala Warman yang menggunakan aji Birawa Sakti, dapat dengan mudah dipatahkan oleh Maharaja Arya Wijaya.


Pertarungan tersebut terus berlanjut dengan penuh ketegangan.

__ADS_1


Akankah pertarungan ini akan cepat berlalu atau sebaliknya.


Tapi yang jelas para Ksatria tak akan pernah menyerah begitu saja, meski nyawa sebagai taruhannya.


__ADS_2