PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
156. Pedang legendaris


__ADS_3

Tak lama kemudian saat para Ksatria tersebut merasa sudah kehabisan cara untuk membunuh naga itu, tiba-tiba Begawan Sakti Ludoyo muncul di atas kepala naga tersebut.


Lalu Begawan itu menertawai para Ksatria, Dan Dia berkata, jika hanya melawan hewan peliharaannya saja yaitu naga api, para Ksatria nggak mampu, Jangan harap para Ksatria bisa mengalahkan dirinya, kata Begawan Sakti Ludoyo.


Saat itu para Ksatria juga tidak menduga, bahwa naga itu ternyata adalah hewan peliharaannya Begawan tersebut.


Padahal para Ksatria menduga bahwa naga api itu adalah jelmaan dari Begawan tersebut, tapi nyatanya hanya sekedar peliharaannya saja.


Otomatis tugas para Ksatria sekarang ini semakin berat, karena selain menghadapi Begawan Sakti Ludoyo yang ternyata masih hidup, mereka juga harus menghadapi naga api itu.


Tiba-tiba pada saat genting, muncul sebuah suara tapi yang mendengar hanya Pangeran Guna Wijaya saja.


"pangeran, segera kau Satukan tanduk naga yang telah kau patahkan itu, dengan pusakamu yaitu pedang Mustika biru, dan segera bunuh naga itu secepatnya", kata suara tersebut kepada Pangeran Guna Wijaya.


Ternyata tanpa diduga suara itu adalah suara dari Dewa Indra.


Dewa Indra sengaja memberi petunjuk kepada Pangeran Guna Wijaya, agar Pangeran Guna Wijaya dapat dengan mudah memberantas kejahatan yang telah terjadi di tanah Jawa secepatnya.


Kemudian Pangeran Guna Wijaya yang masih dalam wujud raksasa merah, Dia segera melaksanakan perintah dari sang Dewa tersebut.


Saat Pangeran Guna Wijaya menyatukan tanduk naga api dan pedang Mustika biru, langit pun seketika berubah menjadi gelap, dan gemuruh petir pun mulai terdengar, anginpun bertiup kencang dan sambaran kilat pun mulai nampak di atas langit yang gelap dan mencekam tersebut.


"para Ksatria segera kita bersiap untuk membantu kanda Pangeran Guna Wijaya", kata Pangeran Guntur Wijaya.


"sendiko pangeran", jawab para Ksatria tersebut dengan serempak.


Saat tanduk dan pedang Mustika biru menyatu, pedang tersebut menyala-nyala keluar api di setiap bagian atau sisinya.


Dan pedang Itu otomatis ukurannya menyesuaikan dengan siapa pedang itu dipegang.


Saat pedang itu sudah siap, dengan berteriak Pangeran Guna Wijaya mengangkat pedang itu ke atas.


Seketika itu kekuatan petir menyambar ke arah pedang tersebut, seolah-olah memberi daya kekuatan dari langit.

__ADS_1


Dengan penyatuan tersebut berubahlah pedang Mustika biru menjadi pedang naga api.


"ini tidak mungkin, ternyata pedang legendaris yang kucari selama ini, adalah penyatuan dari tanduk naga api dan pedang Mustika biru", kata Begawan Sakti Ludoyo.


Melihat pedang tersebut Begawan Sakti Ludoyo raut wajahnya nampak ketakutan.


Sebab Begawan Sakti Ludoyo tahu bahwa pedang legendaris itu, kekuatannya setara dengan Trisula Dewa Siwa atau Mahadewa.


Lalu salah satu dari Ksatria tersebut, yaitu Adipati mukas barada, mencoba menggunakan kekuatan Spesialnya, yaitu jurus pemindah pikiran.


Adipati Mukas barada sengaja akan memindahkan pikirannya ke dalam pikiran naga tersebut, tujuannya agar naga itu dapat dikuasainya walau hanya dalam waktu beberapa detik saja, sebab Adipati mukas barada tidak mungkin bisa menguasai pikiran makhluk sebesar itu dengan durasi waktu yang lama.


Sedangkan para Ksatria yang lainnya selain Pangeran Guna Wijaya, mereka akan mengalihkan perhatian Begawan Sakti Ludoyo.


Kemudian Adipati mukas barada sudah bersiap akan memindahkan pikirannya kepada naga itu.


Adipati mukas barada segera duduk bersila dan mengarahkan kedua tangannya, dengan menyatukan kedua ibu jari dan kedua jari telunjuknya, sehingga membentuk simbol segitiga yang gunanya untuk membidik sasarannya, Iya itu naga api.


Singkat cerita, saat rencana tersebut sudah dijalankan, naga api sudah terkuasai pikirannya oleh Adipati mukas barada, dan Begawan Sakti Ludoyo sudah teralihkan perhatiannya oleh para Ksatria yang lainnya.


Lalu dengan cepat Pangeran Guna Wijaya yang berwujud raksasa merah, dan membawa pedang pusaka legendaris yaitu pedang naga api, Dia segera melompat setinggi-tingginya untuk memenggal kepala naga tersebut.


Tak Butuh waktu lama dan sesuai dengan yang direncanakan, Pangeran Guna Wijaya berhasil memenggal kepala naga api itu.


Tapi kala itu sebelum kepala naga api itu terpenggal, Adipati mukas barada segera menormalkan kembali jurus pemindah pikirannya, sehingga saat pedang naga api itu hampir menyentuh kepala dari naga tersebut, Adipati mukas barada sudah mengembalikan pikirannya ke dalam dirinya sendiri dengan sangat cepat.


Akhirnya naga api tersebut tewas terpenggal kepalanya, dan tubuhnya pun beserta kepalanya hangus terbakar, sebab itu semua pengaruh dari kekuatan pedang naga api.


Jadi pedang naga api bukan cuma memenggal kepala naga tersebut, tapi sekaligus juga membakar seluruh tubuhnya beserta kepalanya yang putus akibat terpenggal.


"kurang ajaaaar... !!!", emosi Begawan Sakti Ludoyo meluap-luap, karena melihat hewan peliharaannya yaitu naga api telah terbunuh.


Kemudian dengan sangat mudah Begawan Sakti Ludoyo yang memiliki jurus kala murka, menghajar satu persatu para Ksatria yang telah memperalihkan perhatiannya terhadap hewan peliharaannya tersebut.

__ADS_1


Lalu Pangeran Guna Wijaya yang sudah kembali kepada wujud manusianya, Dia segera menolong para Ksatria itu dari amukan Begawan Sakti Ludoyo.


Tanpa disadari, pangeran guna wijaya yang masih memegang pedang legendaris tersebut, dia mengkombinasikan dengan jurus teleportasinya, tiba-tiba tanpa diduga oleh siapapun, Pangeran Guna Wijaya berhasil menebas tubuh Begawan Sakti Ludoyo menjadi dua bagian menggunakan pedang legendaris itu.


Para Ksatria yang menyaksikan hal tersebut sempat tercengang dan juga bahagia, Sebab mereka merasa bahwa itulah akhir riwayat dari Begawan tersebut.


Tapi apa daya, ternyata kebahagiaan tersebut Hanya Sekejap mata.


"ini tidak mungkin, benar-benar bukan manusia dia ternyata", kata Adipati mukas barada yang melihat bahwa Begawan Sakti Ludoyo ternyata tidak tewas, meski tubuhnya telah terbelah menjadi dua bagian.


Kemudian mereka para Ksatria menyaksikan kesaktian atau kekuatan dari Begawan Sakti Ludoyo, yang ternyata dirinya tidak tewas meski tubuhnya sudah terbelah menjadi dua.


Malah dengan terbelahnya tubuh tersebut, kini Begawan Sakti Ludoyo benar-benar menjadi dua bagian yang utuh.


Sebab masing-masing dari tubuh yang terbelah menjadi dua itu, mereka malah memulihkan keadaannya masing-masing, dan setiap bagian tubuh tersebut kini menjadi utuh kembali.


Maka dari itu kini para Ksatria bukan cuma melawan satu Begawan Sakti Ludoyo, tapi mereka sekarang malah melawan dua Begawan Sakti Ludoyo sekaligus.


Sekarang Pangeran Guna Wijaya baru merasa bahwa musuh yang dia hadapi benar-benar setara sang Dewa.


Lalu salah satu dari kedua wujud Begawan Sakti Ludoyo, dia menghadapi para Ksatria tersebut.


Sedangkan Salah satu wujud dari Begawan Sakti Ludoyo yang lainnya atau yang satunya lagi, Dia terbang tinggi dan akan melakukan tindakan yang diluar batas kemampuan seorang manusia.


Ternyata Salah satu wujud dari begawan Sakti Ludoyo yang sedang terbang tinggi di atas gunung Kelud, Dengan kesaktiannya dia sengaja akan membuat gunung tersebut meletus seketika itu juga.


Lantas jika hal itu terjadi, Bagaimana nasib semua Ksatria dan para prajurit yang sedang berjuang di medan perang gunung tersebut.


Apakah hal itu akan jadi bencana bagi mereka semua.


Dan apakah hal itu bisa ditanggulangi dengan menghentikan letusan dari gunung tersebut.


Jika memang hal itu bisa ditanggulangi, maka siapa yang dapat menghentikan letusan dari gunung itu.

__ADS_1


__ADS_2