
Lalu saat senopati Balawarman telah pergi ke segoro kidul untuk meminta bantuan, tiba-tiba beberapa saat kemudian sekumpulan gandaruwa itu menghilang bak ditelan bumi.
Kemudian para kesatria kesatria tersebut sangat heran dibuatnya.
Lantas apa yang terjadi setelah itu, ternyata Kedasih pun yang sedari tadi berada didalam kereta kuda, dia pun juga tiba-tiba menghilang entah kemana.
Hal tersebut membuat Pangeran Jatiwijaya beserta rekan-rekannya sangat kebingungan dengan situasi yang sedemikian itu karena hilangnya sigadis manis Kedasih.
Dicari cari disekitar situ, Kedasih pun tetap tidak ada.
Sampai sampai mereka semua seperti putus asa karena Kedasih tak kunjung diketemukan.
Kemudian Sanjaya mencoba mencari keberadaan Kedasih melalui mata batinnya, tapi mata batin Sanjaya juga tak melihat apa-apa, padahal segala hal yang tersembunyi bisa Sanjaya ketahui dengan mata batinnya, tapi urusan hilangnya Kedasih, dia tak sanggup menerawang melalui mata batinnya.
Lalu Harun mencoba berubah kewujud manusia harimau guna untuk mendeteksi keberadaan Kedasih menggunakan nalurinya, tapi lagi lagi hal itu tak kunjung berhasil, Kedasih tetap tak diketahui keberadaannya.
Pangeran Jatiwijaya sudah kehabisan pikir dengan hilangnya Kedasih, ia merasa Kedasih tidak mungkin untuk bisa ditemukan lagi.
"Bagaimana Pangeran, dari tadi kita semua sudah cari Kedasih disekitar sini tapi belum juga ditemukan", kata ki Maung pada Pangeran Jatiwijaya.
"Iya Pangeran, kita juga sudah mencari Kedasih dengan berbagai cara, tapi hasilnya nihil juga", Jatmiko berkata.
"Apa jangan jangan Kedasih telah diculik oleh sekumpulan gandaruwa itu tadi Pangeran", kata Harun.
Kemudian Pangeran Jatiwijaya menyuruh senopati Balamarwan untuk memberi tahu tentang keadaan tersebut pada senopati Balawarman menggunakan telepatinya, agar senopati Balawarman bisa menanyakan kepada Nyi Roro Kidul tentang hilangnya Kedasih.
Saat itu senopati Balawarman yang sudah berada di keraton segoro kidul, dia mendengar semua hal yang senopati Balamarwan sampaikan lewat telepatinya.
Lalu senopati Balawarman menyampaikan kepada Nyi Roro Kidul hal tersebut yaitu tentang hilangnya Kedasih secara misterius.
Nyi Roro Kidul menanggapinya dengan serius kabar tersebut tentang hilangnya Kedasih.
Kemudian Nyi Roro Kidul dengan kaca benggalanya mencoba melihat dimana Kedasih berada.
__ADS_1
Ternyata dengan kaca benggala, keberadaan Kedasih bisa diketahui, sebab kaca benggala adalah sebuah pusaka sakti yang bisa menerawang apapun yang ada di alam ini.
"Senopati Balawarman, segera kau sampaikan kepada Pangeran Jatiwijaya bahwa Kedasih saat ini sedang baik baik saja dan dia berada pada alam siluman yaitu alam gandaruwa", kata Nyi Roro Kidul.
Kemudian Nyi Roro Kidul memerintahkan putra angkatnya yaitu raden Rangga beserta senopati Sasmito untuk membantu senopati Balawarman guna mengatasi kesulitan yang dia hadapi saat ini bersama Pangeran Jatiwijaya beserta rekan-rekannya tersebut.
Beberapa saat kemudian tibalah ketiga kesatria tersebut dari segoro kidul, yaitu senopati Balawarman, raden Rangga dan senopati Sasmito.
Mereka bertiga tiba dihutan larangan, hutan dimana Pangeran Jatiwijaya mengalami kesulitan bersama rekan-rekannya tersebut.
Raden Rangga, senopati Sasmito dan senopati Balawarman, mereka bertiga bukan dari golongan manusia, mereka adalah bangsa jin yang bisa pergi kemanapun dengan sangat cepat, karena bangsa jin memiliki kemampuan bisa menghilang dan bisa terbang.
Jadi tak heran dari segoro kidul kehutan larangan bisa mereka tempuh dengan sangat cepat.
"Salam hormat hamba Pangeran Jatiwijaya, perkenalkan hamba adalah raden Rangga putra angkat dari Kanjeng Ratu Kidul, dan ini adalah senopati Sasmito", raden Rangga memperkenalkan diri.
"Senang bisa berjumpa dengan anda berdua, dan saya mohon bantuannya", kata Pangeran Jatiwijaya.
Kemudian senopati Balawarman memberitahu tentang perihal keberadaan Kedasih kepada Pangeran Jatiwijaya.
Lalu raden Rangga memberi saran agar secepatnya menjemput Kedasih, sebab jangan terlalu lama Kedasih berada dialam siluman gandaruwa.
Pangeran Jatiwijaya hanya menurut saja demi bisa menyelamatkan Kedasih yang telah hilang begitu saja.
Kemudian raden Rangga dengan kemampuan khususnya, dia membuka portal atau gerbang dimensi menuju ke alam siluman gandaruwa.
Lalu yang bisa masuk ke dalam gerbang tersebut hanya bisa tiga orang saja.
Maka dari itu diputuskan yang bisa masuk ke portal itu adalah Pangeran Jatiwijaya, raden Rangga dan senopati Balawarman.
Lalu masuklah ketiga kesatria tersebut ke dalam gerbang portal yang telah terbuka itu.
Kemudian saat mereka bertiga sudah masuk ke dalam portal dan tiba di alam gandaruwa, mereka bertiga langsung dihadang oleh sekumpulan gandaruwa tersebut yang wujudnya tinggi besar dan berbulu.
__ADS_1
Lalu raden Rangga mencoba untuk berbicara baik-baik pada sekumpulan gandaruwa itu.
Tapi para gandaruwa itu tidak mendengarkan perkataan dari raden Rangga, mereka para gandaruwa itu segera menyerang raden Rangga dan kedua rekannya yaitu Pangeran Jatiwijaya beserta senopati Balawarman.
Ketiga kesatria tersebut tak tinggal diam saat diserang oleh para gandaruwa.
Terjadilah pertarungan antara ketiga kesatria melawan para gandaruwa.
Sebenarnya para gandaruwa itu bukan tandingan bagi ketiga kesatria tersebut yaitu raden Rangga, Pangeran Jatiwijaya dan senopati Balawarman.
Mereka bertiga dengan mudah dapat mengalahkan para gandaruwa itu.
Lalu tak disangka sangka datanglah satu gandaruwa dan menyuruh menghentikan pertarungan tersebut.
Saat pertarungan itu dihentikan, tiba-tiba gandaruwa yang barusan datang berkata agar ketiga kesatria tersebut ikut dengannya menghadap junjungannya.
Lalu ketiga kesatria itu bersedia ikut untuk menghadap junjungan mereka para gandaruwa.
Kemudian menghadap mereka bertiga para kesatria itu kepada junjungan gandaruwa, dan mereka bertiga ditanya ada maksud apa mereka sampai berani masuk ke alam gandaruwa.
Lantas Pangeran Jatiwijaya menjawab bahwa ia mencari rekannya yang bernama Kedasih.
Junjungan gandaruwa itu berkata lagi dari mana meraka bertiga tahu bahwa rekannya yang bernama Kedasih berada di alam gandaruwa.
Lalu raden Rangga memperkenalkan diri bahwa ia adalah putra angkat Nyi Roro Kidul, Ratu pantai selatan, dan yang bersamanya adalah senopati Balawarman salah satu tangan kanan Nyi Roro Kidul, dan yang satunya lagi adalah Pangeran Jatiwijaya putra Mahapatih Damarwijaya, mahapatih kerajaan suryaloka.
Mengetahui hal tersebut, junjungan para gandaruwa itu sangat gugup dibuatnya, sebab ternyata yang datang menghadap padanya bukanlah orang-orang sembarangan.
Lalu yang tadinya junjungan gandaruwa itu sangat galak, tiba-tiba setelah tahu identitas ketiga kesatria itu, nyali junjungan gandaruwa itu jadi ciut, dan dia memperlakukan ketiga kesatria itu dengan sangat baik.
"Maafkan atas perlakuan kasar saya tadi para kesatria, sebab saya tadi benar-benar tidak tahu bahwa yang datang menghadap adalah tamu Agung dari segoro kidul dan dari suryaloka", kata junjungan para gandaruwa.
Lalu ketiga kesatria tersebut sangat memakluminya, dan mereka ketiga kesatria itu menginginkan agar Kedasih diserahkan padanya.
__ADS_1
Kemudian junjungan gandaruwa itu menyuruh prajuritnya untuk memanggil Kedasih dan membawanya kesini, karena Kedasih sudah ditunggu oleh ketiga kesatria yang akan menjemputnya.