PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
20. Duri dalam daging


__ADS_3

Beberapa hari kemudian tepat dimalam hari dikerajaan suryaloka terjadi sebuah penyusupan dikamar Putri Kumalawijaya yaitu adik dari Pangeran Punawijaya. Para prajurit penjaga melihat ada seseorang bercadar yang telah keluar dari jendela kamar Putri Kumalawijaya, akhirnya para prajurit itu mengejarnya sampai keluar gerbang istana kerajaan suryaloka, dan terjadilah pertarungan antara seseorang bercadar itu melawan para prajurit suryaloka yang mengejarnya.


"Ada apa prajurit, kenapa seperti ada keributan diistana ini?", Tanya Pangeran Gunturwijaya pada salah satu prajurit penjaga.


Lalu prajurit penjaga itu melapor pada Pangeran Gunturwijaya?


"Hormat hamba Pangeran, hamba hendak melapor bahwa ada seorang penyusup diistana ini yang keluar dari kamar Tuan Putri Kumalawijaya, dan sekarang penyusup itu sedang bertarung bersama para prajurit penjaga diluar gerbang istana suryaloka".


"Baiklah, mari kita kesana sekarang juga", jawab Pangeran Gunturwijaya dengan nada kesal.


Kemudian Pangeran Gunturwijaya segera pergi ketempat dimana seseorang bercadar itu sedang bertarung melawan para prajurit penjaga istina suryaloka. Lalu setibanya Pangeran Gunturwijaya ditempat kejadian, ternyata seseorang bercadar itu telah lolos dari kepungan para prajurit penjaga istana suryaloka, tapi para prajurit penjaga yang sedang melawannya tadi telah berhasil mengambil sesuatu benda dari seseorang bercadar tersebut yaitu sebuah kalung emas bertahtakan permata yang berada dilehernya. Kemudian kalung itu segera diberikan kepada Pangeran Gunturwijaya untuk sebagai barang bukti.


Lalu Pangeran Gunturwijaya berkata dengan sangat serius akan kalung tersebut?


"Kalau dilihat dari jenis kalungnya, sepertinya kalung ini milik dari keluarga bangsawan, tapi entah siapa pemilik dari kalung ini?".


Kemudian Pangeran Gunturwijaya segera menyuruh para prajurit untuk mencari tahu tentang kalung tersebut?


"Prajurit!, Cepat segera cari tahu siapa pemilik kalung ini sebenarnya!", Perintah Pangeran Gunturwijaya.


"Daulat Pangeran!", Jawab para prajurit.


Lalu Pangeran Gunturwijaya segera pergi menuju kekamar Putri Kumalawijaya yaitu adiknya, sesampainya Pangeran Gunturwijaya dikamar adiknya itu, ia segera bertanya pada adiknya dengan penuh kekhawatiran?

__ADS_1


"Dinda Kumalawijaya, bagaimana dengan keadaanmu, apa kau baik-baik saja, karena para prajurit telah melihat ada seseorang yang mencurigakan yang telah menyusup kekamarmu Dinda", kata Pangeran Gunturwijaya.


"Saya tidak melihat apa-apa Kanda, karena dari tadi saya sudah tertidur lelap dan suatu saya terbangun sudah terjadi keribut seperti ini, sayapun bingung, ada apa sebenarnya disini?", Kata Putri Kumalawijaya yang nampak raut wajahnya kebingungan, ia adalah adik dari Pangeran Gunawijaya beserta Pangeran Gunturwijaya.


"Baiklah kalau begitu, untunglah kau tidak kenapa-napa dinda, kalau begitu kau beristirahatlah kembali, biar nanti saya menyuruh para prajurit untuk memperketat penjagaan disekitar kamarmu ini", Kata Pangeran Gunturwijaya kepada adiknya tersebut yaitu Putri Kumalawijaya.


Lalu Pangeran Gunturwijaya segera bergegas pergi dari kamar adiknya itu. Disaat Pangeran Gunturwijaya hendak keluar dari kamar tersebut, tiba-tiba dari balik pintu terlihat Ibu Ratu Kencanawangi datang beserta para dayang-dayang dan prajurit pengawalnya. Kemudian Ibu Ratu Kencanawangi bertanya pada putranya tersebut yaitu Pangeran Gunturwijaya tentang apa yang telah terjadi didalam kamar adiknya yaitu Putri Kumalawijaya. Dan akhirnya Pangeran Gunturwijaya menceritakan semua tentang kejadian itu pada Ibundanya yaitu Ratu Kencanawangi. Setelah Ratu Kencanawangi mendengar cerita dari putranya yaitu Pangeran Gunturwijaya, lalu Beliau Ibu Ratu Kencanawangi segera masuk kedalam kamar putrinya yaitu Putri Kumalawijaya dan menanyakan bagaimana tentang keadaan putrinya tersebut.


Kemudian keesokkan harinya disaat mentari bersinar cerah dan suara kicau burung terdengar indah, disebuah daerah yang bernama Karang Menjangan terlihat para prajurit suryaloka pergi menuju kepuri kadipaten karang menjangan dan penguasa kadipaten tersebut adalah Adipati Burhansangkala. Disana para prajurit suryaloka tersebut sedang bertugas menarik upeti untuk kerajaan suryaloka karena kadipaten karang menjangan adalah salah satu daerah bawahan kekuasaan kerajaan suryaloka. Daerah karang menjangan sangat makmur, lebih makmur daripada daerah bawahan kerajaan suryaloka yang lainnya, sebab pertanian, kerajinan dan pelayaran didaerah itu sangat berkembang pesat pada tahan-tahun dimasa kepemimpinan Adipati Burhansangkala. Banyak para pedagang pedagang luar daerah yang menjajakan barang dagangannya kedaerah karang menjangan, karena didaerah itu saat ini terkenal akan perekonomiannya yang sangat maju pesat dibawah kepemimpinan Adipati Burhansangkala yang berbadan tinggi besar.


Tak heran kalau kemajuan daerah karang menjangan terkenal hingga keseluruh pelosok nusantara. Banyak para saudagar-saudagar kaya dari daerah luar daerah ingin melihat kemakmuran daerah karang menjangan, mereka banyak yang menginvestasikan sebagian hartanya untuk mendirikan usaha usaha didaerah tersebut.


Lalu para prajurit kerajaan suryaloka yang menarik upeti pada kadipaten karang menjangan, mereka tidak dapat sambutan baik oleh Adipati Burhansangkala penguasa karang menjanagan?


"A a ampun Kanjeng Adipati Burhansangkala, seperti biasa kedatangan kami kesini untuk menarik upeti tahunan untuk kerajaan suryaloka?", Jawab salah satu prajurit kerajaan suryaloka dengan nada ketakutan.


"Apa!, menarik upeti!, Enak saja suryaloka selalu menarik upeti padaku, bilang pada junjungan kalian, bahwa tidak ada lagi upeti dari karang menjangan untuk suryaloka selamanya!", Jawab Adipati Burhansangkala dengan penuh kesombongan kepada para prajurit suryaloka.


"Ampun Ayahnda, jika seperti ini, itu namanya Ayahnda Adipati menentang kekuasaan suryaloka?", Kata Raden Mahesasangkala yang tampan yaitu putra dari Adipati Burhansangkala.


"Diam kau Mahesa!, Jangan ikut campur atas segala keputusan yang Ayahnda kehendaki!", Bentak Adipati Burhansangkala pada putranya yaitu Raden Mahesasangkala.


Kemudian para prajurit penarik upeti tersebut kembali dengan tangan hampa karena Adipati Burhansangkala penguasa daerah karang menjangan tidak mau memberi upeti pada suryaloka. Lalu disaat para prujurit itu tiba dikerajaan suryaloka, mereka melaporkan atas tindakkan Adipati Burhansangkala pada Maha Patih Damarwijaya. Beliau Maha Patih Damarwijaya sangat geram mendengar laporan dari para prajuritnya itu.

__ADS_1


"Ampun Maha Patih Damarwijaya, hamba juga akan melaporkan hal penting yang telah terjadi di karang menjangan, menurut kabar dari telik sandi yang sudah hamba sebar keseluruh pelosok suryaloka, ada laporan bahwa ada gelagat mencurigakan yang telah Adipati Burhansangkala rencanakan, sepertinya dari sumber terpercaya yang hamba dengar, akan ada pemberontakkan dari Adipati Burhansangkala terhadap suryaloka?", kata senopati Kuncoro yang berbadan kekar berjiwa kesatria, ia adalah senopati terbaik yang dimiliki suryaloka.


"Jika memang seperti itu kenyataannya, kabar rencana pemberontakkan yang akan dilakukan oleh Adipati Burhansangkala jangan sampai tersebar kepihak luar, kita urus masalah ini dengan serius, bagaiman menurut pendapat anda begawan Winara?", kata Maha Patih Damarwijaya sambil mengepalkan kedua tangannya karena Beliau merasa kesal akan tindakkan Adipati Burhansangkala penguasa karang menjangan.


"Ampun Maha Patih Damarwijaya, hal ini tidak bisa dibiarkan, Adipati Burhansangkala bagai duri dalam daging, dengan rencananya itu, dia sangat membahayakan bagi persatuan dan kesatuan suryaloka, hancurkan dia secapatnya, jangan berlarut-larut mengatasi masalah seperti ini, jika dibiarkan terlalu lama akan seperti penyakit yang mudah menular?", Saran dari begawan Winara, seorang penasehat kerajaan suryaloka yang berjiwa kesatria nan setia pada negaranya tersebut.


Masalah ini menjadi tanggapan yang sangat serius dari pihak pembesar suryaloka, karena Adipati Burhansangkala terkenal akan kesaktiannya, dia memiliki ilmu Rawarontek dan ajian Brajamusti, dan dia selalu didampingi oleh tangan kanannya yang sangat setia, yang sakti mandraguna yaitu senopati Kolomonggo yang mempunyai sifat yang sangat licik. Belum lagi ditambah dengan pasukan khususnya yang bernama prajurit Garda Sura. Satu prajurit garda sura kekuatannya sama dengan tujuh prajurit biasa. Akhirnya Maha Patih Damarwijaya mengirim surat peringatan agar Adipati Burhansangkala mengurungkan niatnya untuk memberontak kepada suryaloka. Surat peringatan pertama ditolaknya, lalu beberapa hari kemudian surat peringatan kedua dikirimkan, dan hasilnya tetap sama, ditolaknya.


Kemudian dua minggu setelah pengiriman surat peringatan kedua, akhirnya Maha Patih Damarwijaya mengirimkan surat peringatan terakhir atau ketiga. Dan hasilnya salah satu diantara prajurit suryaloka yang mengantarkan surat peringatan tersebut dibunuh oleh Adipati Burhansangkala, hal tersebut adalah sebagai wujud perlawanan kepada kerajaan suryaloka. Akhirnya Maha Patih Damarwijaya naik pitam karena merasa tindakkan Adipati Burhansangkala itu tidak berperikemanusiaan, tak patut untuk dimaafkan dan harus segera dihancurkan. Kemudian Beliau Maha Patih Damarwijaya segera mengutus Pangeran Gunturwijaya untuk meminta bantuan pada gurunya yaitu Resi Malaka yang berada dipadepokannya yang letaknya tidak jauh dari kerajaan suryaloka. Tujuannya agar resi Malaka memberi tahu kepada Pangeran Gunawijaya menggunakan telepatinya, tentang masalah pemberontakkan yang akan dilakukan oleh Adipati Burhansangkala?


"Hormat hamba Pangeran Gunawijaya?", kata resi Malaka Yang berbicara melalui telepati atau kontak batin pada Pangeran Gunawijaya.


Seketika itu tepat ditengah perjalanan, Pangeran Gunawijaya yang berada didepan rombongan pengawalnya langsung memperhentikan perjalanannya dengan mengangkat tangan guna untuk memberi tanda berhenti pada rombongannya tersebut, karena Pangeran Gunawijaya mendengar suara resi Malaka dari dalam hatinya. Inilah kemampauan telepati Pangeran Gunawijaya beserta resi Malaka yang bisa berbicara dari hati kehati tanpa batasan jarak.


"Hormat hamba juga resi Malaka", jawab Pangeran Gunawijaya menggunakan telepatinya.


Kemudian resi Malaka menggunakan telepatinya untuk menceritakan tentang semua masalah yang dihadapi suryaloka akan suatu pemberontakkan yang akan dilakukan oleh Adipati Burhansangkala penguasa daerah karang menjangan. Pangeran Gunawijaya yang mendengar kabar itu menanggapinya dengan serius, dengan tegas Pangeran Gunawijaya memerintahkan agar secepatnya suryaloka menyerang karang menjangan, dan ia berjanji akan membantu suryaloka disaat dibutuhkannya.


Kemudian Pangeran Jatiwijaya bertanya dengan rasa penasaran kepada Pangeran Gunawijaya?


"Maaf Kanda Pangeran, kalau boleh hamba tahu, ada apa sebenarnya tiba-tiba Kanda Pangeran menghentikan perjalanan ini".


"Barusan resi Malaka menyampaikan kabar penting tentang suryaloka menggunakan telepatinya?", jawab Pangeran Gunawijaya.

__ADS_1


Lalu Pangeran Gunawijaya menceritakan kabar penting itu pada adik sepupunya yaitu Pangeran Jatiwijaya dan beserta para rombongan pengawalnya yang lainnya. Disaat mereka semua sudah mengetahui kabar itu, kemudian Pangeran Gunawijaya mengutus dua diantara pengawalnya yaitu Sanjaya bersama Mandala untuk pergi duluan membantu suryaloka guna memerangi Adipati Burhansangkala yang akan melakukan pemberontakkan pada suryaloka. Akhirnya mereka berdua segera pergi menuju kesuryaloka dengan menaiki burung rajawali raksasa milik senopati Balamarwan guna menjadi tenaga bantuan dari Pangeran Gunawijaya.


__ADS_2