PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
115. Ketiga panglima perang terhebat


__ADS_3

Kemudian Raja iblis Kalazar yang sudah menaklukkan dua kerajaan, yaitu kerajaan banyuasri dan kerajaan giriseta, dia sekarang sedang menghadap ayahnya di goa lowo gunung kelud.


Ayah dari Raja iblis Kalazar ialah begawan sakti Ludoyo, sang pemilik jurus kalamurka.


Ternyata Kalazar menghadap ayahnya untuk menayakan, kapan dia bisa menyerang kerajaan suryaloka.


Begawan sakti Ludoyo melarang anaknya tersebut, agar jangan keburu Buru menyerang suryaloka, sebab suryaloka tidak sama dengan kedua kerajaan yang sudah dia taklukkan.


Suryaloka adalah kerajaan terkuat seantero tanah Jawa, bahkan suryaloka sekarang ini sudah membentuk sebuah aliansi kerajaan.


Jadi untuk menyerang suryaloka saat ini tidak mudah, karena disitu ada banyak sekali kesatria kesatria hebat yang siap mati demi suryaloka.


Maka dari itu untuk menyerangnya harus butuh perhitungan yang matang.


Kemudian begawan Ludoyo berkata pada putranya, yaitu Kalazar, jika dia memaksa menyerang suryaloka tanpa perhitungan yang matang, maka bisa bisa dia akan terbunuh.


Sebab di suryaloka ada Pangeran Kasimwijaya yang memiliki jurus kalabaya, dan juga kembalinya Pangeran Gunawijaya yang sudah menguasai jurus kalapati.


Untuk menghadapi Pangeran Kasimwijaya saja, Raja iblis Kalazar tidak akan mampu, apa lagi untuk menghadapi Pangeran Gunawijaya, yang jelas Kalazar akan lebih cepat tumbang.


Kemudian di kerajaan suryaloka, Maharesi Brata, guru dari Pangeran Gunawijaya, beliau sudah datang dengan para murid muridnya dari padepokan langit yang berada di gunung semeru.


Lalu Paijo dan Dudung beserta yang lainnya, yaitu para anak buah pendekar Mandala, mereka semua juga sudah datang bersama rombongan para murid murid pendekar Sanjaya dari padepokan lawangsewu yang berasal dari giritunggal.


"Ketua, lama tak bertemu, bagaimana kabar ketua saat ini", kata Paijo pada Mandala.


"Kabarku baik baik saja Paijo, bagaimana dengan kalian berdua, selama di padepokan lawangsewu, apa kalian sudah banyak berlatih disana", tanya Mandala pada Paijo dan Dudung.


"Lalu bagaimana dengan kawan-kawan kalian yang lainnya, apa mereka juga sudah banyak perkembangan", Mandala menanyakan para anak buahnya pada Paijo.


Kemudian Paijo menjawab, bahwa selama di padepokan lawangsewu, mereka semua sangat giat berlatih dengan para murid dari pendekar Sanjaya.


Mendengar jawaban dari Paijo, Mandala sangat bangga, karena selama ini ternyata anak buahnya bisa diandalkan.


Kemudian disisi lain, Maharesi Brata sedang berunding dengan para pembesar kerajaan, tentang masalah perang besar yang akan terjadi sebentar lagi di tanah Jawa.


Beliau, Maharesi Brata banyak memberikan masukan didalam perundingan tersebut.

__ADS_1


Bahkan beliau menyarankan, agar pihak kita lebih dulu menyerang, karena jika kita hanya bertahan saja, itu sama dengan kita mengulur ulur waktu, sedangkan waktu kehancuran tanah Jawa hanya tinggal setahun lagi.


Jika paku bumi tanah Jawa yang telah dicabut oleh pihak musuh, tidak segera ditancapkan lagi ditempat asalnya, maka kehancuran tanah Jawa tak akan terelakkan lagi.


Kemudian sebagian besar dari para pembesar kerajaan, banyak yang setuju dengan saran dari Maharesi Brata.


Sebab tujuan mereka semua ingin menyelamatkan tanah Jawa dari kehancuran, maka dari itu tidak harus ditunda-tunda lagi, mereka ingin secepatnya masalah ini bisa segara diatasi.


Akhirnya dengan kesepakatan bersama, mereka para pembesar kerajaan, segera menyiapkan para pasukan untuk menyerang para musuh dari aliran hitam, yang berpusat di goa lowo gunung kelud.


Tapi menurut informasi dari telik sandi yang sudah disebar oleh aliansi dari ketiga kerajaan tersebut, para musuh aliran hitam, mereka semua terbagi ditiga titik.


Titik pertama, para musuh aliran hitam berpusat di goa lowo gunung kelud.


Titik kedua, mereka berada di kerajaan banyuasri.


Dan titik ketiga, mereka berada di giriseta.


Setelah mengetahui ketiga titik tersebut, akhirnya para pembesar kerajaan membagi para pasukannya menjadi tiga bagian.


Kemudian para pembesar kerajaan memilih ketiga panglima perang, masing-masing untuk memimpin para pasukan yang akan menyerang pada ketiga titik tersebut.


Dari hasil perundingan tersebut, terpilihlah tiga kesatria hebat yang akan jadi panglima perang.


Kesatria itu ialah, pertama Pangeran Gunawijaya, yang akan memimpin penyerangan ketitik pusat digoa lowo gunung kelud.


Kesatria kedua yaitu, Patih Waranggaseta yang akan memimpin penyerangan di banyuasri.


Dan kesatria yang ketiga yaitu, Patih Linduaji yang akan memimpin penyerangan di giriseta.


Kemudian setelah pengangkatan ketiga panglima perang sudah terlaksana.


Kini pihak pembesar atau petinggi kerajaan, segera membagi para pasukan menjadi empat bagian.


Ketiga bagian dari para pasukan itu, bertugas untuk perang ketiga titik yang sudah ditentukan.


Sedangkan yang satu bagian lagi, para pasukan tersebut ditugaskan untuk menjadi pasukan perlindungan istana, mereka bertugas melindungi para keluarga kerajaan yang tidak ikut berperang.

__ADS_1


"Saya meminta Putri Senjabirawa dan juga Kedasih, agar tidak turut serta dalam peperangan ini", ibu Ratu Kencanawangi berkata.


"Mohon ampun ibu Ratu Kencanawangi, bukan maksud kami menentang perintah ibu Ratu, tapi kami berdua ingin selalu berjuang bersama-sama dengan Pangeran Gunawijaya", kata Putri Senjabirawa.


Lalu Mahapatih Damarwijaya, mencoba menasehati Putri Senjabirawa, bahwa jika mereka berdua ikut berperang, itu sama dengan akan membuat Pangeran Gunawijaya tidak bisa berjuang secara lepas, sebab otomatis Pangeran Gunawijaya juga akan memikirkan keselamatan kalian berdua, yaitu Putri Senjabirawa dan juga Kedasih.


Jika seorang kesatria, tidak bisa secara lepas dalam pertempuran, karena masih memikirkan hal lain, maka apa yang akan terjadi, tentu saja kegagalan yang akan dia dapatkan.


Mendengar nasehat dari Mahapatih Damarwijaya, akhirnya Putri Senjabirawa dan juga Kedasih mengurungkan niatnya untuk tidak ikut berperang, mereka berdua tetap akan di istana untuk membantu pasukan pertahanan kerajaan.


Kemudian Mahapatih Damarwijaya berpesan pada putranya, yaitu Pangeran Jatiwijaya, agar selalu dibelakang Pangeran Gunawijaya, karena Mahapatih Damarwijaya menugaskannya sebagai pengawal sang Pangeran Gunawijaya.


Pangeran Jatiwijaya sangat mematuhi perintah dari sang ayah, maka dari itu, dia akan mengabdikan dirinya hidup atau mati kepada Pangeran Gunawijaya.


Mendengar perkataan dari putranya tersebut, Mahapatih Damarwijaya sangat bangga padanya.


Kemudian Pangeran Jatiwijaya meminta doa restu pada ibunya, yaitu Dewi Puspasari.


Lalu Dewi Puspasari memberikan sebuah rompi sakti pada putranya tersebut.


Rompi itu peninggalan dari mendiang ayah dari Dewi Puspasari, bisa dibilang, beliau adalah kakek dari Pangeran Jatiwijaya dari sang ibu.


Sebuah rompi yang diberikan oleh Dewi Puspasari pada putranya itu, ternyata adalah rompi ontokusumo, rompi sakti yang kebal terhadap serangan apapun.


Pangeran Jatiwijaya sangat bersyukur sekali, didalam situasi genting seperti ini, dia dibekali sebuah pusaka oleh ibunya, yaitu Dewi Puspasari.


Kini dengan segala persiapan yang dia punya, Pangeran Jatiwijaya sangat siap untuk mengawal Pangeran Gunawijaya.


Kemudian Pangeran Gunturwijaya dan juga Pangeran Kasimwijaya, mereka berdua oleh Mahapatih Damarwijaya ditugaskan untuk membunuh Raja iblis Kalazar.


Sebab Mahapatih Damarwijaya yakin, kedua Pangeran tersebut pasti bisa menghabisi Kalazar saat ini.


Kemudian ketiga panglima perang saling bertemu dan berdiskusi untuk membentuk sebuah strategi.


Ketiga panglima perang tersebut ialah Pangeran Gunawijaya, Patih Waranggaseta dan Patih Linduaji.


Mereka bertiga secara kesaktian tidak bisa diremehkan, maka dari itu, aliansi ketiga kerajaan memilih ketiga kesatria tersebut untuk menjadi panglima perang.

__ADS_1


__ADS_2