
Waktu itu pertarungan tersebut semakin memanas, Mahapatih Damar Wijaya menggunakan kekuatan penuh untuk melawan pangeran Kasim Wijaya.
Meski Pangeran Kasim Wijaya pengguna jurus kala baya, tapi untuk menghadapi Mahapatih Damar Wijaya dengan kekuatan penuhnya, ternyata tidak semudah itu untuk bisa mengalahkan.
Justru saat itu Pangeran Kasim Wijaya nampak terdesak oleh serangan demi serangan, yang diluncurkan oleh Mahapatih Damar Wijaya.
Sedangkan Pangeran Guna Wijaya telah merubah pusakanya yaitu, pedang Mustika biru menjadi pedang naga api, untuk melawan Begawan Sakti Ludoyo yang menggunakan pusaka Trisula Dewa.
Pedang naga api milik Pangeran Guna Wijaya, awalnya adalah penyatuan kedua benda pusaka, yaitu pedang Mustika biru dan tanduk naga api.
Akhirnya dari penyatuan kedua benda pusaka tersebut, muncullah pedang naga api.
Sebab jika Pangeran Guna Wijaya hanya menggunakan pedang Mustika biru, dia tak akan mampu untuk melawan Begawan Sakti Ludoyo yang menggunakan senjata pusaka Trisula Dewa.
Sebab ternyata senjata pusaka Trisula Dewa tersebut, sebenarnya milik Mahadewa atau Dewa Siwa, yang telah diserahkan kepada Begawan Sakti Ludoyo, berkat pertapaannya yang meminta permohonan untuk memiliki pusaka tersebut.
Waktu itu Mahadewa tidak bisa menolak seorang Pertapa yang memohon atau meminta kepadaNya.
Sebab siapapun yang melakukan pertapaan begitu lama, atas dasar memuja dan memohon kepada Mahadewa, maka Mahadewa akan mengabulkan permohonan.
Hal itulah yang dilakukan oleh Begawan Sakti Ludoyo kala itu, untuk bisa mendapatkan senjata pusaka Trisula Dewa milik Mahadewa atau Dewa Siwa.
Tapi ternyata hal itu tidak bersifat abadi, karena kala itu Mahadewa hanya sekedar menitipkan atau meminjamkan senjata pusakanya tersebut, kepada Begawan Sakti Ludoyo.
Dan kini senjata pusaka Trisula Dewa itu, sudah melebihi batas waktu peminjaman yang telah ditentukan oleh Mahadewa, kepada Begawan Sakti Ludoyo.
Sehingga membuat geram Mahadewa atas tindakan Begawan tersebut.
Maka dari itu Mahadewa mengutus Pangeran Guna Wijaya, untuk mengambil pusaka trisula Dewa tersebut, dari tangan Begawan Sakti Ludoyo dengan cara apapun.
Sebab hal itu sudah pernah disampaikan oleh Mahadewa, sewaktu Pangeran Guna Wijaya sedang berlatih di khayangan, di istana Dewa Indra.
Kala itu Mahadewa berpesan bahwa, yang bisa mengambil Trisula dewanya dari tangan Begawan Sakti Ludoyo, adalah Pangeran Guna Wijaya.
Kemudian dalam pertarungan tersebut, Pangeran Guna Wijaya merasa percaya diri, karena dia Mempunyai pedang legendaris, yaitu Pedang Naga api.
__ADS_1
Begawan Sakti Ludoyo yang melihat pedang naga api di tangan Pangeran Guna Wijaya, dia nampak was-was, meski Dia mempunyai Trisula Dewa.
Sebab menurut sejarah ribuan tahun yang lalu, yang bisa menandingi pusaka Trisula Dewa, hanyalah pedang naga api.
Maka dari itu, pedang tersebut terkenal dengan sebutan pedang legendaris.
"aku harus berhati-hati untuk menghadapinya, karena pedang itu adalah ancaman bagiku?", Begawan Sakti Ludoyo was was.
Kemudian pertarungan pun tak terelakan? Kedua ksatria tersebut saling beradu senjata pusaka masing-masing.
Pangeran Guna Wijaya menggunakan pedang naga api, sedangkan Begawan Sakti Ludoyo menggunakan Trisula Dewa.
Saat kedua senjata pusaka tersebut saling beradu dan berbenturan, membuat alam semesta semakin mencekam.
Dengan senjata pusaka pedang naga api, kini Pangeran Guna Wijaya dapat menandingi Begawan Sakti Ludoyo.
"aku harus mengakhiri pertarungan ini secepat mungkin, karena alam semesta tak akan bertahan lebih lama lagi, jika aku tidak segera menghabisi Begawan tersebut!", kata Pangeran Guna Wijaya dari dalam hatinya.
Singkat cerita dalam pertarungan tersebut, Begawan Sakti Ludoyo masih tetap unggul meski Pangeran Guna Wijaya menggunakan senjata pusakanya, yaitu pedang naga api.
Melihat hal tersebut, Mahapatih Damar Wijaya yang sedang bertarung melawan pangeran Kasim Wijaya, beliau segera memanfaatkan situasi yang ada?
Tanpa diduga Mahapatih Damar Wijaya menghindar dari perlawanan Pangeran Kasim Wijaya.
Dan Pangeran Kasim Wijaya pun sempat kebingungan waktu itu, oleh tindakan dari Mahapatih Damar Wijaya.
Ternyata tiba-tiba saat Pangeran Guna Wijaya terdesak oleh serangan dari lawannya tersebut, Mahapatih Damar Wijaya dari belakang tanpa disadari oleh Begawan Sakti Ludoyo, Beliau segera mendekapnya?
"kurang ajar kau Damar Wijaya! Apa tujuanmu mendekapku seperti ini?", Begawan Sakti Ludoyo nampak panik.
"akan ku kirim kau ke neraka saat ini juga!", jawab Mahapatih Damar Wijaya.
Tiba-tiba Mahapatih Damar Wijaya mengeluarkan ajian ngelebur jagad.
Dengan ajian tersebut Mahapatih Damar Wijaya berniat akan memusnahkan Begawan Sakti Ludoyo.
__ADS_1
"ajiku ngelebur jagad!", Mahapatih Damar Wijaya menggunakan ajian Terlarang.
Sontak Pangeran Jati Wijaya tercengang tak percaya, melihat ayahnya tersebut menggunakan ajian Terlarangnya.
Kemudian Pangeran Jati Wijaya akan menggagalkannya, karena sebagai anak, ia tak rela melihat ayahnya tersebut, akan melakukan tindakan yang sangat mengerikan itu.
"hentikan ayahhh.....!", Pangeran Jati Wijaya berteriak sambil berlari, untuk mencegah ayahnya agar tidak menggunakan ajian ngelebur Jagad.
Tapi saat itu usaha Pangeran Jati Wijaya, yang akan menggagalkan niatan ayahnya tersebut, ternyata dihalangi oleh kedua makhluk aneh yang mengerikan tersebut.
Kedua makhluk aneh itu menyerang Pangeran Jati Wijaya, dengan bersamaan dan sangat beringas.
"Putraku Jati Wijaya? Kau Jangan pikirkan ayah, ini adalah keputusan dan jalan hidup ayah! Tetaplah berjuang dalam pertempuran ini putraku", pesan Mahapatih Damar Wijaya kepada putranya tersebut.
"dan Sampaikan salam ayah kepada ibundamu, meski tubuh Ayah telah tiada, tapi ayah masih tetap ada untuk kalian semua", sebuah pesan yang mengharukan dari Mahapatih Damar Wijaya, kepada putranya yaitu Pangeran Jati Wijaya.
Setelah Pangeran Jati Wijaya mendengar pesan tersebut dari ayahnya, kemudian ia melayani kedua makhluk aneh tersebut, bertarung dengan serius.
Lalu Pangeran Guna Wijaya dan juga pangeran Kasim Wijaya, mereka berdua juga mencegah Mahapatih Damar Wijaya agar tidak melakukan tindakan tersebut.
Tapi Mahapatih Damar Wijaya berkata, bahwa ajian ngelebur jagad, jika sudah dikeluarkan tidak bisa ditarik kembali.
Mendengar hal ini Begawan Sakti Ludoyo, dengan sekuat tenaga berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Mahapatih Damar Wijaya.
Tapi apa daya, ternyata siapapun yang di dekap pengguna ajian ngelebur Jagad, dia tidak akan bisa melepaskan diri, meski kesaktiannya setinggi langit.
"sial, lepaskan aku keparat! Jika kau seorang ksatria tidak mungkin kau menyerangku dengan cara seperti ini", Begawan Sakti Ludoyo mencoba memprovokasi Mahapatih Damar Wijaya.
"aku tidak peduli dengan istilah Ksatria! Yang aku harapkan hanyalah untuk menyelamatkan tanah Jawa ini, dari cengkraman kejahatan yang kau lakukan", Mahapatih Damar Wijaya menjawab dengan begitu tegas.
Singkat cerita akhirnya Mahapatih Damar Wijaya berhasil menghancurkan Begawan Sakti Ludoyo, menggunakan ajian ngelebur Jagad.
Dengan ajian tersebut membuat tubuh Mahapatih Damar Wijaya beserta korbannya yaitu Begawan Ludoyo, sirna atau lenyap begitu saja.
Tapi sebelum tubuh dari Begawan Ludoyo lenyap, Pangeran Guna Wijaya berhasil merebut senjata pusakanya yaitu Trisula Dewa.
__ADS_1