
Kemudian singkat cerita di medan perang Surya lokal, Mahapatih Damar Wijaya selaku panglima perang, beliau mengintruksikan atau memberi arahan kepada para prajuritnya, agar bersiap untuk menuju ke Gunung Kelud, untuk membantu Pangeran Guna Wijaya menghancurkan Begawan Sakti Ludoyo.
"para prajuritku semua, Tugas kita di sini sudah selesai, raja iblis kalazar sudah kita kalahkan, sekarang perjuangan kita yang lebih berat sedang menanti kita di depan", kata Mahapatih Damar Wijaya.
Lalu para pasukan raja iblis kalazar yang sudah menyerah, kini telah ditahan semua.
Kemudian di Gunung Kelud, Begawan Sakti Ludoyo kini benar-benar murka.
Karena Begawan sakti Ludoyo mengetahui bahwa putranya, yaitu raja iblis kalazar telah dikalahkan.
Maka dari itu Begawan Sakti Ludoyo, membangkitkan para pasukannya yang telah tewas.
Jadi seandainya jika pasukannya ada yang tewas saat berperang, maka dengan cepat pasukan tersebut akan bangkit lagi, tapi bukan berarti mereka bangkit secara hidup seperti biasanya, melainkan mereka bangkit menjadi zombie atau mayat hidup yang menakutkan dan haus darah.
Saat itu para prajurit Pangeran Guna Wijaya sangat kebingungan, karena para mayat hidup itu tidak bisa dibunuh dengan mudah.
Jika hanya tertusuk atau tersayat oleh senja tajam, hal itu tidak berpengaruh sama sekali kepada mayat hidup tersebut.
Malahan mayat hidup itu menjadi semakin ganas.
"bagaimana ini Gusti Senopati, prajurit kita lama-lama semakin terdesak oleh para malaikat hidup itu", kata pendekar Mandala kepada Senopati mukas barada.
"Tenanglah Mandala, dalam situasi sulit seperti ini pasti ada jalan keluarnya, yang jelas kita sekarang amati dulu para mayat hidup tersebut, dan kita cari tahu di mana letak kelemahannya dari mayat hidup tersebut", jawaban dari Senopati mukas barada.
Tapi kedua ksatria tersebut Tidak cuma mengamati, mereka berdua juga bertempur melawan para mayat hidup itu dan mencari kelemahannya.
Kemudian Pangeran Guna Wijaya, dia agak sedikit kebingungan akan situasi tersebut.
Pangeran Guna Wijaya sangat mengkhawatirkan, para pasukannya yang melawan para mayat hidup tersebut.
Maka dari itu Pangeran Guna Wijaya pikirannya terpecah, antara bertarung melawan Begawan Sakti Ludoyo dan memikirkan nasib prajuritnya yang melawan para mayat hidup itu.
Sebab prajuritnya sudah banyak yang menjadi korban dari keganasan para mayat hidup tersebut.
__ADS_1
Akibat kejadian tersebut, Pangeran Guna Wijaya tidak fokus dalam pertarungannya melawan Begawan Sakti Ludoyo.
"Kanda Pangeran Guna Wijaya, fokuslah pada pertarunganmu, serahkan masalah yang di sini pada kita semua, Kami yakin, kami pasti bisa mengatasinya", Pangeran Jati Wijaya mengingatkan Saudara sepupunya tersebut, agar dia berkonsentrasi pada tugasnya yaitu melawan Begawan Sakti Ludoyo.
Kemudian Pangeran Guna Wijaya setelah mendengar perkataan dari saudaranya itu, pikirannya kembali fokus pada tujuan awal yaitu bertarung melawan Begawan Sakti Ludoyo.
Lalu dalam pertarungannya tersebut melawan Begawan Sakti Ludoyo, Pangeran Guna Wijaya mencoba menggunakan kemampuan telepatinya untuk berkomunikasi dengan Dewa Indra yang berada di istana Kahyangan.
Singkat cerita ternyata Pangeran Guna Wijaya, ingin mencari petunjuk Bagaimana caranya mengalahkan para mayat hidup yang telah dibangkitkan oleh Begawan Sakti Ludoyo.
Lalu Dewa Indra memberi petunjuk, jika ingin mengalahkan para mayat hidup tersebut, para Ksatria harus memenggal kepala dari mayat hidup itu.
"Hei kau Guna Wijaya, Kenapa kau menghindari pertarungan kita, Apa kau sudah menyerah, jika kau merasa tidak bisa mengalahkanku segera larilah dari sini", kata Begawan Sakti Ludoyo.
Saat itu memang Pangeran Guna Wijaya menghindari Begawan Sakti Ludoyo, dan Pangeran Guna Wijaya memilih melawan para mayat hidup tersebut.
Hanya dengan beberapa kali serangan saja para mayat hidup itu bisa dikalahkan oleh pangeran Guna Wijaya.
Para mayat hidup tersebut yang menyerang Pangeran Guna Wijaya, kepalanya berhasil dipenggal semua olah Pangeran Guna Wijaya menggunakan pedang pusakanya yaitu pedang Mustika biru.
Mereka melihat Pangeran Guna Wijaya berhasil mengalahkan para mayat hidup dengan cara memenggal kepalanya.
Kemudian setelah mengalahkan para mayat hidup itu, Pangeran Guna Wijaya segera menganggukkan kepalanya kepada para Ksatria.
Seketika itu para Ksatria tersebut langsung peka terhadap anggukan kepala dari pangeran Guna Wijaya.
Ternyata anggukan kepala tersebut adalah kode pemberitahuan kepada para Ksatria, Bagaimana cara mengalahkan para mayat hidup tersebut.
Setelah tujuan Pangeran Guna Wijaya usai memberi contoh Bagaimana cara mengalahkan para mayat hidup kepada para Ksatria, lalu Pangeran Guna Wijaya segera menghadapi Begawan Sakti Ludoyo kembali.
Waktu itu Begawan Sakti Ludoyo tidak menyadari apa yang dilakukan oleh pangeran Guna Wijaya, setahu dia Pangeran Guna Wijaya ketakutan olehnya.
"hahaha... Ternyata kau tidak puas jika hanya melawan para mayat hidup itu, makanya kau kembali untuk melawanku lagi, tapi baiklah secepatnya aku akan mengalahkanmu Guna Wijaya", ocehan dari Begawan Sakti Ludoyo.
__ADS_1
"terserah kau mau berkata apa Begawan Ludoyo, yang jelas kau tidak akan mudah untuk bisa mengalahkanku", kata Pangeran Guna Wijaya dengan gagahnya.
Dengan kesaktian yang dia miliki yaitu jurus kala murka, Begawan Sakti Ludoyo mengeluarkan tujuh bola api yang berputar di belakang punggungnya seperti kincir angin.
Saat itu Pangeran Guna Wijaya sangat waspada akan hal tersebut, sebab Ia merasa apa yang dikeluarkan oleh Begawan Sakti Ludoyo, bukanlah jurus sembarangan.
Lalu tanpa basa-basi Begawan Sakti Ludoyo memerintahkan, salah satu dari ketujuh bola api tersebut untuk menyerang Pangeran Guna Wijaya.
Seketika itu salah satu dari ketujuh bola api tersebut, berubah menjadi semburan api yang luar biasa dahsyatnya.
Apapun yang di depannya akan dilibas dibakar dihancurkan oleh semburan api tersebut.
Tapi untung saja pangeran Guna Wijaya cepat mengantisipasi serangan dari api tersebut, dia masih bisa selamat dari serangan itu karena dia menggunakan jurus kalapati Untuk membentengi dirinya dari serangan Dahsyat.
Tapi meskipun Pangeran Guna Wijaya selamat, Ternyata banyak korban dari pihak prajuritnya maupun pasukan dari Begawan Sakti Ludoyo.
Saat itu Begawan Sakti Ludoyo ketawa riang melihat kedahsyatan serangannya tersebut.
Begawan Sakti Ludoyo tidak memikirkan nasib dari pasukannya sendiri, yang penting tujuannya adalah secepatnya agar bisa membunuh atau menghabisi Pangeran Guna Wijaya.
"sungguh biadab kau Ludoyo, kau tidak memikirkan nasib pasukanmu sendiri, benar-benar kau manusia berhati iblis", kemarahan pangeran Guna Wijaya.
"hahaha... Jangankan hanya pasukanku, keluarga pun akan aku korbankan demi kesuksesan tujuanku", ocehan dari Begawan Sakti Ludoyo.
Saat itu kedua tangan kanan Begawan Sakti Ludoyo mendengar percakapan tersebut, Mereka berdua adalah Kin dan Kun.
"Kanda berarti kesetiaan kita selama ini kepada Kanjeng Begawan Sakti Ludoyo, tidak akan ada artinya, sebab sewaktu-waktu beliau pasti bisa mengorbankan kita berdua demi tujuannya", kata Kun adik dari Kin.
"benar juga adikku, ternyata selama ini Kanjeng Begawan Sakti Ludoyo, lebih kejam dari kita", jawab sang kakak yaitu Kin kepada adiknya yaitu Kun.
Kemudian mereka berdua Kin dan Kun, menyalurkan semua energi atau cakranya ke senjata mereka masing-masing yaitu tombak bayangan.
Tujuannya agar tombak tersebut bisa mereka gunakan untuk menghabisi seseorang yang sakti mandraguna sekalipun.
__ADS_1
Tidak lupa mereka berdua juga meneteskan darah mereka masing-masing di ujung tombak tersebut.
Yang jelas tujuan Kin dan Kun melakukan ritual tersebut kepada senjatanya, adalah untuk menghabisi lawannya yang sangat Sakti tersebut.