PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
162. Murkannya begawan Ludoyo


__ADS_3

Saat ini Kusuma sangat khawatir, Dia sangat merasa ketakutan, saat mengetahui bahwa kekuatan Begawan Ludoyo ternyata begitu Dahsyat.


Jurus tapak dewa tingkat tinggi milik Kusuma ternyata tak sanggup menandingi jurus kala murka milik Begawan Ludoyo.


Saat ini nasib Kusuma sedang di ujung tanduk, sebab Begawan Ludoyo akan segera membunuhnya.


Kini Kusuma sudah tak bisa berbuat apa-apa, perbedaan kekuatannya dengan kekuatan Begawan Ludoyo sangat jauh sekali.


Meskipun Kusuma menyerang bertubi-tubi Begawan Ludoyo, menggunakan kekuatan empat elemen sekaligus, yaitu besi angin petir dan api.


Tapi Begawan Ludoyo tak bergeming sama sekali, justru dia berjalan pelan-pelan menghampiri Kusuma yang sedang menyerangnya bertubi-tubi.


"hahaha... Di mana kekuatanmu itu Kusuma, Kenapa kau sekarang jadi lemah sekali, apa aku terlalu kuat untukmu, Padahal aku masih menggunakan seperempat dari kekuatanku Kusuma, Tapi kau sudah sangat keberatan melawanku", kata Begawan Ludoyo.


Tapi Kusuma menghiraukan perkataan dari Begawan tersebut, dia tetap fokus menyerangnya bertubi-tubi.


Kemudian dengan sangat cepat Begawan Ludoyo memegang kedua tangan kusuma dari depan, dan Kusuma tidak bisa melepas pegangan tersebut, karena pegangan itu sangat kuat sekali.


Lalu tanpa belas kasih, Begawan Ludoyo mematahkan kedua tangan kusuma.


Kusuma menjerit kesakitan, tidak ada satupun yang menolongnya, karena para Ksatria punggawa maupun prajurit, mereka semua disibukan melawan para pasukan manusia tanah.


Kini dengan patahnya kedua tangan Kusuma, Kusuma tak bisa lagi menggunakan kekuatannya atau kesaktiannya.


"Bagaimana Kusuma, sekarang kau baru merasakan ketakutan kesakitan dan kepedihan, sebab Akulah Dewa kematianmu saat ini Kusuma", ocehan Begawan Ludoyo.


Saat Kusuma mengalami patah kedua tangannya, dan tak bisa berbuat apa-apa lagi, lalu Begawan Ludoyo menciptakan sebuah pedang dari sebongkah tanah dengan menggunakan jurus kala murka.


Kemudian Begawan Ludoyo segera Mengayunkan pedang tersebut untuk menebas kepala Kusuma.


Sedangkan Kusuma hanya bisa bertunduk pasrah akan nasibnya itu, Sebab Dia merasa sudah tidak punya harapan lagi untuk bisa mengalahkan Begawan tersebut.


Saat pedang itu diayunkan dan hampir mengenai kepala Kusuma, tiba-tiba Begawan Ludoyo terpental dan tersungkur.


"berdirilah wahai Ksatria", Pangeran Kasim Wijaya menyuruh Kusuma yang sedang berlutut untuk segera berdiri.


Ternyata saat Kusuma hampir menemui ajalnya, dengan tepat waktu Pangeran Kasim Wijaya segera menolongnya.


Dengan sekuat tenaga pangeran Kasim Wijaya menendang Begawan Ludoyo hingga tersungkur, saat itulah Kusuma selamat dari mautnya.


Kemudian para pasukan Mahapatih Damar Wijaya datang, dan segera membantu para pasukan Pangeran Guna Wijaya yang sedang terdesak oleh pasukan manusia tanah.


Saat melihat keponakannya tersebut, yaitu Pangeran Guna Wijaya, yang sedang memulihkan Cakra, Mahapatih Damar Wijaya segera memberi perlindungan juga kepada dirinya, keponakannya tersebut.

__ADS_1


Dan Prabu silendra wangi beserta Patih Lindu Aji dan juga Patih warangga Seta, mereka bertiga segera membantu Pangeran Kasim Wijaya yang akan menghadapi Begawan Ludoyo.


"Patih Lindu Aji, Tolong bawa dan amankan Ksatria ini yaitu Kusuma, dia Hampir saja terbunuh oleh Begawan Ludoyo", kata Pangeran Kasim Wijaya.


"sendiko pangeran", jawab Patih Lindu Aji.


Singkat cerita setelah Patih Lindu Aji mengamankan Kusuma, Dia segera kembali bergabung bersama pangeran Kasim Wijaya untuk menghadapi Begawan Ludoyo.


Lalu para Ksatria tersebut segera mengeluarkan kesaktian masing-masing, untuk bertarung melawan Begawan tersebut.


Pangeran Kasim Wijaya sudah bersiap dengan jurus kala baya.


Prabu silendra wangi, beliau bersiap menggunakan ajian bala Sewu yang dikombinasikan dengan ajian Bandung Bondowoso.


Patih lindu Aji bersiap menggunakan ajian singo barong yang dikombinasikan dengan ajian Segoro Geni.


Dan Patih warangga Seta bersiap menggunakan ajian Wisanggeni.


Aji bala sewu bisa menggandakan dirinya sebanyak mungkin.


Aji Bandung Bondowoso memiliki daya hancur yang luar biasa.


Aji singo barong juga memiliki daya hancur yang luar biasa.


Aji Wisanggeni juga bisa mengendalikan elemen api Sesuka Hati.


"Kita semua harus waspada, Begawan Ludoyo tidak bisa diremehkan, dia adalah pengguna jurus kala murka", Pangeran Kasim Wijaya peringatkan para Ksatria tersebut agar Waspada.


"ampun Pangeran, Kalau boleh tahu, seberapa hebat jurus kala murka tersebut", tanya Patih warangga seta kepada Pangeran Kasim Wijaya.


"jurus kala murka tingkatannya lebih tinggi dari jurus kala Pati dan kala baya, dan bahkan lebih berbahaya dari kedua jurus tersebut", jawab Pangeran Kasim Wijaya.


"bahkan saya sendiri pengguna jurus kala baya, sangat ragu untuk bisa mengalahkannya, tapi setidaknya kita semua harus berjuang demi kemenangan pertempuran ini, meski nyawa sebagai taruhannya", Pangeran Kasim Wijaya berkata.


Kemudian Begawan Ludoyo dengan santainya dia berjalan mendekat kepada para Ksatria tersebut.


Sesampainya tiba di dekat para Ksatria itu, Begawan Ludoyo berkata, bahwa ada para serangga yang datang untuk bertaruh nyawa.


Bahkan Begawan Ludoyo menertawainya.


"lebih baik kalian pergi dari sini secepatnya, daripada kalian Mati sia-sia, karena kalian tak akan sanggup untuk mengalahkanku hanya dengan kekuatan seperti itu", ocehan Begawan Ludoyo.


Lalu tanpa banyak bicara, Prabu silendra wangi, menggandakan dirinya menjadi puluhan wujud dirinya, menggunakan ajian bala sewu.

__ADS_1


Lalu Beliau segera menyerang Begawan tersebut.


Saat itu Begawan Ludoyo sangat menikmati pertarungan tersebut.


Meskipun Begawan Ludoyo Harus Melawan puluhan wujud dari Prabu silendra wangi, tapi Begawan Ludoyo tidak merasa kesulitan sama sekali.


Padahal tiap-tiap wujud Prabu silendra wangi tersebut, memiliki kekuatan yang sama dengan wujud aslinya, tapi bagi Begawan Ludoyo, Prabu silendra wangi masih bukan tandingannya.


Kemudian para Ksatria yang lainnya segera membantu Prabu silendra wangi, yang sedang bertarung melawan Begawan Ludoyo.


Saat itu Pangeran Kasim Wijaya menggunakan jurus kala baya, untuk memanipulasi dirinya menjadi sekeras baja, sekuat gajah dan secepat kilat.


Lalu dengan gabungan serangan dari para Ksatria tersebut, membuat Begawan Ludoyo sedikit kewalahan.


Saat itu ada salah satu Ksatria yang menjadi perhatian Begawan Ludoyo, salah satu ksatria tersebut ialah Pangeran Kasim Wijaya.


Pertarungan mereka sangat sengit sekali.


Begawan Ludoyo tak mudah dikalahkan meskipun dikeroyok segitu banyaknya.


Kemudian untuk membuat situasi tak serumit ini, Begawan Ludoyo mengerahkan para pasukan tanah untuk membantu dirinya.


Hal ini bukan berarti Begawan Ludoyo tak bisa mengatasi musuh-musuhnya tersebut yaitu para Ksatria.


Di sisi lain Begawan Ludoyo juga memikirkan tentang dirinya, Jika dia terus-terusan dipaksa bertarung secara sendiri melawan segitu banyaknya para musuhnya, yang dia khawatirkan, dia akan cepat kehabisan Cakra.


Maka dari itu Begawan Ludoyo juga punya siasat Bagaimana cara menghadapi para lawan-lawannya tersebut.


Saat itu Begawan Ludoyo sengaja menyimpan cakranya, untuk berjaga-jaga saat menghadapi Pangeran Guna Wijaya, Yang sebentar lagi dia akan selesai memulihkan cakranya tersebut.


Kemudian Begawan Ludoyo saat itu memusatkan serangannya kepada Pangeran Kasim Wijaya, karena Begawan Ludoyo tahu bahwa Pangeran kasim wijaya adalah pengguna jurus kala baya.


Tapi dengan cepat para Ksatria dapat menghancurkan para pasukan manusia tanah, yang menghalanginya untuk tidak menyerang Begawan Ludoyo.


Saat para Manusia tanah itu hancur, para Ksatria tersebut kembali memusatkan serangannya kepada Begawan Ludoyo.


Lalu situasi tersebut membuat Begawan Ludoyo kehabisan kesabaran.


Kemudian saat Begawan Ludoyo asik bertarung melawan pangeran Kasim Wijaya, tiba-tiba Begawan tersebut menghentikan serangannya.


"sudah waktunya aku menghancurkan kalian semua, tidak akan aku tunda lagi, kehancuran kalian semua sudah di depan mata", Begawan Ludoyo murka.


Kemudian Begawan Ludoyo menciptakan sebuah pedang dari segumpal tanah, dan pedang itu digunakan untuk memotong rambutnya yang panjang terurai.

__ADS_1


Entah buat apa rambut tersebut, tapi Begawan Ludoyo tak akan pernah mengingkari ancamannya itu, untuk segera menghancurkan para musuh-musuhnya tersebut.


__ADS_2