PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
60. Kesedihan dalam pertempuran


__ADS_3

Akhirnya dengan perjuangan yang keras Pangeran Gunawijaya berhasil masuk kedalam alam bawah sadar Prabu Jayawaskita, dan ia berusaha menyadarkan Prabu Jayawaskita menggunakan pikirannya yang dipusatkan pada alam bawah sadarnya.


Saat kesadaran Prabu Jayawaskita mulai kembali pada kesadaran dirinya, Raja iblis Kalazar yang sedang berada dalam diri Prabu Jayawaskita, dia tak menyia nyiakan kesempatan untuk bisa berpindah kedalam tubuh yang lainnya.


Tiba-tiba Pangeran Jatiwijaya berteriak dan berlari kearah saudaranya itu, yaitu Pangeran Gunawijaya.


"Kanda Pangeran Gunawijaya hentikan meditasimu dan segeralah menyingkir dari situ".


Pangeran Gunawijaya tidak begitu mendengar teriakan adik sepupunya tersebut, karena ia dalam keadaan konsentrasi penuh untuk menyadarkan Prabu Jayawaskita dan juga dimedan perang suasananya juga sangat ramai pertempuran, jadi teriakan Pangeran Jatiwijaya tertutup oleh kebisingan dimedan perang.


Pangeran Jatiwijaya sangat khawatir dan panik saat melihat mata ular besar jelmaan dari pusakanya yaitu cumeti banas pasti berubah warna yang tadinya merah kini menjadi hitam pekat, sebab Pangeran Jatiwijaya merasa bahwa Raja iblis Kalazar kini telah merasuki ular besar itu dan siap untuk menyerang Pangeran Gunawijaya yang sedang dalam meditasinya.


Ternyata benar, ular tersebut melepas lilitannya pada Prabu Jayawaskita dan dengan cepat ular itu berbalik arah menyerang Pangeran Gunawijaya yang sedang dalam meditasinya, dan Pangeran Gunawijaya tidak siap akan serangan cepat tersebut dari ular besar itu, sehingga Pangeran Gunawijaya tidak dapat menghindari serangan tersebut.


"Kanda Pangeraaaaannn!", Pangeran Jatiwijaya berteriak sekencang nya melihat Pangeran Gunawijaya tak berdaya diserang oleh ular tersebut.


Ular besar yang berwarna merah menyala berhasil menggigit leher Pangeran Gunawijaya dan melilitnya.


Prabu Jayawaskita yang telah sadar dari pengaruh Kalazar, Beliau menyaksikan Pangeran Gunawijaya yang sedang dalam bahaya, ia langsung mengambil gada soka nya yang tengah tergeletak didekatnya dan seketika itu dengan sekuat tenaga, ia melemparkan gada soka yang kekuatannya setara dengan seribu gajah tepat mengarah kepada ular besar tersebut.


"Duuuuummm!!", bunyi gada soka yang menghantam ular besar itu dengan kencangnya.

__ADS_1


Ternyata yang terluka terkena hantaman gada soka bukanlah ular besar itu, melainkan Kalazar lah yang terluka akibat hantaman tersebut, sebab ular besar itu bukanlah ular asli melainkan ular jelmaan dari cumeti banas pati milik Pangeran Jatiwijaya.


Otomatis kekuatan dari gada soka yang menghantam dengan kencangnya itu malah mengarah pada Kalazar yang merasuk kedalam ular besar tersebut, sehingga membuat Raja iblis Kalazar terluka parah terkena dampak dari hantaman gada soka yang berkekuatan seribu gajah.


Dan keluarlah Kalazar dari tubuh ular besar itu, dia berlari tertatih-tatih kesakitan kearah pasukannya, Saka yang melihatnya segera menolongnya dan menarik semua pasukannya yang tersisa untuk segera mundur dari pertempuran.


Sebab Saka menyadari bahwa tanpa Kalazar, mereka semua pasti kalah dalam pertempuran tersebut, sebab itu lebih baik mundur dari pada harus meneruskan pertempuran.


Akhirnya ular besar itu kembali ke wujud aslinya yaitu cumeti banas pati, dan Pangeran Gunawijaya pun terbebas dari serangan ular tersebut.


Semua kesatria berlari menghampiri Pangeran Gunawijaya, tapi ternyata Pangeran Gunawijaya sudah tak sadarkan diri akibat serangan ular besar itu. Tubuhnya membiru akibat dampak dari bisa atau racun ular besar itu yang sangat cepat menjalar keseluruh tubuhnya, semua orang nampak panik melihat Pangeran Gunawijaya sudah tak berdaya lagi.


"Kanda Pangeran Gunawijaya, sadarlah!", teriak Pangeran Jatiwijaya yang emosinya bercampur aduk antara sedih dan marah.


Dengan berlinang air mata, Pangeran Jatiwijaya berkata bahwa percuma saja dicarikan tabib, sebab bisa atau racun dari ular besar itu tidak akan ada yang bisa menyembuhkan nya, sebab ular itu bukan ular biasa tapi ular jelmaan dari sebuah pusaka sakti yaitu cumeti banas pati.


Kemudian senopati Balawarman mencoba bertanya pada junjungannya yaitu Nyi Roro Kidul menggunakan kemampuan telepatinya atau kontak batin, ia bertanya apakah ada cara untuk bisa menyembuhkan Pangeran Gunawijaya dari serangan ular jelmaan cumeti banas pati.


Lalu Nyi Roro Kidul menjawab bahwa tidak ada didunia ini obat yang bisa menyembuhkan luka dari serangan ular jelmaan cumeti banas pati, sebab hanya kesaktian pedang mustika biru lah yang dapat menyembuhkan nya, dan kini pedang mustika biru sudah tidak ada lagi.


Saat tidak ada lagi solusi untuk menyelamatkan Pangeran Gunawijaya dari serangan ular tersebut, semua kesatria hanya tertunduk dan meratapi akan nasib Pangeran Gunawijaya.

__ADS_1


Pangeran Jatiwijaya dan Kedasih hanya bisa menangis sedih akan nasib tragis yang dialami oleh Pangeran Gunawijaya.


"Maafkan aku Kanda Pangeran, ini semua salahku, seharusnya aku tidak mengeluarkan cumeti banas pati", penyesalan Pangeran Jatiwijaya karena merasa apa yang telah terjadi pada Pangeran Gunawijaya adalah salahnya.


"Tidak Pangeran Jatiwijaya, jangan terlalu menyalahkan diri, sebab ini semua adalah takdir", Prabu Jayawaskita mencoba menenangkan Pangeran Jatiwijaya.


Disaat situasi sudah buntu, tiba-tiba dari langit datanglah sebuah kereta kencana yang megah beserta beberapa pengawalnya turun menghampiri kesatria kesatria tersebut, alangkah terkejutnya mereka semua melihat hal tersebut.


"Salam hormat untuk para kesatria kesatria hebat, perkenalkan saya Wasesa, senopati Dewa Indra, Raja para dewa", senopati Wasesa yang datang dari langit segera memberikan hormat dan memperkenalkan dirinya.


Mengetahui identitas tersebut, semua kesatria segera memberikan salam hormat juga kepada senopati Wasesa.


Kemudian senopati Wasesa berkata bahwa dirinya diutus oleh Dewa Indra untuk menjemput Pangeran Gunawijaya, sebab Beliau akan dirawat di kahyangan untuk kesembuhan nya, sebab hanya Dewa Indra lah yang bisa menyembuhkan luka Pangeran Gunawijaya.


Setelah itu Pangeran Gunawijaya segera dibawa menuju kahyangan, tapi sebelum itu senopati Wasesa berpesan kepada para kesatria untuk meneruskan misi Pangeran Gunawijaya menyatukan para pendekar aliran putih meski tanpa kehadiran Pangeran Gunawijaya.


Akhirnya situasi yang tadinya buntu kini sudah mencair karena pertolongan Dewa Indra yang telah mengutus para punggawa nya untuk menjemput Pangeran Gunawijaya dan membawanya ke kahyangan.


Setelah itu keesokan harinya para pengawal Pangeran Gunawijaya yaitu Pangeran Jatiwijaya, kedua senopati Balawarman dan Balamarwan, Jatmiko, Kedasih, Sanjaya dan juga Mandala, mereka semua berpamitan kepada Prabu Jayawaskita untuk meneruskan perjalanan misi Pangeran Gunawijaya.


Lalu yang jadi ketua sementara dalam misi tersebut adalah Pangeran Jatiwijaya, ia menggantikan Pangeran Gunawijaya yang masih dalam perawatan di kahyangan.

__ADS_1


Kemudian di kahyangan Dewa Indra telah mengobati Pangeran Gunawijaya menggunakan air kehidupan dari cupu manik astagina atau wadah suci kehidupan, yang dulu pernah dibawa oleh Dewa Narada untuk memulihkan turonggo sikuda terbang dan juga memulihkan Pangeran Gunawijaya waktu perang suryaloka. Di kahyangan Pangeran Gunawijaya langsung pulih kembali dari lukanya berkat air kehidupan tersebut sewaktu ia pertama kali datang ke kahyangan, Dewa Indra segera meminumkan air tersebut kepada Pangeran Gunawijaya.


Dan untuk sementara waktu Pangeran Gunawijaya harus tetap tinggal di kahyangan karena Dewa Indra akan memberikan kesaktian berupa jurus kala pati, jurus yang sama yang pernah dimiliki oleh mendiang pamannya sendiri yaitu Pangeran Muradwijaya atau biasa dipanggil dengan sebutan sesosok misterius.


__ADS_2