PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
27. Pertolongan dua pendekar


__ADS_3

Akhirnya Raden Mahesasangkala dan Putri Galuhsangkala menyerang senopati Kolomonggo dengan menggunakan jurus rahasia marga sangkala, jurus itu bisa menirukan jurus lawannya hanya untuk beberapa menit saja. Setelah itu untuk menggunakan jurus itu kembali Raden Mahesasangkala dan Putri Galuhsangkala harus butuh waktu setengah hari sehabis masa pemakaian jurus tersebut. Lalu senopati Kolomonggo sangat kesulitan dan kuwalahan menghadapi Raden Mahesasangkala dan Putri Galuhsangkala karena mereka berdua menyerang senopati Kolomonggo dengan jurus yang sama persis dengan jurus dirinya. Tak lama kemudian hanya butuh waktu beberapa menit saja senopati Kolomonggo dapat dikalahkan oleh mereka berdua dengan menggunakan jurus rahasia marga sangkala. Akhirnya dengan kalahnya senopati Kolomonggo, Raden Mahesasangkala bisa kabur dari kadipaten melalui jalan rahasia dengan menunggangi kuda yang sudah disiapkan oleh adiknya yaitu Putri Galuhsangkala.


"Kanda mahesa cepat lari dari sini!", Teriak Putri Galuhsangkala.


"Tapi dinda, bagaimana dengan dirimu?", Kata Raden Mahesasangkala pada adiknya tersebut.


"Kanda jangan khawatirkan hamba, hamba akan baik baik saja disini, yang penting sekarang keselamatan kanda Mahesa?", Jawab Putri Galuhsangkala dengan penuh harap.


Kemudian kaburlah Reden Mahesasangkala dengan menunggangi kudanya. Lalu senopati Kolomonggo yang melihatnya segera mengejarnya dengan membawa para prajurit atau pasukan untuk menangkap Raden Mahesasangkala hidup atau mati. Aksi pengejaranpun terjadi, Raden Mahesasangkala yang menunggangi kudanya ia melaju dengan kencang, dan dibelakangnya yang tidak jauh darinya ada senopati Kolomonggo yang mengejarnya bersama para prajurit berkuda. Pengejaran itu terus berlangsung sampai tiba diperbatasan daerah karang menjangan, kemudian senopati Kolomonggo memberi perintah pada pasukan berkudanya untuk segera memanah Raden Mahesasangkala, karena ia harus ditangkap hidup atau mati? Dan akhirnya ketiga panah melesat kearah Raden Mahesasangkala, tapi ketiga panah yang dilesatkan belum berhasil mengenainya. Lalu dilesatkanlah lagi panah-panah itu untuk yang kedua kalinya, tapi panah-panah itu masih belum juga mengenainya. Kemudian untuk yang ketiga kalinya panah itu dilesatkan lagi oleh para pasukan pemanah tersebut, dan akhirnya tertancaplah salah satu panah-panah itu mengenai punggung Raden Mahesasangkala. Meski Raden Mahesasangkala terkena panah dipunggungnya tapi ia masih bisa meneruskan lajunya dengan menunggangi kudanya, tapi senopati Kolomonggo masih terus mengejarnya, dan dia menyuruh pasukannya untuk memanah Raden Mahesasangkala lagi sampai ia terjatuh dari kuda tunggangannya itu.


"Pasukan, panah Raden Mahesasangkala sampai dia terjatuh!", Perintah senopati Kolomonggo pada pasukan pemanah jitunya.

__ADS_1


"Sendiko kanjeng senopati!", Sahut para pasukan pemanahnya.


Lalu lesatan panah keempat dilepaskan oleh para pasukan pemanah tersebut, dan disaat lesatan panah-panah itu hampir mengenai Raden Mahesasangkala lagi, tiba tiba Sanjaya beserta Mandala datang menyelamatkannya. Mereka berdua menangkis lesatan panah-panah itu dengan senjatanya masing-masing, Sanjaya menangkis panah itu dengan senjata kujang kembarnya, sedangkan Mandala menggunakan belati kembarnya. Sebenarnya Sanjaya dan Mandala diperintahkan oleh Maha Patih Damarwijaya untuk memantau kondisi Raden Mahesasangkala dikadipaten karang menjangan, sebab Maha Patih Damarwijaya merasa bahwa kondisi Raden Mahesasangkala sangat terancam meski ia ada dipuri kadipatennya sendiri, sebab ia tidak mendukung rencana pemberontakkan Ayahndanya yaitu Adipati Burhansangkala. Maka dari itu berangkatlah Sanjaya dan Mandala pergi kekarang menjangan untuk memantau kondisi Raden Mahesasangkala, tapi disaat mereka berdua dalam perjalanan kekarang menjangan tiba-tiba tanpa mereka duga, mereka melihat pasukan berkuda sedang mengejar seseorang? Setelah mereka lihat ternyata yang dikejar-kejar oleh para pasukan berkuda itu ternyata adalah Raden Mahesasangkala, maka dari itu mereka langsung segera menyelamatkannya dari kejaran para pasukan berkuda tersebut. Lalu Sanjaya dan Mandala berhasil menyelamatkan Raden Mahesasangkala yang sedang dikejar-kejar oleh senopati Kolomonggo. Kemudian Raden Mahesasangkala yang terkena panah dipunggungnya, ia segera dibawa pergi oleh Sanjaya, sedangkan Mandala berusaha menghadang senopati Kolomonggo bersama para pasukannya.


"Sanjaya cepat kau bawa Raden Mahesasangkala pergi dari sini, biar aku yang menghadapi mereka", Kata Mandala sipendekar belati kembar.


Disaat Raden Mahesasangkala dibawa lari oleh Sanjaya, senopati Kolomonggo yang melihatnya berusaha untuk mengejarnya tapi usaha dia mengejar Raden Mahesasangkala dihalangi oleh Mandala. Dengan jurus teleportasinya Mandala bisa dengan mudah mengatasi senopati Kolomonggo beserta para pasukannya, sampai-sampai senopati Kolomonggo terkejut dengan jurus apa sebenarnya yang telah digunakan Mandala, kenapa dia bisa dengan mudahnya menghilang dan muncul kembali disekitar yang dia kehendaki dan lalu menyerang dengan secara tiba-tiba. Kalau seperti ini senopati Kolomonggo bakal kesulitan melawannya, akhirnya senopati Kolomonggo memutuskan untuk mundur saja dari pengejaran Raden Mahesasangkala karena dia tidak ingin banyak jatuh korban diantara pasukannya jika memaksakan diri untuk melawan Mandala yang memiliki kekuatan teleportasi atau jurus berpindah tempat.


Kemudian Mandala segera menyusul Sanjaya yang menyelamatkan Raden Mahesasangkala dari serangan para pasukan senopati Kolomonggo, Sanjaya berusaha mengobati luka panah Raden Mahesasangkala, mereka berdua berada didalam hutan diluar perbatasan daerah karang menjangan, karena luka Raden Mahesasangkala harus segera mendapat pengobatan, sebab kalau dibiarkan terlalu lama bisa-bisa pendarahan luka akibat terpanah makin parah, jadi harus butuh pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahannya itu. Tak lama kemudian datanglah Mandala dengan mengikuti jejak sesuatu yang telah Sanjaya tinggalkan disetiap perjalanannya saat membawa lari Raden Mahesasangkala, akhirnya Mandala bisa dengan mudah menemukan mereka berdua didalam hutan.


"Sanjaya, bagaimana keadaan Raden Mahesasangkala?", Tanya Mandala dengan rasa panik.

__ADS_1


"Luka panah Raden Mahesa sangat dalam, tapi saya bisa sedikit mengobatinya untuk menghentikan pendarahannya, meski pengobatan ini hanya untuk pertolongan pertama saja", kata Sanjaya dengan perasaan was-was akan kondisi Raden Mahesasangkala.


"Kalau begitu mari kita bawa Raden Mahesa pargi dari hutan ini, dan kita cari tabib disekitar kawasan sini untuk mengobati luka Raden Mahesasangkala", kata Mandala.


Akhirnya mereka berdua bergegas membawa pergi Raden Mahesasangkala dari hutan tersebut untuk mencari tabib, guna untuk mengobati luka panahnya. Kemudian disisi lain Pangeran Gunawijaya yang sedang membahas masalah tanah jawa dikerajaan himalaya, ia berkata pada pamannya yaitu Raja Silendrawangi agar selalu waspada dari acaman sesosok misterius yang sumpahnya akan membunuh semua para Raja Raja tanah jawa, agar tidak menghalangi tujuannya untuk menghancurkan tanah jawa ini. Lalu Raja Silendrawangi menjawab bahwa ia akan selalu wespada dengan hal itu semua, dan ia meminta agar ponakannya itu segera menyelesaikan tugasnya untuk mengumpulkan para pendekar aliran putih guna memerangi kekuatan aliran hitam yang akan segera disatukan oleh sesosok misterius. Kemudian malam haripun datang, rembulan nampak bersinar terang diatas langit yang gelap dan cahaya bintang-bintang dilangit seakan menghiasi sunyinya malam itu. Disebuah kamar istana himalaya nampak sigadis manis Kedasih yang sedang termenung dibalik jendela yang pintunya terbuka, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu, tubuh indahnya nampak mempesona dengan balutan busana batik khas ala kerajaan himalaya, sedangkankan rambut panjangnya terurai kesamping hingga menutupi bagian tubuhnya, dan tiba-tiba pintu kamarnya berbunyi tok tok tok!


"Iya siapa itu?", Tanya Kedasih yang malam itu nampak mempesona.


"Saya, Jatmiko!", sahutnya.


"Oh kang Jatmiko, silahkan masuk akang, pintunya tidak saya kunci", jawab Kedasih sigadis manis.

__ADS_1


Akhirnya masuklah Jatmiko kedalam kamar Kedasih, dan dia sangat terpukau melihat Kedasih malam itu sangat mempesona, dan hasrat Jatmikopun naik turun saat melihat Kedasih malam itu sangat mempesona bak seorang dewi.


__ADS_2