
Akhirnya setelah gugurnya kedua pembesar karang menjangan yaitu Adipati Burhansangkala besarta senopati Kolomonggo, lalu begawan Winara dengan lantang ia berseru dan berkata kepada seluruh pasukan karang menjangan bahwa junjungan mereka Adipati Burhansangkala telah tewas, maka dari itu seluruh pasukan karang menjangan yang masih tersisa diharap untuk segera menyerah dan kembali tunduk dibawah panji suryaloka.
Kemudian seluruh pasukan karang menjangan yang masih tersisa akhirnya menurunkan senjata mereka sebagai tanda bahwa mereka menyerah pada kekuatan suryaloka, tapi ada seseorang yang tak bersedia menyerah pada kekuatan suryaloka, dia tidak berambisi untuk mengalahkan suryaloka tapi dia berambisi untuk membunuh seluruh orang yang berada dimedan perang, seseorang yang berambisi akan membunuh seluruh pasukan dari kedua kubu tersebut adalah Pangeran Muradwijaya atau biasa dipanggil dengan sebutan sesosok misterius.
Pada mulanya dia memang ingin membantu kubu karang menjangan untuk mengalahkan suryaloka tapi dia berubah pikirkan karena karang menjangan ternyata bukan lawan yang sepadan bagi suryaloka, maka dari itu dengan kekalahan karang menjangan dari suryaloka, Pangeran Muradwijaya berniat akan menghabisi seluruh orang orang yang ada dimedan perang kecuali para anak buahnya yaitu para pendekar aliran hitam yang turut serta dalam peperangan tersebut. Kemudian Pangeran Muradwijaya yang sedang bertarung dengan Maha Patih Damarwijaya beserta Pangeran Gunturwijaya, ia tiba-tiba mengeluarkan jurus yang sangat menakutkan yang akan digunakan untuk menghabisi seluruh orang orang yang berada dimedan perang tersebut.
"Saat inilah aku harus menghabisi kalian semua yang berada dimedan perang guna untuk mengakhiri peperangan ini, dan pada akhirnya bukan karang menjangan ataupun suryaloka yang jadi pemenang dalam peperangan ini, tetapi akulah Pangeran Muradwijaya yang akan jadi pemenang dalam peperangan ini", kata sesosok misterius atau Pangeran Muradwijaya.
"Ajiku kabut silumaaaaann!!!", Pangeran Muradwijaya mengeluarkan kesaktian aji kabut siluman yang pernah dimiliki oleh penyihir jahat Amuka waktu menyerang suryaloka.
Tiba-tiba keluarlah kabut hitam dari tubuh Pangeran Muradwijaya, dengan sangat tebal kabut itu segera menyebar keseluruh medan perang dan siapapun yang menghisap kabut itu kecuali Pangeran Muradwijaya dan para anak buahnya, mereka semua akan berubah menjadi batu.
"Ponakanku Gunturwijaya, tahan nafasmu, jangan sampai kau menghisap kabut ini karena kabut ini bukan kabut biasa!", kata Maha Patih Damarwijaya.
__ADS_1
Kabut itu dengan cepat hampir menyebar keseluruh area medan perang, banyak para pasukan dari kedua kubu yang menghisap kabut itu dan berubah menjadi batu. Akhirnya ratalah kabut itu menyebar keseluruh medan perang dan sebagian besar orang yang berada disana berubah menjadi batu karena menghisap kabut tersebut, setelah kabut itu lenyap dari medan perang yang tersisa hanya sebagian kecil yang tidak berubah menjadi batu ialah Maha Patih Damarwijaya, begawan Winara, Pangeran Gunturwijaya, Raden Mahesasangkala, Sanjaya, Mandala, senopati Sandiaga dan senopati Barda. Mereka semua tidak berubah jadi batu karena mereka tahu bahwa kabut itu bukan kabut biasa, maka dari itu mereka berusaha menahan nafas sampai kabut itu lenyap dari medan perang.
Setelah kabut itu lenyap, Pangeran Muradwijaya sang pemilik ajian kabut itu sangat terkejut, kenapa masih ada yang selamat dari ajian kabut siluman yang dia keluarkan. Tapi bagi dia mereka-mereka yang masih selamat bukan tandingannya, maka dari itu Pangeran Muradwijaya bertekat untuk segera menghabisi mereka semua yang masih hidup dengan tangannya sendiri.
"Biarpun kalian bisa bertahan hidup dari ajian kabut silumanku, tapi kalian semua bukanlah tandinganku, kalian hanya seperti segerombolan tikus pengganggu bagiku!", Pangeran Muradwijaya dengan sombongnya.
Mendengar perkataan Pangeran Muradwijaya atau sesosok misterius, Pangeran Gunturwijaya tanpa basa-basi ia langsung dengan cepat menyerangnya menggunakan aji guntur saketi, tapi apa daya, Pangeran Muradwijaya dengan sangat mudah dapat menepisnya. Kemudian Pangeran Muradwijaya memukul Pangeran Gunturwijaya hingga ia terpental jauh. Hanya dengan sekali pukul, Pangeran Gunturwijaya yang memiliki aji guntur saketi, ia langsung tak berdaya akibat terkena pukulan Pangeran Muradwijaya.
Kemudian Pangeran Muradwijaya berkata bahwa inilah kekuatannya yang sesungguhnya dan sudah saatnya dia mengeluarkannya untuk membunuh mereka semua yang masih bertahan hidup dari serangan aji kabut silumannya. Kekuatan yang digunakan oleh Pangeran Muradwijaya saat ini untuk membunuh mereka semua yang masih hidup adalah jurus Kala Pati. Jurus kala pati adalah jurus terlarang yang sudah lama menghilang dari dunia persilatan karena jurus itu adalah salah satu jurus dewa kematian, siapapun pemiliknya, dia bisa memanipulasi atau menghendaki keadaan dirinya dan juga keadaan alam disekitarnya, itulah kengerian jurus kala pati milik Pangeran Muradwijaya.
Tidak ada pilihan lain lagi bagi mereka semua para kesatria kesatria hebat tersebut, mereka harus menyatukan kekuatan mereka yang tersisa untuk mengalahkan Pangeran Muradwijaya meski hal itu sangat sulit mereka lakukan karena mereka menyadari bahwa meski dengan menyatukan semua kekuatan mereka, mereka tidak akan bisa mengalahkannya sebab pengguna jurus kala pati sudah menjadi manusia setengah dewa karena kesaktian jurus tersebut.
Yang di pikirkan oleh para kesatria kesatria tersebut sekarang hanya mengharap keberuntungan dari Dewata supaya ada seseorang kesatria yang mampu mengalahkan Pangeran Muradwijaya pemilik jurus kala pati tersebut. Kemudian disisi lain di istana kahyangan, Raja Dewa yaitu Dewa Indra sedang mengamati peperangan tersebut, sebab Dewa Indra mengetahui ada seseorang jahat yang berhasil menguasai jurus terlarang yaitu jurus kala pati.
__ADS_1
"Kau tidak usah khawatir dewa Narada, apa yang kau lihat didunia sana memang sudah kehendak YANG MAHA KUASA, setiap kejahatan pasti akan ada kebaikkan yang akan mengadilinya, begitupun dengan seseorang yang berhasil menguasai jurus terlarang, jurus kala pati, pasti akan ada kesatria hebat utusan YANG MAHA KUASA yang akan menghancurkannya", kata Dewa Indra pada penasehat istana kahyangan yaitu dewa Narada.
Lalu dewa Narada menjawab perkataan Dewa Indra?
"Sendiko Yang Mulya Dewa Indra, memang ini sudah kehendak YANG MAHA KUASA, hamba yakin kejahatan pasti akan hancur disaat kebaikkan itu sudah datang", dewa Narada dengan keyakinannya.
Kemudian di segoro kidul, Kanjeng Ratu Roro Kidul juga melihat jalannya peperangan tersebut lewat kaca saktinya yaitu kaca benggala dan Beliau berkata pada para punggawanya yaitu dewi cundo manik, senopati balawarman dan senopati balamarwan?
"Peperangan ini bukan peperangan biasa, peperangan ini adalah peperangan dimana dua kesatria hebat akan dipertemukan untuk saling berhadapan, Pangeran Muradwijaya dengan jurus terlarangnya yaitu jurus kala pati, untuk sekarang dia tiada tanding, tapi sebentar lagi disaat kesatria pilihan itu datang untuk melawannya, dia baru akan menyadari bahwa masih ada seseorang hebat yang mampu melawannya", Nyi Roro Kidul berkata.
Lalu kembali kemedan perang, keadaan disana sangat mencekam, meraka yang masih selamat justru mendapat ancaman kematian dari Pangeran Muradwijaya yang menguasai jurus terlarang yaitu jurus kala pati, sedangkan mereka semua para kesatria kesatria tersebut bukan tandingan nya. Setelah Pangeran Gunturwijaya dikalahkan oleh Pangeran Muradwijaya hanya dengan sekali pukul, sekarang giliran Maha Patih Damarwijaya beserta kedua senopati Sandiaga dan senopati Barda yang maju menyerang Pangeran Muradwijaya dengan kekuatan yang mereka miliki.
Maha Patih Damarwijaya menyerang dengan aji brata yang membuat Pangeran Muradwijaya terbelenggu oleh kekuatan elemen tanah yang dikendalikan oleh Maha Patih Damarwijaya untuk menghisap setengah badan Pangeran Muradwijaya guna mempermudah kedua senopati tersebut untuk menyerangnya. Akhirnya disaat Pangeran Muradwijaya sedang terbelenggu karena terhisap kekuatan tanah dari aji brata, lalu senopati Sandiaga dengan cepat memukul dengan ajian tapak lawunya, dengan cepat racun dari pukulan tapak lawu langsung menyebar keseluruh tubuh Pangeran Muradwijaya hingga tubuhnya berubah warna menjadi biru, sedangkan senopati Barda segera menyerangnya dengan auman aji senggoro macan, seketika itu sekujur tubuh Pangeran Muradwijaya terbakar.
__ADS_1
Dengan serangan kombinasi mereka bertiga, Maha Patih Damarwijaya, senopati Sandiaga beserta senopati Barda membuat Pangeran Muradwijaya tak berkutik sama sekali, dengan serangan kombinasi tersebut Pangeran Muradwijaya diambang kematian, dan mereka bertiga sangat berbangga hati karena merasa bisa mengalahkan seorang sakti mandraguna seperti Pangeran Muradwijaya.
Sedangkan mereka yang turut menyaksikan pertarungan tersebut, Pangeran Gunturwijaya, begawan Winara, Raden Mahesasangkala, Sanjaya dan Mandala, mereka berlima tersenyum lega dengan kekalahan Pangeran Muradwijaya atau biasa dipanggil sesosok misterius dari serangan kombinasi ketiga kesatria hebat yaitu Maha Patih Damarwijaya beserta kedua senopati Sandiaga dan senopati Barda.