PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
40. Silsilah Pangeran Muradwijaya


__ADS_3

Pada waktu dulu saat mendiang penguasa kerajaan suryaloka yaitu Maha Raja Sabdawijaya masih hidup, Beliau mempunyai dua orang istri yaitu istri pertama bernama Putri Anjani sebagai sang permaisuri dan istri kedua bernama Putri Santika sebagai sang selir. Dari kedua istri tersebut, Maha Raja Sabdawijaya dikaruniai dua anak laki-laki, anak pertama hasil perkawinannya dengan permaisuri Anjani sedangkan anak keduanya hasil perkawinannya dengan selir Santika. Anak pertama dari hasil pernikahan Maha Raja Sabdawijaya bersama permaisuri Anjani adalah Pangeran Aryawijaya, sedangkan anak kedua hasil pernikahannya dengan selir Santika adalah Pangeran Muradwijaya.


Pada seiringnya waktu berjalan, disaat Maha Raja Sabdawijaya sudah tua dan nampak sakit-sakitan, Beliau segera menobatkan putranya yaitu Pangeran Aryawijaya sebagai Maha Raja kerajaan suryaloka, sebab ia adalah putra mahkota suryaloka dan putra dari permaisuri Anjani. Sedangkan putra kedua dari Maha Raja Sabdawijaya yaitu Pangeran Muradwijaya diangkat sebagai panglima perang kerajaan suryaloka, sebab ia adalah putra dari selir Santika. Lalu mendiang Maha Raja Sabdawijaya mempunyai saudara sepupu bernama Mulyawijaya, kedudukkannya dikerajaan suryaloka adalah sebagai Maha Patih, Beliau mempunyai satu anak hasil dari perkawinannya dengan putri Sundari, anak itu bernama Pangeran Damarwijaya, dan pada saat Maha Patih Mulyawijaya keadaannya sudah semakin tua, akhirnya kedudukkan sebagai Maha Patih diserahkan pada putranya yaitu Pangeran Damarwijaya.


Setelah era Maha Raja Sabdawijaya dan Maha Patih Mulyawijaya sudah usai karena mereka berdua sudah tua, akhirnya yang menggantikan kedudukkannya sebagai Maha Raja dan Maha Patih di kerajaan suryaloka adalah Pangeran Aryawijaya sebagai putra mahkota yang dinobatkan sebagai Maha Raja dan Pangeran Damarwijaya yang diangkat sebagai Maha Patih nya. Mengetahui hal itu Pangeran Muradwijaya tidak terima karena ia sangat berambisi ingin menjadi penguasa kerajaan suryaloka, tapi apa daya, ia adalah putra dari seorang selir, maka dari itu ia tidak punya hak sama sekali untuk menjadi Maha Raja dikerajaan suryaloka karena yang berhak atas kedudukkan itu ialah Pangeran Aryawijaya putra dari seorang permaisuri, ialah putra mahkota atau pewaris tunggal tahta kerajaan suryaloka.


Tapi tak cukup sampai disitu, Pangeran Muradwijaya yang telah diangkat menjadi panglima perang kerajaan suryaloka berniat membunuh saudaranya tersebut yaitu Maha Raja Aryawijaya, dengan dukungan dari ibunya yaitu selir santika. Pangeran Muradwijaya merencanakan aksi pembunuhannya itu dengan segenap cara, tapi apa daya, rencananya itu telah gagal karena diketahui oleh Maha Patih Damarwijaya, dan akhirnya kejadian itu dilaporkannya kepada Maha Raja Sabdawijaya yang waktu itu masih hidup meski sudah tua dan sakit sakitan. Setelah mengetahui rencana jahat Pangeran Muradwijaya yang akan membunuh saudaranya sendiri yaitu Maha Raja Aryawijaya, akhirnya sebagai hukuman atas tindakkan jahat tersebut, Maha Raja Sabdawijaya mengusir Pangeran Muradwijaya beserta ibunya selir Santika yang telah mendukung aksi jahatnya itu keluar dari suryaloka.


Setelah kepergian Pangeran Muradwijaya beserta ibunya selir Santika keluar dari suryaloka, akhirnya Maha Raja Aryawijaya dan Maha Patih Damarwijaya hidup dengan tenang mengurus dan membangun kerajaan suryaloka dan mereka berdua akhirnya menikah dengan seorang putri. Maha Raja Aryawijaya menikah dengan putri Kencanawangi dan dikaruniai tiga orang anak yaitu anak pertama adalah Pangeran Gunawijaya, anak kedua Pangeran Gunturwijaya dan anak ketiga ialah Putri Kumalawijaya. Sedangkan Maha Patih Damarwijaya menikah dengan putri Puspasari dan dikaruniai satu anak yaitu Pangeran Jatiwijaya. Dan beberapa lama kemudian setelah kelahiran anak-anak tersebut, akhirnya Ayah dari Maha Raja Aryawijaya yaitu Maha Raja Sabdawijaya meninggal dunia. Sedangkan adik sepupunya yaitu Maha Patih Mulyawijaya Ayah dari Maha Patih Damarwijaya masih hidup sampai sekarang.

__ADS_1


Kemudian kembali kemedan perang karang menjangan, sesosok misterius yang sebenarnya adalah Pangeran Muradwijaya, ia bangkit dari kematiaan setelah terkena serangan kombinasi Maha Patih Damarwijaya beserta Pangeran Gunturwijaya, sebab Pangeran Muradwijaya mempunyai ajian pancasona yang bisa membangkitkan sang pemilik ajian itu dari kematian jika tubuhnya menyentuh tanah, terkena angin, air maupun api. Lalu Maha Patih Damarwijaya dan Pangeran Gunturwijaya dibuatnya sangat terkejut dan kebingungan karena melihat Pangeran Muradwijaya atau sesosok musterius itu bangkit dari kematiannya.


"Hei kau Damarwijaya, kau tidak usah bingung dengan apa yang kau lihat sekarang ini, akulah Pangeran Muradwijaya atau sesosok misterius, kemunculanku ini atas dasar dendam, meski aku bukan pewaris sah kerajaan suryaloka, tapi dengan kekuatanku yang sekarang, aku pasti bisa mewujudkan impianku selama ini yaitu menjadi penguasa suryaloka dan bukan hanya itu saja, setelah tujuanku berhasil menghancurkan tanah jawa, akulah Pangeran Muradwijaya yang akan menjadi penguasa tunggal ditanah jawa ini", dengan penuh keyakinan sesosok misterius berkata.


"Hentikanlah ambisi gilamu itu kanda Muradwijaya, selagi banyak kesatria-kesatria hebat ditanah jawa ini yang berjalan pada kebenaran, ambisi gilamu itu tidak akan pernah terwujud, kembalilah pada jalan kebenaran sebelum terlambat karena Dewata tidak akan pernah membiarkan tujuan jahatmu itu berhasil, sebab aku yakin suatu saat Dewata pasti akan mengirim seorang kesatria yang akan menghancurkanmu!", kata Maha Patih Damarwijaya pada saudara sepupunya yaitu Pangeran Muradwijaya atau yang lebih dikenal sebagai sesosok misterius.


Meskipun Pangeran Muradwijaya sudah diperingatkan oleh saudara sepupunya yaitu Maha Patih Damarwijaya agar tidak meneruskan tujuannya itu, tapi ia tetap berambisi untuk menguasai tanah jawa dengan cara yang tidak benar. Akhirnya pertarungan merekapun terus berlanjut, dengan bangkitnya Pangeran Muradwijaya dari kematiannya dengan menggunakan ajian pancasona yang ia miliki. Sebenarnya tidak mudah untuk mengalahkan Pangeran Muradwijaya, ia sengaja menjajal kesaktian kedua kesatria tangguh suryaloka yaitu Maha Patih Damarwijaya beserta Pangeran Gunturwijaya, ternyata kesaktian kedua kesatria tersebut benar-benar membuat Pangeran Muradwijaya sangat kuwalahan sampai ia tewas oleh kesaktian kedua kesatria tersebut yaitu Maha Patih Damarwijaya beserta Pangeran Gunturwijaya.


Kemudian disisi lain ketiga punggawa suryaloka Raden Mahesasangkala, Sanjaya dan Mandala masing-masing menghadapi senopati Kolomonggo yang telah menggandakan dirinya menjadi tiga bagian dengan menggunakan ajian balasewunya. Senopati kolomonggo yang telah menjadi tiga bagian berhasil mendesak ketiga punggawa suryaloka itu karena senopati Kolomonggo bertarung dengan bersenjatakan keris pusaka haryamurti yang sangat sakti, apa lagi senopati Kolomonggo termasuk seorang jawara bela diri, maka dari itu dia tak kesulitan sama sekali melawan ketiga punggawa suryaloka tersebut.

__ADS_1


"Sanjaya, Mandala untuk mengalahkan senopati Kolomonggo yang telah menjadi tiga bagian, kita harus bisa mengalahkan wujud aslinya!", Kata Raden Mahesasangkala kepada rekannya tersebut.


"Coba saja jika kalian bisa mengalahkan ku!", senopati Kolomonggo dengan begitu sombongnya.


Akhirnya dengan cerdik senopati Kolomonggo memperbanyak dirinya lagi menjadi tiga puluh bagian dari yang awal menjadi tiga bagian akhirnya dia menggadakan dirinya kembali menjadi lebih banyak. Dan akhirnya ketiga punggawa suryaloka itu Raden Mahesasangkala, Sanjaya dan Mandala masing-masing dari mereka bertiga melawan sepuluh bagian senopati Kolomonggo yang memperbanyak dirinya menjadi tiga puluh bagian dan setiap bagian tersebut sama-sama membawa keris pusaka haryamurti.


Raden Mahesasangkala beserta kedua rekannya Sanjaya dan Mandala dibuat kuwalahan oleh senopati Kolomonggo, akhirnya mereka bertiga mengeluarkan ilmu andalan masing-masing. Raden Mahesasangkala mengeluarkan ajian sanca rudra yang bisa mengeluarkan pasukan ular angin dari segala penjuru, barang siapapun yang terkena serangan ular angin tersebut dia akan memuai atau memanas lama kelamaan dalam hitungan detik akan mengembang lalu meledak bagai boom waktu. Lalu Sanjaya mengeluarkan ajian kilat sayuto dan Mandala mengeluarkan jurus kombinasi teleportasi dan belati anginnya. Akhirnya pertarungan mereka bertiga melawan senopati Kolomonggo jadi semakin sengit, Raden Mahesasangkala yang menyerang dengan aji sanca rudranya, ia berhasil menghancurkan sebagian diri dari senopati Kolomonggo, begitupun Sanjaya beserta Mandala juga sudah banyak menghancurkan sebagaian diri senopati Kolomonggo yang telah memperbanyak dirinya.


"Jika aku hanya sebanyak ini lama-lama aku akan kalah, baiklah kalau gitu, aku akan menggiring mereka bertiga menjauh dari area pertempuran?", kata senopati Kolomonggo dari dalam hatinya yang penuh dengan rencana cerdiknya.

__ADS_1


Akhirnya senopati Kolomonggo berhasil menggiring ketiga punggawa suryaloka yaitu Raden Mahesasangkala, Sanjaya dan Mandala menjauh dari area pertempuran, dan disaat sudah berada jauh dari area pertempuran tiba-tiba senopati Kolomonggo memperbanyak dirinya hingga menjadi tiga ratus bagian menggunakan ajian bala sewu. Raden Mahesasangkala, Sanjaya dan Mandala sangat terkejut melihat senopati Kolomonggo yang menjadi lebih banyak hingga tiga ratus bagian, mereka bertiga sedikit merasa gemetar dibuatnya.


__ADS_2