PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
151. Tewasnya kedua penghianat


__ADS_3

Lalu singkat cerita Kin dan Kun sudah bersiap dengan senjatanya tersebut yaitu tombak bayangan.


Kemudian Kin dan Kun membidikkan senjatanya itu kepada target atau sasarannya yang mereka kehendaki.


"Apa kau sudah siap dinda Kun", kata si Kin kepada adiknya tersebut.


"ya Kanda aku sudah siap, Mari kita bersama-sama melemparkan tombak ini kepada sasaran kita", jawab Kun.


Sebenarnya mereka berdua ada tiga bersaudara, Kan Kin dan Kun.


Si kan adalah kakak pertama dari kin dan kun.


Tapi sayangnya sih kan, sudah tewas sejak lama.


Akhirnya tinggal mereka berdua yang masih hidup, yaitu kin dan kun.


Kemudian Kin dan Kun segera melaksanakan tujuannya untuk menghabisi targetnya dengan menggunakan senjata tombaknya tersebut.


Kedua tombak itu dilemparkan dengan sangat kencang ke arah targetnya, dan ternyata target tersebut bukanlah Pangeran Guna Wijaya, melainkan target itu adalah junjungannya sendiri yaitu Begawan Sakti Ludoyo.


Kin dan Kun tidak mau jika dirinya bakal sewaktu-waktu dijadikan korban atau sasaran ambisi dari junjungannya sendiri.


Maka dari itu sebelum hal itu terjadi, mereka berdua harus menghabisi junjungannya tersebut terlebih dulu.


Kedua tombak bayangan milik kin dan kun, benar-benar menancap ke tubuh Begawan Sakti Ludoyo.


Dan Begawan Sakti Ludoyo tak menyangka dengan apa yang dia alami saat ini, Sebab Dia mengira kedua tangan kanannya tersebut yaitu Kin dan Kun, adalah anak buah yang paling setia dan bisa dipercaya.


Tapi ternyata mereka berdua malah berkhianat kepadanya, yaitu kepada Begawan Sakti Ludoyo.


Saat itu kedua tangan kanan Begawan Sakti Ludoyo tersebut, sangat kegirangan, mereka berdua merasa bahwa tujuannya sudah berhasil menghabisi junjungannya sendiri.


"hahaha... Akhirnya mati juga kau Begawan busuk, rasakan kehebatan dari kami berdua", kata Kin yang merasa berhasil membunuh Begawan Sakti Ludoyo.


"hahaha... Iya Kanda, Begawan busuk itu sudah menerima hukuman dari kita berdua, daripada kita yang jadi korban mendingan dia yang harus mati di tangan kita", kata kun yang menyahuti perkataan dari kakak yang tersebut.

__ADS_1


Saat itu memang Begawan Sakti Ludoyo benar-benar terkapar, ke dua tombak bayangan yang menancap di tubuhnya, membuat dia tewas seketika.


Semua pasukan dari Begawan Sakti Ludoyo yang melihat kejadian tersebut benar-benar tidak menyangka, dengan apa yang telah dilakukan oleh kedua tangan kanannya yang paling setia kepadanya yaitu Kin dan Kun.


Bahkan Pangeran Guna Wijaya pun beserta para prajuritnya, juga tidak menyangka dengan kejadian itu.


Kemudian Kin dan Kun berkata dengan lantangnya kepada semua orang yang ada di sekitarnya.


"Hei kalian semua, entah kawan maupun lawan, harusnya kalian semua berterima kasih kepada kami berdua, kami telah membebaskan kalian semua dari ancaman Begawan busuk itu, tentunya kalian semua juga sudah melihat bagaimana kelakuan Begawan busuk itu terhadap kita semua, Begawan busuk itu bisa menghabisi kita semua demi tujuannya, dan dia tak pandang bulu, kawan maupun lawan akan dia libas dengan sesuka hatinya", kata Kin kepada semua orang.


Kemudian ada salah satu punggawa dari Begawan Sakti Ludoyo berkata.


"Kin, coba kau dengarkan perkataanku ini, jika junjungan kita sudah mati karenamu, Bagaimana kita bisa berjuang menghadapi musuh kita, apalagi di Kubu musuh kita masih ada pangeran Guna Wijaya, yang kesaktiannya tidak mungkin bisa kita tandingi", salah satu punggawa terbaik Begawan Sakti Ludoyo berkata.


"hahaha... Itu terserah urusan kalian semua, yang jelas aku beserta adikku, akan pergi meninggalkan medan perang ini, karena perang ini sudah tidak ada gunanya lagi bagi kita berdua", kata Kin.


Kemudian Kin segera menyuruh Pangeran Guna Wijaya untuk mengambil paku bumi yang berada di dalam tubuh Begawan Sakti Ludoyo.


Kin yakin dengan kesaktian yang dimiliki oleh pangeran Guna Wijaya, Pangeran Guna Wijaya pasti bisa mengambil paku bumi tersebut.


Kemudian Pangeran Jati Wijaya segera menyuruh saudaranya tersebut yaitu Pangeran Guna Wijaya, untuk segera mengambil paku bumi itu yang berada di dalam tubuh Begawan Sakti Ludoyo.


"tunggu dulu sebentar dinda Jati Wijaya, kita jangan gegabah untuk memutuskan segala sesuatu", kata Pangeran Guna Wijaya kepada adik sepupunya tersebut.


"Maafkan saya Kanda pangeran Guna Wijaya, apa yang Kanda Katakan Sebenarnya memang benar", jawab Pangeran Jati Wijaya.


Singkat cerita saat itu kedua pendekar Kin dan Kun, mereka berdua Sambil tertawa terbahak akan segera meninggalkan medan perang tersebut.


Tiba-tiba Tanpa mereka sadari, di belakang mereka berdua ada terdengar suara yang membuat mereka berdua kaget terdiam dan tercengang.


"mau pergi ke mana kau penghianat, Jangan harap kau bisa melarikan diri dariku, biarpun kau sembunyi di ujung dunia pun, kalian berdua tak akan luput dariku", ternyata Begawan Sakti Ludoyo bangkit dari kematiannya waktu itu.


Kin dan Kun lupa kalau sebenarnya Begawan Sakti Ludoyo, memiliki kesaktian berupa ajian pancasona.


Siapapun yang memiliki ajian tersebut, yaitu ajian pancason, maka seseorang tersebut tidak akan pernah bisa mati dengan semudah itu.

__ADS_1


Dan itulah yang dialami Begawan Sakti Ludoyo, dengan hanya tertusuk oleh kedua tombak bayangan milik Kin dan Kun, hal itu tidak akan bisa membuat Begawan Sakti Ludoyo tewas untuk selamanya.


Setelah mendengar suara tersebut, Kin dan Kun segera menoleh dan membalikkan badan untuk memastikan suara tersebut.


Ternyata benar, dugaan Kin dan Kun, bahwa suara itu adalah suara Begawan Sakti Ludoyo.


Seketika itu mereka berdua gemetar hingga menelan ludah, saat melihat Begawan Sakti Ludoyo masih hidup.


Kemudian Begawan Sakti Ludoyo, mencabut kedua tombak yang menancap di badannya.


Hal itu membuat semua orang yang melihatnya sangat terpana, sebab seketika itu saat kedua tombak tersebut dicabut, luka dari tusukan kedua tombak itu yang menembus perut hingga punggungnya, tiba-tiba luka itu pulih seketika.


Dan Begawan Sakti Ludoyo serasa tidak pernah terkena apa-apa, padahal tusukan dari kedua tombak itu benar-benar mengenai organ vitalnya, tapi nyatanya Begawan Sakti Ludoyo masih baik-baik saja.


Kemudian dihadapan Kin dan Kun, Begawan Sakti Ludoyo mematahkan kedua tombak tersebut milik Kin dan Kun.


"mainan seperti ini tidak akan pernah bisa Membunuhku", kata Begawan Sakti Ludoyo yang menghina kedua tombak bayangan tersebut.


Lalu dengan berjalan Begawan Sakti Ludoyo mendekati kedua pendekar tersebut, yaitu Kin dan Kun.


Sedangkan Kin dan Kun, mereka berdua sangat ketakutan saat Begawan Sakti Ludoyo mendekati dirinya.


Lalu tiba-tiba, bola-bola api yang berada di belakang punggung Begawan Sakti Ludoyo, yang berputar seperti Cakra atau kincir angin, bola-bola api itu muncul kembali.


Kini bola-bola api itu jumlahnya tinggal enam, karena sudah digunakan satu waktu untuk menyerang Pangeran Guna Wijaya saat itu.


"Dinda kita harus melawannya, sebab untuk lari pun rasanya sudah percuma", kata Kin kepada saudaranya yaitu Kun.


"Baik kanda, dengan sekuat tenaga, kita memang harus melawannya", Kun menjawab.


Saat Kin dan Kun usai bercakap, tiba-tiba kepala mereka berdua Sudah terpisah dari badannya.


Ternyata Begawan Sakti Ludoyo telah membunuhnya menggunakan salah satu bola-bola api yang berada di belakang punggungnya.


Saking cepatnya serangan tersebut, pendekar sehebat Kin dan Kun sampai tak bisa menghindarinya, karena kecepatan serangan itu seperti halnya kedipan mata.

__ADS_1


__ADS_2