PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
41. Pesan terakhir seorang ayah


__ADS_3

Pertarungan senopati Kolomonggo melawan ketiga punggawa suryaloka sekarang berdampak buruk bagi ketiga punggawa tersebut karena senopati Kolomonggo mengeluarkan banyak cakra atau tenaga dalam untuk memperbanyak dirinya hingga tiga ratus bagian menggunakan aji balasewu. Raden Mahesasangkala, Sanjaya beserta Mandala meski mereka mengeluarkan kesaktiannya tapi untuk menghadapi senopati Kolomonggo dengan jumlah segitu banyaknya meraka sangat kesulitan. Raden Mahesasangkala mengendalikan pasukan ular anginnya dengan ajian sanca rudra untuk menyerang, tapi senopati Kolomonggo bisa dengan mudah mematahkan ajian itu karena dia berjumlah lebih banyak dari sebelumnya, dengan keris pusaka haryamurti senopati Kolomonggo berhasil menghancurkan pasukan ular angin yang dikendalikan oleh Raden Mahesasangkala. Lalu Sanjaya yang mengeluarkan ajian kilat sayuto, ia sangat kuwalahan menghadapi senopati Kolomonggo karena setiap serangannya menggunakan aji kilat sayuto yang telah menjadi cambuk kilat dikedua tangannya, dapat dengan mudah ditepis oleh senopati Kolomonggo dengan keris pusakanya tersebut.


Kemudian Mandala yang menyerang menggunakan jurus kombinasinya antara jurus teleportasi dengan belati angin, ia juga sangat kebingungan untuk melawan senopati Kolomonggo yang berjumlah segitu banyaknya karena setiap Mandala berteleportasi berpindah tempat, ia tak luput dari pantauan senopati Kolomonggo yang memperbanyak dirinya menjadi tiga ratus bagian.


Ketiga punggawa suryaloka tersebut hampir putus asa melawan senopati Kolomonggo yang menggunakan ajian bala sewu. Disaat mereka bertiga lengah menghadapi senopati Kolomonggo yang begitu banyaknya, akhirnya Sanjaya dan Mandala terkena sayatan keris pusaka harya murti oleh senopati Kolomonggo. Kedua punggawa itu langsung lemas tak berdaya karena lebih dari setengah cakra mereka terserap oleh keris pusaka harya murti. Mereka berdua yaitu Sanjaya dan Mandala menjerit kesakitan akibat sayatan dari keris pusaka harya murti yang telah menyerap cakra mereka berdua. Lalu Raden Mahesasangkala yang melihatnya segera menghampiri mereka berdua dengan membentengi dirinya menggunakan pasukan ular anginnya, Raden Mahesasangkala segera berlari kearah kedua rekannya tersebut.


"Sanjaya, Mandala, bagaimana dengan keadaan kalian sekarang?", tanya Raden Mahesasangkala pada kedua rekannya tersebut.


"Keadaan kami tidak apa-apa Raden, cuma cakra kami hampir terkuras habis oleh keris pusaka itu, tapi untungnya kami masih punya sedikit cakra untuk bisa melawannya", jawab Sanjaya dengan nada kesakitan.


Akhirnya mereka bertiga bertarung kembali melawan senopati Kolomonggo dengan kekuatan yang seadanya, Sanjaya beserta Mandala yang sedang terluka terkena sayatan keris pusaka harya murti, sedangkan Raden Mahesasangkala, ia bisa bertarung dengan kekuatan penuh karena ia belum terluka sama sekali. Kemudian disisi lain Adipati Burhansangkala yang sudah turun kemedan perang harus menghadapi kesatria hebat suryaloka yaitu Kanjeng Abdi Pranata Suryaloka atau biasa dipanggil dengan sebutan begawan Winara. Mereka berdua sebagai panglima perang akhirnya saling berhadapan juga. Adipati Burhansangkala yang sebenarnya sangat menyanjung dan menghormati begawan Winara sebagai seorang penasehat kerajaan yang terkemuka setanah jawa pada akhirnya ia harus menghadapinya dimedan perang sebagai musuhnya.

__ADS_1


"Salam hormat saya begawan Winara, saya menyadari bahwa tindakkan saya ini ingin memberontak pada suryaloka sangat tidak benar dan memalukan, tapi sebenarnya ini semua bukan atas dasar keinginan atau rencana saya", kata Adipati Burhansangkala dengan penuh penyesalan.


"Ya aku tahu semua rencana pemberontakkan ini siapa sebenarnya dalangnya, tapi hal ini tidak perlu disesali karena sudah terlambat untuk disesali, dan sebenarnya kita berdua saling menghormati satu sama lain, tapi kali ini kita dipertemukan dimedan perang sebagai musuh yang harus saling membunuh!", jawab begawan Winara pada Adipati Burhansangkala dengan perasaan kecewa.


Akhirnya sebelum bertarung Adipati Burhansangkala memberi tahu pada begawan Winara bahwa tidak mudah untuk membunuhnya karena ia mempunyai ilmu rawa rontek dan aji braja musti, jadi untuk bisa membunuhnya, Adipati Burhansangkala berpesan supaya begawan Winara bisa mencari cara yang tepat agar bisa membunuhnya.


Pertarungan Adipati Burhansangkala sebagai panglima perang akhirnya terjadi, ia harus menghadapi begawan Winara seorang sakti mandraguna. Adu bela diripun terjadi antara kedua panglima perang dari kedua kubu masing-masing yaitu karang menjangan dan suryaloka, begawan Winara berusaha mendesak Adipati Burhansangkala tapi usahanya itu tidak semudah yang ia bayangkan sebab Adipati Burhansangkala adalah seorang jago bela diri juga. Dengan kemampuan bela diri mereka berdua, pertarungan itu berjalan imbang, keduanya masih sama-sama kuat dalam pertarungan bela diri, jurus demi jurus mereka keluarkan untuk saling menyerang, tendangan pukulan yang bertubi-tubi mereka lesatkan dan pada akhirnya Adipati Burhansangkala berhasil menghantam dada begawan Winara dengan pukulannya, sedangkan begawan Winara berhasil menendang perut Adipati Burhansangkala.


Adu bela diripun terus berlanjut disertai dengan ajian mereka berdua, Adipati Burhansangkala dengan aji braja mustinya sedangkan begawan Winara dengan aji gajah mungkurnya, mereka berdua saling adu fisik menggunakan ajian tersebut dan pada akhirnya mereka berdua tanpa disengaja beradu pukulan dan Buuuummm, kedua ajian itu saling berbenturan dengan beradunya pukulan mereka berdua, medan perangpun sampai bergetar dan suara dari beradunya kedua ajian hebat itupun sampai terdengar disetiap penjuru. Seluruh warga karang menjangan sangat terkejut dibuatnya, suara beradunya aji braja musti dengan gajah mungkur membuat para warga bertanya-tanya suara apakah itu yang menggelegar diseluruh pelosok daerahnya. Kemudian Pangeran Gunawijaya yang sedang dalam perjalanan bersama para pengawalnya yang akan memasuki kawasan karang menjangan mereka semua juga mendengar suara menggelegar itu.


"Suara apa itu kanda Pangeran!", kata Pangeran Jatiwijaya pada Pangeran Gunawijaya dengan sangat terkejut.

__ADS_1


"Itu suara dua kekuatan hebat yang saling berbenturan satu sama lain, ayo cepat, sebentar lagi kita akan sampai kemedan perang karang menjangan", jawab Pangeran Gunawijaya.


Kedua ajian tersebut yaitu braja musti dan gajah mungkur adalah ajian tingkat tinggi penghancur yang sangat terkenal dijagad persilatan. Tidak banyak atau jarang sekali seseorang yang memiliki kedua ajian tersebut kalau bukan orang orang yang hebat dalam spiritual nya, karena mereka tidak akan sanggup melakukan pertapaan untuk mendapatkan kedua ajian itu. Lalu Adipati Burhansangkala yang sedang bertarung melawan begawan Winara, ia sempat kehilangan konsentrasi karena ia merasa putranya yaitu Raden Mahesasangkala sedang dalam bahaya karena ia sedang bertarung dengan senopati Kolomonggo, maka dari itu Adipati Burhansangkala hanya bertahan didalam pertarungannya melawan begawan Winara. Kemudian didalam pertarungannya, Adipati Burhansangkala mencoba berbicara dengan putranya tersebut melalui kemampuan telepati atau kontak batin antara mereka berdua.


"Putraku Raden Mahesa, Aku Ayahmu Adipati Burhan", Adipati Burhansangkala berbicara lewat batin dengan putranya tersebut.


"Daulat Ayahnda Adipati, ada apa gerangan Ayah memanggil hamba melalui telapati, bukannya Ayah sekarang dalam pertarungan dimedan perang?", jawab Raden Mahesasangkala pada Ayahndanya tersebut.


"Ya putraku, Ayah sekarang sedang dalam pertarungan melawan seorang sakti begawan Winara, Ayah sangat mengkhawatirkanmu, sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu sekarang ini putraku Mahesa?", Kata Adipati Burhansangkala.


Kemudian Raden Mahesasangkala menjawab bahwa ia sedang dalam bahaya karena ia sangat kesulitan melawan senopati Kolomonggo yang telah memperbanyak dirinya menjadi tiga ratus bagian. Lalu Adipati Burhansangkala menjawab ucapan putranya itu untuk bisa mengalahkan senopati Kolomonggo harus mencari wujud aslinya dengan menggunakan indera keenam yaitu mata hati, jika sudah ketemu wujud asli senopati Kolomonggo, bunuhlah dia menggunakan jurus marga kita yaitu jurus sangkala dan dengan perpaduan kekuatan alam, senopati Kolomonggo pasti akan terkalahkan.

__ADS_1


__ADS_2