PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
11. Mata air suci


__ADS_3

Kemudian dikerajaan suryaloka Pangeran Gunturwijaya sedang memperdalam ilmunya, ia berlatih keras bersama gurunya yaitu Resi Malaka.


Dengan tekad yang kuat Pangeran Gunturwijaya benar-benar ingin meningkatkan kemampuannya itu, ia harus menjalankan perintah yang diberikan oleh Nyi Roro Kidul padanya untuk memperdalam ilmunya, karena ia harus lebih kuat dari sekarang sebab ia disiapkan untuk berperang melawan pasukan aliran hitam yang ingin menghancurkan tanah jawa suatu saat nanti.


Ketika Pangeran Gunturwijaya sedang beristirahat dari latihannya ia berkata pada gurunya yaitu Resi Malaka?


"Sudah beberapa hari ini saya selalu kepikiran Kanda Gunawijaya guru, semoga beliau berhasil dalam mengemban tugasnya untuk menyatukan pendekar aliran putih", kata Pangeran Gunturwijaya.


"Kau tidak usah risau Pangeran, Kandamu Pangeran Gunawijaya adalah seorang kesatria tangguh, Beliau tak akan gagal dari tugasnya", Kata Resi Malaka kepada Pangeran Gunturwijaya.


Kemudian didalam sela-sela pembicaraan antara Pangeran Gunturwijaya beserta gurunya yaitu Resi Malaka tiba-tiba datanglah Putri Kumalawijaya adik dari Pangeran Gunturwijaya, ia membawa pesan dari Pamannya yaitu Maha Patih Damarwijaya, lalu putri Kumalawijaya berkata?


"Maaf Kanda Gunturwijaya kalau hamba mengganggu latihan Kanda bersama Resi Malaka, maksud hamba kesini untuk menyampaikan pesan dari Paman Patih Damarwijaya, Kanda secepatnya disuruh menghadap Beliau dipuri utama suryaloka", kata Putri kumalawijaya kepada kakaknya yaitu Pangeran Gunturwijaya.


Lalu Pangeran Gunturwijaya menjawabnya?


"Baiklah dinda Kumalawijaya, kanda akan segara kesana", kata Pangeran Gunturwijaya.


Beberapa saat kemudian datanglah Pangeran Gunturwijaya kepuri utama suryaloka untuk menghadap Pamannya yaitu Maha Patih Damarwijaya.


Lalu Pangeran Gunturwijaya bertanya ada gerangan apa Paman Patih Damarwijaya memanggilnya, kemudian Paman Patih Damarwijaya menjawab kalau maksud tujuannya untuk memberi mandat atau perintah pada Pangeran Gunturwijaya untuk segera menyiapkan pertemuan para Raja-Raja tanah jawa di istana suryaloka guna membahas tentang masalah yang akan terjadi di tanah jawa yaitu akan datangnya kehancuran tanah jawa yang disebabkan oleh sesosok misterius yang pernah sesumbar didepan Pangeran Gunawijaya.


Kemudian segeralah Pangeran Gunturwijaya melaksanakan mandat itu, ia segera mengirim undangan pada semua Raja Raja setanah jawa.


Sebenarnya waktu itu tanah jawa terbagi lima wilayah yaitu? Kerajaan Suryaloka, Himalaya, Banyuasri, Giritunggal dan Giriseta. Sedangkan kerajaan Giriseta sebenarnya adalah wilayah pecahan dari kerajaan Giritunggal. Tapi diantara kelima kerajaan itu yang terbesar adalah kerajaan Suryaloka.


Penguasa kerajaan suryaloka yaitu Maha Raja Aryawijaya, Beliau telah gugur dimedan perang waktu perang suryaloka terjadi saat penyihir jahat amuka ingin menghancurkan kerajaan tersebut, dan sebagai penggantinya suatu saat yaitu Pangeran Gunawijaya sebagai putra mahkotanya yang diangkat menjadi Maha Raja suryaloka.


Penguasa kerajaan himalaya yaitu Raja Silendrawangi, Beliau adalah kakak dari Yang Mulya Ratu Kencanawangi istri dari Maha Raja Aryawijaya yang telah gugur.


Penguasa kerajaan banyuasri yaitu Raja Jayawaskita.


Dan penguasa kerajaan giritunggal yaitu Raja Jakabirawa, Beliau kakak dari Raja Dasabirawa penguasa kerajaan giriseta.


Lalu beberapa hari kemudian sampailah undangan dari suryaloka pada para Raja-Raja penguasa kerajaan kerajaan tersebut.

__ADS_1


Tapi beberapa prajurit pengantar undangan dari suryaloka ada yang terlambat datang kewilayah giritunggal, ternyata prajurit-prajurit itu telah dihadang oleh segerombolan pendekar aliran hitam, akhirnya mereka semua tewas dibunuh oleh pendekar aliran hitam dan sebagai pengganti pengantar undangan ke giritunggal, beberapa pendekar aliran hitam itu menyamar sebagai prajurit suryaloka untuk mengantarkan undangan ke giritunggal.


Kemudian disisi lain Pangeran Gunawijaya yang mencari air suci kealas purwo untuk mematahkan kutukkan ki Lodra yang ditujukan pada Kedasih, usahanya mencari air tersebut belum juga dapat, sebab sedang Kamulyan tempat dimana air suci itu berada belum juga ia temukan keberadaannya.


"Ampun Pangeran Gunawijaya, sudah tujuh hari kita berada dialas purwo belum juga menemukan sedang kamulyan itu?, padahal kita sudah mencarinya hampir keseluruh pelosok hutan ini, apakah sendang kamulyan itu hanya cerita bualan Jatmiko saja Pangeran", Kata senopati Balamarwan yang hampir putus asa mencari sendang kamulyan sumber dari mata air suci tersebut.


"Kita harus tetap mencarinya, sebab firasatku mengatakan sebentar lagi kita akan menemukan sendang itu", jawab Pangeran Gunawijaya.


Kemudian meski hari sudah mulai malam Pangeran Gunawijaya dan kedua pengawalnya tersebut terus mencari sendang kamulyan, tapi tak disangka ketika mereka bertiga berjalan di jalan setapak, mereka bertiga bertemu dengan seorang kakek yang berjalan dengan membawa tongkat.


Lalu Jatmiko bertanya pada kakek tersebut dimana keberadaan sendang kamulyan itu berada? Lalu kakek itu menjawab kalau keberadaan sendang kamulyan tidak bisa dicari dengan mudah karena sendang kamulyan itu tempat dimana para dewa kahyangan turun dari langit untuk sekedar meminum air sendang itu.


Kemudian jatmiko bertanya lagi pada kakek tersebut bagaimana cara untuk menemukan sedang tersebut, kemudian kakek itu menjawab bahwa tidak semudah itu mencari sendang Kamulyan.


Setelah memberi jawaban akan sendang kamulyan, lalu kakek itu memberikan tiga biji kancang kepada Jatmiko?


"Ini ambilah dan makanlah biji kacang ini, setelah itu kalian semua berjalanlah lurus kedepan ikuti jalan setapak ini, jika kalian menemukan sebuah gubuk didepan sana tepat diujung jalan, kalian berhenti dan istirahatlah disana karena hari sudah mulai malam", kata sang kakek itu kepada Jatmiko simantan ketua pendekar aliran hitam yang sudah tobat.


"Kakek, untuk apa biji kacang ini sebenarnya, kenapa kami harus memakannya", kata Jatmiko dengan rasa penasaran.


Alangkah terkejutnya mereka bertiga yang mengetahui kejadian itu.


Lalu terdengarlah suara yang menggema dari sang kakek itu, beliau berkata kalau biji kacang yang ia berikan harus dimakan karena kacang itu bukan kacang biasa dan kakek itu bilang sebentar lagi apa yang mereka cari akan ketemu.


Akhirnya mereka segera memakan biji kacang itu tanpa rasa ragu dan segera melanjutkan perjalanan sesuai petunjuk sang kakek tersebut. Setelah mereka sampai diujung jalan setapak mereka benar-benar melihat sebuah gubuk seperti yang kakek itu katakan, kemudian mereka bertiga yaitu Pangeran Gunawijaya, senopati Balamarwan dan Jatmiko beristirahat digubuk tersebut untuk melepas lelah.


Kemudian Pangeran Gunawijaya berkata kepada kedua pengawalnya yaitu Senopati Balamarwan dan Jatmiko?


"Apa kalian berdua tidak merasakan sesuatu yang aneh dalam diri kalian semua", kata Pangeran Gunawijaya.


"Iya Pangeran, hamba merasa bugar kembali tubuh ini dan hamba tidak merasa haus ataupun lapar", kata senopati Balamarwan.


"Sayapun juga merasa hal yang sama seperti yang senopati rasakan", kata Jatmiko.


"Mungkin ini berkat tiga biji kacang yang telah kakek itu berikan pada kita", kata Pangeran Gunawijaya.

__ADS_1


Kemudian pagipun tiba, matahari yang terbit dari timur terlihat sangat cerah, menandakan bahwa hari itu sangat indah.


Tak disangka saat Pangeran Gunawijaya terbangun dari tidurnya, lalu berjalan dan membuka pintu gubuk itu yang ia lihat diluar nampak hamparan taman yang indah dan terlihat ada sebuah mata air yang jernih sejernih-jernihnya bagai kilauan permata ditengah taman surga.


Pangeran Gunawijaya yang nampak bingung melihatnya ia mengusap-usap matanya seraya memastikan apa yang ia lihat itu nyata ataukah hanya mimpi, sebab semalam yang Pangeran Gunawijaya lihat diluar gubuk bukan sebuah taman yang indah melainkan sebuah hutan yang belantara.


Lalu Pangeran Gunawijaya segera membangunkan kedua pengawalnya yaitu senopati Balamarwan dan Jatmiko, alangkah terkejutnya mereka berdua melihat pemandangan diluar gubuk itu.


Kemudian keluarlah Pangeran Gunawijaya beserta kedua pengawalnya dari gubuk tersebut dan berjalan menuju kemata air yang jernih itu, dan tiba-tiba didepan mereka bertiga munculah seorang Resi yang terlihat bercahaya, ternyata Resi itu adalah sang kakek yang semalam mereka temui didalam hutan belantara.


"Kakek!", Kata Jatmiko yang sangat terkejut dengan kemunculannya.


Lalu kakek itu menjawab?


"Iya kisanak, saya adalah kakek yang kalian temui semalam", kata sang kakek.


Kemudian Pangeran Gunawijaya bertanya pada kakek itu?


"Maaf, Siapa kakek sebenarnya", kata Pangeran Gunawijaya.


"Saya adalah seorang Resi Pertapa, saya penjaga sendang kamulyan ini", jawab kakek itu.


"Jadi inikah sendang kamulyan itu, sungguh indah mata airnya", kata senopati Balamarwan dengan menggeleng-nggelengkan kepala karena takjub akan keindahan sendang kamulyan tersebut.


Lalu Resi Pertapa itu berjalan kearah sendang kamulyan dan mengambilkan air sendang itu dengan sebuah kendi untuk Pangeran Gunawijaya karena Resi itu tahu akan maksud kedatangannya kealas purwo.


Pangeran Gunawijaya dan kedua pengawalnya sangat berterimakasih atas pemberian air suci dari sendang kamulyan oleh Resi Pertapa itu.


Kemudian disaat Pangeran Gunawijaya beserta kedua pengawalnya berpamitan kepada Resi itu, tiba-tiba tempat yang mereka lihat adalah taman yang indah terdapat sendang kamulyan, seketika itu berubah menjadi hutan belantara yang mereka lewati tadi malam saat berjalan dijalan setapak.


Mereka tak habis pikir dengan kejadian itu semua, akhirnya setelah Pangeran Gunawijaya beserta pengawalnya akan kembali kedesa rembang dimana Kedasih berada, tak disangka munculah badai angin dilangit yang menerpa mereka semua dari ketinggian.


Pangeran Gunawijaya yang menunggangi turonggo sikuda terbang dan senopati Balamarwan beserta Jatmiko yang menaikki burung raja wali raksasa mereka semua hampir terhempas oleh badai angin tersebut, tapi badai itu bukan penghalang bagi Pangeran Gunawijaya, ia dengan mudah dapat menetralkan badai itu dangan kekuatan dari pedang mustika biru, sebab siapapun seseorang yang mempunyai pedang mustika biru, ia bisa menguasai kelima elemen milik kelima pendekar sakti yang telah menyatu kedalam pedang mustika biru tersebut.


Seketika dikendalikanlah badai itu oleh Pangeran Gunawijaya dengan menggunakan kekuatan angin dari kelima elemen yang menyatu dalam pedang mustika biru.

__ADS_1


__ADS_2