PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
113. Cinta segitiga


__ADS_3

Kemudian singkat cerita, kabar akan menikahnya Pangeran Gunawijaya bersama sigadis manis Kedasih, kabar tersebut sudah menyebar sampai ke negri giritunggal.


Putri Senjabirawa yang mendengar kabar itu sangat terpukul sekali hatinya, sebab dia juga sangat mencintai Pangeran Gunawijaya.


Akhirnya Putri Senjabirawa setelah berpamitan dengan ibunya, dia segera bergegas pergi menuju ke kerajaan suryaloka untuk memastikan tentang kebenaran kabar tersebut dari diri Pangeran Gunawijaya secara langsung.


Putri Senjabirawa pergi ke kerajaan suryaloka dengan keempat senopati sebagai pengawalnya.


Patih Waranggaseta menitipkan keselamatan putri giritunggal tersebut pada keempat senopati itu.


Sebab Putri Senjabirawa sebagai putri giritunggal, dia adalah calon Ratu di kerajaan tersebut, yaitu kerajaan giritunggal.


Semenjak diturunkannya Raja Sutabirawa dari singgasananya, kemudian sebagai kandidat utama pemimpin kerajaan giritunggal, adalah Putri Senjabirawa.


Maka dari itu, keempat senopati yang mengawalnya menuju ke suryaloka, adalah keempat senopati unggulan.


Singkat cerita pada beberapa waktu kemudian, datanglah Putri Senjabirawa ke kerajaan suryaloka bersama keempat pengawalnya tersebut.


Mahapatih Damarwijaya sangat heran dan tak menyangka, bahwa seorang putri giritunggal yaitu Putri Senjabirawa, tiba-tiba datang ke kerajaan suryaloka tanpa ada pemberi tahuan terlebih dulu.


Biasanya kalau ada tamu dari pihak kerajaan lain, apa lagi sekelas seorang putri, pasti ada pemberitahuan terlebih dulu, biasanya lewat pesan yang dikirim.


Tapi ini tiba-tiba Putri Senjabirawa datang dengan keempat pengawalnya, ke kerajaan tersebut, yaitu suryaloka.


"Salam hormat kami Mahapatih Damarwijaya, maaf, kami dari pihak giritunggal datang ke suryaloka tanpa memberi informasi dulu kepada pihak suryaloka", kata Putri Senjabirawa.


"Baiklah, maafmu saya terima Putri Senjabirawa, tapi ada apa sebenarnya kalian datang kesini tanpa ada pemberitahuan terlebih dulu", Mahapatih Damarwijaya yang sangat penasaran akan kedatangan Putri Senjabirawa ke suryaloka.


Kemudian Putri Senjabirawa mengatakan, bahwa dirinya jauh-jauh dari giritunggal hanya ingin bertemu dengan putra mahkota suryaloka, yaitu Pangeran Gunawijaya.


Beberapa saat kemudian, akhirnya Putri Senjabirawa diketemukan dengn Pangeran Gunawijaya, mereka berdua sedang berbicara empat mata.


Waktu itu Putri Senjabirawa yang terlihat sangat cantik sekali, dia meneteskan air mata sembari memeluk Pangeran Gunawijaya.


Dan didalam pelukan itu, Putri Senjabirawa berkata, kenapa Pangeran Gunawijaya begitu tega menghianati dirinya.


Lalu Pangeran Gunawijaya yang terkejut mendengar perkataan tersebut, dia bertanya pada Putri Senjabirawa, sebenarnya apa yang dia maksud dengan menghianatinya.


Akhirnya Putri Senjabirawa mengungkapkan semua hal tentang perasaan dirinya pada Pangeran Gunawijaya.

__ADS_1


Pangeran Gunawijaya yang mengetahui semuanya itu, dia berada pada situasi yang sangat membingungkan, karena jika Pangeran Gunawijaya jadi menikahi Kedasih, Putri Senjabirawa tak akan segan segan untuk mengakhiri hidupnya alias bunuh diri.


Sebab Putri Senjabirawa sangat mencintai Pangeran Gunawijaya, dia tidak bisa jika melihat pujaan hatinya yaitu Pangeran Gunawijaya hidup bersama dengan wanita lain.


"Jangan kau lakukan tindakan yang tidak benar Putri Senjabirawa, mari kita pecahkan bersama tentang masalah ini, sebab saya akan menikahi Kedasih, itu semua atas perintah dari ibu Ratu Kencanawangi", Pangeran Gunawijaya mencoba menenangkan hati Putri Senjabirawa.


Tapi, Putri Senjabirawa bersikukuh keras, bahwa, jika sampai Pangeran Gunawijaya tetap menikah dengan Kedasih, dia akan melakukan tindakan bunuh diri.


Kemudian Pangeran Gunawijaya mengajak Putri Senjabirawa, mencoba membahas masalah ini bersama ibu Ratu Kencanawangi dan juga Mahapatih Damarwijaya.


Lalu saat Ratu Kencanawangi mengetahui masalah tersebut, kemudian beliau memanggil sigadis manis Kedasih untuk ikut menyelesaikan tetang masalah ini.


Kedasih tak menyangka bahwa akan jadi masalah seperti ini.


Pada waktu itu, saat Kedasih datang, Putri Senjabirawa langsung menyerang Kedasih dengan kata kata yang tidak pantas.


Tapi Kedasih tak sedikitpun membalas dari semua perkataan Putri Senjabirawa.


Ibu Ratu Kencanawangi mencoba mendinginkan situasi tersebut.


Sedangkan Kedasih hanya menundukkan kepalanya, karena memang benar apa yang dikatakan oleh Putri Senjabirawa, bahwa ketidak setaraan kasta antara dia dan Pangeran Gunawijaya akan menyebabkan suatu masalah pada keluarga besar Wijaya.


Padahal selama ini tidak ada trah darah biru dari golongan keluarga kerajaan seantero tanah Jawa, yang berani merusak tentang hirarki kasta.


Jika sampai ini terjadi, pernikahan antara Pangeran Gunawijaya bersama Kedasih, maka satu satunya trah keluarga darah biru, perusak hirarki kasta adalah keluarga besar Wijaya.


"Apalah arti sebuah kasta Putriku Senjabirawa, kita sebagai keluarga kerajaan memang sangat berbeda jauh tentang masalah kasta oleh masyarakat biasa, tapi kodrat kita di mata Sang Dewa itu sama, hanyalah manusia biasa, tidak lebih", ibu Ratu Kencanawangi yang memberikan pernyataan pada Putri Senjabirawa yang sedang terbawa emosi.


"Putri Senjabirawa, ingatlah, bahwa hanya kebaikan dalam hatinya yang membedakan manusia sebagai tolak ukurnya", Mahapatih Damarwijaya yang mencoba memberikan sedikit nasehat.


Kemudian dengan perasaan bersalah, Putri Senjabirawa tersimpu lemas, dan dia menangis karena dia merasa sebagai seorang putri, tidak seharusnya dia berkelakuan seperti itu.


Akhirnya Putri Senjabirawa sadar, akan suatu pengorbanan cinta.


Tapi tiba-tiba Kedasih mendekatinya, dan membantunya untuk berdiri.


Kemudian Kedasih membawa Putri Senjabirawa yang masih menangis kehadapan Pangeran Gunawijaya, lalu Kedasih memegang tangan sang putri dan menyatukannya dengan tangan sang pangeran.


"Hanya kaulah tuan putri, yang pantas bersanding dengan sang pangeran", kemuliaan hati seorang Kedasih, yang menyerahkan pujaan hatinya pada wanita lain yang lebih pantas.

__ADS_1


"Tidak Kedasih, sebab yang di inginkan sang pangeran adalah kau, aku akan bahagia jika sang pangeran bahagia", kata Putri Senjabirawa dengan penuh kepasrahan.


Kemudian Pangeran Gunawijaya angkat suara, dia berkata, bahwa tidak ada pernikahan, yang ada hanyalah persahabatan antara mereka bertiga.


"Tidak putraku Pangeran Gunawijaya, kau harus tetap menikah, karena kabar pernikahanmu sudah terlanjur menyebar setanah Jawa", kata ibu Ratu Kencanawangi.


Lalu Ratu Kencanawangi bertanya pada Kedasih dan juga pada Putri Senjabirawa.


Pertanyaan tersebut apakah mereka berdua benar-benar mencintai Pangeran Gunawijaya.


Mereka berdua, yaitu Kedasih dan Putri Senjabirawa menjawab, bahwa mereka berdua memang sangat mencintai sang pangeran.


Mendengar jawaban itu, akhirnya ibu Ratu Kencanawangi berniat menikahkan kedua gadis tersebut dengan Pangeran Gunawijaya.


Mahapatih Damarwijaya pun sangat setuju dengan niatan dari Ratu Kencanawangi tersebut.


Tapi yang jadi masalah saat ini, siapkah yang bakal menjadi permaisuri bagi sang pangeran.


Lalu Kedasih berkata, bahwa dia tak mempermasalahkan tentang hal tersebut.


Bagi dia, bisa bersanding dengan pujaan hatinya adalah suatu kebahagiaan tersendiri.


Akhirnya dari jawaban seperti itu dari Kedasih, ibu Ratu Kencanawangi memutuskan bahwa yang akan menjadi istri pertama atau permaisuri bagi sang pangeran ialah Putri Senjabirawa.


Sedangkan Kedasih harus rela menjadi istri yang kedua atau selir bagi sang pangeran.


Akhirnya keputusan tersebut sudah ditetapkan, dan segera mungkin, Pangeran Gunawijaya akan meminang kedua gadis itu satu persatu.


Singkat cerita, Kedasih dan Putri Senjabirawa sudah berada di kediaman masing-masing.


Kedasih menceritakan tentang kabar tersebut pada kedua orang tuanya, yaitu ki demang Kusuma dan buk Sri.


Kedua orang tua Kedasih merestui hubungan putrinya dengan calon suaminya, yaitu Pangeran Gunawijaya.


Sedangkan Putri Senjabirawa, awalnya tidak direstui oleh ibunya yaitu Ratu Setyawati, karena Pangeran Gunawijaya akan menikahi dua perempuan sekaligus, meskipun salah satunya adalah putrinya tersebut.


Tapi dengan nasehat yang diberikan oleh Patih Waranggaseta kepada Ratu Setyawati, akhirnya luluh juga hati Ratu Setyawati dibuatnya.


Akhirnya Ratu Setyawati merestui putrinya tersebut untuk menikah dengan Pangeran Gunawijaya, tapi dengan satu syarat.

__ADS_1


Setelah menikah, Putri Senjabirawa harus tetap tinggal di giritunggal, sebab dialah suatu saat yang akan menjadi Ratu di kerajaan giritunggal.


__ADS_2