PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
66. Ruslan dan Marlan


__ADS_3

Pak Ujang yang mengetahui bahwa dia akan diserbu oleh para pasukan giriseta, dia juga sudah bersiap dengan para anak buahnya yang berjumlah ratusan orang.


Sangat mudah bagi pak Ujang untuk menyewa para orang bayaran untuk menjadi para anak buahnya, karena harta pak Ujang hasil dari pesugihan itu tak akan habis dimakan tujuh turunan.


Dari banyaknya para anak buah pak Ujang, mereka semua adalah sekumpulan para pendekar juga yang jago bela diri atau bertarung.


Biarpun pak Ujang sebagai kepala desa, tapi kekuasaannya didesa tersebut bak Raja kecil yang tak tergantikan dan tak terkalahkan.


"Ruslan, hentikan langkah pasukan giriseta, jangan sampai mereka bisa mendekat kesini, kerumahku!", perintah pak Ujang pada salah satu tangan kanannya yang menjadi ketua dari ratusan anak buahnya.


Ruslan adalah pendekar sakti, dia terkenal dengan sebutan pendekar golok naga. Aksinya dalam menggunakan senjata golok tak tertandingi, dia bisa membunuh lawannya tanpa terlihat.


Maka dari itu Ruslan lah yang terpilih menjadi ketua dari banyaknya anak buah pak Ujang, dan dialah anak buah paling setia pada Pak Ujang selama ini.


Bagi pak Ujang, Ruslan adalah orang penting dalam hidupnya. Dia sangat berperan banyak dalam kehidupan pak Ujang selama ini.


Sebenarnya banyak dari anak buah pak Ujang yang cemburu sosial pada Ruslan, karena mereka menganggap pak Ujang terlalu dekat dan memanjakan dia.


Tapi hal itu tidak bisa membuat mereka kecewa yaitu para anak buah pak Ujang, karena pada dasarnya Ruslan adalah pendekar terhebat diantara mereka semua, dan hanya Marlan yang bisa menandinginya, tapi itu semua tidak mungkin, karena Marlan adalah saudara Ruslan, dia adalah adik kandungnya sendiri.


Ruslan yang lebih gagah dari adiknya yaitu Marlan, sedangkan Marlan posturnya lebih kecil dari Ruslan. Mereka berdua saling menyayangi sebagai saudara, karena mereka adalah dari keluarga yang tidak mampu, dan akhirnya mereka menjadi sukses karena menjadi abdi setia pak Ujang selama ini.


Tapi pak Ujang lebih condong pada Ruslan, karena Ruslan lebih tua dan lebih berpengalaman dari pada Marlan.


Dan tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya mereka berdua Ruslan dan Marlan satu perguruan, maka dari itu kemampuan mereka soal bela diri maupun kesaktian tidak beda jauh. Mereka berdua sama-sama menyandang sebutan sebagai pendekar golok naga.

__ADS_1


Pak Ujang yang banyak mempunyai anak buah, dia merasa yakin akan memenangkan pertempuran ini, karena banyak pendekar pendekar hebat dikubunya tersebut.


Kemudian Pangeran Jatiwijaya yang sudah mantap akan strategi nya, ia segera memerintahkan pasukannya untuk segera menyerang pak Ujang.


Kedasih, ki Maung beserta kedua muridnya yaitu Harun dan Untung diposisikan dibagian pasukan pelindung warga.


Pendekar Sanjaya dan Mandala oleh Pangeran Jatiwijaya diposisikan dibagian pasukan cadangan.


"Kenapa kita malah ditugaskan menjadi pasukan cadangan Sanjaya!", keluh kesah Mandala.


"Sudahlah Mandala, ini semua sudah jadi keputusan Pangeran Jatiwijaya, kita hanya bisa mematuhinya, tapi yang jelas kita pasti ada gunanya kalau tiba waktunya", jawaban yang bijak dari Sanjaya.


Dan sedangkan Pangeran Jatiwijaya, Jatmiko dan ketiga senopati yaitu senopati Sumitro, senopati Balawarman dan juga senopati Balamarwan, mereka semua berada diposisi pasukan pemukul atau penghancur. Kelima kesatria tersebut bertugas di garda terdepan untuk misi penghancuran kejahatan pak Ujang.


Disaat dalam perjalan menuju kerumah pak Ujang, tiba-tiba ditengah perjalanan pasukan pemukul Pangeran Jatiwijaya dihadang oleh para anak buah pak Ujang yang siap bertempur melawannya.


Itulah kenapa Pangeran Jatiwijaya membagi pasukannya menjadi tiga bagian, karena pada akhirnya meraka akan saling membutuhkan satu sama lain, sebab diam diam Pangeran Jatiwijaya pernah menugaskan Jatmiko untuk mencari informasi mengenai seberapa besar kekuatan pak Ujang.


Setelah mengetahui kisaran besarnya kekuatan pak Ujang, lalu Pangeran Jatiwijaya mengutus Sanjaya dan juga Mandala untuk mengirim pesan kepada Raja Dasabirawa. Pesan tersebut berisi laporan lapangan dan juga permintaan bantuan dari Pangeran Jatiwijaya.


Maka dari itu segala sesuatu tentang pertempuran tersebut sudah diperhitungkan oleh Pangeran Jatiwijaya.


Seperti ki Maung yang diposisikan sebagai pelindung warga sentong, karena dia masih belum pulih seratus persen dari cideranya sewaktu melawan pak Ujang pada waktu itu.


Lalu pertempuran para pasukan pemukul dari kubu Pangeran Jatiwijaya melawan para anak buah pak Ujang semakin sengit, para anak buah pak Ujang benar-benar tidak memberikan celah sedikitpun pada pasukan Pangeran Jatiwijaya untuk bisa menggempur pak Ujang dirumahnya.

__ADS_1


Strategi Ruslan dari kubu pak Ujang juga sangat jitu, dia menempatkan anak buahnya lebih banyak untuk menghadang para pasukan pemukul dari kubu Pangeran Jatiwijaya.


Dan Ruslan memerintahkan sebagian para anak buahnya untuk menghabisi para warga yang sedang berlindung, tujuan dia agar menjadi pengecoh bagi Pangeran Jatiwijaya. Tapi apa daya, ternyata strategi Pangeran Jatiwijaya lebih jitu dari pada strategi Ruslan, sebab hal seperti itu sudah kebaca dulu oleh Pangeran Jatiwijaya yang ahli dalam strategi.


Akhirnya diposisi pasukan pemukul Pangeran Jatiwijaya, mereka sedikit demi sedikit bisa menekan perlawanan para anak buah pak Ujang yang menghadangnya.


Marlan sebagai pemimpin pasukan penghadang dari kubu pak Ujang, dia mulai panik, karena para pasukan Pangeran Jatiwijaya yang dia hadang sangatlah kuat.


Pasukan Marlan yang jumlahnya lebih banyak bisa dipukul mundur oleh pasukan Pangeran Jatiwijaya, karena dikubu pasukan Pangeran Jatiwijaya terdapat kesatria kesatria hebat seperti Pangeran Jatiwijaya, senopati Sumitro, senopati Balawarman, senopati Balamarwan dan Jatmiko.


Kelima kesatria hebat itulah inti dari kekuatan para pasukan pemukul Pangeran Jatiwijaya.


Tapi pasukan Marlan masih berusaha bertahan menghadapi pasukan Pangeran Jatiwijaya.


Akhirnya Marlan pun mencoba melawan Pangeran Jatiwijaya pemimpin pasukan giriseta.


Kemampuan bela diri Marlan sangatlah hebat, Pangeran Jatiwijaya tak menyangka ada pemuda hebat dikubu pasukan pak Ujang, dan sebagai ketua juga dalam pasukan tersebut.


Marlan bisa mengimbangi bela diri Pangeran Jatiwijaya, tapi pada saat itu Pangeran Jatiwijaya belum serius melawannya, ia masih mengukur sehebat apa kekuatan Marlan yang sebenarnya.


Marlan yang tidak menyadarinya, dia terus menerus menyerang Pangeran Jatiwijaya dengan kehebatan bela dirinya, tapi Pangeran Jatiwijaya tidak mau kalah juga oleh Marlan dalam urusan bela diri, ia juga mengeluarkan berbagai jurus andalannya dalam pertarungan bela diri melawan Marlan.


Kemudian lama kelamaan Marlan sangat kuwalahan melawan Pangeran Jatiwijaya, akhirnya dia mengeluarkan senjata golok naganya untuk melawan Pangeran Jatiwijaya.


Pangeran Jatiwijaya masih merasa unggul dari Marlan, maka dari itu ia masih santai saat melawan nya.

__ADS_1


Tapi ternyata saat menggunakan senjata goloknya, Marlan makin beringas menyerang Pangeran Jatiwijaya, dan Pangeran Jatiwijaya semakin terdesak dibuatnya.


__ADS_2