PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
133. Rahasia dibalik manusia macan kumbang


__ADS_3

Kemudian Suwaji yang hidup lagi dari kematian, dia semakin kuat dan beringas.


Kesatria sehebat ki Maung pun, tidak bisa untuk mengalahkan Suwaji.


Padahal ki Maung memiliki ajian braja denta, tapi ajian itu tak berguna didepan Suwaji.


Apalagi sekarang ki Maung sudah tidak berdaya, otomatis dia sudah tidak bisa menggunakan kekuatan dan kesaktiannya tersebut.


Lalu dengan tatapan yang tajam, Suwaji yang masih berwujud manusia macan kumbang, dia akan segera menghabisi ki Maung dengan cakarnya yang sangat tajam dan kuat.


Ki Maung tak sedikitpun takut akan kematian, meski malaikat pencabut nyawa sudah berada dihadapannya saat ini.


Dia justru tersenyum menyambut kematiannya sebentar lagi, sebab kematian ki Maung tidak akan pernah sia sia.


Lalu tanpa diduga, saat Suwaji akan segera membunuh ki Maung, tiba-tiba datanglah kedua kesatria hebat yang menolong ki Maung dari ancaman kematian tersebut.


Kedua kesatria itu mengeluarkan kesaktiannya, yaitu ajian tapak lawu dan ajian senggoro macan.


Kedua ajian tersebut disatukan untuk menyerang Suwaji, agar Suwaji tidak membunuh ki Maung waktu itu.


Ternyata kedua ajian tersebut dapat membuat Suwaji roboh seketika, dan ki Maung akhirnya selamat dari ancaman kematian.


Racun dari pukulan tapak lawu, menjalar begitu cepat ketubuh Suwaji, dan auman senggoro macan, membakar tubuhnya dengan sangat cepat juga.


Sehingga dalam hitungan beberapa detik saja, tewaslah Suwaji ditangan kedua kesatria tersebut.


Tapi kedua kesatria itu tahu, bahwa Suwaji akan hidup kembali dari kematiannya, sebab kedua kesatria itu sangat paham, tentang silsilah perubahan wujud manusia harimau.


Lalu kedua kesatria itu mendekati ki Maung dan membawanya ketempat yang aman, karena kedua kesatria itu tidak ingin ki Maung terkena imbas dari pertarungannya dengan Suwaji, yang sebentar lagi akan terjadi, saat Suwaji hidup kembali dari kematian yang kedua kalinya itu.


"Berhati-hatilah putraku, saat kau akan melawan Suwaji yang akan hidup kedua kalinya, sebab Suwaji akan jauh lebih kuat lagi dari sebelumnya", ki Maung yang berpesan pada kedua kesatria tersebut, yang tidak lain ternyata adalah putranya, yaitu senopati Sandiaga dan senopati Barda.


Kemudian bergegaslah kedua kesatria tersebut menghampiri Suwaji, dan ternyata Suwaji si manusia macan kumbang itu sudah hidup kembali dari kematian yang kedua kalinya.

__ADS_1


Betapa marahnya Suwaji saat itu, saat dia hidup lagi untuk kedua kalinya.


Lalu saat kedua senopati itu mengetahui bahwa Suwaji sudah hidup kembali, mereka berdua segera berubah wujud menjadi manusia harimau loreng.


Suwaji yang mengetahui bahwa pembunuhnya sudah bersiap untuk melawannya, Suwaji segera mengeluarkan tenaga ekstra nya yang sudah berlipat ganda kekuatannya, akibat dia sudah bangkit dari kematian sebanyak dua kali.


Pertarungan pun terjadi, Suwaji si manusia macan kumbang, kini menghadapi kedua senopati si manusia harimau loreng.


Suwaji sangat meremehkan kedua senopati tersebut, sebab di dalam tataran perubahan manusia harimau di suku Nam, perubahan manusia harimau loreng adalah tataran yang paling rendah.


Maka dari itu, Suwaji sangat meremehkan sekali perubahan wujud kedua senopati tersebut, yaitu senopati Sandiaga dan juga senopati Barda, yang telah berubah menjadi manusia harimau loreng.


Tapi dugaan Suwaji sepertinya salah, karena mitos tentang tataran perubahan wujud manusia harimau disuku Nam, kini dipatahkan oleh kedua senopati tersebut, Sandiaga dan Barda.


Buktinya kedua senopati itu bisa membuat Suwaji sedikit kewalahan oleh setiap serangannya.


Pertarungan itu sangat sengit sekali, manusia macan kumbang yang secara tataran berada paling atas, kini dibuat repot oleh manusia harimau loreng, yang secara tataran berada paling bawah, dibawah tataran manusia harimau putih.


"Kenapa mereka berdua bisa kuat sekali, padahal mereka hanya perubahan wujud manusia harimau loreng saja, jika dibandingkan dengan ku, tidak sebanding sama sekali", kata Suwaji si manusia macan kumbang.


Tapi kenapa, untuk melawan senopati Sandiaga dan senopati Barda, yang notabene hanya bisa berubah wujud sebagai manusia harimau loreng, Suwaji sangat kewalahan, padahal Suwaji berubah wujud sebagai manusia macan kumbang, yang level atau tatarannya paling tinggi didalam suku Nam.


Dengan kekuatan kedua senopati tersebut, mereka berdua dapat mengimbangi Suwaji si manusia macan kumbang.


Gabungan kekuatan dari kedua senopati itu, ternyata dapat membuat Suwaji kerepotan melawannya.


Jurus demi jurus, mereka berdua layangkan pada Suwaji, tapi Suwaji dapat menandinginya dengan jurus jurus yang dia punya.


Pertarungan itu membuat bergetar wilayah di sekitar itu, sehingga banyak bongkahan batu batu besar yang hancur akibat terkena imbas dari pertarungan tersebut.


Singkat cerita, Suwaji akhirnya mengeluarkan kesaktiannya, yaitu ajian damar kambang.


Ajian damar kambang, bisa menyemburkan minyak dari mulut, jika semburan minyak itu sampai terkena lawannya, maka lawan tersebut akan terbakar dan meleleh seketika itu.

__ADS_1


Kedua senopati tersebut sangat berhati-hati sekali sekarang ini, karena Suwaji benar-benar mengeluarkan ajian yang sangat ampuh untuk melawan mereka berdua.


Jangankan tubuh seseorang, bongkahan batu besarpun, jika terkena semburan minyak dari ajian damar kambang milik Suwaji, batu itu akan hancur jadi abu.


Ternyata kedua senopati tersebut bisa menandingi Suwaji yang notabene manusia macan kumbang, karena kedua senopati itu mendapatkan pelatihan keras di markas keprajuritan khusus, sewaktu mereka masih dalam pendidikan menjadi seorang kesatria.


Maka dari itu, tak heran, meski kedua senopati itu hanya berubah wujud menjadi manusia harimau loreng, yang levelnya paling bawah dalam tataran perubahan wujud di suku Nam, tapi mereka berdua bisa menandingi Suwaji si manusia macan kumbang, yang levelnya paling atas di tataran tersebut.


Senopati Sandiaga dan senopati Barda adalah pasukan khusus senior di markas keprajuritan pasukan khusus masing-masing.


Sehingga mereka berdua benar-benar sangat terlatih sekali dalam bidang pertempuran dan lain-lain.


Senopati Sandiaga mendapatkan pendidikan, di markas keprajuritan pasukan khusus prajaloka, di kerajaan suryaloka, dan dilatih secara khusus oleh begawan Winara, pendiri markas tersebut.


Senopati Barda mendapatkan pendidikan, di markas keprajuritan pasukan khusus garda sura, di kadipaten karang menjangan, dan dilatih secara khusus oleh mendiang senopati Baskoro, pendiri markas tersebut.


Sedangkan begawan Winara dan mendiang senopati Baskoro adalah sahabat karib, mereka berdua adalah punggawa terhebat yang pernah dimiliki suryaloka.


Begawan Winara mewariskan ajian tapak lawu pada senopati Sandiaga, sedangkan mendiang senopati Baskoro mewariskan ajian senggoro macan pada senopati Barda.


Kedua ajian tersebut adalah ajian tingkat tinggi yang jarang sekali ada yang punya, karena untuk mendapatkan kedua ajian itu sangat susah sekali lakunya, maka dari itu kedua ajian tersebut terbilang ajian langka.


Kemudian senopati Sandiaga berkata pada Suwaji, tentang fakta tataran perubahan wujud manusia harimau pada suku Nam.


Memang perubahan sebagai manusia macan kumbang sangatlah langka sekali, sebab siapapun yang bisa berubah wujud ke tataran itu, maka seseorang itu akan memiliki kekuatan tiada tanding, seperti leluhur pendiri suku Nam.


Tapi hal itu hanya berlaku pada seseorang yang mempunyai hati yang suci.


Jika seseorang itu memiliki hati yang kotor, maka, meski dia berubah wujud menjadi manusia macan kumbang, seseorang itu tidak akan pernah mendapatkan kekuatan super dari perubahan tersebut.


Jadi kesimpulannya, jika yang berubah menjadi manusia macan kumbang itu adalah orang jahat, maka dia tidak akan mendapatkan kesaktian yang sempurna dari perubahannya itu.


Ternyata ini alasannya kenapa kedua senopati tersebut, Sandiaga dan Barda bisa mengimbangi kekuatan Suwaji si manusia macan kumbang.

__ADS_1


Suwaji pun sangat terkejut mengetahui hal itu semua dari senopati Sandiaga, dia tak percaya dengan penjelasan tersebut.


Maka dari itu, Suwaji mengamuk dan mengeluarkan kekuatan penuhnya, untuk bisa menghabisi kedua senopati itu secapatnya.


__ADS_2