PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
21. Kedua pendekar tiba disuryaloka


__ADS_3

Kemudian dikerajaan suryaloka para prujurit yang diperintahkan oleh Pangeran Gunturwijaya untuk menyelidiki kalung yang telah didapat dari leher seseorang bercadar yang telah menyelinap kekamar Putri Kumalawijaya telah membuahkan hasil, para prajurit itu membawa informasi yang sangat mengejutkan kepada Pangeran Gunturwijaya mengenai siapa pemilik kalung tersebut.


"Apakah yang telah kalian selidiki tentang siapa pemilik kalung itu sudah benar-benar pasti milik dia?", Tanya Pangeran Gunturwijaya dengan perasaan tak menyangka pada para prajuritnya itu.


"Hamba benar-benar yakin Pangeran Gunturwijaya, bahwa kalung itu adalah milik dari?", Sebelum salah satu prajurit itu mengatakan siapa pemilik kalung tersebut, tiba-tiba Putri Kumalawijaya datang dan memanggil Kandanya yaitu Pangeran Gunturwijaya yang sedang bercakap bersama para prajurit suruhannya tersebut.


"Hormat hamba kanda Pangeran, ada sesuatu hal yang ingin hamba ceritakan sekarang juga kepada Kanda Pangeran Gunturwijaya?", Kata Putri Kumalawijaya.


Kemudian Pangeran Gunturwijaya menyuruh pergi para prajurit suruhannya itu karena Pangeran Gunturwijaya sedang ada urusan penting bersama adiknya yaitu Putri Kumalawijaya yang cantik jelita. Lalu mereka berdua, Pangeran Gunturwijaya dan Putri Kumalawijaya mencari tempat yang nyaman diistana suryaloka untuk berbincang-bincang sebentar. Setelah mereka berdua menemukan tempat yang nyaman, lalu Putri Kumalawijaya segera bercerita tantang sesuatu hal yang ingin ia sampaikan pada Kandanya tersebut.


"Maaf Kanda Pangeran Gunturwijaya, apakah Ibu Ratu Kencanawangi tetap akan menjodohkan hamba dengan Pangeran giritunggal yaitu Pangeran Sutabirawa?", Kata Putri Kumalawijaya dengan perasaan was-was karena Putri Kumalawijaya tidak mencintai Pangeran Sutabirawa.


"Kanda kurang tahu akan tujuan Ibu Ratu tentang perjodohanmu dinda Kumala, karena akhir-akhir ini Kanda sering menghabiskan waktu untuk berlatih kanuragan bersama Resi Malaka", jawab Pangeran Gunturwijaya pada adiknya yaitu putri kumalawijaya.


"Hamba mohon pada Kanda Pangeran, tolong bilang pada Ibunda Ratu Kencanawangi untuk membatalkan saja perjodohan hamba dengan Pangeran Sutabirawa, karena masalah hati tidak bisa dipaksakan Kanda Pangeran", Kata Putri Kumalawijaya dengan memohon dan bersujud dipangkuan Kandanya yaitu Pangeran Gunturwijaya dengan isak tangis dari seorang adiknya tersebut.


Pangeran Gunturwijaya tak bisa berbuat apa-apa selain hanya menyanggupi permohonan dari adiknya tersebut yaitu Putri Kumalawijaya. Kemudian malam harinya Pangeran Gunturwijaya mencoba membicarakan masalah adiknya itu pada Ibundanya yaitu Ratu Kencanawangi, tapi jawaban dari Ibundanya tersebut, bahwa Putri Kumalawijaya adik dari Pangeran Gunturwijaya harus tetap dijodohkan dengan Pangeran Sutabirawa yaitu putra mahkota kerajaan giritunggal, karena perjodohan itu sudah disepakati oleh kedua belah pihak keluarga dari suryaloka maupun dari giritunggal. Setelah percakapan tersebut antara Pangeran Gunturwijaya bersama ibundanya yaitu Ratu Kencanawangi, kemudian Pangeran Gunturwijaya segera berpamitan untuk keluar dari kamar ibundanya tersebut. Lalu tepat tengah malam didalam kamar Putri Kumalawijaya terjadi percakapan antara Putri Kumalawijaya dengan seorang pemuda tampan.


"Tuan Putri, jangan sampai perjodohanmu itu dengan Pangeran giritunggal terjadi, saya tidak akan rela sampai kapanpun, sebab saya benar-benar sangat mencintaimu tuan Putri?", Kata pemuda tampan itu kepada Putri Kumalawijaya dengan raut wajah penuh harap.


Kemudian Putri Kumalawijaya menjawab dengan perasaan sedih kepada pemuda tampan itu?


"Iya Raden, tadi siang saya sudah menyuruh Kanda Pangeran Gunturwijaya untuk membicarakan tentang perjodohanku dengan Pangeran Sutabirawa, semoga saja Ibunda Ratu Kencanawangi berubah pikiran dan membatalkan perjodohanku dengannya".

__ADS_1


Lalu setelah percakapan itu pemuda tampan yang sedang berada dikamar Putri Kumalawijaya segera bergegas pergi melalui jendela kamar, tak disangka disaat ia melopat keluar dari jendela kamar putri kumalawijaya, tiba-tiba Pangeran Gunturwijaya datang menghadangnya, lalu terjadi pertarungan antara pemuda tampan itu yang menutup mulutnya dengan cadar dan berpakaian serba hitam melawan Pangeran Gunturwijaya, dan para prajurit yang melihatnya sebagian segera memastikan keselamatan dan melindungi Putri Kumalawijaya yang berada dikamarnya. Pertarungan itu berlangsung dengan sengit, tapi pemuda itu bukan tandingan Pangeran Gunturwijaya, dengan mudah Pangeran Gunturwijaya berhasil memukul, menendang dan juga berhasil membuka cadar yang berada pada mulut pemuda tersebut, dan ternyata pemuda itu adalah Raden Mahesasangkala putra dari Adipati Burhansangkala penguasa kadipaten karang menjangan yang akan memberontak pada kerajaan suryaloka.


"Oh!, ternyata kau adalah putra pengkhianat itu, ada tujuan apa sampai kau melakukan hal yang sehina ini, cepat katakan!?, Kalau tidak, akan kuhabisi kau sekarang juga disini!", Kata Pangeran Gunturwijaya yang sangat marah sambil berdiri dan mencekik leher Raden Mahesasangkala pemilik kalung yang selama ini telah diselidiki.


Kemudian Putri Kumalawijaya yang berlari dan menghampiri Pangeran Gunturwijaya, ia memohon ampun sambil bersujud memegangi kaki Kandanya tersebut yaitu Pangeran Gunturwijaya sambil menangis?


"Hamba mohon lepaskan dia Kanda Pangeran, jangan kau habisi Raden Mahesasangkala, hamba mohon lepaskan dia?".


"Kenapa kau malah membela seseorang yang telah menyusup kekamarmu dinda Kumala, cepat katakan!?", Tanya Pangeran Gunturwijaya pada adiknya yaitu Putri Kumalawijaya dengan serius.


Akhirnya Putri Kumalawijaya menceritakan tentang hubungannya selama ini bersama Raden Mahesasangkala. Putri Kumalawijaya menceritakan hal tersebut pada kandanya yaitu Pangeran Gunturwijaya dengan rasa bersedih dan menyesal.


"Jika sampai kanda Pangeran Gunturwijaya menghabisi raden Mahesasangkala, bagaimana dengan nasib bayi yang berada diperutku ini kanda Pangeran?". kata Putri Kumalawijaya.


"Dengan kelakuanmu ini kau telah menodai nama baik keluarga Wijaya!, Bagaimana jika sampai kanda Pangeran Gunawijaya tahu akan tindakkanmu ini dinda Kumala!", Kata Pangeran Gunturwijaya dengan amarahnya.


"Ampuni hamba Kanda?, Hamba benar-benar sangat menyesali atas perbuatan hamba selama ini", jawab Putri Kumalawijaya dengan ratapan tangisannya kepada Pangeran Gunturwijaya.


"Prajurit!!, Cepat masukan dia kepenjara sekarang juga!", Perintah Pangeran Gunturwijaya pada para prajurit untuk segera menjebloskan Raden Mahesasangkala kepenjara.


"Sendiko Pangeran!", Jawab para prajurit terima perintah dari Pangeran Gunturwijaya.


Kemudian dilain sisi Sanjaya dan Mandala yang diutus oleh Pangeran Gunawijaya sudah tiba dikawasan suryaloka, dan mereka berdua memutuskan untuk bermalam dihutan dan esok paginya baru mereka pergi menuju kekerajaan suryaloka dengan berjalan kaki karena hutan yang mereka singgahi tidak jauh dari kerajaan suryaloka. Mereka berdua Sanjaya dan Mandala membuat api unggun untuk menghangatkan diri dan beristirahat diatas pohon selayaknya seorang pendekar. Kemudian disaat malam itu, Raden Mahesasangkala yang telah dijebloskan kedalam penjara, ia sangat menyesali akan tindakkannya tersebut yaitu sering menyelinap masuk kekamar Putri Kumalawijaya dan telah mempunyai hubungan terlarang dengannya. Selang beberapa saat kemudian datanglah penasehat kerajaan suryaloka yaitu begawan Winara dengan dikawal oleh beberapa prajurit didikkannya untuk memastikan siapa sebenarnya penyusup yang telah tertangkap itu, apa benar dia adalah anak dari Adipati Burhansangkala penguasa kadipaten karang menjangan yang punya rencana memberontak pada kerajaan suryaloka.

__ADS_1


"Oh ternyata benar yang dikatakan oleh para prajurit bahwa seorang penyusup yang tertangkap oleh Pangeran Gunturwijaya itu adalah anak dari seorang musuh dalam selimut, apa sebenarnya tujuanmu menyusup kedalam kerajaan ini Raden Mahesasangkala?, Apakah kau suruhan ayahndamu untuk memata-matai kami disini, disuryaloka?", Tanya begawa Winara, pria separuh baya.


"Saya datang kesini atas kemauan pribadi bukan diutus oleh siapapun!", Raden Mahesasangkala hanya menjawab sepatah kata seperti itu pada begawan Winara dengan nada tegas.


Begawan Winara adalah seorang begawan sakti mandraguna, dia memiliki organisasi keprajuritan pembela suryaloka yang sudah diresmikan oleh mendiang Maha Raja Aryawijaya sejak beliau masih hidup. Begawan Winara sangat menjunjung tinggi suryaloka, hidup dan matinya hanya untuk suryaloka. Lalu tujuan organisasi keprajuritan milik begawan Winara itu untuk mendidik seseorang menjadi prajurit berbakat dibawah kepemimpinan langsung begawan Winara. Para prajurit-prajurit itu diciptakan untuk menjadi akar penopang suryaloka, dan kehebatannya setara dengan para pasukan khusus Adipati Burhansangkala yang bernama pasukan gardasura. Dan organisasi keprajuritan milik begawan Winara itu bernama Prajaloka, yang berkemampuan satu prajurit prajaloka sama dengan tujuh kemampuan prajurit biasa.


Kemudian pagipun tiba, pagi itu nampak sejuk, embun yang turun dari awan-awan yang putih seakan akan tak mau berhenti, kicauan burung-burung sangat merdu terdengar ditelinga kedua pendekar yang sedang beristirahat didalam hutan kawasan suryaloka. Kedua pendekar itu tak lain adalah Sanjaya dan Mandala yang diutus oleh Pangeran Gunawijaya untuk membantu suryaloka menghancurkan kekuasaan Adipati Burhansangkala yang akan memberontak pada suryaloka.


"Mari Mandala, kita segera bergegas menuju kekerajaan suryaloka, kita sudah cukup beristirahat dihutan ini", kata Sanjaya.


"Baiklah Sanjaya, mari kita berangkat", jawab Mandala.


Akhirnya mereka berdua Sanjaya dan Mandala berangkat menuju kekerajaan suryaloka dengan berjalan kaki karena jarak hutan itu tidak jauh dari kerajaan suryaloka. Lalu beberapa saat kemudian mereka berdua sudah sampai dikerajaan suryaloka, dan tepat didepan pintu gerbang istana, mereka berdua dihadang oleh para prajurit penjaga pintu gerbang kerajaan suryaloka.


"Maaf kisanak, tunjukkan identitas kalian siapa, dan ada tujuan apa kalian berdua datang keistana suryaloka?", Kata salah satu prajurit penjaga gerbang istana suryaloka dengan nada tegas.


"Saya adalah Sanjaya dan teman saya ini adalah Mandala, kami berdua datang kemari diutus oleh Pangeran Gunawijaya", Jawab Sanjaya pada prajurit itu dengan nada berwibawa dan meyakinkan.


"Kalau begitu tunjukkan tanda kerajaan ini, jika kalian benar-benar utusan dari Pangeran Gunawijaya?", Kata prajurit itu dengan lantang.


Akhirnya Sanjaya menunjukkan tanda sebuah simbol kerajaan suryaloka yang telah diberikan oleh Pangeran Gunawijaya sebelum mereka berangkat, dan setelah itu para prajurit penjaga pintu gerbang istana suryaloka percaya bahwa mereka berdua adalah seorang utusan dari Pangeran Gunawijaya putra mahkota suryaloka.


"Baiklah silahkan masuk para kisanak", kata prajurit penjaga gerbang, mereka membukakan pintu gerbang istana dan menyuruh Sanjaya dan Mandala untuk menunggu Pangeran Gunturwijaya didalam pendopo istana suryaloka.

__ADS_1


Kemudian tak lama setelah itu datanglah Pangeran Gunturwijaya menemui mereka berdua yaitu Sanjaya beserta Mandala yang berada didalam pendopo istana, dan akhirnya bercakaplah mereka berdua dengan Pangeran Gunturwijaya akan hal yang sangat penting tentang penyerangan kekadipaten karang menjangan.


__ADS_2