
Lalu para keenam kesatria yaitu Mahapatih Damarwijaya, Pangeran Gunturwijaya, begawan Winara, Raden Mahesasangkala, Sanjaya dan Mandala mereka semua sangat terkejut melihat kehebatan Pangeran Gunawijaya yang bisa mengetahui keberadaan wujud asli Pangeran Muradwijaya atau biasa dipanggil dengan sebutan sesosok misterius. Padahal mereka semua selama ini tak menduka bahwa yang mereka hadapi itu adalah sebatas bayangan atau duplikat wujud Pangeran Muradwijaya saja, meskipun sebatas duplikat tapi kedelapan kesatria tersebut waktu itu tidak sanggup mengalahkannya.
Kemudian Pangeran Muradwijaya yang sudah ketahuan wujud aslinya oleh Pangeran Gunawijaya, dia baru menyakini bahwa yang dia hadapi saat ini adalah kesatria tangguh dari keluarga wijaya yaitu keponakkannya sendiri Pangeran Gunawijaya, maka dari itu dia bakal lebih waspada untuk melawannya. Sedangkan Pangeran Gunawijaya, ia sudah tidak sabar untuk menghadapi Pangeran Muradwijaya, dengan rasa kecewa dan kebencian terhadap Pangeran Muradwijaya karena dialah seorang penjahat besar yaitu sesosok misterius yang selama ini ia cari ternyata adalah bagian dari keluarganya sendiri yaitu keluarga wijaya.
Demi kedamaian dan keselamatan tanah jawa dari kehancuran yang akan disebabkan oleh pamannya sendiri yaitu Pangeran Muradwijaya, Pangeran Gunawijaya akan bertarung habis-habisan untuk melenyapkannya dari tanah jawa ini dan ia tidak peduli meski Pangeran Muradwijaya adalah pamannya sendiri. Kemudian setelah Pangeran Muradwijaya berkata pada Pangeran Gunawijaya kalau selama ini hanyalah dia kesatria yang bisa membuatnya gemetar, lalu setelah Pangeran Muradwijaya berkata seperti itu terjadilah pertarungan antar kedua kesatria dari dinasti wijaya yaitu Pangeran Gunawijaya melawan Pangeran Muradwijaya atau sesosok misterius yang akan menghancurkan tanah jawa karena dia berambisi untuk jadi penguasa tunggal ditanah jawa ini.
Adu bela diri hebatpun terjadi antara mereka bedua, dan sejauh ini keduanya masih berimbang dalam adu bela diri, tapi Pangeran Gunawijaya tak patah semangat, ia semakin bersemangat jika menghadapi seseorang yang sangat hebat darinya. Begitu juga dengan Pangeran Muradwijaya, dia tidak harus begitu saja menyerah, dengan sekuat tenaga dia terus melawannya karena ambisinya untuk menguasai tanah jawa harus terwujud, sebab jika dia tidak bisa mengalahkan Pangeran Gunawijaya, dia merasa ambisinya pasti akan gagal. Suasana pertarungan mereka berdua sangat mencekam karena mereka berdua sama-sama saling mengeluarkan jurus-jurus hebatnya dalam pertarungan bela diri.
Pangeran Gunawijaya yang jauh lebih muda dari Pangeran Muradwijaya sangat beringas melawannya, sedangan Pangeran Muradwijaya yang lebih tua darinya, dia lebih berpengalaman dari segala pertarungan bela diri. Dengan situasi tersebut keenam kesatria yang masih hidup mereka semua menyaksikan pertarungan terhebat yang tak pernah mereka lihat dalam sejarah selama ini yaitu pertarungan antara Pangeran Gunawijaya melawan Pangeran Muradwijaya.
"Ini bukan pertarungan biasa, ini bagai pertarungan antar kedua dewa yang menjelma sebagai manusia", kata begawan Winara dengan sangat terpukau menyaksikan pertarungan tersebut.
__ADS_1
"Anda sangat benar begawan Winara, ini sudah bukan pertarungan antar manusia biasa karena inilah sumber kekuatan hitam dan putih saling beradu", Mahapatih Damarwijaya dengan perasaan tegang melihat pertarungan itu juga.
Pangeran Gunawijaya yang unggul dari segi fisik dan umurnya lebih muda dari Pangeran Muradwijaya, ia sedikit menekan Pangeran Muradwijaya dalam pertarungan bela diri, sedangkan untuk mengatasi masalah tersebut Pangeran Muradwijaya harus bisa memikirkan siasat untuk menunjang dirinya agar tidak semakin terdesak oleh serangan demi serangan dari Pangeran Gunawijaya. Maka dari itu Pangeran Muradwijaya berusaha mengeluarkan wujud duplikatnya lagi ditengah pertarungannya tersebut, akhirnya Pangeran Muradwijaya berhasil mengeluarkan dua wujud duplikat dirinya dan sekarang kedudukkan tidak seimbang karena Pangeran Gunawijaya harus menghadapi tiga wujud Pangeran Muradwijaya dan salah satu dari ketiga wujud itu adalah wujud asli Pangeran Muradwijaya yang sesungguhnya.
"Bagus paman Murad, dengan begitu kau akan bisa mengimbangi seranganku, tapi bagiku satu atau tiga wujudmu sekaligus tak akan membuatku gentar karena aku putra arya akan selalu bertarung sampai batas kemampuanku!", Pangeran Gunawijaya yang gagah berani.
Lalu dengan bertambahnya jumlah wujud Pangeran Muradwijaya, pertarungan tersebut semakin sengit. Tapi meski keadaannya Pangeran Gunawijaya kalah jumlah, ia tak gentar sama sekali malah ia sangat berambisi dan bahkan segala jurus bela diri yang tak pernah seorangpun lihat ia keluarkan untuk melawan ketiga wujud Pangeran Muradwijaya.
Mereka semua para kesatria makin terkagum-kagum melihat kehebatan Pangeran Gunawijaya yang bertarung dengan ketiga wujud Pangeran Muradwijaya, meski Pangeran Gunawijaya kalah jumlah, tapi ia tak kesulitan melawan ketiga wujud Pangeran Muradwijaya sekaligus sebab Pangeran Gunawijaya adalah seorang jawara bela diri setanah jawa, sehebat apapun lawannya ia tak akan pernah goyah.
Pertarungan itu sangat mengerikan karena dari kedua belah pihak berusaha mati-matian untuk bisa mengalahkan lawannya tapi apa daya ternyata kehebatan bela diri Pangeran Gunawijaya belum bisa tertandingi oleh ketiga wujud Pangeran Muradwijaya, meski saat bertarung Pangeran Muradwijaya menggunakan jurus kala patinya yang bisa memanipulasi semua keadaan, tapi semua itu percuma sebab jurus itu tak berpengaruh sama sekali pada setiap serangan Pangeran Gunawijaya.
__ADS_1
"Kenapa serangan demi serangan Pangeran Gunawijaya yang mengenai diriku dapat aku rasakan, padahal aku sudah menggunakan jurus kala pati untuk memanipulasi tubuhku agar aku kebal terhadap setiap serangan apapun, jika terus seperti ini, aku bisa kalah olehnya", kata Pangeran Muradwijaya dari dalam hatinya.
Petarungan kedua Pangeran tersebut membuat suasana disekitar medan perang sangat mencekam sebab setiap mereka beradu pukulan dan tendangan getarlah tanah disekitar pertarungan tersebut, setiap bebatuan besar yang ada disekitar hancur terkena dampak dari pertarungan itu karena pertarungan itu sudah melebihi batas kewajaran manusia.
Akhirnya Pangeran Gunawijaya memadukan jurus gerak cepat atau gerak kilatnya kedalam kemampuan bela dirinya untuk mengalahkan Pangeran Muradwijaya, dengan begitu Pangeran Muradwijaya sangat kesulitan membaca pergerakan setiap jurus jurus Pangeran Gunawijaya dan hingga pada akhirnya Pangeran Gunawijaya berhasil mengalahkan kedua wujud duplikat atau kembaran Pangeran Muradwijaya, dan sekarang tinggalah wujud asli Pangeran Muradwijaya yang tersisa.
"Hebat sekali kau ponakanku Gunawijaya, kau bisa mengalahkan kedua wujud kembaran Pangeran Murad hanya dengan menggunakan kemampuan bela diri yang tak pernah kami lihat, dengan begini kemenangan akan bersama kita!", kata Maha Patih Damarwijaya yang menyaksikan pertarungan tersebut.
"Benar paman, kanda Pangeran Gunawijaya memang sungguh hebat, tak percuma ia dijuluki dengan sebutan pendekar kilat sakti", jawab Pangeran Gunturwijaya pada Maha Patih Damarwijaya yang berada disampingnya.
Pertarungan tersebut pada dasarnya menguntungkan Pangeran Gunawijaya karena yang ia hadapi sekarang ini hanya wujud asli Pangeran Muradwijaya, sedangkan kedua bayangannya sudah dihancurkan olehnya hanya dengan menggunakan kemampuan bela dirinya. Lalu disaat pertarungan satu lawan satu tersebut dimulai lagi setelah Pangeran Muradwijaya kehilangan kedua bayangannya, dia sangat kesulitan menghadapi Pangeran Gunawijaya yang memiliki tenaga exstra dari pada dia sebab Pangeran Gunawijaya jauh lebih muda dari dia.
__ADS_1
Maka dari itu untuk bisa mengalahkannya Pangeran Muradwijaya menghentikan serangan jurus jurus bela dirinya dan kemudian dia mengeluarkan sebuah energi hebat dari kedua telapak tangannya yang telah diangkatnya keatas, energi itu ialah manipulasi cakra alam yang menggunakan jurus kala pati untuk menciptakan kekuatan maha dahsyat dari alam sekitarnya. Energi alam itu dengan cepat membesar bak bola raksasa berwarna kehitaman, lalu Pangeran Gunawijaya yang melihatnya ia menyadari bahwa energi itu adalah energi penghancur, maka dari itu untuk mengatasinya dari dampak mengerikan kekuatan energi itu Pangeran Gunawijaya mengeluarkan tombak pasopati yang terbentuk dari cula turonggo sikuda terbang yang telah menyatu kedalam tubuhnya untuk disatukan dengan pedang mustika biru yang akan menjadi keris pusaka jala tungga untuk membendung kekuatan energi hebat yang telah dikeluarkan oleh Pangeran Muradwijaya.
Hanya dengan keris pusaka jala tungga energi itu dapat dibendung, tapi kesempatan tersebut hanya kecil kemungkinan, jika Pangeran Gunawijaya gagal membendung kekuatan energi itu yang pasti semua orang yang tersisa dimedan perang termasuk Pangeran Gunawijaya akan hancur lebur terkena dampak kekuatan energi hebat itu kecuali penggunanya yaitu Pangeran Muradwijaya yang akan tetap selamat dari kejadian mengerikan itu.