
Saat Pangeran Jatiwijaya mengalami kesulitan saat melawan Marlan, tiba-tiba Jatmiko datang untuk membantunya, pertarungan tersebut semakin sengit, Marlan yang menghadapi dua kesatria tersebut tak gentar sama sekali, dia malah semakin bersemangat melawannya.
"Hati hati Jatmiko, jurus goloknya sangat hebat, susah sekali dibaca pergerakannya", kata Pangeran Jatiwijaya yang kesulitan saat melawan Marlan yang menggunakan sejata golok naganya.
"Tenang saja Pangeran, yang penting kita jangan lengah melawannya", Jatmiko menjawab perkataan Pangeran Jatiwijaya.
Tiba-tiba saat baru saja Jatmiko menjawab perkataan tersebut, tak disangkan lengan kiri nya berdarah tanpa dia rasa, dan saat di lihat ternyata ada sebuah sayatan dilengannya tersebut, dan terkejutlah Jatmiko dibuat nya.
Lalu Pangeran Jatiwijaya yang melihatnya merasa sedikit khawatir, ia menyuruh Jatmiko untuk mundur saja, karena pertarungan tersebut akan ia hadapi dengan serius.
Jatmiko yang mematuhi perintah seorang Pangeran Jatiwijaya, dia segera bergegas mundur dan tidak membantunya lagi saat melawan Marlan si pendekar golok naga, karena Pangeran Jatiwijaya akan benar-benar serius melawannya.
Untuk melawan Marlan, Pangeran Jatiwijaya sampai harus menggunakan cumeti banas pati nya, sebab meskipun Marlan lebih muda darinya, tapi kemampuannya tidak bisa diremehkan.
Dan akhirnya bertarunglah mereka berdua yaitu Pangeran Jatiwijaya melawan Marlan yang sama sama menggunakan senjata andalannya masing-masing.
Serangan jurus golok naga dari Marlan membuat Pangeran Jatiwijaya masih kesulitan meski ia sudah sangat serius melawannya. Tapi Pangeran Jatiwijaya bukanlah seorang kesatria sembarangan, ia sangat pintar dalam membaca setiap serangan dari lawannya.
Marlan yang begitu beringas menyerangnya, dia tak sadar bahwa Pangeran Jatiwijaya selalu membaca setiap serangannya, meski sedikit banyak ia terkena serangan tersebut.
Setelah beberapa lama kemudian, Pangeran Jatiwijaya sudah bisa membaca pola serangan jurus golok naga Marlan, dan akhirnya Pangeran Jatiwijaya berbalik mendesak dan menyerang Marlan dengan begitu hebatnya menggunakan cumeti banas pati nya.
Sambaran kilat dari cumeti banas pati membuat Marlan gemetar, dia tak pernah melihat senjata pusaka sehebat itu. Marlan tak lagi sebringas waktu itu, dia sangat terdesak oleh setiap serangan dari Pangeran Jatiwijaya.
__ADS_1
Cumeti banas pati Pangeran Jatiwijaya sangat merepotkan Marlan, dia hanya bisa menghindari serangan tersebut yang dilakukan oleh Pangeran Jatiwijaya.
Jurus golok naga Marlan sudah tak berdaya melawan cumeti banas pati Pangeran Jatiwijaya, dengan keadaan seperti itu, Marlan sudah tidak bisa melawan Pangeran Jatiwijaya sendirian, dengan segera dia memberi sebuah isyarat pada para anak buahnya, yang menandakan bahwa hal itu adalah perintah mundur dari dia, sebab para anak buahnya juga sudah banyak yang tewas saat bertempur melawan para pasukan Pangeran Jatiwijaya.
"Pasukan!, kejar mereka, jangan biarkan mereka melarikan diri", perintah Pangeran Jatiwijaya.
Marlan yang merasa dirinya beserta anak buahnya dikejar-kejar oleh pasukan Pangeran Jatiwijaya, akhirnya sebagai ketua, dia berniat mengorbankan diri untuk menghadapi para pasukan lawannya sendirian dan menyuruh para anak buah untuk segera pergi dan bergabung pada pasukan utama di kediaman pak Ujang.
Tapi ada beberapa anak buahnya yang tak tega melihat pengorbanan ketuanya tersebut yaitu Marlan, beberapa dari mereka ada yang tidak pergi, mereka setia bersama Marlan sampai titik darah penghabisan.
Pada akhirnya bertarunglah mereka melawan pasukan Pangeran Jatiwijaya yang sangat kuat. Dan Marlan, dia kembali melawan Pangeran Jatiwijaya.
Pertarungan mereka berdua sangat luar biasa, untuk bisa melawan Pangeran Jatiwijaya yang sangat hebat, Marlan terpaksa mengeluarkan jurus pamungkasnya yaitu jurus pukulan naga api.
"Kanda Ruslan maafkan aku, aku terpaksa gunakan jurus naga api untuk melindungi pak Ujang, karena inilah wujud pengorbananku padanya", Marlan berkata dalam hatinya.
Ruslan tiba-tiba meneteskan air mata karena dia merasa bahwa adik kesayangan yaitu Marlan telah menggunakan jurus yang belum sempurna tersebut, sebab Ruslan tahu bahwa jika jurus itu belum sempurna dan dipaksa digunakan, damapaknya akan memakan dirinya sendiri beberapa saat kemudian.
"Adikku, kau benar-benar seorang kesatria yang hebat, kanda akan selalu mengenangmu", Ruslan yang menangis dalam hatinya karena merasa akan kehilangan adiknya yaitu Marlan.
Seketika itu keluarlah api yang berkobar-kobar dikedua tangan Marlan yang siap dipukulkan kearah Pangeran Jatiwijaya.
Pangeran Jatiwijaya yang melihatnya sangat heran, dari mana pemuda tersebut yaitu Marlan bisa mempunyai jurus sehebat itu, padahal bisa untuk menguasai jurus tersebut sangatlah susah, sebab Pangeran Jatiwijaya tahu bahwa jurus yang dikeluarkan Marlan adalah jurus pukulan naga api yang bisa melahap apapun disekitarnya.
__ADS_1
Terbengonglah Pangeran Jatiwijaya dibuatnya, dan tanpa ia sadari tiba-tiba jurus pukulan naga api Marlan menyambar dengan hebatnya kearahnya yang membentuk seekor naga api yang sangat besar.
Lalu meledaklah jurus tersebut saat terkena sasarannya, dan menimbulkan kobaran api yang dahsyat disekitarnya.
Tapi untunglah Pangeran Jatiwijaya dan para pasukannya masih selamat dari terjangan jurus yang sangat mengerikan tersebut yaitu jurus pukulan naga api, sebab tanpa ia sadari ternyata dengan cepat senopati Balawarman telah melindungi mereka semua dengan jurus perisai segoro kidul.
Jurus perisai segoro kidul sangatlah ampuh, karena jurus tersebut bisa melindungi seseorang dengan cara membalutnya dengan gelembung air sakti yang bisa menahan dari setiap serangan hebat jurus apapun.
Dengan begitu akhirnya senopati Balawarman berhasil menyelamatkan Pangeran Jatiwijaya beserta para pasukannya yang berada disekitarnya.
Saat Marlan kehabisan cakra karena menggunakan jurus nya tersebut dengan begitu hebatnya, sekarang dia sudah tak berdaya, sekujur tubuhnya memerah seperti terbakar sebuah api yang membara.
Sedangkan Pangeran Jatiwijaya beserta para pasukannya yang telah selamat dari serangan jurus pukulan naga api Marlan, mereka semua senang karena masih bisa hidup didalam keadaan genting seperti itu.
Tapi hanya Pangeran Jatiwijaya yang sedikit murung meski dirinya telah semangat, karena Pangeran Jatiwijaya menganggap dirinya terlalu cerobah dalam melawan musuh nya. Rasa penyesalan dalam dirinya sangat pedih ia rasakan.
Sebagai penebusan atas penyesalan yang ia rasakan, Pangeran Jatiwijaya memutuskan untuk menyelamatkan Marlan dari kondisinya yang sedang sekarat tak berdaya, dan kemudian ia menyuruh menahan sisa pasukan Marlan yang setia ikut bertempur bersama dengan Marlan meski jumlah mereka sangat sedikit dibandingkan sebelumnya.
Kemudian Jatmiko berkata pada Pangeran Jatiwijaya kenapa ia harus menyelamatkan musuhnya yaitu Marlan yang sedang sekarat.
Lalu Pangeran Jatiwijaya menjawab bahwa sebenarnya ia melihat ada sebuah tekanan dalam dirinya, sepertinya Marlan tak sepenuh hati berada dalam kubu kepala desa durjana tersebut yaitu pak Ujang.
Pangeran Jatiwijaya ingin menyelamatkan dirinya karena ia juga melihat dalam sorot matanya ada sebuah kebaikan yang terpendam. Jika Marlan selamat dari kritisnya, Pangeran Jatiwijaya ingin mendidiknya menjadi pemuda yang sejati, pemuda yang selalu ada pada kebenaran.
__ADS_1
Ternyata keputusan Pangeran Jatiwijaya tersebut banyak disetujui oleh para kesatria dikubunya. Maka dari itu Marlan yang sudah tak sadarkan diri, oleh Jatmiko ia bawa ke penginapan yang telah mereka singgahi itu.