
Setelah Pangeran Gunawijaya tidak dapat informasi tentang siapa wanita yang merintih itu, kemudian ia bergegas keluar akan memastikan sendiri siapa wanita itu sebenarnya, tapi senopati Balamarwan yang bertubuh kekar dan bertipikal keras mencegah Pangeran Gunawijaya saat mau keluar penginapan?
"Maaf Pangeran, biar hamba saja yang memastikan siapa wanita itu sebenarnya karena keselamatan Pangeran adalah tanggung jawab kami", kata senopati Balamarwan dengan nada berwibawa kepada Pangeran Gunawijaya.
Akhirnya keluarlah senopati Balamarwan dari penginapan itu? Setelah dia berada diluar penginapan malam itu, dia menengok dan melihat kearah setiap penjuru, tapi tidak nampak siapapun disekitar situ, suasana sangat sepi hanya bunyi jangkrik yang terdengar dan hembusan angin malam yang dia rasakan. Lalu senopati Balamarwan melihat sekelebat bayangan yang melintas dikejauhan, kemudian dia mengejar bayangan itu sampai kedalam hutan. Akhirnya terkejarlah bayangan itu oleh senopati Balamarwan, ternyata tak disangka bayangan itu adalah sesosok serigala berkepala manusia yang menyerampakan. Lalu bertarunglah senopati Balamarwan dengan serigala berkepala manusia itu, karena serigala itu mencoba menyerang senopati Balamarwan.
Dan akhirnya senopati Balamarwan dengan mudah mengalahkan serigala berkepala manusia tersebut. Disaat serigala itu akan dibunuh oleh senopati Balamarwan dengan menggunakan sebilah senjata trisula kembarnya, tiba-tiba serigala itu berkata?
"Ampuuun tuan, jangan bunuh saya", Teriak serigala berkepala manusia tersebut.
Seketika itu senopati Balamarwan langsung membatalkan niatnya untuk membunuh serigala itu, karena alangkah terkejutnya dia mendengar suara serigala berkepala manusia tersebut, sebab suara serigala berkepala manusia itu sama persis dengan suara wanita yang merintih diluar penginapan yang dia singgahi.
"Siapa kau sebenarnya?", Tanya senopati Balamarwan pada serigala berkepala manusia itu.
"Hamba adalah Kedasih Tuan, putri dari ki demang Kusuma", Kata serigala berkepala manusia itu.
"Jika kau putri seorang demang, lantas kenapa kau berwujud mengerikan seperti ini", Senopati Balamarwan bertanya pada serigala berkepala manusia itu dengan nada tinggi.
__ADS_1
Akhirnya Kedasih siserigala berkepala manusia itu menceritakan kepada senopati Balamarwan tentang sebab kenapa dia sampai berubah wujud menjadi siluman serigala berkepala manusia? ternyata kedasih berubah wujud mengerikan seperti itu karena ulah seorang dukun sakti yang bernama ki Lodra. Kedasih terkena kutukan menjadi siluman serigala berkepala manusia oleh dukun tersebut karena dia pernah menolak pinangannya untuk dijadikan seorang istri. Ki Lodra sangat terkenal didesa itu sebagai dukun sakti tanpa tanding, tidak ada warga yang berani pada dirinya, jika ada seseorang yang berani melawannya, ki Lodra tidak segan-segan mengutuk atau membunuhnya.
Setelah Kedasih yang berwujud siluman serigala menceritakan pada senopati Balamarwan tetang sebab akibat dirinya bisa berwujud seperti itu, akhirnya diapun segera pergi dari tempat itu dan masuk kedalam goa yang berada di dalam hutan dekat desanya tersebut. Keesokkan harinya saat mentari mulai bersinar, Pangeran Gunawijaya terbangun dari tidurnya, ia bersama ketiga pengawalnya bergegas pergi dari penginapan karena mereka harus melanjutkan perjalanannya kegunung semeru menemui Maha Resi Brata guru dari mendiang Ayahndanya yaitu Maha Raja Aryawijaya. Tapi didalam perjalanannya yang masih berada didesa itu Pangeran Gunawijaya mendapat cerita dari senopati Balamarwan tentang sesosok wanita yang merintih semalam.
"Kenapa kau baru cerita padaku senopati Balamarwan, tentang kejadian semalam", Kata Pangeran Gunawijaya dengan raut wajah yang agak kesal.
"Mohon ampun Pangeran, hamba tidak berani bercerita semalam karena disaat hamba datang dari memastikan siapa wanita itu sebenarnya, Pangeran sudah tertidur lelap", jawab senopati Balamarwan pada Pangeran Gunawijaya.
Akhirnya setelah mendengar cerita dari senopati Balamarwan, Pangeran Gunawijaya berkata?
"Kita tunda dulu perjalanan kita kegunung semeru, kita hancurkan kejahatan dukun sakti itu supaya warga didesa ini bisa hidup tenang", kata pangeran gunawijaya.
Tiba-tiba Pangeran Gunawijaya menjawab dengan nada tegas sahutan Pangeran Jatiwijaya sebelum ia berkata panjang lebar padanya?
"Ini perintah, jangan membantah", kata Pangeran Gunawijaya.
"Sendiko Pangeran", jawab ketiga pengawal Pangeran Gunawijaya secara bersamaan, yaitu Pangeran Jatiwijaya beserta kedua senopati Balawarman Dan Balamarwan.
__ADS_1
Kemudian Pangeran Gunawijaya beserta pengawalnya mencari tahu informasi tentang ki Lodra sidukun sakti itu pada warga setempat, tapi para warga setempat tidak ada yang berani bicara panjang lebar tantang dukun sakti tersebut dan Pangeran Gunawijaya merasa belum cukup mendapatkan informasi dari warga setempat, akhirnya Pangeran Gunawijaya beserta ketiga pengawalnya tersebut menemui Kedasih seorang wanita yang telah dikutuk oleh dukun sakti ki Lodra menjadi siluman serigala berkepala manusia. Sesegera mungkin Pangeran Gunawijaya beserta pengawalnya pergi kedalam hutan untuk menemui Kedasih simanusia serigala, tapi setibanya disana tepat ditengah perjalanan rombongan Pangeran Gunawijaya dihadang oleh segerombolan musuh dari aliran hitam, mereka semua memakai pakaian serba hitam dan memakai cadar dimulutnya.
"He Kau!, Semuanya turun dari kudamu", kata salah satu musuh dari aliran hitam yang menghadang Pangeran Gunawijaya beserta pengawalnya.
"Baiklah!, Yang akan turun hanyalah aku", sahut Pangeran Jatiwijaya dengan melompat dari atas kudanya.
"Aku tidak butuh kamu!, yang aku butuhkan nyawa Pangeranmu, Gunawijaya!", Ocehan dari ketua para musuh itu sambil menunjuk kearah Pangeran Gunawijaya dengan tangannya.
"Oh!, Ternyata kalian mengetahui indentitas kami, baiklah kalau begitu, ini saatnya aku pamer kekuatan pada kalian semua", tanggapan Pangeran Jatiwijaya pada para pendekar aliran hitam yang menghadangnya.
Lalu bertarunglah Pangeran Jatiwijaya melawan tujuh segerombolan musuh tersebut dengan kesaktian yang ia miliki, Pangeran Jatiwijaya berhasil membikin repot ketujuh musuh tersebut. Namanya pertarungan, disaat-saat genting Pangeran Jatiwijaya sedikit lengah, ia hampir tertusuk pedang salah satu dari musuhnya, tapi dengan ilmu serap raga yang ia miliki Pangeran Jatiwijaya bisa berpindah tempat dengan sekejam mata dengan menukar posisi sesuatu yang ia lihat dari posisinya tersebut. Pada waktu Pangeran Jatiwijaya akan tertusuk dari belakang, ia melihat seseorang musuh didepan yang sedang ia hadapi, seketika itu posisi Pangeran Jatiwijaya bertukar dengan posisi musuh yang ia hadapi didepan matanya itu. Lalu tertusuklah musuh yang didepan yang sedang melawan Pangeran Jatiwijaya, karena dirinya telah bertukar posisi dengan Pangeran Jatiwijaya sekejap mata saat Pangeran Jatiwijaya akan tertusuk. Kemudian Pangeran Jatiwijaya mengeluarkan pusakanya yaitu cumeti banas pati yang menyala nyala bagai api yang membara. Cumeti itu kekuatannya setara dengan petir jika dicambukkan, siapapun yang terkena akan hangus dan terbakar.
"Sepertinya yang dikeluarkan Pangeran Jatiwijaya adalah cumeti banas pati yang terkenal itu Pangeran", kata senopati Balawarman kepada Pangeran Gunawijaya.
Lalu Pangeran Gunawijaya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Kemudian satu persatu para penjahat itu berhasil dihabisi oleh Pangeran Jatiwijaya menggunakan pusakanya yaitu cumeti tersebut. Mereka semua hangus terbakar oleh kekuatan cumeti itu, sekarang hanya tinggal ketua dari para penjahat itu yang bernama Jatmiko yang masih hidup. Saat Pangeran Jatiwijaya mencambukkan kearah Jatmiko siketua penjahat itu dia berhasil menghidar dari cambukkan cumeti Pangeran Jatiwijaya. Seketika itu cambukkan cumeti Pangeran Jatiwijaya yang luput tidak mengenai Jatmiko menghantam sebuah pohon besar yang ada didepannya. Jedaaaaarrr!, terbelahlah pohon itu hingga terbakar hangus karena terkena cambukkan cumeti banas pati milik Pangeran Jatiwijaya.
__ADS_1
Tidak mau kalah Jatmiko ketua dari para penjahat itu yang masih hidup mengeluarkan jurus tapak macan. Jurus itu bisa menghempaskan tenaga dalam yang sangat kuat dari telapak tangannya, sebongkah batu besarpun akan hancur jika terkena hempasan tenaga dalam dari jurus tapak macan tersebut. Tapi dengan keahlian bela diri Pangeran Jatiwijaya hempasan tenaga dalam dari jurus tapak macan Jatmiko bisa dengan mudah dihindarinya. Kemudian Pangeran Jatiwijaya melemparkan cumetinya keatas, tiba-tiba berubahlah cumeti itu menjadi seekor ular yang besar berwana merah menyala dan ular itupun bisa menyemburkan api. Jatmiko ketua para penjahat yang masih hidup merasa ketakutan melihat ular sebesar itu, tapi apa daya? Diapun tak bisa lari dari tempat pertarungan tersebut, akhirnya dia terpaksa melawan ular besar jelmaan dari cumeti banas pati milik pangeran jatiwijaya.
Tapi jatmiko bukan tandingan ular jelmaan dari cumeti tersebut, meski dia berkali-kali menghempaskan tapak macan tepat mengenai ular itu, tapi kekuatan tapak macannya itu tak berpengaruh sama sekali pada ular tersebut, malah semakin ganaslah ular besar itu. Saat ular besar itu menyemburkan api pada ketua penjahat yang bernama Jatmiko, dengan cepat Jatmiko menghempaskan kekuatan tapak macannya, akhirnya terjadilah adu kekuatan besar antara semburan api milik ular besar jelmaan dari cumeti milik Pangeran Jatiwijaya melawan kekuatan tapak macan milik Jatmiko ketua para penjahat yang menghadang Pangeran Gunawijaya beserta ketiga pengawalnya tersebut.