PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
14. Tertangkapnya Kedasih


__ADS_3

Disaat Kedasih mengejar kedua preman pasar itu, Pangeran Jatiwijaya diam-diam mengikutinya tanpa sepengetahuan Kedasih, akhirnya kedasih berhasil menemukan kedua preman tersebut didekat sungai, mereka berdua sedang asyik menggoda para gadis-gadis desa yang sedang mandi disungai itu. Kedasih semakin kesal melihat kelakuan kedua preman tersebut, dan akhirnya?


"He Kisanak!", Kedasih memanggil kedua preman tersebut yaitu Paijo dan Dudung.


"Oh Rupanya ada gadis cantik yang memanggil kita Dung?", kata Paijo yang berbadan kurus, hitam dan dekil.


"Iya ya, kok tumben-tumbennya ada gadis yang memanggil kita, padahal jangankan dipanggil, didekati gadis saja kita gak pernah ya Jo", Kata Dudung yang berbadan gemuk, kusam dan tompelan dipipinya.


Paijo dan Dudung kegirangan ada seorang gadis yang memanggilnya, padahal Kedasih memanggil mereka bukan karena tertarik padanya tapi Kedasih kesal karena kelakuannya itu yang suka semena-mena dan mentang-mentang dia berdua preman pasar. Kemudian disisi lain Raja Jakabirawa bertarung mati-matian melawan ketua para musuh aliran hitam yang menghadangnya, sebab para prajurit Raja Jakabirawa tidak ada yang bisa menandingi kemampuan ketua para musuh itu, hanya Raja Jakabirawa saja yang bisa melawannya. Mereka berdua bertarung menggunakan kemampuan bela dirinya masing masing, tidak ada yang kalah atau menang dari pertarungan bela diri tersebut, kekuatan mereka berimbang dalam kemampuan bela diri. Setelah itu Raja Jakabirawa segera mencabut keris pusakanya yaitu keris maha sura yang berada dibelakang punggungnya, jika keris itu dicabut dari tempatnya maka akan keluar api yang menyala-nyala disetiap bagiannya. Kemudian diseranglah ketua para musuh itu dangan keris maha sura miliknya yang bisa menyemburkan api jika dihempaskan kearah sasarannya.


Dilain sisi Pangeran Gunturwijaya yang memimpin bala bantuan untuk membatu Raja Jakabirawa, ia merasa camas akan keadaan Raja Jakabirawa sekarang ini?


"Ayo pasukan!, Lebih cepat lagi supaya kita cepat sampai ketempat Raja Jakabirawa", kata Pangeran Gunturwijaya.


"Sendiko Pangeran!", sahut para pasukan bantuan secara bersamaan kepada Pangeran Gunturwijaya.

__ADS_1


Pangeran Gunturwijaya beserta bala bantuan bergegas ketempat Raja Jakabirawa dengan menunggangi kuda.


Kemudian disisi lain Kedasih sedang digoda oleh Paijo salah satu preman pasar tersebut. Paijo mendekat dan mencolek dagu Kedasih dengan berkata?


"Ada apa cantik, kok manggil-manggil akang, naksir ya?", kata Paijo.


Tiba-tiba Kedasih menonjok muka Paijo sampai keluar darah pada hidungnya. Lalu Dudung yang melihat temannya itu ditonjok, dia tidak terima, dari jauh dia lari dan akan menyeruduk Kedasih dangan sekuat tenaga, tapi dengan mudah Kedasih yang ahli bela diri dapat menghidari serudukkan Dudung itu dengan mudah, dan akhirnya Kedasih berhasil menendang Dudung hingga terpental.


Kedasih berkata dengan nada tinggi?


"Cepat kalian bayar uang makan kewarung yang kalian datangi tadi, kalau tidak, tamat riwayat kalian berdua sekarang juga! ", kata Kedasih dengan kesalnya pada kedua preman pasar itu, Paijo dan Dudung.


"Ayo cepat lari Dung!", Kata Paijo.


"Kurangajaaar!, jangan lari kau bajingaaan!", teriak kedasih yang sangat marah pada Paijo dan Dudung.

__ADS_1


Akhirnya Kedasih membasuh mukanya disungai dekat tempat itu supaya tanah yang masuk kematanya dapat segera hilang. Setelah itu Kedasih dapat membuka matanya kembali dengan jelas dan dia berusaha mengejar Paijo dan Dudung dengan mengikuti jejak kaki mereka berdua. Kemudian di lain sisi Raja Jakabirawa berhasil mendesak ketua para musuh itu dengan menggunakan keris pusakanya yaitu keris maha sura yang bisa menyemburkan api. Tapi ketua para musuh itu tidak terima, dia akhirnya mengeluarkan kekuatan mata dewanya untuk melawan Raja Jakabirawa. Ketika ketua para musuh itu mengeluarkan kekuatan mata dewanya, Raja Jakabirawa yang ditatapnya terpental terkena kekuatan mata itu, tapi Raja Jakabirawa masih bisa berdiri setelah terkena serangan tersebut. Ketua para musuh aliran hitam yang melihat Raja Jakabirawa masih kuat meski terkena serangan mata dewanya, lalu dia berusaha menyerangnya kembali hingga Raja Jakabirawa muntah darah akibat terpental oleh serangan mata dewa itu. Kemudian untuk menahan serangan mata dewa dari ketua para musuh itu, Raja Jakabirawa menggunakan jurus watu aji yang bisa menahan setiap serangan dari kekuatan apapun. Lalu untuk menandingi kekuatan mata dewa, Raja Jakabirawa mengeluarkan ajian rengkah gunung yang bisa menghancurkan apa saja yang terkena ajian tersebut. Telapak tangan Raja Jakabirawa mulai memerah dan berasap, tandanya ajian rengkah gunung akan segera siap dihempaskan kesasarannya yaitu ketua para musuh tersebut. Disaat ketua musuh melihat Raja Jakabirawa mengelurkan kesaktiannya itu, dia berusaha untuk menyerang kembali Raja Jakabirawa dengan kekuatan mata dewanya, tapi apa daya, serangan mata dewa tersebut tidak pengaruh sama sekali kepada Raja Jakabirawa karena Raja Jakabirawa sudah mengeluarkan jurus watu aji untuk menahannya.


Kemudian dari jarak jauh dihempaskannya ajian rengkah gunung kearah ketua para musuh itu dan berhasil mengenainya hingga dia terluka dalam sampai muntah darah akibat terkena hempasan anginnya saja dari ajian rengkah gunung yang dikeluarkan oleh Raja Jakabirawa. Lalu Raja Jakabirawa berlari dengan sekuat tenaga kearah ketua para musuh itu karena akan memukulnya secara langsung menggunakan ajian rengkah gunungnya itu. Kemudian disisi lain Pangeran Gunturwijaya hampir tiba beserta bala bantuannya untuk membantu Raja Jakabirawa. Dan disisi lain Kedasih yang mengejar kedua preman pasar tersebut yaitu Paijo dan Dudung, dia sampai masuk kedalam hutan untuk mengikuti jajak kaki mereka berdua. Lalu Kedasih yang sampai didalam hutan tiba-tiba dia terkena perangkap sebuah jaring besar sehingga kedasih tidak bisa bergerak. Kemudia munculah Pangeran Jatiwijaya yang akan menolongnya dari perangkap jaring tersebut?


"Kedasih apa kau tak apa-apa? ", Kata Pangeran Jatiwijaya.


"Tolong saya Pangeran, keluarkan saya dari perangkap ini", jawab Kedasih kepada pangeran jatiwijaya.


"Tenanglah Kedasih, saya akan selamatkan kamu dari perangkap ini?", kata Pangeran Jatiwijaya dengan yakinnya.


"Tapi kenapa Pangeran bisa tahu saya sedang berada disini?", tanya Kedasih yang merasa penasaran.


"Saya tadi diam-diam mengikutimu waktu kamu tiba-tiba keluar dari warung makan tanpa menghabiskan makananmu, dan saya berfikir mungkin ada sesuatu yang sedang kamu lakukan". Jawab Pangeran Jatiwijaya pada Kedasih.


Tiba-tiba disaat Pangeran Jatiwijaya akan menyelamatkan Kedasih, sebuah jarum beracun dari senjata sumpit menancap tepat dibelakang leher Pangeran Jatiwijaya yang membuatnya jatuh pingsan tak sadarkan diri karena efek dari racun itu yang hanya bisa membuat orang tak sadarkan diri atau pingsan. Beberapa lama kemudian disaat Pangeran Jatiwijaya telah sadar dari pingsannya, tiba-tiba ia sudah bersama Pangeran Gunawijaya dan ketiga pengawalnya yaitu Jatmiko beserta kedua senopati Balawarman dan Balamarwan disebuah penginapan. Lalu Pangeran Jatiwijaya sangat terkejut karena ia tadi sedang menolong Kedasih dan akan mengeluarkannya dari perangkap sebuah jaring besar yang menimpanya.

__ADS_1


"Lho!, kenapa hamba bisa berada bersama Kanda Pangeran, sedangkan Kedasih mana?", Tanya Pangeran Jatiwijaya pada Pangeran Gunawijaya.


Kemudian Pangeran Gunawijaya menjawab bahwa ia tadi menemukan Pangeran Jatiwijaya tergeletak didalam hutan tak sadarkan diri. Sedangkan Kedasih yang ia tanya, Pangeran Gunawijaya tak mengetahuinya karena sesampainya beliau disana yang ia lihat hanya Pangeran Jatiwijaya saja.


__ADS_2