PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
108. Ketiga anjing siluman


__ADS_3

Sehari kemudian saat Patih Waranggaseta tiba beserta para pengawalnya, beliau disambut dengan gembira oleh para pasukannya tersebut, karena Patih Waranggaseta telah membawa kabar baik pada mereka semua, bahwa beliau telah mendapatkan sebuah syarat untuk bisa mematahkan sihir yang melindungi gerbang istana giritunggal.


Syarat tersebut berupa air yang berada dalam sebuah kendi.


Air itu bukan sembarang air, air itu adalah air sakti yang bisa mematahkan pengaruh sihir apapun.


Lalu Patih Waranggaseta akan segera mematahkan sihir tersebut, beliau segera mendekat ke gerbang istana, lalu kendi yang berisi air sakti itu dia lemparkan ke gerbang tersebut hingga pecah.


Tiba-tiba gerbang istana itu keluar asap hitam setelah terkena air sakti dalam kendi tersebut.


Asap hitam itu makin lama makin memudar, lalu lenyaplah asap itu setelah beberapa saat kemudian.


Saat asap hitam itu sudah lenyap, Patih Waranggaseta mencoba memegang gerbang istana tersebut, ternyata apa yang dia rasakan saat memegang gerbang istana itu, dia sudah tidak merasakan lagi sengatan aliran listrik yang seperti sebelumnya.


Kemudian Patih Waranggaseta segera memerintahkan Pangeran Kasimwijaya selaku panglima perang, dia diperintahkan untuk segera menyiapkan pasukannya untuk segera membobol gerbang istana itu dan kemudian menyerangnya.


Dengan menggunakan balok-balok kayu, para pasukan Putih Waranggaseta segera mendobrak gerbang itu.


Para prajurit giritunggal yang berada didalam istana tersebut, semua nampak panik.


Mereka merasa bahwa peperangan sebentar lagi tak akan terhindarkan lagi.


Gerbang istana itu mulai bergetar kencang saat dihantam oleh balok-balok kayu yang digunakan para pasukan Patih Waranggaseta untuk mendobrak gerbang tersebut.


Tapi gerbang istana giritunggal sangat besar dan kuat sekali, sudah berkali-kali didobrak, gerbang itu belum juga hancur dan terbuka.


"Minggirlah kalian semua, gerbang ini tidak akan terbuka jika hanya didobrak dengan cara begitu", kata Pangeran Kasimwijaya.


Kemudian Pangeran Kasimwijaya menggunakan jurus kalabaya untuk mengeluarkan sebongkah batu besar dari dalam perut bumi, lalu batu besar itu dia lemparkan sekuat tenaga menggunakan bantuan cakra atau tenaga dalam ke arah gerbang tersebut.


Lalu seketika itu hancurlah gerbang istana giritunggal terkena hantaman sebongkah batu besar dari Pangeran Kasimwijaya.


Para prajurit giritunggal yang berada didalam istana itu kocar-kacir ketakutan karena melihat hal tersebut.


Akhirnya para pasukan Patih Waranggaseta segera menyerang giritunggal dengan hebatnya.


Mereka bertempur melawan para prajurit giritunggal yang masih tersisa.

__ADS_1


Dengan keadaan seperti itu, akhirnya senopati Arga turun tangan membantu melawan para pasukan Patih Waranggaseta yang sedang menyerang istana giritunggal.


Sedangkan Raja Sutabirawa, dia masih berada didalam istana tersebut, dia dijaga ketat oleh para punggawa punggawanya.


Senopati Arga yang sangat hebat banyak menghancurkan pasukan Patih Waranggaseta, akhirnya senopati Kuncoro turun tangan untuk melawannya.


Kedua senopati itu saling serang satu sama lain, tapi masalah ilmu beladiri, senopati Kuncoro lebih unggul daripada senopati Arga.


Senopati Arga sangat terdesak oleh serangan jurus jurus beladiri dari senopati Kuncoro, tapi dia sesekali dapat melawannya.


Tak lama kemudian, senopati Arga benar-benar dibuat roboh oleh senopati Kuncoro.


Akhirnya senopati Arga terpaksa mengeluarkan ilmu sihirnya, dia membangunkan para pasukan dari kedua kubu yang telah tewas, pasukan pasukan itu dikendalikan untuk menghabisi senopati Kuncoro.


Senopati Kuncoro sangat kebingungan dengan situasi yang sedemikian itu, tapi dia harus melawan para mayat hidup tersebut jika dia ingin selamat.


Lalu senopati Kuncoro menyerang para mayat hidup itu dengan berbagai serangan dari jurus pedangnya.


Tapi apa daya, yang senopati Kuncoro lawan adalah sekumpulan mayat hidup, yang tindak mungkin mereka bisa mati kembali.


Seberapa kuatnya senopati Kuncoro melawan para mayat hidup itu, mereka para mayat hidup tersebut tak akan pernah bisa dikalahkan hanya dengan menggunakan serangan dari pedangnya.


Dengan kejadian tersebut, akhirnya senopati Patmo membantu senopati Kuncoro untuk menghadapi para sekumpulan mayat hidup yang telah dibangkitkan oleh senopati Arga menggunakan ilmu sihirnya.


"Jika hanya diserang menggunakan senjata biasa, sekumpulan mayat hidup ini tak akan bisa kita kalahkan senopati", kata senopati Patmo pada senopati Kuncoro.


"Lalu apa yang harus kita lakukan", senopati Kuncoro bertanya.


Kemudian senopati Patmo menyuruh senopati Kuncoro agar pedang yang dia gunakan, diolesi dengan air sakti dari ki Loso.


Kebetulan ki Loso sudah membekalinya, karena ki Loso tahu bahwa hal ini bakal terjadi.


Akhir tanpa banyak pikir panjang, kedua senopati tersebut yaitu senopati Kuncoro dan senopati Patmo segera menggunakan air sakti itu untuk dioleskan pada senjata mereka berdua.


Dengan begitu, kedua senopati itu berhasil mengalahkan sekumpulan para mayat hidup tersebut menggunakan senjata mereka yang telah diberi air sakti dari ki Loso.


Setelah para mayat hidup itu sudah dikalahkan oleh kedua senopati tersebut, lalu kedua senopati itu segera menghadapi senopati Arga yang mempunyai ilmu sihir.

__ADS_1


Senopati Arga ketar ketir saat akan menghadapi kedua senopati tersebut, karena kedua senopati itu mempunyai air sakti pemberian dari gurunya yaitu ki Loso.


"Sebelum kami berdua melawanmu, alangkah baiknya kau segera menyerah saja senopati Arga", senopati Patmo yang gagah perkasa.


"Sampai matipun, aku tidak akan pernah menyerah pada kalian semua", keangkuhan senopati Arga.


Akhirnya terjadi pertarungan diantara mereka.


Senopati Arga yang melawan kedua senopati tersebut, dia bisa menahan setiap serangannya.


Tapi lama lama, senopati Arga kuwalahan juga dibuatnya.


Senopati Arga mencoba menggunakan ilmu sihirnya untuk melawan kedua senopati itu, senopati Arga merubah para mayat mayat yang tergeletak menjadi ular ular besar untuk menyerang kedua senopati tersebut.


Tapi kedua senopati tersebut yaitu senopati Kuncoro dan senopati Patmo, mereka berdua dapat dengan mudah menghancurkan ular ular itu menggunakan senjata mereka yang sudah di beri air sakti dari ki Loso.


Senopati Arga rasanya sudah kehabisan cara untuk bisa mengalahkan kedua senopati itu, akhirnya senopati Arga melarikan diri dari tempat pertarungan.


Tapi kedua senopati tersebut yaitu senopati Kuncoro dan senopati Patmo, segera mengejarnya.


Saat kedua senopati itu mengejar senopati Arga, para prajurit giritunggal mencoba menghadangnya.


Namun para prajurit itu bukan tandingan bagi kedua senopati tersebut.


Kedua senopati itu dapat dengan mudah mengalahkan para prajurit giritunggal yang sedang menghadangnya.


Lalu mereka berdua terus melanjutkan pengejaran senopati Arga, tapi senopati Arga telah bersembunyi didalam salah satu tempat yang berada didalam istana tersebut.


Hal itu sangat menyulitkan bagi kedua senopati yang sedang mengejarnya.


Kemudian senopati Kuncoro dengan kesaktiannya, dia memanggil ketiga anjing siluman peliharaannya yang berasal dari alam siluman.


Tak butuh waktu lama, ketiga anjing siluman itu tiba-tiba muncul dihadapan senopati Kuncoro.


Lalu salah satu dari anjing siluman itu berkata, apa yang bisa mereka bantu saat ini.


Kemudian senopati Kuncoro memerintahkan ketiga anjingnya itu untuk mencari keberadaan senopati Arga yang sedang bersembunyi didalam istana tersebut.

__ADS_1


Senopati Kuncoro lalu memegang kepala ketiga anjingnya itu, tujuannya agar ketiga anjingnya itu bisa mengetahui senopati Arga dari dalam pikiran senopati Kuncoro.


Akhirnya perburuan segera dilakukan oleh ketiga anjing siluman tersebut, untuk memburu senopati Arga yang sedang bersembunyi didalam istana giritunggal.


__ADS_2