PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
09. Padepokan samber nyawa


__ADS_3

Adu dua kekuatan antara semburan api ular besar melawan kekuatan pukulan tapak macan semakin memanas. Jatmiko ketua para penjahat itu terus menyalurkan tenaga dalamnya kepada pukulan tapak macannya yang sedang beradu kekuatan dengan semburan api ular besar milik Pangeran Jatiwijaya. Beradunya kedua kekuatan itu disertai dengan angin ribut dampak dari energi kedua kekuatan yang saling berbenturan satu sama lain.


Tapi apa daya, jatmiko mulai kehabisan tenaga, pukulan tapak macannya mulai melemah dan akhirnya, whuuuussss!, tersemburlah Jatmiko oleh ular jelmaan dari cumeti banas pati karena Jatmiko kalah beradu kekuatan. Jatmiko sampai terpental dan mengalami luka dalam yang serius, dadanya hancur terbakar, dari mulutnya keluar darah panas terus menerus. Kemudian disaat Pangeran Jatiwijaya mengetahui bahwa Jatmiko masih hidup meski tak berdaya, ia akan segera membunuhnya dengan mencambukkan cumeti banas pati kearah tubuh Jatmiko.


"Hyaaaaa!, mati kau penjahat!",


Teriak Pangeran Jatiwijaya yang akan mencabuk Jatmiko dengan cumetinya.


"Hentikan dimas Jatiwijaya", sahut Pangeran Gunawijaya sambil turun dari kudanya.


Seketika itu Pangeran Jatiwijaya menghentikan serangannya kepada jatmiko.


"Kenapa kanda Pangeran menghentikan serangan hamba", kata Pangeran Jatiwijaya pada Pangeran Gunawijaya dengan rasa penasaran.


Dengan menghampiri Jatmiko tanpa menjawab pertanyaan Pangeran Jatiwijaya, Pangeran Gunawijaya sambil merunduk bertanya pada Jatmiko yang tergeletak tak berdaya dipermukaan tanah?


"Siapa yang menyuruhmu untuk membunuhku", sambil tersenyum Pangeran Gunawijaya bertanya pada Jatmiko.


Jatmikopun menjawab dengan nada tersendat-sendat karena sedang sekarat?


"Seseorang yaaang aaakan menghancurkan taaanah jaaawa yang meeeenyuruhku", kata Jatmiko ketua para penjahat itu sambil terbata bata suaranya karena sedang sekarat.


Kemudian Pangeran Gunawijaya mencabut padang mustika biru dari punggungnya, ketika pedang mustika biru tercabut dari tempatnya, menyalalah pedang itu bersinar terang biru keemas-emasan bak permata yang berkilauan yang bisa membuat silau siapapun yang melihatnya. Lalu Pangeran Gunawijaya meletakkan pedang mustika biru kedada Jatmiko yang sedang terluka parah karena terkena semburan ular besar jelmaan dari cumeti banas pati milik Pangeran Jatiwijaya. Seketika itu setelah diletakkannya pedang mustika biru didada jatmiko, tiba-tiba dada jatmiko yang tadinya terbakar, kini mulai berangsur-angsur pulih dengan singkat dan cepat dari lukanya tersebut.


Kemudian Pangeran Jatiwijaya heran tak habis pikir melihat keajaiban dari pedang mustika biru tersebut karena selama ini siapapun yang terkena semburan ular jelmaan cumeti banas pati, orang itu tak akan selamat karena sepengetahuan Pangeran Jatiwijaya tidak ada obat yang bisa menyembuhkan luka semburan ular jelmaan dari cumeti tersebut.


Lalu Pangeran Jatiwijaya bertanya kepada Pangeran Gunawijaya kenapa luka semburan ular besar miliknya bisa disembuhkan oleh pedang mustika biru, padahal setahunya tidak ada obat yang bisa menyembuhkan semburan tersebut, kemudian Pangeran Gunawijaya menjawab dengan tersenyum kepada Pangeran Jatiwijaya sambil menepuk pundaknya?


"Kanda hanya menuruti kata hati, tidak ada hal yang tidak mungkin dengan keyakinan kita", kata Pangeran Gunawijaya kepada adik sepupunya yaitu Pangeran Jatiwijaya.


"Maaf Kanda pangeran, kenapa Kanda Pangeran menyembuhkan dia, padahal dia beserta gerombolannya ingin membunuh Kanda", tanya Pangeran Jatiwijawa dengan penuh penasaran akan tindakan Pangeran Gunawijaya yang dilakukannya pada Jatmiko ketua para penjahat tersebut.


"Kanda merasa ada yang berbeda darinya, dia beda dari para teman-temannya yang telah kau bunuh", jawab Pangeran Gunawijaya pada Pangeran Jatiwijaya.


"Apa yang Kanda Pangeran maksud akan perbedaan itu?", Tanya Pangeran Jatiwijaya dengan perasaan ingin tahu.

__ADS_1


Sambil tersenyum Pangeran Gunawijaya menjawab?


"Sebentar lagi kau pasti akan tahu jawabanya", kata Pangeran Gunawijaya.


Saat Pangeran Gunawijaya beserta ketiga pengawalnya tersebut akan melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Jatmiko memanggil?


"Tunggu Pangeran Gunawijaya, bolehkah hamba ikut dengan rombongan Pangeran, hamba siap mengabdikan diri hamba kepada Pangeran Gunawijaya", kata Jatmiko siketua para penjahat.


Lalu terkejutlah Pangeran Jatiwijaya mendengar pernyataan itu dari Jatmiko.


Sambil menatap Pangeran Gunawijaya, Pangeran Jatiwijaya berkata dalam hatinya?


"Inikah jawaban dari Kanda Pangeran Gunawijaya, saya benar-benar tidak menyangka akan hal ini bisa terjadi", kata Pangeran Jatiwijaya.


Jatmiko yang ingin mengabdikan dirinya kepada Pangeran Gunawijaya, akhirnya dia diterima pengabdianya oleh Pangeran Gunawijaya.


Tapi disisi lain senopati Balawarman meragukan Jatmiko akan ketulusannya mengabdi kepada Pangeran Gunawijaya?


"Maaf Pangeran Gunawijaya, apa tidak sebaiknya Pangeran memikirkan kembali akan menerima pengabdian seseorang penjahat yang ingin membunuh Pangeran", kata senopati Balawarman dengan penuh kebimbangan dengan keputusan Pangeran Gunawijaya.


"Sendiko Pangeran!", Sahut senopati Balawarman dengan punuh hormat kepada Pangeran Gunawijaya.


Lalu Pangeran Gunawijaya beserta para pengawalnya tersebut meneruskan mencari Kedasih untuk menggali informasi tentang ki Lodra yaitu dukun sakti yang sering membikin resah didesa rembang tempat dimana Pangeran Gunawijaya menginap.


Tak lama kemudian Pangeran Gunawijaya beserta para pengawalnya menemukan Kedasih yang dikutuk oleh ki Lodra jadi siluman serigala yang berada didalam goa dihutan dekat desa rembang.


Akhirnya Kedasih menceritakan semua hal yang dia ketahui tentang dukun sakti tersebut pada Pangaran Gunawijaya.


Setelah Pangeran Gunawijaya mendapatkan informasi dari kedasih, ia berjanji akan membantu mematahkan kutukan ki Lodra yang telah dilakukan padanya.


Lalu Pangeran Gunawijaya beserta pengawalnya pergi untuk menemui ki Lodra kepadepokannya yang bernama padepokan samber nyawa yang berada disebelah timur desa rembang.


Kemudian ki Lodra yang berbadan gemuk, kulit hitam, rambut ikal dan brewokkan sudah mengetahui akan kedatangan Pangeran Gunawijaya beserta pengawalnya tersebut, lalu ki Lodra berkata pada murid-muridnya?


"Kita akan kedatangan tamu, siapkan diri kalian semua!", Kata ki Lodra sidukun sakti.

__ADS_1


Lalu saat Pangeran Gunawijaya beserta para pengawalnya tiba dipadepokan itu, ia langsung dihadang oleh para murid-murid ki Lodra?


"Maaf kisanak, ada perlu apa gerangan kalian semua datang kepadepokan samber nyawa ini?", Tanya salah satu murid ki Lodra dengan nada tinggi pada Pangeran Gunawijaya beserta para pengawalnya tersebut.


Lalu yang menjawab pertanyaan dari salah satu murid ki Lodra itu adalah senopati Balawarman?


"Kami adalah dewa kematiaan gurumu, yaitu ki Lodra", kata Senopati Balawarman dengan tegas.


"Lancang ucapanmu kisanak!", Sahut murid ki Lodra pada senopati Balawarman dengan emosinya.


Akhirnya terjadi pertarungan didepan padepokan samber nyawa antara murid ki Lodra melawan senopati Balawarman.


Saat pertarungan itu semakin memanas, tiba-tiba?


"Hentikan pertarungan itu!", Teriak ki Lodra yang keluar dari dalam padepokannya sambil membawa tongkat naga hitam.


Seketika itu berhentilah pertarungan antara salah satu murid ki Lodra yang melawan senopati Balawarman.


"Kau tidak akan sanggup melawan orang itu muridku", Kata ki Lodra sidukun sakti.


Lalu murid ki Lodra menjawab perkataan gurunya?


"Tapi guru, orang ini sudah berani berkata lancang tentangmu" kata murid ki Lodra yang telah bertarung dengan Senopati Balawarman.


"Biarkan saja, karena mereka semua bukan orang sembarangan, tapi sebentar lagi mereka akan mendapatkan hukuman dariku", jawab ki Lodra dengan sombongnya.


Kemudian senopati Balawarman berkata?


"Coba saja kalau kau sanggup ki Lodra".


Akhirnya terjadi pertarungan antara ki Lodra melawan senopati Balawarman, tapi tidak hanya pertarungan itu saja, semua para murid-murid ki Lodra tidak terima dengan kedatangan Pangeran Gunawijaya beserta para pengawalnya tersebut dan para murid-murid ki Lodra itu akhirnya menyerang Pangeran Gunawijaya dengan bersamaan.


Tapi Pangeran Gunawijaya tidak melawan mereka, ia tetap berada diatas kudanya, yang melawan mereka adalah para pengawalnya yaitu Pangeran Jatiwijaya, senopati Balamarwan dan Jatmiko.


Pertarungan dipadepokan samber nyawa semakin sengit, tapi dikubu ki Lodra hampir terdesak oleh para pengawal Pangeran Gunawijaya. Saking banyaknya murid-murid ki Lodra yang jago bela diri seakan-akan pertarungan itu tak kunjung usai.

__ADS_1


Ki Lodra yang bertarung melawan senopati Balawarman yang bersenjatakan kapak, dia sangat kuwalahan oleh kehebatan senopati Balawarman. Akhirnya ki Lodra tidak mau kalah, dia mengeluarkan kesaktiannya yang bernama ajian serap sewu.


__ADS_2