
Kemudian tak disangka saat pak Ujang terlena dalam pertarungannya melawan Sanjaya dan juga Mandala, tiba-tiba ada sesosok raksasa yang menyahut, mengambil dan meremas tubuh pak Ujang dengan kencang sampai dia meronta-ronta kesakitan, hingga keris pusaka naga sasra nya pun terlepas dari genggamannya.
Dengan kemampuan teleportasi, Mandala segera mengambil keris pusaka tersebut yang telah jatuh dari genggaman pak Ujang.
Ternyata ini adalah rencana para kesatria kesatria tersebut untuk bisa mengambil keris itu dari tangan pak Ujang.
Setelah keris naga sasra berhasil diamankan oleh para kesatria, kini pak Ujang akan segera dihabisi oleh sesosok raksasa tersebut.
Dan ternyata sesosok raksasa itu adalah senopati Sumitro yang telah menggunakan jurus andalannya yaitu jurus membesarkan tubuh.
Pak Ujang diambang kematian, dia diremas sekencangannya oleh senopati Sumitro yang telah membesarkan tubuhnya hingga seperti raksasa.
Tapi apa daya, disaat pak Ujang telah membaca mantra saat dirinya diremas oleh senopati Sumitro, tiba-tiba ada sebutir telur yang berwarana hijau yang melesat kencang dari dalam rumah pak Ujang.
Dan telur itu mengarah tepat pada pak Ujang dan langsung masuk kedalam mulutnya hingga tertelan.
Lalu beberapa saat kemudian tubuh pak Ujang berasap, hingga terlepas dari genggaman senopati Sumitro, karena tubuh pak Ujang terasa sangat panas bagai api yang membara, sehingga membakar telapak tangan senopati Sumitro yang meremas tubuh pak Ujang.
Dengan kejadian tersebut membuat senopati Sumitro kembali kebentuk wujud semula, dan mengalami luka bakar disalah satu telapak tangannya yang dibuat untuk meremas pak Ujang.
Pak Ujang yang tubuhnya berasap kini dia berteriak sekencang kencangnya karena merasa tubuhnya seperti akan meledak sehabis menelan sebutir telur tersebut.
Darahnya mendidih, matanya memerah, keluar tanduk dikepalanya, giginya bertaring dan semakin lama tubuhnya membesar, kulitnya berubah warna menjadi hijau. Lalu beberapa saat kemudian berubahlah pak Ujang menjadi buto ijo, akibat menelan sebutir telur tersebut.
"Kalian semua hati hati, jangan gegabah melawannya, kini dia sudah bukan manusia lagi", senopati Balawarman yang memberi peringatan pada para kesatria yang lainnya, karena melihat pak Ujang kini telah menjadi buto ijo.
"Baik kanda, sekarang untuk menghadapinya kembali kita butuh rencana baru", kata senopati Balamarwan adik dari senopati Balawarman.
"Bagaimana denganmu senopati Sumitro, apa kau baik-baik saja", tanya senopati Balawarman.
"Ya, saya baik-baik saja senopati Balawarman, tapi dengan luka bakar yang ada pada telapak tangan saya, sepertinya saya tidak bisa menggunakan jurus membesarkan badan lagi, karena cakra saya rasanya tidak mencukupi untuk hal itu", jawab senopati Sumitro.
__ADS_1
Dengan telur pemberian dari nyi Rongkeh, kini pak Ujang berubah menjadi buto ijo.
Kemudian Pangeran Jatiwijaya akan segera menuntaskan pertarungannya dengan Ruslan, sebab ia merasakan bahwa para kesatria kesatria tersebut membutuhkan bantuannya untuk menghadapi pak Ujang yang telah menjadi buto ijo.
Ruslan yang semakin kewalahan melawan Pangeran Jatiwijaya, dia sudah tidak bisa berbuat lebih untuk melawannya.
Dan dengan cepat tiba-tiba Pangeran Jatiwijaya menyemburkan asap beracun berwarna keunguan kepada Ruslan tepat didepan mukanya.
Tanpa diduga dengan sepontan Ruslan menghirup asap tersebut hingga dirinya kejang kejang dan beberapa saat kemudian tubuhnya pun lumpuh total tak bisa bergerak sama sekali.
"Usai sudah pertarungan kita, kau tunggu saja sebentar lagi ajal pasti menjemputmu, sebab asap beracun yang kutiupkan padamu akan mencekik lehermu hingga kau mati pelan pelan kehabisan nafas", pesan Pangeran Jatiwijaya pada Ruslan.
Ruslan pun sudah tak bisa apa apa lagi, dia hanya bisa menunggu kematiannya sebentar lagi.
Kemudian pak Ujang yang telah menjadi buto ijo, dia membantai para pasukan Pangeran Jatiwijaya hingga pasukan yang lainnya ketar ketir ketakutan.
Para kesatria kesatria tersebut yaitu Pangeran Jatiwijaya, tiga senopati Balawarman, Balamarwan dan juga Sumitro, ditambah lagi Sanjaya dan Mandala. Mereka semua segera menyerang pak Ujang menggunakan kemampuan masing-masing.
Sanjaya menggunakan ajian kilat sayuto, Mandala menggunakan jurus belati angin yang dikombinasikan dengan jurus teleportasi nya, senopati Balawarman menggunakan aji amuktiraksa, senopati Balamarwan menggunakan pukulan samudra dan senopati Sumitro menggunakan jurus panah api.
Pangeran Jatiwijaya hanya mengulur waktu agar para kesatria tersebut bisa menyiapkan jurus jurus saktinya untuk menyerang pak Ujang.
Disaat para kesatria itu sudah siap dengan jurus kesakitan mereka masing-masing, Pangeran Jatiwijaya dengan cepat meniupkan kembali asap beracun tersebut pada pak Ujang, berharap dihisapnya seperti halnya Ruslan yang telah menghisap asap beracun tersebut.
Pak Ujang yang kebingungan karena dia terhalangi oleh asap beracun itu, sehingga pandangannya terganggu dan tak bisa melihat lawannya, tiba-tiba semua jurus kesaktian para kesatria kesatria tersebut menghujam sangat kencang kepada pak Ujang.
Pak Ujang yang telah menjadi buto ijo, sempat roboh terkena serangan serangan tersebut.
Tapi tak disangka, pak Ujang bangkit kembali dan menjadi semakin kuat dan beringas, karena dia telah menyerap semua cakra yang terdapat pada jurus jurus yang telah menyerangnya tadi.
Semua para kesatria dibuat bingung olehnya yaitu pak Ujang.
__ADS_1
Lalu hanya dengan sekali tiupan dari pak Ujang, para kesatria kesatria itu pada berhamburan dan terpental.
Tapi hanya Pangeran Jatiwijaya yang bisa menahan tiupan pak Ujang, sebab Pangeran Jatiwijaya yang telah menjadi manusia siluman ular merah, kekuatannya hampir menyamai kekuatan pak Ujang yang telah menjadi buto ijo.
Kemudian Pangeran Jatiwijaya yang melihat itu semua tidak terima, ia mengeluarkan semua cakra nya untuk menyerang pak Ujang.
Jual beli serangan antara mereka berdua sangatlah sengit, karena wujud mereka berdua sudah bukan wujud manusia lagi, maka dari itu pertarungan tersebut bisa dibilang pertarungan antar kedua siluman.
Tapi pak Ujang yang berubah menjadi buto ijo masih terbilang sangat kuat bagi Pangeran Jatiwijaya yang menjadi manusia ular merah.
Saat Pangeran Jatiwijaya sedang terdesak, tiba-tiba dari kejauhan ada yang berlari sangat kencang dan melompat, lalu menerkam pak Ujang dan bertarung dengan beringas nya.
Ternyata yang menerkam pak Ujang adalah Harun yang merubah dirinya menjadi manusia harimau.
Disaat genting Harun datang dengan membawa bala bantuan.
Dengan perubahan wujudnya menjadi manusia harimau, Harun bisa merasakan hawa jahat seseorang, maka dari itu dia langsung menerkam pak Ujang yang telah menjadi buto ijo.
Merasa ada bantuan, Pangeran Jatiwijaya segera bangkit dan ikut serta bersama Harun melawan pak Ujang.
Akhirnya pertarungan tiga siluman pun tak bisa terelakan, Pangeran Jatiwijaya dengan wujud manusia ular merah, Harun dengan wujud manusia harimau, sedangkan pak Ujang dengan wujud buto ijo.
Pertarungan ketiga siluman tersebut membuat daerah sekitar menjadi bergemuruh dan sangat mencekam.
Para pasukan dari kubu Pangeran Jatiwijaya dan dari kubu pak Ujang, mereka semua berusaha menghindari pertarungan tiga siluman tersebut jika tidak ingin menjadi korban.
Dan juga para kesatria kesatria dari kubu Pangeran Jatiwijaya juga ikut menghindar dari pertarungan tiga siluman itu.
"Mari kita semua mencari tempat yang aman agar tidak terkena dampak dari pertarungan mereka bertiga!", kata senopati Balawarman.
"Ampun gusti senopati, apakah kita hanya jadi penonton dari pertarungan mereka bertiga", Sanjaya bertanya pada senopati Balawarman.
__ADS_1
"Tidak Sanjaya, kita berusaha menghindari bukan berarti kita lari, tapi kita memantau jika ada celah atau kesempatan, kita segera membantu Pangeran Jatiwijaya", jawab Senopati Balawarman.
Pertarungan antar ketiga siluman tersebut hingga menggetarkan semua wilayah giriseta.