PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
97. Tanda kebanggaan dinasti Wijaya


__ADS_3

Akhirnya setelah beberapa bulan kemudian, tercium juga jejak seseorang yang bernama Kasim.


Tidak sia sia selama ini Mahapatih Damarwijaya membentuk sebuah tim penyelidikan khusus yang dipimpin oleh senopati Kuncoro, karena tim tersebut berhasil menemukan seseorang yang sedang dicarinya, seseorang itu ialah Kasim.


Waktu itu disebuah warung, senopati Kuncoro yang sedang dalam penyamarannya bersama regunya, mereka menghampiri seseorang yang bernama Kasim tersebut.


Tidak ada pertarungan waktu itu, sebab senopati Kuncoro sangat ramah sekali saat menghampiri Kasim.


Mereka berdua yaitu senopati Kuncoro dan Kasim banyak berbincang bincang, dan hingga pada akhirnya Kasim berkata ada tujuan apa suryaloka mencarinya.


Sontak senopati Kuncoro pun terkejut dengan perkataan Kasim itu, padahal senopati Kuncoro tidak sama sekali menunjukkan bahwa tujuannya tersebut yaitu akan menangkap Kasim dan akan dibawa ke kerajaan suryaloka.


Kemudian senopati Kuncoro yang misinya sudah diketahui duluan oleh Kasim, akhirnya dia yaitu senopati Kuncoro menceritakan masalah yang sesungguhnya kepada Kasim, kenapa dia ditugaskan untuk mencarinya.


Waktu itu Kasim tidak berkomentar sama sekali saat senopati Kuncoro menceritakan perihal masalah tersebut.


Setelah itu Kasim hanya berkata, "Cepat segeralah bahwa saya untuk menghadap Mahapatih Damarwijaya".


Mendengar perkataan tersebut, senopati Kuncoro segera membawa Kasim ke kerajaan suryaloka untuk menghadap Mahapatih Damarwijaya.


Lalu dalam perjalanan tersebut, senopati Kuncoro bertanya pada Kasim, kenapa dia tidak melawan saat dia tahu bahwa dia akan ditangkap.


Kemudian Kasim hanya menjawab bahwa dia tidak suka keributan.


Lalu sesampainya di kerajaan suryaloka, Kasim yang menghadap pada Mahapatih Damarwijaya, dia benar-benar dicerca dengan berbagai pertanyaan oleh Mahapatih Damarwijaya.


Waktu itu Kasim yang berlutut dan menundukkan kepalanya, dia hanya diam saja dan tidak menjawab sepatah katapun dari berbagai pertanyaan yang Mahapatih Damarwijaya utarakan padanya.


Mahapatih Damarwijaya sangat kesal melihat Kasim yang hanya diam saja.


Lalu turunlah Mahapatih Damarwijaya dari singgasananya dan menghampiri Kasim.


"Maumu apa anak muda, kau bahkan tidak menjawab satu katapun dari semua pertanyaanku tadi", kata Mahapatih Damarwijaya.


Lalu baru saat itu juga Kasim mau berkata, bahwa dirinya hanya minta keadilan.


Mahapatih Damarwijaya menjawab, keadilan macam apa yang Kasim Minta pada dirinya saat ini.

__ADS_1


Kasim hanya ingin diakui sebagai salah satu pangeran di keluarga Wijaya.


Dengan spontan Mahapatih Damarwijaya menampar Kasim dengan kencang, "ceplasss!!!".


"Lancang sekali kau berkata seperti itu tanpa menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya", Mahapatih Damarwijaya yang sangat geram.


"Prajurit.... cepat segera masukkan pemuda ini kedalam penjara", perintah Mahapatih Damarwijaya yang akan menghukum Kasim sipemuda tersebut.


Saat Kasim sedang dibawa paksa oleh para prajurit dan akan dimasukkan kedalam penjara, Kasim pun waktu itu dengan lantang berkata bahwa kakeknya adalah mendiang Maharaja Sabdawijaya, dan dia adalah putra dari mendiang Pangeran Muradwijaya.


Seketika itu dibuat terkejutlah seisi kerajaan suryaloka oleh pernyataan dari Kasim waktu itu.


Semua orang di istana suryaloka pada terdiam karena sangat terkejut mendengar pernyataan tersebut dari Kasim.


Tapi Mahapatih Damarwijaya tetap memerintahkan prajuritnya untuk memasukkan Kasim kedalam penjara.


"Ampun ayahnda Mahapatih, pertimbangkan dulu perkataan Kasim, jangan keburu dimasukkan penjara dia", kata Pangeran Jatiwijaya kepada ayahnya yaitu Mahapatih Damarwijaya.


"Putraku, jangan kau menghentikan perintah ayahndamu ini, sebab ayahnda sudah habis kesabaran dengan pemuda tersebut", jawab Mahapatih Damarwijaya pada Pangeran Jatiwijaya.


Lalu beberapa waktu kemudian saat malam hari, Mahapatih Damarwijaya sangat gelisah, beliau selalu kepikiran oleh pernyataan pemuda tersebut yang bernama Kasim.


Mendengar perkataan dari istrinya tersebut, Mahapatih Damarwijaya akhinya secara diam-diam memerintahkan pendekar Sanjaya dan juga Mandala untuk mencari tahu tentang siapa yang sebenarnya pemuda yang bernama Kasim itu.


"Sendiko gusti Mahapatih, kami berdua akan segera mencari tahu kebenaran tentang Kasim", kata Sanjaya kepada Mahapatih Damarwijaya.


Lalu malam itu juga kedua pendekar tersebut yaitu Sanjaya dan Madala, mereka segera bergegas keluar dari istana suryaloka untuk melaksanakan perintah dari Mahapatih Damarwijaya.


Kedua pendekar tersebut segera menuju dimana tempat Kasim itu diketemukan, dan ternyata jarak tempat tersebut sangat jauh dari istana suryaloka.


Singkat cerita keesokan harinya, Sanjaya dan Mandala segera menghampiri tempat tersebut dimana Kasim saat ditemukan.


Tempat tersebut adalah sebuah warung, lalu Sanjaya menunjukkan sketsa wajah Kasim pada pemilik warung itu.


Dan pemilik warung itu sangat kenal dengan sosok yang berada di sketsa tersebut.


Kata pemilik warung itu, sketsa tersebut adalah wajah seorang pemuda yang bernama Kasim.

__ADS_1


Kasim adalah salah satu pelanggan tetap diwarung itu sejak lama.


Dan Kasim pun juga sudah seperti saudara bagi pemilik warung tersebut.


"Kalau boleh tahu, dimana pemuda yang bernama Kasim itu tunggal", Mandala bertanya pada pemilik warung.


"Kasim tinggal tidak jauh dari sini, dia tinggal bersama ibu dan adik perempuannya", jawab pemilik warung itu.


Kemudian pemilik warung tersebut mengantarkan kedua pendekar tersebut yaitu Sanjaya dan Mandala untuk pergi menuju ke tempat tinggal Kasim.


Setelah tiba dirumah Kasim, Sanjaya dan Mandala berbincang bincang dengan ibu dan adik perempuannya Kasim.


Ibunya Kasim banyak menceritakan tentang sil silah keluarganya.


Didalam rumah yang sangat sederhana, Kasim dan keluarganya hidup bahagia bersama dirumah tersebut.


Dan setelah kematian ayahnya yaitu Pangeran Muradwijaya, Kasim berusaha mencari jati dirinya, sebab dia banyak menerima cerita dari mendiang ayahnya tersebut sewaktu beliau masih hidup, bahwa dia dan adiknya tersebut sebenarnya adalah keturunan darah biru.


Sebab ayahnya tersebut sebenarnya adalah seorang pangeran suryaloka yang tidak diinginkan kehadirannya.


Dan akhirnya ayahnya yaitu mendiang Pangeran Muradwijaya keluar dari kerajaan suryaloka dan memilih hidup diluar kerajaan sebagai warga biasa.


Setelah mendengar cerita tersebut dari ayahnya, Kasim segera mencari jati dirinya.


Itulah informasi sil silah yang disampaikan oleh ibunya Kasim kepada Sanjaya dan Mandala.


Setelah itu Sanjaya meminta bukti kepada ibunya Kasim, jika memang benar Kasim dan adik perempuannya itu adalah keturunan dari pihak keluarga kerajaan suryaloka yaitu keluarga Wijaya, lalu bukti apakah yang bisa meyakinkan mereka berdua yaitu Sanjaya dan juga Mandala.


Kemudian ibunya Kasim mengambilkan sebuah lencana emas dan sebuah keris pusaka yang terbuat dari emas juga, lalu beliau menunjukkan kedua barang bukti tersebut kepada Sanjaya dan Mandala.


Seketika itu Sanjaya dan juga Mandala sangat terkejut dengan kedua benda tersebut yang ditunjukkan oleh ibunya Kasim pada mereka berdua.


Sebab kedua benda itu adalah sebuah identitas terpercaya dari keluarga Wijaya.


Karena kedua benda tersebut adalah tanda kebanggaan dari keluarga besar Wijaya.


Jika ada generasi Wijaya yang baru lahir, pasti keluarga besarnya akan membuatkan kedua benda identitas tersebut.

__ADS_1


Lencana emas artinya seorang pemimpin dan keris pusaka emas artinya seorang kesatria.


Itulah arti dari kedua tanda identitas dari keluarga besar Wijaya.


__ADS_2