
Kemudian disaat Adipati Burhansangkala sedang berbicara dengan putranya yaitu Raden Mahesasangkala melalui telepati, akhirnya Adipati Burhansangkala terkena pukulan aji gajah mungkur begawan Winara karena Adipati Burhansangkala kehilangan konsentrasi waktu bertarung dengan sebab konsentrasinya terpecah untuk bertarung dan berbicara dengan putranya tersebut.
Adipati Burhansangkala terpental seketika itu waktu terkena pukulan aji gajah mungkur begawan Winara, disaat Adipati Burhansangkala terpental jauh karena terkena pukulan itu dengan cepat begawan Winara berlari menghampirinya dengan mencabut pedangnya, setelah sampai ditempat dimana Adipati Burhansangkala terpental seketika itu begawan Winara langsung mengangkat pedangnya, Adipati Burhansangkala yang masih tergeletak belum sempat bangun karena ia terkena pukulan aji gajah mugkur, Beliau tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa melihat begawan Winara dengan cepat mengangkat pedangnya dan kemudian memenggal kepala Adipati Burhansangkala.
Begawan Winara terengah-engah nafasnya melihat Adipati Burhansangkala yang telah ia penggal kepalanya. Kepala Adipati burhansangkala yang terpenggal tergeletak tidak jauh dari tubuhnya, tiba-tiba kepala yang terpenggal itu berkata?
"Hebat juga kau bisa memenggal kepalaku begawan Winara, tapi untuk mengalahkanku tidak semudah itu, aku Adipati Burhansangkala tidak akan pernah mati hanya karena kepala terpenggal, ajiku rawa ronteeekkk!!", Adipati Burhansangkala yang menggunakan ajian rawa rontek untuk bisa hidup kembali dan menyatukan kepalanya yang terpenggal.
Seketika itu dengan sekejap menyatulah kepala Adipati Burhansangkala yang telah terpenggal kembali ke badannya berkat ilmu atau ajian rawa rontek yang ia miliki. Begawan Winara sampat terkejut melihat kejadian itu, dengan cepat ia segera menyerang kembali Adipati Burhansangkala dengan pedangnya tapi itu semua sia-sia karena Adipati Burhansangkala telah menggunakan ilmu rawa ronteknya, maka dari itu percuma saja begawan Winara menyerang Adipati Burhansangkala dengan pedangnya karena luka sabetan pedang pada diri Adipati Burhansangkala dapat pulih dengan sekejap berkat ilmu rawa ronteknya.
Adipati Burhansangkala hanya ketawa dan berkata saat menerima serangan sabetan pedang dari begawan Winara?
"Hahaha.... Ayo teruskan begawan Winara, sejauh apa kau akan terus menerus menyerangku dengan sabetan pedangmu ini".
Disaat sabetan terakhir akan dihempaskan oleh begawan Winara, dengan cepat Adipati Burhansangkala menangkap pedang itu, lalu ia memegang pedang itu dengan erat dan dipatahkanlah pedang begawan Winara hanya dengan satu tangan oleh Adipati Burhansangkala. Kemudian potongan pedang itu dilemparkan kearah begawan Winara dengan sangat cepat dan tertancaplah potongan pedang itu kelengan kanan begawan Winara karena ia tak sempat menghindar saat Adipati Burhansangkala melemparkan potongan pedang itu kearahnya.
__ADS_1
"Aku bisa saja melemparkan potongan pedang itu kedadamu begawan Winara, tapi aku sengaja melemparkannya tepat kelengan kananmu karena sebenarnya aku tidak ingin membunuh seorang kesatria hebat suryaloka seperti kau begawan Winara, sebab kau adalah kesatria yang ku kagumi selama ini!", kata Adipati Burhansangkala dengan nada berwibawa.
"Sebenarnya akupun juga merasa bahwa kau tidak berniat untuk membunuhku, dan sebenarnya dengan jarak sedekat ini kau bisa saja melemparkan potongan pedang ini kearah manapun yang kau suka, tapi kau malah melemparkannya tepat kelengan kananku!", jawab begawan Winara pada Adipati Burhansangkala.
"Baiklah kalau begitu, pertarungan ini tidak usah dilanjutkan kembali, aku akan menyerahkan nyawaku padamu karena aku sangat merasa berdosa dan menyesali dengan apa yang telah kulakukan pada suryaloka, yaitu dengan pemberontakkan ini, maka dari itu cepat penggalah kepalaku ini dan bawa pergi jauh dari sini secepatnya karena dengan begitu aku pasti akan mati", kata Adipati Burhansangkala pada begawan Winara dengan besar hati merelakan nyawanya untuk hukuman atas kejahatannya pada suryaloka.
Mendengar ucapan Adipati Burhansangkala, begawan Winara sangat terkejut dan sempat tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Tapi itu semua sudah menjadi keputusan seorang Adipati Burhansangkala untuk menyerahkan nyawanya karena ia sangat merasa bersalah dan berdosa, sebab mungkin jika ia tak menuruti hasutan senopati Kolomonggo, peperangan ini tak mungkin bakal terjadi.
Tapi apa daya, ibarat nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi dan tak bisa kembali lagi, maka dari itu Adipati Burhansangkala rela mati demi menebus doso-dosanya pada suryaloka. Kemudian berlututlah Adipati Burhansangkala didepan begawan Winara untuk menyerahkan nyawanya, begawan Winara pun sangat terharu melihatnya, ia tak bisa berkata apa-apa, matanya nampak berkaca-kaca karena menahan kesedihan yang mendalam akan pengorbanan seorang Adipati ternama yaitu Adipati Burhansangkala.
Lalu tanpa banyak berfikir begawan Winara segera mengangkat dan mengayunkan pedang itu tepat kearah leher Adipati Burhansangkala, saat itu juga terpenggalah kepala Adipati Burhansangkala. Kemudian sesuai dengan pesan Adipati Burhansangkala, akhirnya begawan Winara membawa potongan kepala tersebut pergi menjauh dari medan perang dengan menunggangi seekor kuda. Lalu kepala tersebut digantung diatas pohon yang besar oleh begawan Winara agar kepala itu tidak bisa menyatu kembali pada tubuhnya dan akhirnya matilah Adipati Burhansangkala ditangan begawan Winara dengan cara tersebut.
Disisi lain Raden Mahesasangkala yang sedang menghadapi senopati Kolomonggo, tiba-tiba ia meneteskan air mata karena ia merasa Ayahndanya Adipati Burhansangkala telah terbunuh.
"Ayahnda Adipati, saya akan selalu merindukanmu dan mengenangmu seumur hidupku", kata Raden Mahesasangkala dari dalam hatinya.
__ADS_1
Kemudian setelah Raden Mahesasangkala berkata dalam hatinya, tiba-tiba jiwa dari Adipati Burhansangkala menghampiri putranya tersebut dan Beliau berbisik padanya? "Teruskanlah perjuanganmu putraku, Mahesa".
Setelah mendengar bisikkan itu, Raden Mahesasangkala segera merencanakan setrategi untuk mengalahkan senopati Kolomonggo, ia langsung menggunakan jurus marga sangkala, sebuah jurus peniru khas dari keluarga sangkala, akhirnya dengan sekejap Raden Mahesasangkala memperbanyak dirinya, jumlahnya sama banyak dengan jumlah senopati Kolomonggo yang memperbanyak dirinya menjadi tiga ratus bagian. Raden Mahesasangkala berhasil meniru jurus bala sewu milik senopati Kolomonggo, tapi waktu menggunakan jurus peniru tersebut sangat terbatas, maka dari itu Raden Mahesasangkala memperbanyak dirinya tujuannya untuk menghambat senopati Kolomonggo agar tidak membubarkan setrategi kombinasi yang akan Raden Mahesasangkala buat dengan Sanjaya beserta mandala.
"Sanjaya, dengan kemampuan mata hatimu carilah dimana senopati Kolomonggo yang asli berada, dan kau Mandala, tugasmu membawa Sanjaya beserta wujud asliku ketempat dimana senopati Kolomonggo yang asli berada dengan jurus teleportasimu, aku yakin dengan gabungan kemampuan kita bertiga, kita pasti akan bisa membunuh senopati Kolomonggo!", Kata Raden Mahesasangkala dengan penuh keyakinan.
Akhirnya dengan cepat setrategi itu dilancarkan oleh mereka bertiga, Raden Mahesasangkala memperbanyak dirinya dengan meniru jurus bala sewu milik senopati Kolomonggo guna untuk menghambat senopati Kolomonggo yang telah memperbanyak dirinya agar tidak merusak rencananya itu, Sanjaya bertugas mendeteksi atau mencari dimana wujud asli senopati Kolomonggo berada menggunakan kemampuan mata hatinya, sedangkan Mandala dengan jurus teleportasinya bertugas mengantarkan wujud asli Raden Mahesasangkala beserta Sanjaya ketempat dimana wujud asli senopati Kolomonggo berada.
Tak lama kemudian Sanjaya berhasil mendeteksi dimana wujud asli senopati Kolomonggo berada dan saat itu juga Mandala dengan jurus teleportasinya mengantarkan Sanjaya beserta wujud asli Raden Mahesasangkala ketempat dimana senopati Kolomongga yang asli berada. Dengan sekejap Mandala berhasil membewa mereka berdua ketempat senopati Kolomonggo yang asli berada, terkejutlah senopati Kolomonggo dengan kehadiran mereka bertiga tepat didepan matanya, dia mencoba untuk lari tapi tidak bisa karena Raden Mahesasangkala sudah mengeluarkan aji sanca rudranya guna untuk mengendalikan pasukan ular angin untuk mengepung wujud asli senopati Kolomonggo.
Dengan sisa cakra yang Raden Mahesasangkala miliki, ia memanggil pasukan ular angin sebanyak-banyaknya dan mengendalikannya dengan ajian sanca rudra yang ia miliki, senopati Kolomonggo dibuatnya tak berdaya karena telah terkepung oleh banyaknya pasukan ular angin Raden Mahesasangkala, seluruh ular angin yang mengepung wujud asli senopati Kolomonggo, ular-ular itu mengitarinya hingga membuat senopati Kolomonggo ketakutan. Melihat situasi itu bagian wujud senopati Kolomonggo yang dikeluarkan dari ilmu bala sewunya mencoba akan menyerang wujud asli Reden Mahesasangkala yang mengeluarkan aji sanca rudra, tapi itu semua sia-sia karena Raden Mahesasangkala juga sudah memperbanyak dirinya dengan meniru ilmu bala sewu senopati Kolomonggo menggunakan jurus marga sangkala.
Akhirnya bagian dari wujud wujud Raden Mahesasangkala menghalangi bagian dari wujud wujud senopati Kolomonggo yang akan berusaha menyerang wujud asli dari Raden Mahesasangkala. Kemudian menggunakan aji sanca rudra, Raden Mahesasangkala membunuh senopati Kolomonggo dengan cakra terakhirnya.
"Mati kau Kolomonggooooo!!", Raden Mahesasangkala mengeksekusi senopati Kolomonggo dengan ajian sanca rudra yang bisa mengendalikan ribuan ular angin.
__ADS_1
Dengan ganas seluruh pasukan ular angin yang mengepung senopati Kolomonggo menghujam kedalam tubuhnya yang asli dengan bertubi-tubi bak peluru yang ditembakkan dengan membabibuta. Lalu menjeritlah senopati Kolomonggo terkena serangan seluruh ular ular angin itu. Rasa sakit yang menyiksa tak tertahankan oleh dirinya, pedih dan panas yang amat sangat menyiksa berbaur menjadi satu, tak lama kemudian mengembanglah sekujur tubuh senopati Kolomonggo bagai sebuah balon gas yang mengembung dan dari setiap pori-porinya keluar darah, pada akhirnya? "Buuuuummm!!", meledaklah senopati Kolomonggo bagai boom waktu yang tak tertahankan.