
Dengan guncang itu ketiga kesatria tersebut menghentikan serangan kombinasi mereka untuk menghancurkan perisai ghaib yang melindungi ruangan dimana Kedasih itu berada.
Jika diteruskan serangan kombinasi tersebut bisa bisa malah membahayakan keselamatan Kedasih yang berada didalam ruangan tersebut.
Kemudian ketiga kesatria tersebut yaitu Pangeran Jatiwijaya, Sanjaya dan juga Mandala sudah kehabisan akal untuk bisa menghancurkan perisai ghaib itu.
"Hahaha.... percuma saja kalian berusaha mati-matian untuk menolong Kedasih dari ruangan itu", Raja gandaruwa yang mengetahui dari guncangan tersebut bahwa ada yang akan menghancurkan perisai ghaib yang dia buat untuk melindungi Kedasih didalam ruangan khusus yang sudah dia persiapkan.
Raden Rangga semakin geram mendengar perkataan dari Raja gandaruwa itu, karena perkataan tersebut berbau ledekan pada mereka para kesatria kesatria tangguh penyelamat Kedasih.
"Tutup mulutmu siluman, sekarang juga aku tak akan segan-segan menghabisi dirimu saat ini juga", kata raden Rangga pada Raja gandaruwa itu.
Kemudian raden Rangga segera mengeluarkan kesaktian dari pedang samudra biru, sehingga membuat Raja gandaruwa itu gemetar melihat kesaktian dari pedang tersebut.
Dengan terpaksa, akhirnya Raja gandaruwa itu lari dari tempat tersebut untuk menghindari kedahsyatan dari kesakitan pedang samudra biru.
Tapi percuma saja Raja gandaruwa itu lari, karena pedang samudra biru tetap akan mengejar dan menyerangnya kemanapun dia berada, sebab dia sudah ditargetkan untuk jadi mangsa bagi pedang sakti tersebut.
Lalu larilah Raja gandaruwa itu sejauh mungkin untuk bisa menghindar dari serangan pedang samudra biru, sebab dia merasa bahwa dirinya tak akan selamat jika memaksa melawan kesaktian pedang itu.
Kemudian raden Rangga segera melepas pedang samudra biru dari genggaman tangannya, dan meluncurlah pedang tersebut mengarah dan mengejar Raja gandaruwa itu hingga dapat.
Banyak dari para prajurit gandaruwa yang berusaha menghadang laju pedang samudra biru, tapi mereka malah menjadi korban sasaran dari pedang tersebut.
Lalu saat pedang samudra biru hampir menembus dada dari Raja gandaruwa itu, tiba-tiba Pangeran Jatiwijaya datang dan menyuruh raden Rangga untuk menghentikan pedang itu agar tidak menghabisi Raja gandaruwa saat itu.
Seketika itu pedang samudra biru berhenti dan kembali ke genggaman raden Rangga.
Saat Raja gandaruwa itu merasa dirinya sudah aman, dia ketawa riang dan berkata bahwa kemampuan pedang tersebut cuma hanya sebatas itu.
Lalu tanpa dia sadari, tiba-tiba dari arah yang tidak terduga, ular merah besar jelmaan dari cumeti banas pati milik Pangeran Jatiwijaya, melilit tubuh Raja gandaruwa itu hingga dia tidak bisa bergerak sama sekali.
"Kau kira dengan batalnya pedang samudra biru tidak jadi menyerangmu, kau sudah merasa aman siluman", kata Pangeran Jatiwijaya pada Raja gandaruwa itu.
Ternyata setelah Pangeran Jatiwijaya menjelaskan pada raden Rangga tentang perisai ghaib yang melindungi ruangan dimana Kedasih berada, ia bersama raden Rangga lalu menemui Raja gandaruwa tersebut yang sedang lari menghindar dari kejaran pedang samudra biru yang akan menyerangnya.
__ADS_1
Kemudian Pangeran Jatiwijaya mengancam Raja gandaruwa itu.
Jika Raja gandaruwa ingin selamat, Pangeran Jatiwijaya menyuruhnya untuk membuka perisai ghaib yang telah melindungi ruangan dimana Kedasih berada.
"Hahaha.... ancamanmu tak berguna bagiku, sebab Kedasih tak akan pernah aku lepaskan dari ruangan tersebut", kata Raja gandaruwa itu pada Pangeran Jatiwijaya.
Saat Pangeran Jatiwijaya dan raden Rangga sudah tak tahu harus berbuat apa lagi, tiba-tiba Nyi Roro Kidul memberitahu raden Rangga lewat telepati atau kontak batin.
"Putraku raden Rangga, kau beserta para kesatria disana jangan cemas, karena jalan satu-satunya yang dapat menghancurkan perisai ghaib itu hanya seorang kesatria yang mempunyai ajian brajadenta", kata Nyi Roro Kidul.
Lalu raden Rangga bertanya pada Nyi Roro Kidul siapakah seorang kesatria itu yang memiliki ajian brajadenta.
Tak disangka Nyi Roro Kidul menjawab bahwa seorang kesatria tersebut adalah ki Maung yang memiliki ajian brajadenta.
Singkat cerita setelah percakapan tersebut antara raden Rangga dan Nyi Roro Kidul usai, tanpa basa-basi dengan menggunakan pedang samudra biru, raden Rangga langsung memenggal kepala Raja gandaruwa itu hingga putus terpisah dari badannya.
Waktu itu Pangeran Jatiwijaya sempat terkejut melihat tindakan raden Rangga tersebut.
Sebab bagi Pangeran Jatiwijaya hanya Raja gandaruwa itu harapan satu-satunya untuk bisa membuka perisai ghaib itu.
Setelah Pangeran Jatiwijaya sudah tahu akan petunjuk tersebut, ia segera mengajak raden Rangga untuk mencari ki Maung yang masih bertarung dengan para prajurit gandaruwa.
Kemudian setibanya ditempat dimana ki Maung berada, raden Rangga segera berkata dengan sangat lantang pada para prajurit gandaruwa tersebut.
Raden Rangga berkata bahwa junjungan mereka yaitu Raja gandaruwa sudah dikalahkan, dengan menunjukkan bukti kepala Raja gandaruwa yang sudah terpenggal.
Mengetahui hal tersebut, semua para prajurit gandaruwa menyerah pada para kesatria tersebut dan mereka mempersilakan para kesatria itu untuk segera mengambil Kedasih dan membawanya pergi dari alam mereka yaitu alam siluman gandaruwa secepatnya.
Setelah itu Pangeran Jatiwijaya segera memberi tahu pada ki Maung bahwa hanya dia yang bisa menyelamatkan Kedasih, sebab hanya ki Maung saja yang bisa menghancurkan perisai ghaib yang melindungi ruangan dimana Kedasih itu berada.
Setelah itu berkumpul lah semua kesatria didepan ruangan tersebut.
Dan ki Maung pemilik ajian brajadenta, segera merubah wujudnya menjadi manusia harimau putih.
Semua kesatria yang melihat perubahan ki Maung sangat takjub dan terpukau.
__ADS_1
Bahkan Harun sebagai murid ki Maung, baru kali ini dia bisa menyaksikan gurunya berubah menjadi manusia harimau putih.
Tanpa ki Maung berubah wujud menjadi manusia harimau putih, aji brajadenta tak bisa dia gunakan, sebab ajian tersebut bersumber pada taring ki Maung yang telah menjadi manusia harimau putih.
Aji brajadenta adalah ilmu penghancur apapun, tapi ilmu tersebut titik pusatnya ada pada gigi taring pemiliknya.
Jadi aji brajadenta adalah ilmu gigitan dewa penghancur, yang kekuatannya berada pada gigi taring sang pemilik ajian tersebut.
Lalu dengan hebatnya ki Maung yang telah menjadi manusia harimau putih, menggigit perisai ghaib yang melindungi ruangan tersebut.
Seketika itu bergetarlah alam siluman gandaruwa, sampai para gandaruwa itu sempat panik dibuatnya.
Dan akhirnya beberapa saat kemudian hancurlah perisai ghaib ruangan tersebut akibat kekuatan aji brajadenta.
Waktu itu Pangeran Jatiwijaya segera menolong Kedasih yang berada didalam ruangan itu.
Tapi ternyata Kedasih malah menyerang Pangeran Jatiwijaya dan dia tidak mau diselamatkan dari ruangan itu.
Waktu itu bukan hanya Pangeran Jatiwijaya saja, tapi seluruh kesatria yang berada disitu, semua pada heran dengan sikap Kedasih yang jadi liar tak terkendali.
Kedasih menyerang semua kesatria yang berada disana satu persatu.
Tapi para kesatria tersebut hanya berusaha menghindar dari setiap serangan Kedasih.
Saat itu Kedasih juga meronta-ronta dan berkata, "jangan bunuh calon suamiku".
Kemudian ada salah satu gandaruwa yang memberi tahu pada para kesatria bahwa Kedasih saat ini masih terkena pengaruh aji gendam asmarandana.
Untuk menetralkan ajian tersebut hanya pemiliknya yang bisa.
Kemudian setelah mengetahui hal tersebut, raden Rangga segera mengeluarkan pedang samudra biru dan mengarahkan sinar yang berkilauan dari pedang itu kearah Kedasih yang sedang tak terkendali.
Selang beberapa lama, hawa jahat yang menyelimuti Kedasih lenyap juga berkat kesaktian pedang samudra biru.
Dan kini Kedasih kembali sadarkan diri dari pengaruh ajian gendam asmarandana.
__ADS_1
Akhirnya para kesatria tersebut berhasil menyelamatkan Kedasih dari cengkraman Raja gandaruwa yang sudah mereka hancurkan.