PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
175. Serangan mematikan raja jaka birawa


__ADS_3

Kemudian di sisi lain Pangeran Kasim Wijaya beserta ayahnya yaitu Pangeran Murad Wijaya, mereka berdua tak mampu menghadapi kekuatan Begawan Sakti Ludoyo.


Padahal Pangeran Kasim Wijaya adalah pengguna jurus kala baya, sedangkan ayahnya yaitu Pangeran Murad Wijaya adalah pengguna jurus kala Pati.


Kedua jurus tersebut kemampuannya bisa memanipulasi keadaan dirinya dan juga keadaan di sekitarnya.


Dan kedua jurus itu termasuk jurus para dewa.


Tapi tidak semua para dewa memilikinya, hanya Dewa tertentu yang mempunyai jurus tersebut.


Meskipun kedua Pangeran tersebut memiliki jurus kala baya dan jurus kala Pati.


Tapi lawannya tersebut yaitu Begawan Sakti Ludoyo, Dia memiliki jurus kala murka.


Jurus kala murka adalah jurus tingkat tertinggi dari ketiga jurus kala.


Ketiga jurus kalah tersebut ialah, yang paling tertinggi adalah jurus kala murka.


Dan yang ada di urutan tengah adalah jurus kala Pati.


Lalu urutan yang paling bawah adalah jurus kala baya.


Ketiga jurus tersebut memiliki kemampuan yang sama, yaitu bisa memanipulasi diri maupun sekitar.


Tapi saat itu Begawan Sakti Ludoyo lebih unggul dari kedua pangeran yang melawannya tersebut, sebab Begawan Sakti Ludoyo pengguna jurus kala murka.


"Putraku, Pangeran Kasim Wijaya, meski Ayah pengguna jurus kala Pati, tapi ayah tidak bisa memanfaatkan jurus tersebut dengan kekuatan yang maksimal, Sebab sejatinya Ayah adalah mayat hidup yang dibangkitkan oleh Begawan tersebut", kata Pangeran Murad Wijaya.


"saya pun juga menyadari hal itu Ayah", Pangeran Kasim Wijaya menjawabnya.


Kedua Pangeran tersebut, Pangeran Murad Wijaya dan Pangeran Kasim Wijaya, saat itu dihajar habis-habisan oleh Begawan Sakti Ludoyo.


Pangeran Kasim Wijaya pemilik jurus kala baya, tak mampu menandingi Begawan Sakti Ludoyo pemilik jurus kala murka.


Begitupun juga pangeran Murad Wijaya pemilik jurus kala pati, ia tak sanggup menandingi Begawan tersebut.


Kemudian di sisi lain, Pangeran Guntur Wijaya yang mengeluarkan ajian Guntur Saketi, ia segera bersiap untuk menyerang Raja Jaka Birawa.


Tapi ternyata hal itu sia-sia.


Pangeran Guntur Wijaya malah babak belur dihajar oleh lawannya tersebut.

__ADS_1


Ajian Guntur Saketi sudah tidak ada gunanya bagi lawannya itu.


Saat itu Mandala Tak bisa Tinggal diam melihat Pangeran Guntur Wijaya yang sudah tak berdaya lagi.


Akhirnya Mandala dengan kekuatan yang terbatas, dia mencoba membantu Pangeran Guntur Wijaya untuk melawan Raja Jaka Birawa yang sangat kuat itu.


Tapi usahanya itu dihentikan oleh pangeran Guntur Wijaya.


Pangeran Guntur Wijaya menyuruh Mandala untuk segera lari dari pertempuran tersebut, sebab keahlian Mandala di bidang penyembuhan sangat dibutuhkan, untuk membantu kakaknya ya itu Pangeran Guna Wijaya, yang akan menjadi penentu dalam kemenangan peperangan ini.


Maka dari itu Mandala Tak boleh sampai tewas begitu saja.


Akhirnya Mandala mematuhi apa yang dikatakan oleh pangeran Guntur Wijaya.


Seketika itu juga Mandala segera lari dari medan pertempuran tersebut, untuk menyelamatkan dirinya.


Mandala segera menggunakan jurus teleportasinya, untuk segera berpindah tempat ke tempat yang lain.


Tapi sebelum Mandala menggunakan jurusnya tersebut, Raja Jaka Birawa telah menyadari hal itu.


Dengan sangat cepat Raja Jaka Birawa menggagalkan niatan Mandala tersebut.


Mandala kalah cepat dengan raja Jaka Birawa.


Tiba-tiba dengan sangat cepat, Raja Jaka Birawa memberikan tendangan maut sehingga Mandala terpental.


Hanya dengan sekali tendangan tersebut, beberapa tulang rusuk Mandala patah.


"Kalau begitu akan kulenyapkan kau terlebih dulu", kata raja Jaka Birawa kepada Mandala.


Tiba-tiba Pangeran Guntur Wijaya menahan Raja Jaka Birawa.


Pangeran Guntur Wijaya bertarung dengan sisa tenaga yang ia miliki, Itu semua hanya untuk mengulur waktu supaya Mandala bisa pergi dari tempat tersebut.


Tapi bagi Raja Jaka Birawa, serangan dari pangeran Guntur Wijaya, hanya sebuah lelucon belaka baginya.


"Percuma saja kau Guntur Wijaya, dengan kondisimu yang seperti ini, kau tak akan sanggup melawanku", kata raja Jaka Birawa.


Dan ternyata benar, Raja Jaka Birawa dapat dengan mudah mengalahkan Pangeran Guntur Wijaya, dan akan segera menghabisinya.


Tapi saat itu Adipati Mahesa Sangkala yang telah terkapar, ia masih bisa membantu Pangeran Guntur Wijaya.

__ADS_1


Dari jarak jauh Adipati Mahesa Sangkala mengeluarkan ajian sanca rudra, untuk menyerang Raja Jaka Birawa.


Ratusan ular-ular angin merayap dengan sangat cepat, menuju kepada raja Jaka Birawa.


Sebab ular-ular angin tersebut, dikendalikan oleh Adipati Mahesa Sangkala, menggunakan ajian sanca Rudra.


Tapi Raja Jaka Birawa dapat dengan mudah menaklukkan ular ular angin tersebut.


Ternyata meskipun situasi di tempat tersebut sudah tidak menguntungkan lagi bagi Pangeran Guntur Wijaya dan juga Adipati Mahesa Sangkala.


Maka dari itu Mandala yang melihat kedua ksatria tersebut sudah tak berdaya lagi, ia memutuskan untuk tidak pergi dari tempat tersebut.


Mandala ingin berjuang bersama sampai titik darah penghabisan.


"jangan bodoh kau Mandala, cepat pergi dari sini", Pangeran Guntur Wijaya yang kecewa karena Mandala tidak menghiraukan perintahnya, pangeran menyuruhnya untuk segera pergi dari tempat tersebut, tapi Mandala malah bertahan dan tidak pergi dari tempat itu.


"tidak pangeran, Maafkan hamba, hamba tidak akan pernah meninggalkan pangeran Guntur Wijaya dalam keadaan apapun, hamba akan tetap berjuang bersama walau nyawa sebagai taruhan", Mandala dengan tegasnya.


Kemudian Raja Jaka Birawa sudah kehabisan kesabarannya, ia mengeluarkan gelombang api dari kedua tangannya, berniat akan menghabisi ketiga Ksatria tersebut secepatnya.


Gelombang api itu semakin membesar di kedua tangan Raja Jaka Birawa.


Sedangkan ketiga ksatria tersebut sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Mereka bertiga seperti menunggu ajal yang akan segera menjemputnya.


Mandala yang masih memiliki sedikit Cakra, dia akan segera membawa pangeran Guntur Wijaya dan Adipati Mahesa Sangkala, pergi dari tempat tersebut menggunakan jurus teleportasinya.


Tapi apa daya, ternyata Raja Jaka birawa telah menutup area tempat tersebut menggunakan perisai penangkal teleportasi.


Berkali-kali Mandala akan menggunakan jurus teleportasinya itu, ternyata sia-sia, karena perisai penangkal teleportasi yang dipasang oleh raja Jaka Birawa, berhasil menggagalkan jurus teleportasi Mandala.


"Hahaha... Percuma saja kau lakukan itu, jurus teleportasimu tak akan bisa kau gunakan, karena aku sudah memasang perisai penangkal untuk jurus tersebut", kata raja Jaka Birawa kepada Mandala.


"maka dari itu, Terimalah seranganku ini, tamatlah riwayat kalian semua", Raja Jaka Birawa menghempaskan energi bola api yang telah dia siapkan di kedua tangannya, untuk membunuh ketiga Ksatria tersebut.


Energi bola api itu meluncur cepat kepada ketiga Ksatria itu.


Mereka bertiga sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, apa lagi untuk menghindar, rasanya hal itu sudah tidak mungkin bisa mereka lakukan.


"Kanda Pangeran Guna Wijaya, Aku pasrahkan peperangan ini padamu, semoga kau diberi kemenangan", kata Pangeran Guntur Wijaya dari dalam hatinya, yang sedang di ambang kematian.

__ADS_1


Tiba-tiba tanpa diduga, energi bola api tersebut tertahan oleh Sebuah gelombang energi yang dahsyat, dan sehingga energi bola api itu tidak sempat mengenai ketiga Ksatria tersebut.


__ADS_2