
Kemudian saat Sanjaya lengah karena dia panik, akhirnya Prayoga berhasil menyerangnya, dan serangan Prayoga tepat mengenai dada Sanjaya.
Dengan ajian Bandung Bondowoso, Prayoga berhasil membuat Sanjaya roboh.
Seketika itu, Sanjaya pun muntah darah, dadanya serasa hancur.
Tapi untung saja Sanjaya adalah seorang pendekar sakti, dia juga seorang ahli pengobatan.
Saat dia roboh karena serangan Prayoga, Sanjaya segera menelan obat menyembuh luka dalam.
Saat Sanjaya menelan obat itu, Prayoga tidak menyadarinya.
Dan Sanjaya menyalurkan tenaga dalam penyembuhan kedadanya, menggunakan tangannya.
Tapi meski begitu, serangan Prayoga yang menggunakan ajian Bandung Bondowoso, benar-benar membuat Sanjaya terluka sangat parah, padahal Prayoga hanya menyerangnya satu kali, tapi efeknya sampai seperti itu.
Sanjaya memang diujung kematian, tapi dia masih bisa bertahan dengan metode penyembuhan yang dia punya, tapi hal itu tidak menjamin bahwa Sanjaya akan selamat, sebab Prayoga tidak akan membiarkan Sanjaya hidup, karena Prayoga akan segera menyerang Sanjaya lagi untuk mengalahkannya.
Akhirnya dengan sangat terpaksa, karena sudah tidak ada cara lain lagi, Sanjaya mengeluarkan jurus rahasianya yang dia pelajari selama ini dengan Mandala.
"Sanjaya, kau benar-benar akan menggunakan jurus itu, selamat tinggal kawan, perjuanganmu akan selalu terkenang sepanjang masa", Mandala yang berkata dalam hatinya sambil meneteskan air mata kesedihan atas kawannya tersebut.
Jurus yang akan dikeluarkan oleh Sanjaya adalah jurus terlarang yang dipelajari bersama dengan Mandala, maka Mandala akan merasakan jika kawannya tersebut akan menggunakan jurus itu, meski Mandala berada jauh dengannya.
Mandala yang sedang berjuang digunung kelud bersama Pangeran Gunawijaya, hatinya sedang terguncang, karena dia merasa bahwa kawan karibnya, yaitu Sanjaya akan menggunakan jurus terlarang, yang pernah mereka pelajari bersama.
Kemudian senopati Mukasbarada yang mengetahui Mandala sedang mengalami guncangan dalam hatinya, dia berusaha membuat Mandala tegar kembali, dia berkata, dalam perjuangan atas nama kebenaran, memang harus ada korban, tapi hal itu tidak harus disesali, sebab mereka semua yang berjuang atas nama kebenaran adalah seorang kesatria sejati.
Setelah itu, Mandala mengusap air matanya, dan semangatnya kembali lagi, dan dia jadi lebih tegar dari sebelumnya, berkat motivasi dari senopati Mukasbarada.
Ternyata senopati Mukasbarada bisa membaca pikiran seseorang yang berada didekatnya, dan pada saat itu, yang berada didekatnya adalah Mandala.
Maka dari itu, senopati Mukasbarada mencoba membuat Mandala agar semangat lagi, dan fokus pada tujuannya, yaitu memenangkan peperangan, berlandaskan kebenaran.
"Selamat tinggal kawanku, Mandala, suatu saat nanti, kita akan bertemu lagi di akhirat", Sanjaya yang berkata dengan raut wajah penuh kebahagiaan.
Setelah itu tubuh Sanjaya menyala kemerah merahan, saat dia mengeluarkan jurus terlarangnya, yaitu jurus dewa kematian.
Sanjaya pun segera bangkit dan berdiri menatap tajam kearah Prayoga.
__ADS_1
Prayoga pun semakin bersemangat melihat hal itu semua.
"Hahaha... Biarpun kau mengeluarkan semua kesaktianmu, kau akan tetap mati ditanganku, Sanjaya", kesombongan Prayoga yang tak habis habis.
Kemudian Prayoga menyerang Sanjaya habis habisan, tapi Sanjaya hanya diam saja dan tidak menghindar dari serangan tersebut.
Dengan aji Bandung Bondowoso, Prayoga menghajar Sanjaya dengan penuh amarah dan kebencian.
Sedangkan Sanjaya hanya diam saja, menerima semua serangan dari Prayoga.
Meskipun Prayoga menendang dan memukulnya, tapi Sanjaya hanya menerima serangan itu semua dan tidak membalasnya.
Sanjaya masih kuat berdiri meski sudah banyak terkena serangan brutal dari Prayoga.
Lalu Prayoga memberikan pukulan mematikan tepat di kepala Sanjaya, hingga Sanjaya roboh tak berdaya.
Waktu itu Prayoga sempat bingung, kenapa Sanjaya tidak melawan dia, kenapa Sanjaya malah menerima semua serangan darinya.
Meski Sanjaya sudah hampir sekarat, tapi dia masih bisa tertawa dihadapan Prayoga, hal itu malah membuat Prayoga semakin geram pada Sanjaya.
Lalu Prayoga semakin menyerang Sanjaya tanpa ampun dan tanpa belas kasihan, dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghajar Sanjaya.
Tapi Sanjaya masih saja menertawakannya.
Saat itu pandangan Sanjaya sudah mulai kabur, dia sudah terlalu banyak menerima serangan yang bertubi-tubi dari Prayoga, yang menggunakan aji Bandung Bondowoso.
Kemudian Prayoga memberikan pukulan terakhir pada Sanjaya tepat di pelipisnya, hingga Sanjaya roboh dan tidak bisa bangkit lagi.
Prayoga menghentikan serangannya, karena dia sadar, bahwa Sanjaya sudah tidak berdaya lagi, dan sebentar lagi dia pasti akan mati.
Saat itu Sanjaya benar-benar sudah sekarat, dia babak belur dihajar Prayoga habis habisan.
Lalu Prayoga segera bergegas pergi meninggalkan Sanjaya, tapi apa yang terjadi, ternyata dalam kondisi sekarat, Sanjaya masih bisa bicara walau terbata bata.
"Percuma kau pergi Prayoga, karena sebentar lagi, kau akan ikut pergi denganku, ke alam kematian", Sanjaya yang berbicara dengan melemparkan senyum terakhir pada sahabat tersebut, yaitu Prayoga.
Sontak Prayoga terkejut mendengar perkataan Sanjaya tersebut, dan Prayoga semakin geram dibuatnya.
Akhirnya Prayoga mengambil sebuah senjata didekatnya, dan saat itu akan segera menghabisi Sanjaya dengan senjata tersebut.
__ADS_1
Saat Prayoga akan menghabisi Sanjaya dengan senjata yang dia dapat, tiba-tiba Prayoga merasakan rasa sakit didadanya yang amat sangat.
Rasa sakit itu hingga membuat Prayoga muntah darah.
Lalu rasa sakit yang tak tertahankan itu menyebar keseluruh badannya, hingga ke kepalanya.
Prayoga sampai berteriak sekencang kencangnya, karena tak tahan dengan rasa sakit tersebut.
Setelah beberapa saat kemudian, sekujur tubuh Prayoga memerah dan berasap.
Darah tak henti hentinya keluar dari mulut, mata, hidung dan kupingnya.
Saat itulah jurus terlarang Sanjaya mulai bereaksi, jurus tersebut adalah jurus dewa kematian.
Siapapun yang terkena jurus tersebut, dia akan bernasib sama dengan sang pemiliknya.
Jadi jurus dewa kematian itu adalah jurus bunuh diri, jika pemiliknya terluka, maka lawannya juga akan terluka.
Jika pemiliknya mati, maka lawannya juga pasti akan ikut mati.
Tapi rasa sakit yang diderita oleh lawannya, justru lebih parah daripada pemilik jurus tersebut.
Kesimpulannya, dengan jurus dewa kematian, Sanjaya sengaja membiarkan Prayoga menyerangnya habis habisan, dan bahkan membiarkannya untuk membunuhnya, sebab tak butuh waktu lama, Prayoga akan mengalami hal yang serupa dengan yang dialami oleh Sanjaya, bahkan lebih parah dari Sanjaya.
Itulah kengerian jurus dewa kematian milik Sanjaya, meski harus berkorban nyawa, tapi itu semua untuk sebuah kemenangan yang didambakan.
Karena Sanjaya adalah pejuang sejati demi kebenaran, maka, meski nyawa taruhannya, dia tidak takut sama sekali.
Nama Sanjaya akan selalu terkenang sepanjang masa, sebab dialah salah satu penyelamat tanah Jawa dari kehancuran.
Kemudian dalam keadaan seperti itu, Prayoga sudah tidak punya harapan untuk selamat apalagi hidup.
Dalam penderitaannya terkena jurus dewa kematian milik Sanjaya, Prayoga benar-benar dalam keadaan sekarat, bahkan lebih sekarat dari Sanjaya.
Kemudian pada akhirnya, Prayoga pun menghembuskan nafas terakhirnya didekat Sanjaya.
Dan Sanjaya pun yang dalam keadaan sekarat, dia menyaksikan sahabatnya, yaitu Prayoga mati didekatnya.
Meski pandangan Sanjaya sudah agak kabur, tapi dia masih bisa menyaksikan kematian sahabatnya itu.
__ADS_1
"Biar bagaimanapun, akulah pemenangnya, Prayoga", setelah berkata demikian, lalu Sanjaya pun meninggal dunia dengan tenang.
Dia tersenyum dengan penuh kemenangan, dan senyumnya itu mengantarkannya menuju tempat yang terindah, yaitu nirwana.