PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
107. Syarat dari seorang guru


__ADS_3

Kemudian Raja giritunggal yaitu Raja Sutabirawa sangat panik dengan situasi tersebut, karena area luar kerajaan giritunggal telah dikuasai oleh lawannya yaitu Patih Waranggaseta.


Raja Sutabirawa memerintahkan prajuritnya agar lebih memperkuat gerbang istana giritunggal, agar kubu lawannya itu tidak bisa masuk kedalam istana.


Lalu para prajurit giritunggal yang berada didalam istana mencoba memberikan tekanan berupa balok-balok kayu agar gerbang istana tersebut tak mudah dijebol dari luar.


Para punggawa punggawa kerajaan yang melindungi sang Raja, mereka semua sangat panik juga, sebab kedua senopati hebat yang dimiliki giritunggal telah tewas, yaitu senopati Sumantri dan juga senopati Abas.


Tapi sebagai seorang kesatria, sampai matipun mereka harus tetap berjuang melindungi sang Raja.


"Ampun yang mulia Raja, apa langkah kita selanjutnya dengan situasi seperti ini", salah satu punggawanya bertanya pada sang Raja Sutabirawa.


"Sekarang kita hanya bisa bertahan dalam situasi ini, jika kita menyerah, mau taruh mana muka kita ini", jawab sang Raja Sutabirawa pada punggawa tersebut.


Lalu salah satu punggawa itu melindungi gerbang istana dengan menggunakan ilmu sihir yang dia punya.


Punggawa itu mulai merapal mantra sihir agar gerbang istana tidak bisa ditembus.


Lalu didepan istana giritunggal, Patih Waranggaseta memerintahkan para pasukannya untuk mendobrak gerbang istana tersebut, tapi para pasukannya malah terpental seperti tersengat aliran listrik yang sangat kuat.


Patih Waranggaseta dan para kesatria yang lainnya terkejut dengan kejadian itu.


Kemudian senopati Kuncoro mendekati gerbang itu dan mencoba untuk memegangnya.


Alangkah kagetnya, senopati Kuncoro ternyata terpental juga karena terkena sengatan aliran listrik dari gerbang itu.


Jadi untuk mendobrak gerbang istana giritunggal, untuk saat ini masih tidak bisa karena ada kekuatan sihir yang melindunginya.


Patih Waranggaseta tak menyangka bahwa untuk bisa masuk ke istana giritunggal sangat susah sekali saat ini.


Akhirnya Patih Waranggaseta membicarakan masalah tersebut dengan para kesatria yang berada dikubunya.


Putri Senjabirawa akhirnya ingat bahwa ada salah satu punggawa giritunggal yang bisa ilmu sihir, punggawa itu bernama senopati Arga.


Senopati Arga adalah punggawa sakit yang menguasai banyak ilmu sihir, dia bahkan bisa membunuh seseorang lewat jarak jauh dengan ilmu sihirnya itu.


Dan bahkan senopati Arga bisa merubah senjata tongkatnya menjadi ular besar yang sangat ganas.

__ADS_1


Jadi aliran listrik yang melindungi gerbang istana giritunggal, nggak lain dan nggak bukan adalah ulah dari senopati Arga yang menggunakan ilmu sihirnya tersebut.


Kemudian Patih Waranggaseta bertanya bagaimana cara mematahkan pengaruh dari ilmu sihir itu.


Putri Senjabirawa menjawab, selain dia, hanya guru dari senopati Arga lah yang bisa mematahkan sihirnya itu.


Kebetulan salah satu dari pasukan Patih Waranggaseta yang berasal dari prajurit giritunggal yang membelot dan bergabung bersamanya, dia tahu dimana guru dari senopati Arga itu berada.


Tapi tempat kediaman guru dari senopati Arga sangatlah jauh, butuh waktu satu hari satu malam untuk bisa sampai kesana dengan menunggangi kuda.


Akhirnya pergilah Patih Waranggaseta beserta senopati Patmo, bersama kelima prajurit pengawal, dan juga bersama salah satu prajurit yang tahu dimana guru dari senopati Arga itu berada.


Mereka semua pergi dengan menunggangi kuda masing-masing.


Senopati Patmo adalah ketua para pasukan bantuan dari kerajaan giriseta yang diutus oleh Raja Dasabirawa.


Kemudian sambil menunggu kedatangan Patih Waranggaseta yang sedang mencari guru dari senopati Arga, Pangeran Kasimwijaya memerintahkan para pasukannya agar tetap siaga, jangan sampai lengah meski area luar kerajaan giritunggal telah mereka kuasai.


"Pangeran, mari, silahkan istirahat dulu, para pasukan sudah menyiapkan tempat istirahat untuk Pangeran", senopati Kuncoro berkata pada Pangeran Kasimwijaya.


"Ohh... Ya terimakasih senopati, kalau begitu saya akan istirahat dulu untuk memulihkan tenaga", jawab Pangeran Kasimwijaya.


Para warga tersebut tahu bahwa kubu Patih Waranggaseta telah berhasil menguasai area luar kerajaan giritunggal.


Maka dari itu, para warga sangat bahagia bisa mengetahui hal tersebut, mereka merasa bahwa sebentar lagi kedamaian dan keadilan di giritunggal akan segera tercipta berkat perjuangan keras Patih Waranggaseta bersama para pasukannya.


Pangeran Kasimwijaya mengucapkan banyak terimakasih kepada para warga yang telah memberikan bantuan makanan dan juga minuman untuk para pasukannya.


Singkat cerita keesokan harinya, Patih Waranggaseta beserta para pengawalnya tiba dikediaman guru dari senopati Arga.


Guru dari senopati Arga bernama ki Loso, pria tua yang sangat disegani oleh banyak orang karena kesakitannya.


Ki Loso adalah saudara dari ki Lodra dukun sakti yang pernah mengutuk Kedasih menjadi serigala berkepala manusia.


Kemudian ki Loso menjamu Patih Waranggaseta beserta para pengawalnya dengan sangat baik.


Lagi pula memang ki Loso adalah orang yang sangat baik didaerah tersebut.

__ADS_1


Ki Loso memang terkenal sebagai guru besar ilmu sihir, kesakitannya tak bisa diragukan lagi.


Bahkan saudaranya yang telah meninggal dunia yaitu ki Lodra, dulu semasa hidupnya tak sanggup untuk menandingi kesaktian ki Loso tentang masalah ilmu sihirnya.


Kemudian berbincang bincanglah Patih Waranggaseta bersama ki Loso.


Dalam perbincangan itu Patih Waranggaseta membicarakan tentang perihal muridnya yang bernama senopati Arga.


Alangkah sedihnya ki Loso mendengar bahwa muridnya yaitu senopati Arga telah berada pada jalan yang salah.


Maka dari itu, ki Loso bersedia membantu Patih Waranggaseta untuk bisa mematahkan sihir dari senopati Arga yang telah melindungi gerbang istana giritunggal.


"Gunakanlah air yang ada didalam kendi ini gusti Patih, tapi dengan syarat, saat anda berhasil menundukkan giritunggal, jangan anda bunuh murid saya yaitu senopati Arga, tapi hukumlah saja dia, nanti biar saya yang akan menyadarkan dirinya, agar dia tahu tentang nilai-nilai kebenaran dan kebaikan", ki Loso berpesan pada Patih Waranggaseta.


"Baiklah ki Loso, kalau memang itu mau mu, sebagai seorang kesatria, saya pasti akan menepati janji", kata Patih Waranggaseta.


Kemudian di kerajaan giritunggal, Raja Sutabirawa mendapat laporan dari prajuritnya bahwa Patih Waranggaseta sedang pergi bersama para pengawalnya.


Tapi prajurit itu tidak tahu pergi kemana Patih Waranggaseta sebenarnya.


Lalu hal tersebut oleh Raja Sutabirawa disampaikan kepada senopati Arga.


Kemudian untuk mencari tahu kebenaran itu, senopati Arga menggunakan ilmu sihirnya untuk melihat kemana perginya Patih Waranggaseta tersebut.


Senopati Arga menggunakan media air yang berada didalam gentong untuk bisa melihat keberadaan Patih Waranggaseta.


Setelah air didalam gentong dibacakan sebuah mantra oleh senopati Arga, tak lama kemudian munculah gambar dimana Patih Waranggaseta itu berada.


Alangkah terkejutnya senopati Arga, ternyata Patih Waranggaseta menemui gurunya yaitu ki Loso.


Raja Sutabirawa tambah panik mengetahui hal itu semua.


"Bagaimana dengan nasib kita senopati, jika Patih Waranggaseta nanti bisa menjebol gerbang istana giritunggal dengan bantuan dari gurumu itu", Raja Sutabirawa bertanya pada senopati Arga.


"Mohon ampun yang mulia Raja, hamba sepertinya sudah kehabisan akal untuk masalah ini", senopati Arga menjawab pertanyaan dari sang Raja.


Jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah ini hanyalah dengan berperang, siapa yang kuat, dia yang akan menang, inilah solusi terakhir dari senopati Arga yang disampaikan kepada Raja Sutabirawa.

__ADS_1


Lalu Raja Sutabirawa hanya bisa pasrah dengan keadaan ini, tapi dia akan tetap berjuang sampai titik darah penghabisan dan tak akan pernah menyerah kepada lawannya tersebut.


__ADS_2