
Kemudian di kerajaan suryaloka, Putri Kumalawijaya, Putri Senjabirawa dan sigadis manis Kedasih, mereka bertiga sibuk mengevakuasi para korban perang, bersama para prajurit khusus evakuasi.
Saat para prajurit evakuasi datang, dengan membawa korban perang yang sudah meninggal, disitulah tangisan Putri Senjabirawa dan Kedasih pecah, karena ternyata korban yang dievakuasi tersebut adalah pendekar Sanjaya.
Sanjaya adalah guru dari Putri Senjabirawa dan rekan seperjuangan Kedasih, kala masih berpetualang menyatukan para pendekar aliran putih.
Jadi sosok Sanjaya, bagi mereka berdua adalah sosok yang sangat begitu dekat.
Para murid murid Sanjaya juga sangat terpukul, melihat guru besarnya telah tewas dimedan perang, sebab pendekar Sanjaya notabene adalah guru besar sebuah padepokan lawang sewu.
Para murid muridnya sangat berduka atas meninggalnya guru besar mereka tersebut.
"Wahai saudaraku semua, kita semua jangan larut dalam duka ini, kita harus bangga, karena sang guru besar kita, yaitu guru Sanjaya adalah seorang kesatria yang gugur dalam menegakkan kebenaran, maka dari itu, selama darah kita semua masih mengalir, kita harus meneruskan perjuangan sang guru besar kita Sanjaya, sampai titik darah penghabisan", motivasi semangat dari salah satu murid tertua Sanjaya, yaitu pendekar Bagaskara.
Sanjaya gugur karena telah menggunakan jurus terlarangnya, yaitu jurus dewa kematian, untuk mengalahkan rival abadinya, yaitu Prayoga.
"Baiklah kalau begitu, aku akan ikut berperang demi membalaskan dendam guruku", Putri Senjabirawa sangat marah dan sedih atas kematian gurunya tersebut.
"Jangan tuan Putri, tuan Putri harus tetap disini, jika tuan Putri memaksa turun kemedan perang, hamba yakin, arwah guru besar kita, yaitu guru Sanjaya, tidak akan tenang dialam sana, karena melihat murid kesayangannya, yaitu tuan Putri Senjabirawa, memaksa ikut berperang, biarkan kami kami yang akan membalaskan dendam guru besar kita", Bagaskara melarang Putri Senjabirawa turun kemedan perang.
Lalu bergegaslah Bagaskara kemedan perang beserta para adik seperguruannya.
Kemudian dimedan perang, ki Maung bertarung sangat sengit dengan Suwaji.
Suwaji yang lebih unggul dari ki Maung, dia berusaha mendesaknya.
Tapi ki Maung bukanlah pendekar yang biasa saja, dia adalah seorang guru yang hebat di suku Nam.
Dengan kepiawaian ki Maung dalam kemampuan beladiri, ki Maung dapat membalikkan keadaan dengan cepat.
Suwaji nampak bingung, sebab dia sama sekali tidak tahu jurus jurus beladiri ki Maung yang digunakan untuk mendesaknya saat ini.
Meskipun kedua pendekar tersebut usianya sudah terbilang tua, tapi semangat bertarungnya, masih seperti anak muda.
Stamina mereka juga terbilang masih sangat kuat, kalau hanya untuk bertarung.
Ki Maung yang bersenjatakan tongkat, dia tak kalah hebat dengan suwaji yang bersenjatakan pedang.
Permainan jurus tongkat ki Maung sangat luar biasa, dia berhasil menyihir banyak pasang mata dimedan perang dengan aksi permainan jurus tongkatnya itu.
__ADS_1
"Sial, ternyata Maung selama ini telah mempelajari jurus jurus baru, untuk bisa menandingiku", kata Suwaji dari dalam hatinya.
Akhirnya saat Suwaji lengah, ki Maung berhasil menyerang Suwaji dengan jurus jurus barunya tersebut.
Tanpa disadari, serangan itu, sampai membuat Suwaji muntah darah, karena saking hebatnya jurus jurus tersebut mengenai dirinya.
Suwaji sangat geram sekali waktu itu, dia merasa dirinya telah dipermalukan oleh lawannya tersebut.
Tapi ki Maung tak juga berhenti menyerang Suwaji, moment tersebut benar-benar harus bisa dimanfaatkan oleh ki Maung, untuk segera menghabisi Suwaji.
Ki Maung tahu, bahwa muridnya Harun sudah berhasil mengalahkan kedua saudara Suwaji.
Maka dari itu, secepatnya ki Maung juga harus mengalahkan Suwaji.
Dengan jurus permainan tongkatnya, ki Maung berhasil membuat Suwaji kewalahan, dan mendesaknya.
Tapi, sedikit banyak saat itu, Suwaji masih bisa memberikan perlawanan dengan jurus jurus pedangnya.
Ki Maung sangat mudah sekali menebak arah jurus jurus lawannya itu, karena sebenarnya ki Maung dan Suwaji adalah satu perguruan, saat mereka berdua masih muda dulu.
Maka dari itu, semua jurus jurus yang dikeluarkan oleh Suwaji, ki Maung dapat mematahkannya.
Beda hal dengan jurus jurus ki Maung, ternyata selama ini ki Maung telah berlatih dan banyak menciptakan jurus jurus baru, karena dia merasa, bahwa suatu saat dia dan Suwaji akan dipertemukan dalam sebuah pertarungan hidup dan mati.
Dan akhirnya hasilnya pun terbukti, kini ki Maung bisa menandingi Suwaji, dan bisa membuat Suwaji kewalahan melawannya.
Adu dua senjatapun tak terelakkan, ki Maung dengan tongkatnya, sedangkan Suwaji dengan pedangnya.
Tapi jurus jurus pedang Suwaji dapat dengan mudah dipatahkan, oleh jurus jurus tongkat ki Maung.
Suwaji berkali-kali terkena serangan senjata tongkat ki Maung.
Sampai Suwaji merasa kesakitan disekujur badan, yang terkena serangan tongkat tersebut.
Lalu Suwaji berkata, kalau di terus teruskan seperti ini, maka bisa bisa dia akan kalah oleh ki Maung.
Maka dari itu, Suwaji segera merapal mantra, menggunakan aji tameng wojo.
Dengan ajian itu, Suwaji akan kebal terhadap serangan dari senjata apapun.
__ADS_1
Saat mantra itu selesai dirapal atau dibaca, tiba-tiba tubuh Suwaji bersinar kekuningan.
Setelah sinar itu hilang, kemudian Suwaji membiarkan tubuhnya diserang oleh lawannya tersebut, yaitu ki Maung.
Dengan sombongnya, Suwaji membuang pedangnya, dan mempersilahkan ki Maung untuk menyerangnya sesuka hati.
"Ayo Maung, serang aku, pilihlah bagian mana yang ingin kamu serang", kata Suwaji dengan penuh kesombongan.
Kemudian ki Maung tanpa ragu segera menyerang Suwaji, dengan jurus tongkat mematikan, tapi apa yang terjadi, ternyata Suwaji tidak bergeming sama sekali, meski dia banyak mendapatkan serangan dari ki Maung.
Ki Maung heran, melihat Suwaji baik baik saja, padahal dia sudah menyerangnya dengan jurus tongkat mematikan, tapi Suwaji malah ketawa ketawa.
Suwaji berkata, bahwa serangan ki Maung, rasanya hanya seperti kapas yang nempel pada badannya.
Saat itu, ki Maung segera menghentikan serangannya, karena dirasa percuma, jika terus menerus diserangnya.
Lalu Suwaji bertanya, kenapa ki Maung menghentikan serangannya, padahal dia sudah memberikan peluang sebebas-bebasnya untuk bisa menyerangnya.
Tapi ki Maung bukanlah pendekar yang bodoh, sebab dia tahu, bahwa Suwaji telah menggunakan ajian tameng wojo.
Jika hanya senjata biasa saja, tidak mungkin bisa untuk melukainya.
"Aku tidak sebodoh yang kau kira Suwaji", kata ki Maung dengan tatapan tajamnya.
Lalu saat ki Maung berdiam diri sejenak, dia mengangkat kedua tangannya dan menyilangkannya didepan badannya.
Tiba-tiba kukunya berasap, dan seketika itu berubah menjadi cakar harimau.
Ternyata ki Maung mengeluarkan jurus cakar harimau.
Suwaji saat itu langsung terdiam dari ocehannya tersebut, dia jadi berfikir dengan apa yang akan dia hadapi kali ini.
Ajian tameng wojo memang sangat hebat, senjata apapun tidak akan mempan pada sang pemiliknya, jika pemiliknya menggunakan ajian itu, tapi tidak tahu lagi, jika menghadapi jurus cakar harimau milik ki Maung, mungkin hasilnya akan berbeda.
"Ternyata Maung kali ini benar-benar serius, kalau begitu, aku harus hati hati padanya", kata Suwaji dari dalam hatinya, karena dia was was juga dengan apa yang telah ki Maung keluarkan.
Kemudian dengan cepat, Suwaji mengambil pedangnya kembali yang telah dia buang waktu itu.
Lalu saat ki Maung segera menyerang Suwaji dengan jurus cakar harimaunya.
__ADS_1
Pertarungan mereka menjadi semakin memanas, karena saat ini, Suwaji benar-benar dibuat was was oleh ki Maung yang mengeluarkan jurus cakar harimau.
Ki Maung nampak bersemangat menyerang Suwaji, sedangkan Suwaji, saat ini dia hanya bertahan saja dari serangan tersebut.