PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
45. Kesatria titisan Dewa


__ADS_3

Kemudian setelah serangan tiga menit dari level tertinggi aji guntur saketi Pangeran Gunturwijaya, kini yang tersisa cuma dua wujud Pangeran Muradwijaya dari delapan wujudnya, dan sekarang Pangeran Gunturwijaya sudah tak berdaya setelah mengeluarkan kekuatan super tersebut, sekujur tubuhnya lumpuh untuk memulihkankan memakan waktu satu bulan. Sekarang nasib dari ke enam kesatria yang masih hidup diambang kematian karena perwujudan Pangeran Muradwijaya masih tersisa dua wujud.


"Kau sungguh hebat keponakanku Guturwijaya, meski kau tidak berhasil mengalahkan kedelapan wujud Pangeran Muradwijaya, tapi kau sudah menunjukkan kehebatanmu pada kita semua, Paman bangga dengan dirimu Pangeran Gunturwijaya", kata Maha Patih Damarwijaya yang sedang terluka parah.


Kemudian salah satu wujud Pangeran Muradwijaya yang masih tersisa dua wujud berkata?


"Kekuatan yang sangat mengerikan, sampai-sampai jurus kala patiku tidak bisa menetralisir kekuatannya, tapi sangat disayangkan kekuatan sedahsyat itu cuma bisa bertahan beberapa semenit saja, dan kini saatnya giliranku untuk membunuh kalian semua!".


Dengan kesaktian dan kehebatan jurus kala pati, kedua wujud Pangeran Muradwijaya membangkitkan lagi ke enam wujud kembarnya yang sudah terkalahkan oleh serangan super Pangeran Gunturwijaya dan kini genaplah sudah ke delapan wujud tersebut. Ke delapan wujud tersebut sangat geram kepada Pangeran Gunturwijaya yang telah membuat mereka kuwalahan, pada akhirnya ke delapan wujud tersebut akan segera mengakhiri pertarungan ini secepatnya dengan kata lain akan segera membunuh ke enam kesatria yang masih tersisa dan tak berdaya.


Akhirnya ke delapan wujud Pangeran Muradwijaya mengambil sebongkah tanah lalu dimanipulasinya dengan kekuatan jurus kala pati menjadi sebuah tombak untuk membunuh ke enam kesatria tersebut, yaitu Maha Patih Damarwijaya, Pangeran Gunturwijaya, begawan Winara, Raden Mahesasangkala, Sanjaya dan Mandala. Disaat masing-masing dari ke delapan wujud Pangeran Muradwijaya akan membunuh ke enam kesatria dengan menggunakan sebuah tombak, tiba-tiba datanglah Pangeran Gunawijaya yang menyahut semua tombak itu menggunakan jurus gerak kilatnya dari tangan masing-masing ke delapan wujud Pangeran Muradwijaya yang akan segera membunuh ke enam kesatria tersebut. Seketika itu terkejutlah ke delapan wujud tersebut yang mengetahui tombaknya telah lenyap dari tangannya tanpa mereka rasakan sama sekali.


"Kurangajar, siapa yang berani melakukan ini semua!!", teriak salah satu dari kedelapan wujud Pangeran Muradwijaya dengan sangat kesal pada seseorang yang telah menyahut tombak mereka.

__ADS_1


Kemudian dengan gagahnya Pangeran Gunawijaya berdiri tegak dengan membawa pedang mustika biru dipunggungnya dihadapan kedelapan wujud tersebut dengan kedua tangannya yang menggenggam ke delapan tombak yang telah disahutnya dari ke delapan wujud tersebut. Lalu ke delapan wujud Pangeran Muradwijaya sangat terkejut melihat kehadiran Pangeran Gunawijaya dihadapanya.


Dengan hanya sekali remas ke delapan tombak yang digenggam oleh Pangeran Gunawijaya, hancur berkeping-keping, ia sangat murka melihat kenyataan yang telah terjadi dimedan perang. Maha Patih Damarwijaya sangat bahagia melihat kedatangan Pangeran Gunawijaya beserta ketiga pengawalnya yaitu Pangeran Jatiwijaya, Jatmiko dan juga Kedasih. Kemudian mendekatlah Pangeran Gunawijaya kepada pamannya yaitu Maha Patih Damarwijaya, dengan singkat Maha Patih Damarwijaya memberi tahu akan situasi peperangan yang telah terjadi dimedan perang dan juga memberitahu tentang siapa sebenarnya sesosok misterius itu pada Pangeran Gunawijaya.


Setelah Pangeran Gunawijaya tahu semuanya tentang hal yang telah terjadi dimedan perang, kemudian ia menyuruh ketiga pengawalnya tersebut untuk menjaga ke enam kesatria yang masih tersisa, sedangkan Pangeran Gunawijaya, ia maju menghampiri ke delapan wujud Pangeran Muradwijaya guna untuk membalaskan dendam seluruh orang yang berada dimedan perang karena ia sangat tidak terima oleh kejahatan Pangeran Muradwijaya atau yang biasa dipanggil dengan sebutan sesosok misterius.


Kemudian Pangeran Gunawijaya yang sangat murka atas kejadian tersebut yang telah dilakukan oleh sesosok misterius atau Pangeran Muradwijaya, ia berkata dengan lantang didepan kedelapan wujud Pangeran Muradwijaya?


"Dengan kehadiranku disini tiada ampun bagimu sesosok misterius, meski kau adalah salah satu bagian dari keluarga wijaya, tapi kau tidak pantas menyandang nama besar keluarga kami, Wijaya, tidak ada kata paman, tidak ada kata keluarga maupun ikatan darah dalam diri kita, yang ada sekarang hanyalah musuh karena kita ditakdirkan untuk saling membunuh dimedan perang ini", seorang Pangeran Gunawijaya yang telah murka.


"Ayo bangun lawan aku, sebab aku hanya sedikit menyentuhmu tapi kau sudah tersungkur seperti itu, dimana kekuatanmu itu paman Murad!", Pangeran Gunawijaya dengan tatapan tajam dan bernada tegas.


Mendengar hinaan dari Pangeran Gunawijaya, sesosok misterius atau Pangeran Muradwijaya, dia sangat geram dan tidak terima dengan hinaan tersebut. Akhirnya yang tadinya dia tersungkur lalu dengan cepat dia berdiri dan langsung melawan Pangeran Gunawijaya dengan kemampuan bela dirinya, meski Pangeran Muradwijaya awalnya dapat mengalahkan kedelapan kesatria tersebut dengan mudah, tapi beda dengan yang sekarang ini karena yang dia hadapi sekarang ini adalah bukan seorang kesatria biasa sebab ia adalah kesatria pilihan, seorang pemuda tangguh titisan Dewa yang dilahirkan turun ketanah jawa untuk memperjuangkan kedamaian, ia adalah Pangeran Gunawijaya sang pahlawan tanah jawa.

__ADS_1


Meski Pangeran Muradwijaya mengusai jurus kala pati yang tiada tanding karena kekuatan ilmu itu bisa memanipulasi segala hal, dengan ilmu itu Pangeran Muradwijaya sudah seperti manusia setengah Dewa, tapi untuk menghadapi Pangeran Gunawijaya, Pangeran Muradwijaya sangat kesulitan karena Pangeran Gunawijaya seorang pemuda penuh dengan wahyu, sebab ia adalah titisan dari Dewa.


Lalu pertarungan antar kedua Pangeran tersebut sangat sengit, kemampuan bela diri keduanya sama-sama hebat tetapi tidak butuh waktu lama buat Pangeran Gunawijaya untuk mengalahkan Pangeran Muradwijaya dalam pertarungan adu bela diri, hanya kisaran dua menit saja, salah satu wujud Pangeran Muradwijaya terkalahkan oleh Pangeran Gunawijaya, tapi meski dia kalah salah satu wujud Pangeran Muradwijaya itu tidak mati karena Pangeran Gunawijaya sengaja tidak menbunuhnya.


"Bagiku satu wujud darimu paman Murad, bukanlah tandinganku, semuanya maju hadapi aku, aku Pangeran Gunawijaya putra Arya, tak gentar hanya dengan menghadapi kedelapan wujudmu paman Murad!", Amarah Pangeran Gunawijaya yang menantang kedelapan wujud Pangeran Muradwijaya sekaligus.


Kemudian mendengar tantangan dari Pangeran Gunawijaya, kedelapan wujud tersebut segera menyerang Pangeran Gunawijaya secara bersamaan. Pangeran Gunawijaya akhirnya menghadapi kedelapan wujud Pangeran Muradwijaya dengan gagah berani, ia harus melawan kedelapan wujud tersebut hanya dengan keahlian bela dirinya, tapi meskipun kedelapan wujud tersebut bersamaan menyerang Pangeran Gunawijaya dengan berbagai jurus bela dirinya tetapi jurus mereka semua tidak ada yang bisa mengenai Pangeran Gunawijaya sedikitpun.


Mereka semua heran sebab mereka semua sudah mengerahkan jurus-jurus mautnya tapi kenapa mereka tidak bisa mengenai sedikitpun tubuh Pangeran Gunawijaya, malah satu persatu dari mereka semua berhasil ditumbangkan oleh Pangeran Gunawijaya dengan keahlian jurus-jurus bela dirinya. Kedelapan wujud Pangeran Muradwijaya tak bisa menandingi kehebatan Pangeran Gunawijaya, mereka semua satu persatu jatuh tersungkur terkena tendangan dan pukulan dari Pangeran Gunawijaya.


Disisi lain keenam kesatria yang masih hidup, mereka semua nampak senang karena melihat kehebatan Pangeran Gunawijaya yang telah berhasil menumbangkan kedelapan wujud Pangeran Muradwijaya hanya dengan kemampuan bela dirinya saja.


"Kanda Pangeran Gunawijaya, kaulah kesatria terhebat yang pernah aku lihat, aku bangga denganmu", kata Pangeran Gunturwijaya dengan nada pelan karena menahan rasa sakit akibat efek samping telah mengeluarkan kemampuan tingkat tertinggi dari aji guntur saketinya.

__ADS_1


Lalu Mahapatih Damarwijaya hanya tersenyum bahagia melihat kehebatan keponakannya itu yang dengan mudah bisa menumbangkan satu persatu dari kedelapan wujud Pangeran Muradwijaya yang sangat sakti mandraguna.


__ADS_2