PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
167. Kehancuran Maharaja Arya Wijaya


__ADS_3

Kemudian saat pertarungan tersebut semakin sengit, di kerajaan suryaloka, Begawan winara yang sudah dipulihkan oleh maharesi Brata.


Yang saat itu beliau yaitu Begawan winara, telah menggunakan kesaktian pamungkasnya yaitu jurus Jaya Rendra.


Kehebatan jurus tersebut keistimewaannya bisa meniru jurus maupun kesaktian dan wujud dari lawannya.


Tapi jurus itu memiliki kelemahan, jika sang pengguna sudah menggunakan jurus tersebut, maka sang pengguna jurus itu akan mengalami kelumpuhan total dan juga mengalami Hilang Ingatan, sebab ternyata jurus tersebut masih belum sempurna 100%.


Tapi kini berkat air Sakti dari maharesi brata, Begawan winara bisa dipulihkan kembali dengan cepat.


"Begawan winara, tunggu dulu, jangan kau gegabah untuk kembali ke medan perang secepatnya, karena kekuatanmu di istana ini sangat dibutuhkan", kata maharesi Brata.


"tapi aku tidak bisa hanya diam seperti ini maharesi, tanggung jawabku sebagai tonggak Surya Loka, harus aku tunaikan walau darah taruhannya", Begawan winara menjawab.


"biar keselamatan istana Ini kuserahkan kepadamu wahai maharesi", Begawan winara bersikukuh tetap akan pergi ke medan perang.


"Baiklah kalau begitu, aku tidak bisa menahanmu lagi Begawan, semoga kau baik-baik saja", maharesi Brata berkata.


Kemudian maharesi Brata memerintahkan putranya yaitu maharesi Malaka, Untuk mengantarkan Begawan winara ke medan perang Gunung Kelud, menggunakan jurus teleportasinya.


Dan singkat cerita, saat Begawan winara telah sampai di medan perang tersebut, beliau segera menolong dan membantu Mahapatih Damar Wijaya yang sedang bertarung melawan Maharaja Sabda Wijaya.


Tapi saat itu, Begawan winara agak kesulitan untuk bisa membantu Mahapatih Damar Wijaya, sebab musuhnya yaitu Maharaja Sabda Wijaya adalah seorang Ksatria tipe petarung jarak jauh.


Sedangkan Begawan winara adalah Ksatria tipe petarung jarak dekat.


Maka dari itu kedua Ksatria tersebut yaitu Mahapatih Damar Wijaya dan Begawan winara, merencanakan suatu strategi untuk bisa mengalahkan Maharaja Sabda Wijaya.


Lalu Begawan winara segera mengeluarkan ajian Gajah Mungkur nya.


Tanpa basa-basi Begawan winara, meningkatkan ajian gajah mungkur nya ke level tertinggi, yaitu level 7.


Dengan ajian Gajah Mungkur level tersebut, Begawan winara bisa menghancurkan apa saja yang dia inginkan.


Kedua tangan Begawan winara menyala merah seperti Magma yang berasap.

__ADS_1


Itulah kekuatan tingkat tertinggi dari aji Gajah Mungkur, milik Begawan Winara.


Kemudian di sisi lain, Senopati bala warman yang sedang bertarung menghadapi Maharaja Arya Wijaya, ia mengalami tekanan dari Maharaja tersebut.


Tapi di saat dia, yaitu Senopati bala Warman akan dihabisi oleh Maharaja Arya Wijaya menggunakan kekuatan elemen api hitam, tiba-tiba tanpa disadari Senopati bala Warman, mendengar suara adiknya yang telah tiada ya itu Senopati bala Marwan.


"Kanda bala Warman, teruskan perjuangan kita, aku sangat mengandalkanmu", Senopati bala Marwan yang telah tiada, berkata di dalam hati kakaknya tersebut yaitu Senopati bala warman.


Setelah mendengar perkataan adiknya tersebut, Senopati bala warman yang telah kehabisan tenaga atau Cakra.


Tiba-tiba Senopati bala Warman berteriak sekencangnya, karena dia menahan Gejolak sesuatu kekuatan yang tanpa disadari, Kekuatan itu terus bertambah dan bertambah dalam tubuh Senopati tersebut, ya itu Senopati bala warman.


Ternyata saat ini kekuatan Senopati bala warman telah berlipat ganda.


Pada mulanya Dia tak menyadari hal tersebut, sampai tiba waktu saat dia merasakan keanehan dalam dirinya, baru dia menyadari bahwa kekuatannya telah berlipat ganda.


Lalu Senopati bala warman teringat, ternyata adiknya yaitu Senopati bala Marwan, telah memberikan semua kekuatan dan kesaktiannya pada dirinya.


Hal tersebut dilakukan saat Senopati bala Marwan masih hidup, dia mementalkan kakaknya yaitu Senopati bala Warman menggunakan ajian bayu bajra, saat akan menolong dirinya waktu akan dihabisi oleh Maharaja Arya Wijaya, menggunakan kekuatan elemen api hitam.


Ternyata Senopati bala Marwan saat mementalkan kakaknya tersebut, dia sekaligus menyalurkan semua kekuatan dan kesaktiannya kepada kakaknya itu.


Saat ini Senopati bala Warman semakin percaya diri, dengan kekuatan dan kesaktian.


"Terima kasih adikku bala Marwan, dengan kekuatan dan kesaktian yang kau berikan, aku sebagai kakakmu akan membalaskan dendammu", Senopati bala Warman berkata.


Dengan bergabungnya kedua kekuatan dan kesaktian pada diri Senopati bala Warman, kini dirinya memiliki dua kekuatan elemen alam, yaitu elemen petir dari ajian Amukti raksa dan elemen angin dari ajian Bayu bajra.


Kemudian Maharaja Arya Wijaya saat mengetahui bahwa lawannya yaitu Senopati bala Warman, mendapatkan kekuatan dan kesaktian tambahan, akhirnya dia memperkuat elemen api hitamnya untuk menghancurkan lawannya tersebut.


Lalu api hitam itu membentuk sebuah naga hitam, dan langsung menyerang Senopati bala Warman.


Saat Senopati bala Warman Mengetahui hal itu, dia segera menggabungkan kedua kekuatan elemen alam tersebut, yaitu elemen petir dan elemen angin.


Dari kedua gabungan elemen tersebut, terbentuklah pusaran angin yang dialiri petir dengan daya kekuatan yang luar biasa.

__ADS_1


Kemudian pusaran angin itu dia hempaskan, ke arah naga hitam yang akan menyerangnya.


Dan ternyata tak disangka, pusaran angin itu dapat mengungguli naga hitam tersebut.


Lalu saat pusaran angin itu berhasil menghancurkan naga hitam.


Kemudian pusaran angin tersebut menghujam hebat ke arah Maharaja Wijaya.


Saking cepatnya pusaran angin tersebut Menghujam kepada Maharaja Arya Wijaya, sampai Maharaja Arya Wijaya tak sempat membentengi dirinya, karena kalah cepat dengan pusaran angin itu.


Dan akhirnya pusaran angin itu menghantam begitu hebatnya kepada Maharaja Wijaya.


Tapi apa daya, ternyata tubuh Maharaja Arya Wijaya tidak bisa menahan kekuatan dari pusaran angin tersebut, yang menghantam dirinya.


Sehingga tubuh Maharaja Arya Wijaya hancur dan kepalanya terlepas dari badannya.


Tapi meski mengetahui hal tersebut, Senopati bala Warman tetap Waspada, dia menyiapkan serangan kedua, untuk menyerang Maharaja Arya Wijaya, jika Maharaja Arya Wijaya bangkit kembali.


"aku harus waspada, aku tak boleh lengah, jika kau bangkit lagi, akan kuserang kau dengan sisa Cakra dan kekuatan yang sama", Senopati bala Warman berkata, sambil nafasnya terengah-engah, Karena untuk mengeluarkan Kekuatan tersebut dia membutuhkan banyak Cakra.


Beberapa saat kemudian tiba-tiba keluarlah rambut Begawan Sakti Ludoyo, dari kepala Maharaja Arya Wijaya yang telah lepas dari badannya.


Lalu rambut tersebut tiba-tiba terbakar hangus.


Dan Maharaja Arya Wijaya yang tubuhnya Sudah terpisah menjadi beberapa bagian, tiba-tiba berubah ke wujud semula yaitu wujud pasukan manusia tanah.


Sontak Hal itu membuat Senopati bala Warman terkejut dan juga bahagia, sebab Dia tidak menyangka, bahwa ternyata dirinya bisa mengalahkannya.


"Dinda bala Marwan, Lihatlah aku telah membalaskan dendammu", kata Senopati bala Warman.


Lalu dengan sisa Cakra yang dia miliki, Senopati bala Warman segera bergegas untuk membantu para Ksatria yang lainnya.


Kini dengan hancurnya Maharaja Arya Wijaya, membuat beban para Ksatria sedikit berkurang.


Tapi meskipun begitu, para Ksatria masih harus melawan para musuh-musuh yang sangat hebat dan kuat.

__ADS_1


Para Ksatria terus berjuang keras untuk kemenangan peperangan tersebut, meskipun nyawa sebagai taruhannya.


Semangat para Ksatria tak akan pernah pudar, walau darah sampai bercucuran.


__ADS_2