
Lalu Pangeran Gunawijaya beserta pengawalnya sudah tiba dikerajaan suryaloka, tapi ia tak menunggu lama disana, ia langsung pergi menuju medan perang karang menjangan karena ia telah diberi tahu oleh adiknya yaitu Putri Kumalawijaya bahwa penyerbuaan suryaloka kepada karang menjangan sudah dilancarkan dan peperanganpun sudah terjadi, maka dari itu Pangeran Gunawijaya segera begegas menuju kemedan perang tersebut bersama para pengawalnya yaitu Pangeran Jatiwijaya, Jatmiko dan Kedasih.
"Ayo semuanya, percepat laju kuda kalian, kita harus segera sampai kemedan perang karang menjangan secepatnya!", kata Pangeran Gunawijaya dengan penuh semangat.
Kemudian dimedan perang, kubu karang menjangan yang mengalami banyak korban dari pihak pasukannya, Adipati Burhansangkala segera turun tangan kemedan perang bersama pasukan cadangannya.
"Pasukan seraaang!", teriak Adipati Burhansangkala.
Lalu begawan Winara yang mengetahuinya, ia juga segera turun kemedan perang bersama para prajurit cadangannya juga.
"Pasukan seraaang!", perintah begawan Winara sebagai panglima perang suryaloka.
__ADS_1
Kemudian pertarungan kedua senopati Sandiaga melawan senopati Barda masih berjalan dengan sengit, kedua senopati yang sama-sama berubah menjadi manusia harimau saling serang dan saling cabik-mencabik menggunakan cakarnya, tapi tubuh mereka berdua sangat kuat, meski saling mencabik menggunakan cakar mereka, tubuh mereka tak tergores sedikitpun. Bukan hanya itu saja, kedua senopati yang berubah wujud menjadi harimau keduanya saling memiliki ajian pamungkas yang diberi oleh pengasuhnya yaitu begawan Winara yang mengasuh senopati Sandiaga sejak kecil, Beliau memberikan ajian Tapak Lawu, siapapun yang terkena ajian itu dia akan mati dalam hitungan beberapa menit karena ajian tapak lawu adalah sejenis pukulan beracun yang tidak bisa disembuhkan kecuali harus meminum darah yang mempunyai ajian tersebut, sebab hanya darahnya yang bisa menjadi obat penawar racunnya.
Lalu senopati Barda yang diasuh oleh mendiang senopati Baskoro sejak kecil, ia diberi ajian Senggoro Macan, kesaktian ajian itu membuat auman senopati Barda yang telah berubah wujud menjadi manusia harimau akan mengeluarkan energi atau gelombang panas yang bisa membakar tubuh seseorang sampai meleleh hanya dengan hitungan beberapa menit juga. Pada saat itu dalam pertarungan mereka berdua yaitu senopati Sandiaga melawan senopati Barda, masing-masing belum ada yang mengeluarkan ajian pamungkas tersebut karena ajian itu tidak untuk sembarangan dikeluarkan.
Lalu senopati Sandiaga yang unggul dalam bela diri, dia tiba-tiba dengan cepat mendesak senopati Barda hingga dia hampir kuwalahan, tapi senopati Barda bisa mengatasinya hanya dengan bertahan, waktu itu disaat ada celah senopati Sandiaga berhasil menyerang dengan tendangan serkelnya hingga senopati Barda terpental. Kemudian senopati Barda yang tidak terima karena telah terkena serangan itu, tiba-tiba dia mengeluarkan auman saktinya yaitu ajian senggoro macan, auman itu keluar dengan cepat sehingga senopati Sandiaga tidak sempat menghidar dengan sempurna, akhirnya lengan kiri senopati Sandiaga terkena auman sakti tersebut sehingga lengan kiri senopati Sandiaga terbakar.
Untung saja tubuh senopati Sandiaga sangat kuat karena dia telah berubah menjadi wujud manusia harimau, jadi luka bakar akibat serangan auman sakti milik senopati Barda hanya berdampak seperti itu saja, mungkin jika senopati Sandiaga masih dalam wujud manusianya bisa-bisa lengan kirinya akan meleleh terbakar. Dengan keadaan luka bakar seperti itu, akhirnya gerak senopati Sandiaga jadi berkurang, sekarang dia yang terkena tekanan dari senopati Barda, disamping dia harus menghindari auman sakti senopati Barda yang telah menggunakan ajian senggoro macan, senopati Sandiaga juga harus menahan setiap serangan jurus-jurus bela diri dari senopati Barda juga.
Lalu pasukan khusus prajaloka dari kubu suryaloka berhasil membuat pasukan khusus garda sura dari kubu karang menjangan terdesak dan banyak jatuh korban karena meski sama-sama hebat, tapi dari segi setamina pasukan khusus prajaloka lebih unggul sebab pemimpin mereka yaitu begawan Winara telah melatihnya dengan sangat keras dan disiplin, sedangkan senopati Kolonggo sebagai pimpinan pasukan khusus garda sura selama ini kebanyakkan sibuk menghasut Adipati Burhansangkala dan dia lalai dalam mengurus pasukan khusus garda sura, maka dari itu kemampuan pasukan khusus garda sura mengalami penurunan. Dulu saat pasukan khusus garda sura dipegang kendali oleh mendiang senopati Baskoro Ayah dari senopati Kolomonggo, pasukan tersebut sangat kuat dan tangguh.
Kemudian sesosok misterius yang bertarung dengan Maha Patih Damarwijaya dan Pangeran Gunturwijaya, ia bisa dengan mudah mengalahkan kedua kesatria hebat suryaloka itu hanya dengan bela dirinya, tapi meski Maha Patih Damarwijaya dan Pangeran Gunturwijaya kalah karena tidak bisa menandingi kemampuan bela diri sesosok misterius, mereka berdua tidak menyerah begitu saja, akhirnya Maha Patih Damarwijaya mengeluarkan kesaktiannya yaitu aji Brata yang sangat terkenal didunia persilatan dan kekuatan dari aji Brata yang sangat luar biasa yaitu bisa mengendalikan alam, sedangkan Pangeran Gunturwijaya akhirnya mengeluarkan kekuatannya juga hasil dari latihannya selama ini, ia mengembangkan pukulan halilintarnya sehingga menjadi ajian Guntur Saketi yang sangat dahsyat karena kekuatan ajian guntur saketi tiga kali lipat lebih kuat dari kekuatan pukulan halilintar, jika ajian itu digunakan kedua lengan tangan Pangeran Gunturwijaya akan mengeluarkan percikan kilat-kilat merah yang memancar bagai aliran listrik, dan bisa mempercepat gerak fisik pemiliknya hingga tiga kali lipat juga.
__ADS_1
Dengan begitu sesosok misterius baru bisa terdesak oleh serangan kombinasi Maha Patih Damarwijaya yang menggunakan aji brata dan Pangeran Gunturwijaya yang menggunakan ajian guntur saketi. Maha Patih Damarwijaya dengan mudah mengendalikan alam seperti angin, api, air, tanah dan sebagainya untuk menyerang sesosok misterius, sedangkan Pangeran Gunturwijaya dengan sangat cepat ia menyerang sesosok misterius dengan aji guntur saketinya sehingga sesosok misterius kuwalahan dibuatnya sampai ia banyak terkena serangan dari kedua kesatria hebat tersebut yaitu Maha Patih Damarwijaya beserta Pangeran Gunturwijaya yang menggunakan ajiannya tersebut.
Akhirnya saking hebatnya serangan kombinasi tersebut sehingga sesosok misterius tak sanggup menahannya, ia pun merasa dirinya tak akan bisa selamat dari serangan kombinasi itu. Setelah beberapa menit sesosok misterius terkena serangan kombinasi dari Maha Patih Damarwijaya beserta Pangeran Gunturwijaya, lalu ia pun sampai muntah darah karena tubuh kebalnya dengan ilmu Tameng Wojo tak sanggup menahan serangan kombinasi tersebut, padahal ilmu tameng wojo adalah ilmu kekebalan tingkat tinggi milik sesosok misterius, tapi jebol juga akibat serangan kombinasi aji brata beserta aji guntur saketi dan pada akhirnya sesosok misteriuspun meregang nyawa atau mati akibat serangan tersebut.
"Paman Patih, apakah dia benar-benar sudah mati?", kata Pangeran Gunturwijaya pada pamannya yaitu Maha Patih Damarwijaya.
Pada saat mereka berdua yaitu Pangeran Gunturwijaya dan Maha Patih Damarwijaya yakin bahwa sesosok misterius itu telah mati, tiba-tiba kabut yang menyelubungi tubuh sesosok misterius itu hilang dan lenyap seketika. Kemudian Maha Patih Damarwijaya sangat terkejut melihat wujud sesosok misterius itu yang sebenarnya.
"Apa!, ini tidak mungkin, apa aku salah melihatnya, apakah ini wujud sesosok misterius yang sebenarnya", Maha Patih Damarwijaya yang sangat terkejut.
"Ada apa paman Patih, kenapa paman Patih sangat terkejut melihat wujud dia yang sebenarnya?!", tanya Pangeran Gunturwijaya dengan sangat penasaran pada Maha Patih Damarwijaya.
__ADS_1
Akhirnya Maha Patih Damarwijaya menjelaskan pada Pangeran Gunturwijaya tentang siapa yang sebenarnya sesosok misterius itu. Lalu Maha Patih Damarwijaya berkata bahwa sesosok misterius yang selama ini dia selalu menyembunyikan identitasnya dengan menyelubungi tubuhnya menggunakan kabut hitam itu sebenarnya dia adalah Pangeran Muradwijaya putra dari seorang selir mendiang Maha Raja Sabdawijaya, berarti dia adalah paman dari Pangeran Gunturwijaya juga karena mendiang Maha Raja Sabdawijaya adalah kakek dari Pangeran Gunturwijaya.
Setelah Pangeran Gunturwijaya mengetahui siapa sebenarnya sesosok misterius itu, ia juga sangat terkejut dibuatnya. Kemudian disaat Maha Patih Damarwijaya beserta Pangeran Gunturwijaya masih sangat terkejut dan sangat tidak menyangka dengan apa yang mereka lihat, tiba-tiba sesosok misterius atau Pangeran Muradwijaya hidup kembali dari kematiannya dengan menggunakan ilmu keabadian yaitu Pancasona.