
Kemudian setelah acara makan malam usai, Mahapatih Damarwijaya mengajak ngobrol kedua senopati Sandiaga dan Barda untuk menceritakan kronologi tentang masa lalunya, kenapa mereka berdua bisa sampai sesukses ini menjadi seorang senopati di suryaloka.
Akhirnya kedua senopati tersebut menceritakan tentang perihal masa lalunya itu kepada Mahapatih Damarwijaya dan disaksikan juga oleh keluarga besar Wijaya yang lainnya.
Setelah kedua senopati itu usai bercerita tentang masa lalunya, Mahapatih Damarwijaya dan juga Pangeran Jatiwijaya semakin kuat dugaan mereka kalau kedua senopati tersebut adalah putra dari ki Maung.
Kemudian jika dari cerita kedua senopati itu bahwa mereka sebenarnya adalah anak buangan, lalu apa penyebab mereka dibuang oleh keluarga nya.
Kedua senopati tersebut menjawab bahwa dalam dirinya dulu ada keanehan, jika mereka sedang emosi, mereka akan berubah menjadi manusia harimau yang sangat liar dan tak terkendali.
Sampai sampai ibu mereka berdua jadi korban keganasan dan keliaran mereka saat mereka menjadi manusia harimau, maka dari itu, ayah mereka membuang mereka berdua demi keamanan bersama.
Tapi untung saja sekarang ini mereka berdua bisa mengendalikan diri jika berubah wujud menjadi manusia harimau.
Itu semua berkat kedua kesatria hebat suryaloka yaitu begawan Winara dan mendiang senopati Baskoro.
Senopati Sandiaga di didik oleh begawan Winara di kerajaan suryaloka, sedangkan senopati Barda di didik oleh mendiang senopati Baskoro di kadipaten karang menjangan yang masih dibawah kekuasaan kerajaan suryaloka.
Dan akhirnya senopati Sandiaga kakak dari senopati Barda berkata bahwa mereka berdua sebenarnya berasal dari suku Nam, penduduk lokal giritunggal.
Terjawab sudah dugaan Mahapatih Damarwijaya dan Pangeran Jatiwijaya tentang asal usul kedua senopati tersebut yaitu senopati Sandiaga dan juga senopati Barda.
Akhirnya pada waktu itu juga Mahapatih Damarwijaya menyatukan sebuah hubungan antara ayah dan anak yang sudah sangat lama tak pernah kertemu, yaitu antara ki Maung dan kedua putranya yaitu senopati Sandiaga dan senopati Barda.
Di kerajaan suryaloka suasana malam itu sangat haru, hujan air mata membasahi pipi sang ayah dan anak-anaknya yang telah lama berpisah.
Ki Maung dan kedua putranya yaitu senopati Sandiaga dan senopati Barda, mereka tak menyangka bisa berjumpa kembali setelah sekian lamanya berpisah.
Ki Maung sangat bahagia sekali dimasa tuanya dia bisa berjumpa lagi dengan kedua putranya tersebut.
Ki Maung juga sangat bangga karena kedua putranya bisa menjadi seorang senopati di suryaloka.
Ki Maung tak lupa juga, dia mengucapkan banyak banyak terimakasih kepada Mahapatih Damarwijaya dan juga kepada Pangeran Jatiwijaya atas usahanya yang sudah menyatukan dia bersama anak-anaknya tersebut.
Dengan begini janji seorang Pangeran Jatiwijaya sudah terpenuhi yaitu membantu ki Maung mencari kedua putranya tersebut yang telah lama pisah.
__ADS_1
Kemudian ki Maung berpesan kepada kedua putranya itu, agar selalu tunduk patuh dan Setia pada suryaloka yang telah membesarkan mereka berdua selama ini.
Dan kedua putranya tersebut akan selalu memegang Teguh pesan yang telah ayah mereka berikan.
Kedua senopati itu tak akan pernah berhianat pada suryaloka, jiwa dan raganya hanya untuk mengabdi pada bumi pertiwi suryaloka.
Mendengar perkataan dari kedua putranya tersebut, ki Maung merasa lega dan bangga pada mereka.
Kemudian haripun mulai semakin malam, saat semua orang sudah pada beristirahat untuk tidur malam, Kedasih yang berada di kamarnya sedang melamun karena tak bisa tidur.
Dalam benak pikiran Kedasih, dia membayangkan kehadiran Pangeran Gunawijaya di sisinya.
Dan tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya Kedasih sedang jatuh Cinta pada Pangeran Gunawijaya sejak pertama kali dia ketemu.
Lalu dengan kepergian Pangeran Gunawijaya ke kahyangan, membuat hari hari Kedasih merasa sepi.
Kedasih berharap bahwa Pangeran Gunawijaya secepatnya kembali, agar bisa berkumpul lagi bersamanya.
Lalu Kedasih akhirnya keluar kamarnya karena dia merasa jenuh berada didalam sana.
Dia berjalan kaki sendirian menyusuri istana suryaloka yang begitu besarnya.
Dan dia berpapasan dengan beberapa prajurit penjaga istana.
"Maaf neng, kenapa malam malam gini belum tidur, malah keluar kamar sendirian", tanya salah satu prajurit tersebut kepada Kedasih.
"Ya nih, soalnya saya lagi tidak bisa tidur", jawab Kedasih sembari tersenyum pada prajurit itu.
"Ya sudah, hati hati ya neng, saya tinggal dulu", kata prajurit.
Kemudian Kedasih meneruskan perjalanannya itu.
Sampai pada disuatu tempat yang Indah di istana tersebut, tempat itu adalah taman yang biasa dikunjungi oleh keluarga besar Wijaya.
Kedasih rasanya ingin sekali masuk ketaman itu, tapi disitu tertulis taman khusus keluarga besar Wijaya.
__ADS_1
Maka dari itu Kedasih mengurungkan niatnya tersebut, dan dia akan segera kembali ke kamarnya.
Saat Kedasih akan melangkah untuk kembali masuk ke dalam istana suryaloka, tiba-tiba terdengar suara, "hentikan langkahmu Kedasih".
Kedasih merasa bahwa suara itu berasal dari arah belang dia.
Kemudian dengan hati was was, Kedasih segera membalikkan badan dan melihat siapa sebenarnya orang yang telah berkata padanya itu.
Saat Kedasih menoleh kebelakang, ternyata orang yang berkata itu adalah Pangeran Jatiwijaya.
Lalu Kedasih bingung, kenapa Pangeran Jatiwijaya bisa tahu keberadaan dirinya ditempat tersebut.
Kemudian Pangeran Jatiwijaya berkata bahwa dirinya tadi berada ditaman keluarga, dan dia melihat dari kejauhan sepertinya ada sosok perempuan, lalu Pangeran Jatiwijaya berusaha mendekatinya, saat didekati ternyata itu adalah Kedasih.
Lalu Kedasih bertanya, kenapa malam malam begini Pangeran Jatiwijaya berada ditaman tersebut.
Pangeran Jatiwijaya menjawab bahwa malam ini dia susah sekali untuk bisa tidur, maka dari itu dia ingin menenangkan diri ditaman tersebut.
"Ayo Kedasih, ikut saya", Pangeran Jatiwijaya tiba-tiba menarik tangan Kedasih karena akan dia ajak jalan jalan ditaman itu.
"Tapi Pangeran, taman itu kan hanya untuk keluarga besar Wijaya saja", Kedasih merasa takut saat akan diajak ketaman tersebut.
Akhirnya Kedasih tak bisa menolak ajakan itu, mereka berdua masuk kedalam taman itu dan menikmati indahnya malam bersama.
"Indah sekali taman ini Pangeran, hamba baru kali ini melihat taman seindah ini Pangeran", kata Kedasih kepada Pangeran Jatiwijaya.
Pangeran Jatiwijaya tersenyum saat Kedasih berkata seperti itu.
Singkat cerita keesokan harinya, Pangeran Jatiwijaya beserta rekan-rekannya berpamitan pada keluarga kerajaan, bahwa mereka akan meneruskan perjalanan misi tersebut.
"Berhati-hatilah putraku Jatiwijaya, semoga kau berhasil dalam mengemban misi itu, dan semoga kalian semua selamat", Mahapatih Damarwijaya mendoakan putra dan juga para kesatria kesatria yang lainnya.
Akhirnya para rombongan kesatria kesatria tersebut berangkat meneruskan perjalanan misi yang mereka emban.
Mereka semua akhirnya berangkat dengan menaiki kereta kuda, dan seperti biasa, Sanjaya dan Mandala sebagai kusirnya secara bergantian.
__ADS_1
Lalu tanpa diduga, tiba-tiba muncul lah seseorang menghadang laju kereta kuda para kesatria kesatria itu.
Sungguh sangat terkejut lah para kesatria kesatria tersebut melihat seseorang yang telah menghentikan laju kereta kudanya itu.