
Beberapa saat kemudian Sanjaya dan Mandala sudah sampai di kerajaan giriseta, mereka berdua menghadap Raja Dasabirawa dan menyampaikan pesan dari Pangeran Jatiwijaya kepada Beliau yaitu Raja Dasabirawa.
Raja Dasabirawa sangat geram mengetahui kabar dari pesan tersebut.
"Kurangajar...!!, kenapa selama ini kita tidak tahu adanya kejahatan macam ini di salah satu wilayah giriseta", amarah Raja Dasabirawa.
"Saya Raja Dasabirawa sangat berterimakasih banyak kepada Pangeran Jatiwijaya karena telah mengutus kalian berdua untuk menyampaikan pesan ini kepada saya", kata Raja Dasabirawa pada Sanjaya dan juga Mandala.
"Senopati Sumitro, bawa pasukanmu dan hancurkan kejahatan kepala desa sentong sekarang juga!", parintah Raja Dasabirawa kepada punggawanya.
Kemudian senopati Sumitro dengan membawa para pasukannya segera bergegas kedesa sentong beserta kedua kesatria hebat yaitu Sanjaya dan juga Mandala, untuk menghancurkan kejahatan kepala desa durjana yaitu pak Ujang.
Kemudian didesa sentong ki Maung masih mendapat perawatan dari Kedesih karena kondisinya masih lemah sehabis bertarung dengan pak Ujang. Sedikit banyak Kedasih tahu ilmu pengobatan yang di warisi oleh keluarga nya, maka dari itu Kedasih memberanikan diri untuk merawat luka ki Maung.
Lalu Pangeran Jatiwijaya berkata pada para kesatria yaitu Jatmiko, Kedasih, kedua senopati Balawarman dan Balamarwan dan juga pada ki Maung beserta kedua muridnya yaitu Harun dan Untung, agar semuanya sabar menunggu kedatangan Sanjaya dan juga Mandala, sebab tidak benar jika tiba-tiba mereka langsung menyerbu pak Ujang tanpa perintah dari penguasa giriseta yaitu Raja Dasabirawa.
Sedangkan saat ini pak Ujang sangat ketar ketir dengan nasibnya, karena ternyata didesa sentong ada kesatria hebat yang bisa mengalahkannya. Tiba-tiba ada salah satu anak buahnya melapor padanya, bahwa ada sekumpulan para pendedar disalah satu penginapan didesa sentong yang berniat akan menghancurkan dirinya yaitu pak Ujang.
Dari laporan tersebut, pak Ujang segera mengumpulkan semua para anak buahnya untuk bersiaga dirumahnya, karena pak Ujang yakin bahwa akan ada perlawanan dari para pendekar pendekar tersebut pada dirinya, dan pak Ujang tahu bahwa tujuan dari perlawanan mereka adalah untuk menghancurkan kejahatannya yang selama ini dia lakukan pada warga desa sentong.
Lalu mengetahui situasi sudah genting, pak Ujang sikepala desa durjana itu melakukan ritual untuk memanggil junjungannya yang selama ini dia puja yaitu nyi Rongkeh.
__ADS_1
Nyi Rongkeh adalah Ratu buto ijo, dialah yang memberi kekayaan dan kesaktian pada pak Ujang selama ini. Dan sebagai syarat pak Ujang harus meniduri para gadis-gadis tiap tiga hari sekali, karena semakin sering pak Ujang meniduri para gadis, semakin sakti dia, dan semakin sering pak Ujang memberi tumbal bayi kepada nyi Rongkeh, semakin kaya dia.
Maka dari itu pak Ujang harus banyak meniduri para gadis-gadis, agar mereka hamil dan melahirkan banyak bayi untuk dijadikan tumbal pesugihan pada nyi Rongkeh Ratu buto ijo.
Kemudian datanglah nyi Rongkeh dihadapan pak Ujang saat dia melakukan ritual untuk memanggilnya. Ritual tersebut pak Ujang lakukan di ruangan khusus yang dia siapkan didalam rumahnya.
Istri dan anak-anaknya tidak berani membangkang pada pak Ujang, mereka hanya berdiam diri melihat tidakkan pak Ujang yang sedemikian itu.
Nyi Rongkeh bertanya ada apa gerangan pak Ujang memanggil dia? Lalu pak Ujang menjawab bahwa dirinya saat ini sedang dalam bahaya, dia ingin meminta pertolongan pada nyi Rongkeh.
Akhirnya nyi Rongkeh memberinya sebutir telur berwarna hijau untuk dimakan pak Ujang disaat dia sangat terdesak.
Pak Ujang berterimakasih banyak kepada nyi Rongkeh, tapi sebagai imbalannya, nyi Rongkeh meminta hati anak sulungnya pak Ujang untuk dia makan.
Istri pak Ujang tak kuasa melihat hal tersebut, dia menangis histeris karena kematian anak sulungnya tersebut yang telah dibunuh oleh ayahnya sendiri yaitu pak Ujang demi sebutir telur sakti tersebut.
Setelah itu pak Ujang semakin yakin dia bakal tak terkalahkan oleh siapapun, lalu dia menahan istri dan anak bungsunya didalam sebuah gudang, agar mereka tidak kabur meninggalkannya.
Keesokan harinya Sanjaya dan Mandala telah datang bersama senopati Sumitro beserta para pasukannya. Kedatangan mereka semua disambut oleh Pangeran Jatiwijaya di penginapan yang ia singgahi.
Lalu mereka semua para kesatria berunding akan tujuannya untuk menghancurkan pak Ujang, didalam perundingan tersebut Pangeran Jatiwijaya memanggil pak Subur sekeluarga untuk dijadikan saksi pada senopati Sumitro akan kekejaman pak Ujang pada dirinya terutama pada anak perempuannya yang bernama Murni.
__ADS_1
Setelah pak Subur banyak bercerita tentang kekejaman pak Ujang kepala desa biadab tersebut pada senopati Sumitro, kini pihak giriseta semakin yakin atas kejahatan didesa sentong yang dilakukan oleh kepala desanya sendiri sampai sekian lamanya.
Waktu itu Pangeran Jatiwijaya tidak hanya memanggil pak Subur sekeluarga untuk jadi saksi, tapi ia juga memanggil para warga yang lainnya juga yang jadi korban kebiadaban pak Ujang.
Para warga desa sentong sangat bahagia sekali karena kejahatan pak Ujang akan di hancurkan oleh para kesatria tersebut, maka dari itu para warga sangat antusias sekali mendukung misi yang akan dilakukan oleh para kesatria hebat tersebut yaitu misi menghancurkan kebiadaban pak Ujang si kepala desa durjana.
Kemudian pihak kerajaan giriseta yang diwakili oleh senopati Sumitro, menyerahkan kepemimpinan dalam mengemban misi tersebut kepada Pangeran Jatiwijaya, dengan senang hati Pangeran Jatiwijaya menerima mandat tersebut.
"Baiklah, pertama tama kita kumpulkan dulu seluruh warga desa sentong untuk berkumpul disatu tempat yang aman dan harus ada perlindungan dari kita, sebab jangan sampai pihak pak Ujang menculik salah satu dari mereka untuk dijadikan sandera, demi untuk membuat kita menyerah kalah padanya", perintah Pangeran Jatiwijaya.
"Rencana yang Bagus Pangeran, dengan begini, kita bisa membuat penjahat itu tidak punya celah untuk bisa melumpuhkan kita menggunakan salah satu warga", jawab senopati Sumitro pada Pangeran Jatiwijaya.
Lalu para pasukan giriseta mengumpulkan para warga desa tersebut disatu tempat yang telah ditentukan oleh Pangeran Jatiwijaya.
Haripun tak terasa sudah semakin sore, dan para warga sudah dikumpulkan atau dievakuasi semua ditempat yang telah ditentukan. Dan ditempat tersebut mendapat penjagaan yang ketat dari para pasukan giriseta dan juga para warga laki-laki yang juga ikut serta mengamankan tempat tersebut menggunakan senjata tajam yang merekalawannya.
Setalah evakuasi warga sudah selesai, kemudian Pangeran Jatiwijaya membagi tiga regu pasukan.
Pertama, pasukan penjaga warga tidak boleh lengah dari tempat tersebut, harus konsisten menjaga warga.
Kedua, pasukan pemukul atau penyerang yang akan menghancurkan lawannya.
__ADS_1
Ketiga, pasukan cadangan yang sewaktu-waktu dibutuhkan harus datang membantu siapapun yang membutuhkan bantuan, entah itu pasukan pertama ataupun pasukan kedua.
Sebab dalam perang untuk memenangkan pertempuran harus dipersiapkan terlebih dulu rencana dan strateginya, itulah yang di pikirkan oleh Pangeran Jatiwijaya.