PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
23. Raja Dasabirawa turun tangan


__ADS_3

Kemudian hujanpun turun membasahi bumi, dan Pangeran Gunawijaya berteduh disebuah gubuk beserta para pengawalnya, dan ia bertanya pada Kedasih apakah dia benar benar tidak menyesal ikut serta dalam perjalanan yang penuh resiko tersebut. Kedasih menjawab tanpa ragu bahwa hal itu sudah jadi suatu keputusan yang tepat tanpa ada penyesalan. Lalu Kedasih bertanya pada Pangeran Gunawijaya tentang perihal apa yang akan dikatakan olehnya sewaktu dipadepokan maharesi Brata, sebab Kedasih sangat penasaran sekali akan hal tersebut?


"Maaf Pangeran Gunawijaya, kalau boleh tahu sebenarnya apa yang ingin Pangeran Gunawijaya katakan sewaktu dipadepokan Maha Resi Brata?", Tanya Kedasih yang sangat penasaran.


Pangeran Gunawijayapun tersenyum memandang Kedasih, dan ia bilang?


"Saya kan sudah menjawabnya barusan, apa perlu saya ulangi lagi jawaban itu?".


"Oh jadi Pangeran Gunawijaya hanya ingin bertanya seperti itu waktu berada dipadepokan Maha Resi Brata?", Sahut kedasih yang tak menyangka, sebab Kedasih mengira bahwa Pangeran Gunawijaya naksir padanya.


Lalu mendengar dan melihat Kedasih berkata, Pangeran Gunawijaya hanya tersenyum manis padanya. Kemudian Pangeran Jatiwijaya yang mendekati Pangeran Gunawijaya, ia berkata?


"Hayooo ada apa ini dengan Kanda Pangeran Gunawijaya, kok sepertinya sedang asyik ngobrol sama Kedasih, atau jangan-jangan ada yang disembunyikan dari kami ya?", Candaan Pangeran Jatiwijaya.


"Ihhh apaan sih Pangeran Jatiwijaya, kami ini cuma ngobrol biasa saja kok, tanya saja pada Pangeran Gunawijaya kalau Pangeran Jatiwijaya tidak percaya?", Sahut kedasih yang tersipu malu akan candaan Pangeran Jatiwijaya.


Pangeran Gunawijaya hanya tersenyum melihat dan mendengar candaan adik sepupunya yaitu Pangeran Jatiwijaya. Kemudian disisi lain Saka beserta anak buahnya segera turun dari kuda tunggangannya untuk segera melawan para prajurit-prajurit yang telah mengepungnya tersebut. Akhirnya terjadilah pertarungan didesa dawung antara Saka dan anak buahnya melawan para prajurit kerajaan himalaya beserta giriseta. Kelompok Saka yang berjumlah sedikit yang tidak sebanding dengan jumlah para prajurit tersebut, mereka bisa menahan serangan dari para prajurit kedua kerajaan tersebut meski mereka sebenarnya kewalahan. Pertarungan yang sangat sengit terus berlangsung, ketua dari para pendekar aliran hitamya itu Saka akhirnya menggunakan kekuatan mata dewanya untuk bisa meredam serbuan dari para prajurit himalaya dan Giriseta. Lalu seketika itu terpentalah sebagian para prajurit prajurit tersebut terkena kekuatan mata dewa milik Saka. Dari sekian banyaknya para prajurit tersebut tak satupun mereka semua dapat menyentuh Saka, justru disaat mereka akan mendekati dan menyerang Saka, mereka semua malah terpental oleh kekuatan mata dewa milik Saka. Bukan hanya itu, anak buah Saka yang bernama Bodas dia mempunyai ilmu kekebalan dan dia juga terkenal akan kekuatannya yang setara dengan Seratus Gajah kalau dia mengamuk. Kemudian para prajurit himalaya dan giriseta dibikin kocar-kacir oleh kekuatan Bodas, banyak prajurit prajurit tersebut tewas akan serangan Bodas. Tapi dari pihak kelompok Saka juga sebagian banyak yang mati karena terkena serangan hujan panah dari para prajurit prajurit tersebut yang mengepungnya.

__ADS_1


"Ketua, kalau keadaannya seperti ini terus, bisa-bisa kita semua akan mati, sebab para prajurit prajurit itu seakan-akan jumlanya tak berkurang sama sekali, malah semakin banyak!?", Bodas yang berbadan tinggi besar berkata pada ketuanya yaitu Saka.


"Kamu benar juga Bodas, kita harus mencari cara supaya kita bisa lari dari kepungan para prajurit prajurit ini, sebab bukan cuma prajurit himalaya yang mengepung kita, tapi juga ada prajurit giriseta yang ikut serta mengepung kita ini", jawab Saka dengan perasaan was was.


Akhirnya Saka menemukan cara agar bisa membuka celah untuk melarikan diri dari kepungan para prajurit-prajurit tersebut?


"Bodas dengan kekuatanmu, segera kau hancurkan para prajurit pemanah itu, biar para prajurit yang lain aku yang urus bersama rekan rekan kita", Perintah Saka.


Akhirnya Bodas yang berbadan tinggi besar segera berlari kearah para prajurit pemanah untuk mengobrak-abrik dan menghancurkan mereka semua. Dengan kekuatan yang setara dengan seratus gajah, Bodas dengan keras memukul tanah sehingga tanah itu berguncang keras kearah para prajurit pemanah dan banyak para prajurit pemanah yang terpental karena imbas dari guncangan tanah yang dipukul oleh Bodas. Kemudian karena ulah serangan Bodas yang menghancurkan hampir seluruh prajurit pemanah, akhirnya jumlah para prajurit prajurit itu makin berkurang karena banyaknya korban diantara mereka yaitu para prajurit gabungan kerajaan himalaya dan giriseta.


"Dengan begini kita punya kesempatan untuk lari dari kepungan para prajurit prajurit ini, karena jumlah mereka sudah berkurang banyak?", Kata Saka kepada para anak buahnya.


Akhirnya Saka bersama anak buahnya berhasil melarikan diri dari kepungan para prajurit gabungan itu dengan menunggangi kuda mereka. Tapi apa daya, disaat mereka hampir keluar dari desa dawung tiba-tiba dari arah berlawanan Raja Dasabirawa beserta Gusti Patih Linduaji datang dengan para prajurit-prajuritnya, Saka bersama anak buahnya tak bisa keluar dari desa itu karena terhadang oleh kedatangan Raja Dasabirawa beserta Gusti Patih Linduaji dengan membawa banyak pasukan atau prajurit.


"Mau lari kemana kau bajingan!, Saat ini kau sudah terkepung, sebentar lagi tamatlah riwayatmu!", Kata Raja Dasabirawa dengan nada tinggi kepada Saka bersama anak buahnya yang telah terkepung.


"Siaaal!, Kita tak bisa lari, terpaksa kita harus bertarung sampai mati disini, apakah kalian semua siap!", Kata Saka pada para anak buahnya.

__ADS_1


"Siap ketua!!!", Jawab anak buah Saka secara serempak.


Kemudian Raja Dasabirawa segera memberikan perintah pada semua prajurit untuk segera menyerang Saka bersama anak buahnya tersebut. Akhirnya terjadilah pertempuran habis-habisan antara sekumpulan pendekar aliran hitam melawan para prajurit gabungan dari kerajaan himalaya dan giriseta. Lalu disisi lain dikadipaten karang menjangan, Raden Mahesasangkala mengirimpakan pesan kepada kerajaan suryaloka mengenai pemberontakkan yang akan dilakukan ayahnya yaitu Adipati Burhamnsangkala. Pesan itu dikirimnya melalui burung elang pengantar pesan yang bisa terbang dengan sangat cepat sehingga pesan itu bisa segera sampai kesuryaloka dengan singkat dan cepat. Setelah Raden Mahesasangkala melepaskan burung elang pengantar surat itu, tiba-tiba senopati Kolomonggo menghampiri Raden Mahesasangkala yang berada diluar puri kahuripan kadipaten karang menjangan?


"Maaf Raden mahesasangkaka, sedang apakah Raden ada diluar puri sendirian?", Tanya senopati Kolomonggo dengan rasa curiga.


"Saya hanya ingin mencari angin segar saja diluar sini, karena terlalu lama didalam puri membuat saya merasa jenuh", jawab Raden Mahesasangkala dengan sangat tenang.


"Oh begitu rupanya, oya Raden, sekarang juga Raden disuruh menghadap Ayahnda Adipati Burhansangkala karena ada sesuatu yang ingin Beliau sampaikan?" Kata senopati Kolomonggo pada Raden Mahesasangkala.


Akhirnya Raden Mahesasangkala segera menghadap Ayahndanya yaitu Adipati Burhansangkala dengan ditemani oleh senopati Kolomonggo. Setibanya disana Adipati Burhansangkala menyampaikan tentang sesuatu hal siapkah putranya itu untuk ikut dalam pemberontakkan yang akan dilakukan oleh Ayahndanya tersebut, karena pemberontakkan itu akan dilancarkan secepatnya. Beberapa lama kemudian burung elang pengantar pesan yang dikirim oleh Raden Mahesasangkala sudah tiba dikerajaan suryaloka karena jarak kadipaten karang menjangan tidak terlalu jauh dari kerajaan suryaloka. Lalu para prajurit yang menerima pesan itu langsung membawa dan menyerahkannya pada Maha Patih Damarwijaya, ternyata isi pesan itu mengatakan bahwa kemungkinan besar pemberontakkan yang akan dilakukan oleh Adipati Burhansangkala kepada suryaloka akan segera dilancarkan secepat mungkin oleh Adipati tersebut, itulah isi pesan yang Raden Mahesasangkala tulis diatas selembar lontar.


Kemudian Maha Patih Damarwijaya yang telah membaca isi pesan tersebut segera mengumpulkan punggawa-punggawa kerajaan untuk mempersiapkan peperangan yang akan terjadi secepatnya. Dilain sisi Pangeran Gunawijaya segera meneruskan perjalanannya dengan para pengawalnya, sebab hujan sudah reda dan mereka semua segera keluar dari gubuk yang mereka singgahi tersebut. Kemudian pertarungan prajurit gabungan himalaya dan Giriseta melawan para pendekar aliran hitam tak kunjung usai, pertarungan tersebut semakin sengit.


"Mohon ampun Raja Dasabirawa, apa tidak sebaiknya kita ikut menyerang meraka?", Kata Gusti Patih Linduaji, dia adalah seorang Patih kerajaan himalaya.


"Tahan dulu Patih Linduaji, kita diam diatas kuda bukan berarti kita menjadi penonton dalam pertarungan ini, tapi lihatlah, kita harus bisa mempelajari gaya bertarung mereka pendekar aliran hitam terutama ketuanya itu yang memiliki kekuatan mata dewa?", Jawab Raja Dasabirawa sambil mengamati setiap gerakan para musuh musuh tersebut.

__ADS_1


Setelah beberapa lama kemudian, Raja Dasabirawa bersama Gusti Patih Linduaji yang sudah mengamati gaya bertarung para musuh-musuh itu, akhirnya mereka berdua melompat dari atas kudanya dan langsung turun tangan bertarung melawan meraka.


__ADS_2