
Kemudian pada saat itu, Senopati bala Warman segera membantu Mahapatih Damar Wijaya, yang sedang berjuang bersama Begawan winara melawan Maharaja Sabda Wijaya.
Pertarungan tersebut sangat sengit, dan masih belum menemukan titik terang untuk bisa mengalahkan Maharaja Sabda Wijaya.
Lalu Mahapatih Damar Wijaya bertanya kepada Senopati bala Warman? Bagaimana dia bisa mengalahkan Maharaja Arya Wijaya, Padahal dia bertarung sendiri setelah kematian adiknya, yaitu Senopati bala Marwan.
Senopati bala Warman menjawab? Bahwa dia telah diberi kekuatan dan kesaktian adiknya tersebut, sehingga dia bisa mengalahkan Maharaja Arya Wijaya.
Kemudian Senopati bala Warman memberitahu, bahwa untuk mengalahkan para raja-raja yang telah dibangkitkan, para raja-raja tersebut harus di penggal kepalanya.
Sebab separah apapun para raja-raja itu terluka, jika kepalanya masih menyatu dengan badannya, mereka akan bangkit kembali dan menjadi lebih kuat.
Jadi jalan satu-satunya untuk bisa mengalahkan mereka, yaitu para raja-raja yang dibangkitkan, harus bisa memisahkan kepala mereka dari badannya.
"jika memang itu jalan satu-satunya, untuk bisa mengalahkan para raja-raja tersebut, berarti kita harus menyusun strategi baru untuk bisa mengalahkannya", Mahapatih Damar Wijaya berkata.
"ya benar Gusti Mahapatih, sebab jika kita hanya bertarung tanpa sebuah strategi, pertarungan kita melawan mereka akan sia-sia", Begawan winara menjawab.
"tapi masalahnya yang kita hadapi sekarang adalah Maharaja Sabda Wijaya, sang pengendali elemen logam, Apakah kita bisa mengalahkan dia semudah itu", Senopati bala Warman agak meragukan situasi tersebut.
"kita masih belum mencoba strategi baru, jika kita ragu melakukannya, mana kita tahu hasilnya Senopati", ucap Mahapatih Damar Wijaya.
"sendiko Gusti Mahapatih, hamba minta maaf atas ucapan hamba barusan", penyesalan Senopati bala Warman.
Kemudian Mahapatih Damar Wijaya akan meniru, apa yang telah dilakukan oleh Senopati bala Warman.
Beliau, Mahapatih Damar Wijaya, pemilik Aji Brata, yang bisa mengendalikan kelima kekuatan elemen alam, ia akan menggabungkan elemen petir dan elemen angin, untuk menghancurkan Maharaja Sabda Wijaya.
Lalu saat Mahapatih Damar Wijaya menyerangnya, Maharaja Sabda Wijaya hanya menahannya menggunakan kekuatan elemen pasir perak.
Ketiga ksatria tersebut yang melihatnya sangat terkejut dibuatnya.
Sebab kekuatan dahsyat itu, oleh Maharaja Sabda Wijaya, hanya ditahan menggunakan kekuatan biasa saja.
Akhirnya Mahapatih Damar Wijaya, selaku penyerangnya mempertanyakan, Kenapa gabungan kekuatan elemen petir dan elemen angin darinya, tidak pengaruh sama sekali kepada Maharaja Sabda Wijaya.
Padahal nyatanya yang dilakukan oleh Mahapatih Damar Wijaya, Sama persis dengan yang dilakukan oleh Senopati bala Warman.
Tapi kenapa hal itu malah sia-sia belaka.
Ternyata jawabannya adalah, saat Senopati bala Warman menghancurkan Maharaja Arya Wijaya, menggunakan kekuatan gabungan dari kedua elemen tersebut, Sebenarnya dia telah mendapatkan kekuatan tambahan dari adiknya yang telah gugur, yaitu Senopati bala Marwan.
__ADS_1
Maka dari itu tanpa disadari, kekuatan Senopati bala Warman, meningkat menjadi dua kali lipat lebih kuat, bahkan lebih, karena menyatunya kedua kekuatan hebat, ke dalam diri Senopati bala warman.
Kemudian melihat situasi tersebut semakin genting, Senopati bala Warman mencoba untuk menggunakan kekuatannya kembali, untuk menghancurkan Maharaja Sabda Wijaya.
Ternyata apa daya, Senopati bala Warman sudah tidak bisa mengeluarkan kekuatan tersebut, karena dirinya telah kehabisan banyak Cakra, sewaktu menggunakan Kekuatan tersebut saat menghancurkan Maharaja Arya Wijaya.
Dengan situasi tersebut, membuat ketiga Ksatria itu, menjadi panik tak menentu.
Sebab segala upaya telah mereka lakukan, untuk mengalahkan Maharaja Sabda Wijaya, tapi ternyata upaya mereka sia-sia.
Maharaja Sabda Wijaya sungguh sangat hebat dan kuat sekali, melebihi Maharaja Arya Wijaya.
"kalau seperti ini terus, bisa-bisa kita yang dihancurkan olehnya", kata Mahapatih Damar Wijaya.
"lantas Bagaimana Gusti Mahapatih", tanya Begawan winara.
"akan ku gunakan ajian Gajah Mungkur, dengan tingkat yang sama seperti ini, ya itu tingkat ketujuh, lalu kita Serang Maharaja Sabda Wijaya menggunakan ajian tersebut", jawab Mahapatih Damar Wijaya.
"ternyata Mahapatih Damar Wijaya, juga bisa meningkatkan ajian Gajah Mungkur nya, sampai ke tingkat tujuh", Begawan winara berkata dalam hatinya.
Beliau, Mahapatih Damar Wijaya, berniat akan menyerang secara langsung Maharaja Sabda Wijaya, dengan serangan jarak dekat.
Dengan gabungan kedua ajian tersebut, Mahapatih Damar Wijaya berharap bisa mengalahkan Maharaja Sabda Wijaya.
Tapi Resiko yang akan di ambil telah di perhitungkan matang-matang oleh Beliau, yaitu Mahapatih Damar Wijaya.
Resiko tersebut ialah, jika menyerang Maharaja Sabda Wijaya dengan jarak dekat, Cakra mereka bisa terserap, jika menyentuh anggota badan dari Maharaja Sabda Wijaya.
Sebab Maharaja Sabda Wijaya, mempunyai ajian jala Sewu.
Kemudian pertarungan pun terjadi.
Tapi saat itu yang maju dan melawan Maharaja Sabda Wijaya, adalah Senopati bara Warman.
Adu kekuatan elemen alam pun terjadi, Senopati bala Warman dengan kekuatan elemen angin dan petirnya, sedangkan Maharaja Sabda Wijaya dengan kekuatan elemen logamnya.
Singkat cerita Senopati bala warman, meski dia sudah diberi kekuatan oleh adiknya tersebut yang telah gugur, tapi dia masih belum sanggup untuk mengalahkan Maharaja Sabda Wijaya.
Saat itu Maharaja Sabda Wijaya, benar-benar menggunakan elemen pasir emas, untuk melawan Senopati bala Warman.
Sebab Maharaja Sabda Wijaya tahu, bahwa untuk melawan Senopati tersebut, tidak cukup menggunakan elemen logam biasa.
__ADS_1
Satu-satunya hanyalah elemen pasir emas, yang bisa menandingi kekuatan dari Senopati tersebut.
Pada saat itu anehnya kedua Ksatria tersebut, yaitu Mahapatih Damar Wijaya dan Begawan winara, mereka berdua hanya menyaksikan pertarungan tersebut.
Lalu hal itu diketahui oleh Maharaja Sabda Wijaya.
Kemudian Maharaja Sabda Wijaya menyerang kedua ksatria tersebut, menggunakan kekuatan elemen pasir emas.
Tapi hal itu dihalau oleh Senopati bala Warman.
Senopati bala Warman menghancurkan elemen pasir emas itu, menggunakan kekuatan elemen petirnya, yang berasal dari ajian Amukti raksa.
Segera saat hal itu terjadi, kedua Ksatria tersebut, Mahapatih Damar Wijaya dan Begawan winara.
Dengan sangat cepat, mereka berdua memberi serangan kejutan kepada Maharaja Sabda Wijaya.
Kedua ksatria tersebut menggabungkan kedua ajiannya, yaitu ajian Gajah Mungkur tingkat tujuh, untuk menyerang Maharaja Sabda Wijaya.
Dengan serangan kejutan itu, Maharaja Sabda Wijaya tak sempat menghindar apalagi berlindung.
Seketika itu, kedua ksatria tersebut, menghantam Maharaja Sabda Wijaya, dengan ajian gajah mungkurnya.
Dengan serangan tersebut, membuat tubuh Maharaja Sabda Wijaya hancur berkeping-keping.
"akhirnya kita berhasil mengalahkannya Mahapatih", Begawan winara berkata.
"ya Begawan, semoga saja kita benar-benar berhasil mengalahkannya", jawab Mahapatih Damar Wijaya.
Tapi saat itu kedua ksatria tersebut, nafasnya sedikit terengah-engah, karena tanpa disadari Cakra mereka telah terserap oleh Maharaja Sabda Wijaya.
Ternyata semua itu adalah strategi dari Mahapatih Damar Wijaya.
Beliau sengaja menyuruh Senopati bala Warman, untuk menyerang Maharaja Sabda Wijaya.
Sedangkan beliau beserta Begawan winara, menunggu momen yang tepat, untuk bisa memberikan serangan kejutan, untuk bisa mengalahkan Maharaja Sabda Wijaya.
Saat itu ketiga ksatria tersebut sangat lega, melihat Maharaja Sabda Wijaya telah mereka kalahkan.
Dengan Hal itu membuat beban mereka sedikit berkurang.
Dan Harapan untuk memenangkan peperangan tersebut, terbuka lebar.
__ADS_1