
Disisi lain Pangeran Sutabirawa beserta pamannya yaitu Raja Dasabirawa yang mencari seorang pembunuh Raja Jakabirawa masih belum juga menemukan titik terang dimana pembunuh itu berada. Sedangkan meraka berdua sudah mengerahkan ribuan prajurit untuk mencarinya disetiap pelosok tanah jawa, tapi sampai saat ini upaya mereka berdua belum menemui hasil, hingga datanglah beberapa telik sandi atau mata-mata dari pihak Raja Dasabirawa yang melapor kepada Beliau yaitu Raja Dasabirawa yang berada disebuah tenda peristirahatannya dikawasan hutan kerajaan himalaya.
"Lapor Yang Mulya Raja Dasabirawa, hamba datang kesini untuk menyampaikan bahwa anggota kami para telik sandi sudah menemukan keberadaan seseorang pembunuh Gusti Prabu Jakabirawa, seseorang yang diduga mempunyai kekuatan mata dewa itu sekarang memang berada disalah satu pedesaan didaerah himalaya ini?", Kata salah satu telik sandi suruhan Raja Dasabirawa adik dari mendiang Raja Jakabirawa.
"Kerja bagus prajurit!, Segera beri kabar kepada Pangeran Sutabirawa, bahwa pembunuh Ayahndanya sudah ditemukan", Kata Raja Dasabirawa dengan nada tegas.
Kemudian sebagian prajurit pemberi kabar segera bergegas menuju kedaerah kerajaan banyuasri untuk memberi kabar pada Pangeran Sutabirawa yang sekarang ini sedang berada disana. Lalu Raja Dasabirawa segera menemui penguasa kerajaan himalaya yaitu Raja Silendrawangi untuk meminta bantuan untuk menangkap hidup atau mati pembunuh Raja Jakabirawa. Tak lama kemudian Raja Dasabirawa sampai dikerajaan himalaya, Beliau disambut dengan sangat baik oleh Raja Silendrawangi, dan kemudian Raja Dasabirawa segera mengatakan akan maksud tujuannya datang kesitu, lalu Raja Silendrawangi yang telah mengetahui maksud kedatangan Raja Dasabirawa untuk meminta bantuan menangkap pembunuh Raja Jakabirawa, Beliau yaitu raja Silendrawangi langsung memerintahkan para prajuritnya untuk menutup ruang gerak pembunuh itu dari wilayah himalaya. Setelah itu Raja Silendrawangi bersama Raja Dasabirawa menyusun sebuah setrategi penangkapan sipembunuh tersebut. Disisi lain dikerajaan suryaloka, Ibu Ratu Kencanawangi sangat marah akan tindakkan putrinya itu Putri Kumalawijaya. Beliau berkata tak akan merestui hubungannya dengan Raden Mahesasangkala, karena Raden Mahesasangkala adalah anak dari musuh suryaloka yaitu Adipati Burhansangkala yang punya niatan akan memberontak kepada suryaloka. Lalu Ibu Ratu Kencanawangi menyuruh putrinya yaitu putri kumalawijaya untuk menggugurkan kandungannya, karena jika sampai anak dari hubungan terlarang antara Putri Kumalawijaya bersama Raden Mahesasangkala itu sampai lahir, Beliau Ibu Ratu Kencanawangi tidak akan mengakuinya sebagai cucunya. Kemudian diruang persidangan istana suryaloka, Maha Patih Damarwijaya menyuruh prajuritnya untuk membawa Raden Mahesasangkala yang berada didalam penjara suryaloka untuk segera dihadirkan didepan Maha Patih Damarwijaya guna untuk dimintai keterangan akan maksud tujuannya menyelinap dikerajaan suryaloka. Lalu datanglah Raden Mahesasangkala dengan kawalan dari para prajurit, menghadap Maha Patih Damarwijaya.
"Salam hormat Maha Patih Damarwijaya", kata Raden Mahesasangkala dengan sangat sopan.
Kemudian Maha Patih Damarwijaya bertanya?
__ADS_1
"Raden Mahesasangkala, ada tujuan apa sebenarnya kau berani datang menyelinap dikerajaan suryaloka!?".
Lalu Raden Mahesasangkala menjawab semua pertanyaan Maha Patih Damarwijaya dengan kejujuran. Dari jawaban Raden Mahesasangkala tidak ada sedikitpun ungkapan yang mengarah pada sebuah ancaman berbau pemberontakkan pada suryaloka, ia berani menyelinap karena ia ada hubungan asmara dengan Putri Kumalawijaya yang sejak lama mereka berdua sembunyikan karena saling mencintai. Tapi disisi lain begawan Winara yang ikut serta dalam persidangan itu masih ragu dan tidak percaya akan ungkapan Raden Mahesasangkala, menurutnya Raden Mahesasangkaka adalah jalan untuk memuluskan rencana pemberontakkan ayahnya yaitu Adipati burhansangkala, jadi begawan Winara meminta pada Maha Patih Damarwijaya untuk tidak segan menghukumnya, tapi Maha Patih Damarwijaya masih mempertimbangkannya, Beliau juga harus dapat keterangan dari Putri Kumalawijaya guna untuk memastikan kebenaran ungkapan Raden Mahesasangkala. Tak lama kemudian datanglah Putri Kumalawijaya untuk bersaksi dipersidangan itu. Ia akhirnya menceritakan semua tentang kenyataan yang sudah terjadi pada hubungan mereka berdua yaitu antara Putri Kumalawijaya dengan Raden Mahesasangkala. Setelah Putri Kumalawijaya memberi keterangan, akhirnya Maha Patih Damarwijaya yang menjadi hakim dipersidangan itu, Beliau memutuskan untuk membebaskan Raden Mahesasangkala dari hukumannya, tapi dengan satu syarat ia harus mengabdikan diri disuryaloka dan jangan sampai ikut terlibat didalam usaha pemberontakkan yang akan dilakukan oleh ayahnya kepada suryaloka. Jika ia sampai terlibat, Maha Patih Damarwijaya bersumpah tidak akan segan-segan untuk menghabisi nyawanya dengan tangannya sendiri. Raden Mahesasangkalapun berjanji akan selalu tunduk patuh membela suryaloka karena kenyataannya bahwa Raden Mahesasangkala tidak mendukung usaha pemberontakkan ayahnya tersebut yaitu Adipati burhansangkala. Sebelum Raden mahesasangkala tertangkap dikerajaan suryaloka, sebenarnya Raden Mahesasangkala sudah menasehati Ayahnya untuk membatalkan usaha pemberontakkan pada suryaloka, tapi ayahnya yaitu Adipati Burhansangkala menentang keras nasehat putranya itu dan mengancam jika sampai putranya tidak mendukung usahanya dalam pemberontakkan tersebut, maka Adipati Burhansangkala akan membunuhnya demi kelancaran tujuannya tersebut yaitu pemberontakkan pada suryaloka.
Kemudian Raden Mahesasangkala mendapat tugas dari Maha Patih Damarwijaya untuk memata-matai gerak-gerik rencana pemberontakkan ayahnya itu tersebut. Tugas ini ia emban karena ia ingin menunjukkan pengabdiaanya pada suryaloka meski ia harus bertaruh nyawa melawan Ayahnya sendiri. Disisi lain pihak kerajaan suryaloka mulai merundingkan akan melakukan genjatan senjata secepatnya kepada kadipaten karang menjangan yang dipimpin oleh Adipati Burhansangkala yang menyatakan pemberontakkan pada kerajaan suryaloka. Seluruh pembesar kerajaan suryaloka berkumpul diistana, tak ketinggalan juga kedua orang suruhan Pangeran Gunawijaya yaitu Sanjaya beserta Mandala juga ikut dalam perundingan tersebut. Kemudian dilain sisi Raja Dasabirawa yang mendapat bantuan dari Raja Silendrawangi, Beliau segera mengerahkan pasukannya untuk menangkap hidup atau mati sipembunuh Raja Jakabirawa dengan dipimpin langsung olehnya, dan dipihak Raja Silendrawangi Beliau mengerahkan pasukannya juga yang dipimpin oleh Gusti Patih Linduaji, Beliau adalah Patih dari Raja Silendrawangi. Akhirnya penangkapan pembunuh itu segera dilancarkan.
"Ketua rasanya kita sedang diawasi didesa ini?", Kata salah satu anak buah pembunuh Raja Jakabirawa.
Kemudian Saka beserta anak buahnya segera bergegas pergi dari desa Dawung yaitu salah satu desa yang berada didalam kawasan kerajaan himalaya. Lalu mereka semua pergi dengan menunggangi kuda meninggalkan tempat persembunyiannya didesa dawung. Tapi sesampainya mereka semua diperbatasan daerah himalaya, tiba-tiba munculah para prajurit yang diperintahkan oleh Raja Silendrawangi untuk menutup ruang gerak mereka semua? Saking banyaknya para prajurit yang menghadang mereka, lalu mereka langsung berbalik arah untuk segera melarikan diri mencari jalan yang lain dari kepungan para prajurit Raja Silendrawangi. Kemudian mereka yaitu Saka beserta anak buahnya dengan sangat kencang menunggangi kuda, mereka semua melarikan diri dari hadangan para prajurit himalaya, tapi para prajurit itu tidak tinggal diam, mereka segera mengejar segerombolan para pendekar aliran hitam itu sampai dapat. Kemudian dikerajaan suryaloka Putri Kumalawijaya nampak gelisah dan bingung, ia memikirkan bagaimana nasib bayi yang ada dikandungannya itu, biar bagaimanapun bayi itu yang ada dalam perutnya adalah buah hasil hubungan cintanya antara Putri Kumalawijaya bersama Raden Mahesasangkala. Lalu Putri Kumalawijaya memutuskan untuk pergi dari suryaloka jika hubungannya bersama Raden Mahesasangkala masih tidak mendapat restu dari ibunya yaitu Ratu Kencanawangi.
Kemudian disisi Pangeran Jatiwijaya sangat mencemaskan akan nasib suryaloka, dan ia berkata?
__ADS_1
"Maaf Kanda Pangeran Gunawijaya, hati hamba merasa was-was akan sesuatu yang bakal menimpa suryaloka?".
"Kau tenanglah dinda Jatiwijaya, percayalah bahwa suryaloka akan baik-baik saja", Jawab Pangeran Gunawijaya didalam perjalanannya yang akan menuju kedaerah himalaya.
Lalu didalam rombongan Pangeran Gunawijaya yang sedang melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Kedasih sigadis manis itu mendekati Pangeran Gunawijaya, dan lalu ia berkata dengan tersipu malu?
"Maaf Pangeran, hamba sangat penasaran dengan apa yang akan Pangeran katakan waktu berada didalam pedepokan Maha Resi Brata, sekiranya hamba boleh tahu, sebenarnya apa yang akan Pangeran Gunawijaya katakan pada hamba waktu itu disaat sebelum terjadinya gempa bumi itu?".
"Oh, Masalah itu sebenarnya?", Kata Pangeran Gunawijaya yang tidak meneruskan jawabannya karena Jatmiko telah memotong pembicaraannya tersebut.
"Ampun Pangeran Gunawijaya, langit nampak mendung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, kalau diizinkan sebaiknya kita cari tempat berteduh dulu Pangeran?", Sahut jatmiko didalam percakapan Pangeran Gunawijaya bersama sigadis manis Kedasih.
__ADS_1
Saat Jatmiko menyela percakapan Pangeran Gunawijaya bersama Kedasih, akhirnya Pangeran Gunawijaya tidak meneruskan jawabannya akan pertanyaan Kedasih tersebut, karena Pangeran Gunawijaya lebih memilih menjawab pertanyaan Jatmiko, karena pertanyaan Jatmiko memang wajib dijawab. Setelah Pangeran Gunawijaya mengizinkan rombongannya untuk berteduh, akhirnya mereka semua berteduh disebuah gubuk kosong yang berada dipinggir jalan. Dilain sisi, Saka atau biasa disebut pendekar mata dewa, yang sedang melarikan diri dari hadangan para prajurit Raja Silendrawangi, akhirnya dia terkepung bersama anak buahnya didalam desa dawung. Kemudian Saka bersama anak buahnya tak punya pilihan lain selain melawan para prajurit itu semua.