
Dengan kekuatan energi hitam Pangeran Muradwijaya sekarang diatas angin karena dia yakin bahwa dengan kekuatan itu dia bisa mengalahkan Pangeran Gunawijaya. Situasi dimedan perang semakin mengerikan, untuk membendung kekuatan itu Pangeran Gunawijaya sudah siap dengan senjata pamungkasnya yaitu keris pusaka jala tungga. Kemudian disaat kekuatan energi hitam tersebut sudah terkumpul penuh, Pangeran Muradwijaya dengan hebatnya menghempaskan kekuatan itu kepada Pangeran Gunawijaya.
"Aku hanya punya kesempatan sekali dalam tiga purnama untuk menggunakan kekuatan energi hitam ini, maka dari itu aku harus berhasil mengalahkan Pangeran Gunawijaya dengan kekuatan ini", kata Pangeran Muradwijaya dengan keyakinan yang tinggi merasa mampu mengalahkan Pangeran Gunawijaya dengan kekuatannya tersebut.
"Hyaaaaa... jurus jagad kumalaaaaa!", Pangeran Muradwijaya menghempaskan kekuatan bola energi hitam itu yang bernama jurus jagad kumala.
Dengan kencang jurus itu mengarah pada Pangeran Gunawijaya yang dari tadi sudah sibeterbangan nahan dan membendung jurus tersebut menggunakan keris pusaka jala tungga. Jurus tersebut yang mengarah padanya ditahan sekuat tenaga dengan keris pusakanya tersebut sampai bebatuan disekitar situ beterbangan lalu hancur karena dampak kekuatan hebat jurus tersebut dan angin dari segala penjuru mengarah pada jurus tersebut seakan memberi tambahan kekuatan pada jurus itu untuk bisa menjadi lebih hebat.
Meski begitu Pangeran Gunawijaya tak menyarah, ia tetap sekuat tenaga menahan dan membendung jurus tersebut sampai tanah yang dipijaknya hancur dan kedua kakinyapun ambles kedalam tanah karena menahan dahsyatnya jurus itu. Kemudian sambil menahan serangan tersebut Pangeran Gunawijaya membuat rencana untuk bisa terbebas dari tekanan jurus itu, akhirnya ia memanggil Kedasih dengan kemampuan telepati atau kontak batin sebuah kemampuan yang bisa berbicara dengan seseorang melalui mata hati meski seseorang itu berada sangat jauh dimanapun.
Pangeran Gunawijaya berkata pada Kedasih untuk merasakan tempat dimana saja yang jauh dari medan perang ini dan tanpa ada penghuninya sama sekali, Kedasih pun segera melaksanakan perintah itu dan setelah Kedasih merasakan bahwa ada tempat yang jauh disana tanpa ada penghuninya, kemudian dia segera memberi tahu pada Pangeran Gunawijaya bahwa tempat itu telah dia temukan.
Lalu Pangeran Gunawijaya memanggil Mandala menggunakan telepatinya juga?
"Mandala, saya Pangeran Gunawijaya ingin bertanya tentang sesuatu padamu?", Pangeran Gunawijaya sangat serius.
__ADS_1
"Sendiko Pangeran, ada yang bisa hamba bantu, sungguh hal ini adalah suatu kehormatan bagi hamba Pangeran", Mandala menjawabnya.
"Seberapa jauh kau bisa berteleportasi?", tanya Pangeran Gunawijaya.
Kemudian Mandala menjawab bahwa dia tidak bisa berteleportasi begitu jauh sebab keterbatasan cakranya, lalu setelah Pangeran Gunawijaya mendengar jawaban Mandala tetang teleportasinya kemudian Pangeran Gunawijaya berusaha berbicara pada para kesatria yang lainnya melalui telepatinya untuk supaya mereka semua menyalurkan sisa cakranya pada Mandala guna untuk mengantarkan Pangeran Gunawijaya ketempat yang tak berpenghuni yang telah diketemukan oleh Kedasih melalui kekuatan sepesialnya yang bisa merasakan hawa manusia sejauh apapun.
Setelah mereka semua sepakat menyalurkan sisa cakranya pada Mandala atas perintah Pangeran Gunawijaya, akhirnya rencana Pangeran Gunawijaya sukses untuk bisa membawa pergi sejauh mungkin kekuatan energi jurus jagad kumala milik Pangeran Muradwijaya yang ia tahan selama ini menggunakan keris pusaka jala tungga.
"Bersiaplah Pangeran, hamba akan segera membawamu pergi ketempat dimana Kedasih sudah menemukan tempat tak perpenghuni tersebut, dan kau k
Seketika itu menghilanglah mereka bertiga beserta jurus jagad kumala dari medan perang. Pangeran Muradwijaya yang mengetahui kejadian itu sempat terkejut, bagaimana mungkin kekuatan energi jurus jagad kumala yang sangat besar bisa dihilangkan begitu saja dari medan perang hanya dengan sekejap mata.
Kemudian tibalah Pangeran Gunawijaya dan Kedasih yang diantarkan oleh Mandala menggunakan kemampuan teleportasinya di suatu tempat dimana tanpa berpenghuni yang kondisi daerah itu adalah sebuah bukit berbatu, seketika itu Pangeran Gunawijaya yang masih menahan kekuatan energi jagad kumala milik Pangeran Muradwijaya, ia langsung menghempaskannya kearah bukit yang berada tidak jauh dari tempat dimana dirinya berada.
Lalu Buuummmmm! Meledaklah kekuatan itu hingga bukit yang terkena yang menjadi sasaran itupun hancur lebur tak tersisa, tapi pada saat itu dengan cepat hanya beberapa detik saja ketika Pangeran Gunawijaya menghempaskan kekuatan energi jagad kumala kearah bukit tersebut, Mandala langsung membawanya beserta Kedasih kembali kemedan perang dengan kemampuan teleportasinya sebab ledakkan kekuatan energi jagad kumala itu sangat berbahaya karena bukit yang besarpun hancur terkena ledakkannya.
__ADS_1
Setibanya dimedan perang Pangeran Gunawijaya menatap tajam kearah Pangeran Muradwijaya yang mempunyai jurus energi jagad kumala itu dan Pangeran Muradwijaya hanya memandang Pangeran Gunawijaya dengan penuh penasaran?
"Hebat juga kau Gunawijaya bisa dengan cepat memindahkan kekuatan jagad kumala ku dan kembali dengan cepat pula kemedan perang, dengan rencana kerja sama yang kau susun tadi dengan para kesatria-kesatria yang masih hidup, aku Pangeran Muradwijaya mengakuimu layak sebagai penerus tahta kerajaan suryaloka", kata Pangeran Muradwijaya pada ponakannya yaitu Pangeran Gunawijaya.
"Tidak usah basa-basi Pangeran Murad, mari kita teruskan pertarungan ini", jawab Pangeran Gunawijaya dengan nada penuh amarah.
Akhirnya pertarungan itu berlangsung lagi dengan keunggulan Pangeran Gunawijaya dari segi fisiknya yang jauh lebih muda dari pada lawannya Pangeran Muradwijaya, mereka berdua bertarung habis-habisan dan sama-sama mengeluarkan jurus jurus hebatnya, tapi saat ini Pangeran Muradwijaya sering terkena serangan jurus-jurus dari Pangeran Gunawijaya hingga dia tak berdaya hanya bisa bertahan dari serangan-serangan itu.
Anehnya disaat Pangeran Muradwijaya terdesak oleh serangan Pangeran Gunawijaya, dia malah berkata padanya jika dia sangat menikmati pertarungan ini dan jika dia kalah, dia akan bangga bisa mati ditangan keponakkannya sendiri. Lalu Pangeran Gunawijaya yang mendengar perkataan itu sempat tersentuh hatinya tapi dalam diri Pangeran Gunawijaya, ini adalah perang, siapapun musuhnya meski yang jadi lawannya itu adalah keluarganya sendiri, dia berhak untuk dihabisi demi kemenangan.
Pertarungan terus berlanjut tapi saat ini mereka berdua saling menjauh karena masing-masing dari kedua kesatria itu Pangeran Gunawijaya beserta Pangeran Muradwijaya akan mengeluarkan kesaktiannya, Pangeran Gunawijaya ia akan mengeluarkan pedang mustika biru untuk mengeluarkan kekuatan gelombang buwana sakti, sedangkan Pangeran Muradwijaya dia akan mengeluarkan ajian lintang sewu. Kedua kesaktian hebat tersebut akan segera beradu karena kedua kesaktian tersebut adalah ilmu tingkat tinggi yang pernah ada ditanah jawa.
Seketika itu Pangeran Gunawijaya mulai mengeluarkan pedang mustika biru. Pedang yang dikeluarkannya tersebut bersinar terang bak sebuah permata yang sinarnya menyilaukan mata. Pangeran Muradwijaya yang melihatnya nampak tersenyum meski dia adalah lawan dari Pangeran Gunawijaya, dan ada apakah dibalik senyumnya itu disaat dia sedang dalam bahaya?
Tidak hanya tersenyum, Pangeran Muradwijaya juga bersiap untuk mengeluarkan ajian lintang sewunya sebab dengan beradunya kedua kekuatan tersebut akan jadi serangan terakhir bagi mereka berdua yaitu Pangeran Gunawijaya beserta Pangeran Muradwijaya.
__ADS_1
Lalu disisi lain di kerajaan suryaloka Ratu Kencanawangi sangat mencemaskan kedua putranya yang ikut berperang di karang menjangan. Putranya tersebut yaitu Pangeran Gunawijaya beserta Pangeran Gunturwijaya, sebab dari hasil informasi yang disampaikan oleh para prajurit, sebagian besar orang-orang yang berada dimedan perang telah berubah menjadi batu karena menghisap kabut siluman yang dikeluarkan oleh sesosok misterius atau yang sebenarnya adalah Pangeran Muradwijaya. Sedangkan di keraton segoro kidul, Nyi Roro Kidul beserta para punggawanya terus memantau jalannya pertarungan dimedan perang melalui kaca saktinya yaitu kaca benggala, Beliau berkata inilah pertarungan kedua kesatria terhebat sepanjang sejarah tanah jawa.