
Ternyata dengan merubah siang menjadi malam, Itu semua membuat kekuatan Begawan Sakti Ludoyo menjadi meningkat pesat.
Itulah kenapa Begawan Sakti Ludoyo melakukan hal itu semua.
Karena Begawan tersebut ingin meningkatkan kekuatannya ke titik maksimum.
Sebab jurus kala murka yang dia miliki, kekuatannya akan bertambah jika dalam kondisi malam hari.
Maka dari itu Begawan Sakti Ludoyo berniat merubah siang menjadi malam, meski sebelum waktunya siang berganti malam.
Padahal jurus kala murka Begawan Ludoyo tingkatannya lebih tinggi dari jurus kala pati Pangeran Guna Wijaya.
Tapi kenapa Begawan Ludoyo harus meningkatkan kekuatan dari jurus kala murkanya tersebut, Padahal dia tahu bahwa jurus kala Pati berada di bawah jurus kala murka.
Ternyata Begawan Sakti Ludoyo merasakan bahwa jurus kala Pati yang dimiliki oleh pangeran Guna Wijaya, beda dengan jurus kala pati yang dimiliki oleh pangeran Murad Wijaya atau yang biasa dipanggil dengan sebutan sesosok misterius.
"aku merasakan Hawa yang berbeda dari jurus kala pati miliknya", Begawan Sakti Ludoyo berkata dalam hatinya.
Tiba-tiba dari belakang Begawan tersebut, muncullah Mandala yang akan menyerang dengan menggunakan jurus teleportasinya.
Tapi Begawan Ludoyo sudah menyadarinya, Dia segera menangkis serangan Mandala yang menggunakan belati kembarnya.
Saat itu Mandala segera menghilang dari tempat tersebut, segera berpindah tempat dengan jurus teleportasinya.
Begawan Ludoyo nampak kesal dibuatnya, dia akan menghancurkan para Ksatria secepatnya.
Waktu itu sebelum Begawan Ludoyo bergegas menyerang para Ksatria, tiba-tiba Pangeran Guntur Wijaya dan Senopati bala Warman, dengan sangat cepat menyerang Begawan tersebut.
Pangeran Guntur Wijaya menggunakan Aji Guntur Saketi, sedangkan Senopati bala Warman menggunakan aji birawa Sakti.
"tak semudah itu kalian bisa menyerangku!", Begawan Sakti Ludoyo berkata dengan lantangnya.
Dan ternyata saat itu Begawan tersebut berhasil menangkap kedua tangan, dari kedua Ksatria yang menyerangnya tersebut.
Lalu dengan memutar tubuhnya, Begawan Sakti Ludoyo melempar kedua ksatria tersebut, hingga mereka berdua tersungkur.
Waktu itu sebelum Begawan Ludoyo menghela nafas, tiba-tiba Mahapatih Damar Wijaya dan Begawan winara, berhasil menyerangnya dari belakang hingga dia tersungkur.
Mahapatih Damar Wijaya dan Begawan winara, mereka berdua menggunakan ajian Gajah Mungkur untuk menyerang Begawan Ludoyo.
"apa hanya seperti ini kekuatan kalian semua!", Begawan Sakti Ludoyo murka atas serangan bertubi-tubi yang diarahkan kepadanya.
__ADS_1
Saat itu meski Begawan Ludoyo terkena serangan telak, dari Mahapatih Damar Wijaya dan Begawan winara, tapi tidak menunjukkan sama sekali tanda-tanda terluka ataupun cidera padanya.
Begawan Ludoyo malah mengeluarkan energi Aura hitam dari dalam tubuhmu.
Kemudian Pangeran Guna Wijaya dan Pangeran Kasim Wijaya, yang melihat hal tersebut, mereka berdua segera menyerang Begawan Ludoyo menggunakan kekuatan masing-masing.
Pangeran Guna Wijaya mengeluarkan kekuatan gelombang Buana Sakti, dan sedangkan Pangeran Kasim Wijaya mengeluarkan ajian Jagad Kumala.
Pangeran Kasim Wijaya memiliki dua ajian warisan dari ayahnya, yaitu ajian Jagad Kumala dan ajian Lintang Sewu.
Kedua ksatria tersebut yaitu Pangeran Guna Wijaya dan Pangeran Kasim Wijaya, akan menyatukan kekuatan mereka itu.
Pangeran Guna Wijaya dengan gelombang Buana saktinya, sedangkan Pangeran Kasim Wijaya dengan ajian jagad kumalanya.
"meskipun kalian berdua mengeluarkan ajian terhebat pun, takkan ada gunanya padaku", Begawan Sakti Ludoyo yang menunjuk kepada kedua ksatria tersebut, ya itu Pangeran Guna Wijaya dan Pangeran Kasim Wijaya.
Tiba-tiba sesudah Begawan Ludoyo berkata seperti itu, dari bawah tanah muncullah seekor ular merah besar, yang tiba-tiba melilit dengan kencang tubuh Begawan tersebut.
Lalu saat mengetahui tubuh Begawan Ludoyo telah terlilit oleh ular tersebut, Pangeran Guna Wijaya dan Pangeran Kasim Wijaya segera menyatukan kekuatannya, dan segera menyerang Begawan Ludoyo dengan kekuatannya itu.
Ternyata serangan beruntun tersebut adalah sebuah strategi dari para Ksatria, untuk bisa mengalahkan Begawan Ludoyo dengan cepat.
Dan ular merah besar yang melilit Begawan itu adalah senjata pusaka dari pangeran Jati Wijaya.
Kedua kekuatan besar tersebut yang menjadi satu, yaitu kekuatan gelombang Buana Sakti dan ajian Jagad Kumala, yang mengarah kepada Begawan Ludoyo, ternyata kekuatan itu tidak mempan.
Kedua kekuatan itu yang telah menjadi satu malah terserap oleh Begawan Ludoyo.
Sedangkan seekor ular merah besar yang telah melilitnya, kini telah berubah menjadi wujud aslinya yaitu sebuah cumeti.
Jadi kesimpulannya serangan kombinasi dari para Ksatria tersebut, gagal total!
Kemudian saat itu Begawan Sakti Ludoyo menggunakan pusaka Trisula dewanya, untuk menyerang para Ksatria.
Melihat hal tersebut Pangeran Guna Wijaya menyuruh para Ksatria untuk segera menjauh dari pertempuran tersebut, karena Pangeran Guna Wijaya tahu seberapa ngerinya pusaka Trisula Dewa itu, jika digunakan oleh pemiliknya yang harus akan peperangan.
Pangeran Guna Wijaya berniat untuk menghadapinya sendiri, sebab pada diri Begawan itu hampir tidak ada celah untuk bisa mengalahkannya.
Dan sebenarnya Pangeran Guna Wijaya juga sudah mengetahuinya, akan Bagaimana kekuatan dari jurus kala murka milik Begawan tersebut.
Pangeran Guna Wijaya sangat paham kalau sebenarnya, kekuatan dari jurus kala murka akan meningkat pesat Jika waktu malam.
__ADS_1
Tapi pada saat itu para Ksatria tidak mau jika mereka harus meninggalkan peperangan.
Mereka lebih memilih mati daripada harus lari dari pertempuran.
Akhirnya waktu itu terjadilah percekcokan antara Pangeran Guna Wijaya beserta adiknya yaitu Pangeran Guntur Wijaya, dan juga pamannya yaitu Mahapatih Damar Wijaya.
Di waktu percekcokan tersebut, Begawan Sakti Ludoyo tiba-tiba menyerang mereka semua.
Para Ksatria saat itu dibuat kalang kabut oleh Begawan tersebut.
Begawan itu menyerang menggunakan senjata pusakanya, yaitu Trisula Dewa.
Saat itu hanya beberapa pukulan saja pada mereka, para Ksatria tersebut dibuat roboh oleh Begawan itu.
Benar-benar malam itu membuat jurus kala murka menjadi sangat kuat.
Tapi untung saja Pangeran Guna Wijaya dan Pangeran Kasim Wijaya masih bisa bertahan oleh serangan tersebut.
Sedangkan para Ksatria yang lainnya mengalami luka yang agak serius.
"aku harus berbuat apa lagi untuk bisa mengalahkan Begawan itu", kata Pangeran Guna Wijaya.
"tenang Kanda Pangeran, sehebat apapun Begawan itu, pasti ada kelemahannya juga", kata Pangeran Kasim Wijaya kepada Kakak sepupunya yaitu Pangeran Guna Wijaya.
"Dinda Kasim Wijaya, untuk sementara ini Aku minta, kau lindungi para Ksatria, biar aku sendiri yang menghadapi Begawan itu, Sebab aku merasakan bakal ada peristiwa yang mengerikan sebentar lagi", Pangeran Guna Wijaya yang was-was akan situasi yang bakal terjadi.
Kemudian saat itu Begawan Ludoyo menargetkan Mahapatih Damar Wijaya yang akan dia bunuh terlebih dulu.
Tujuan Begawan Ludoyo ingin menghancurkan mental para Ksatria dengan kematian Mahapatih nya.
Sebab jika Begawan itu harus membunuh Pangeran Guna Wijaya dengan waktu yang cepat terlebih dulu, rasanya itu tidak mungkin, karena Pangeran Guna Wijaya adalah ksatria yang paling hebat dari semua ksatria.
Saat itu Pangeran Guna Wijaya menyadari gelagat dari Begawan Ludoyo, yang akan menghabisi pamannya yaitu Mahapatih Damar Wijaya.
Maka dari itu Pangeran guna wijaya segera menyerangnya, menggunakan pedang Mustika biru.
Tapi Begawan Ludoyo berusaha menghindarinya, Karena tujuan dia harus membunuh Mahapatih Damar Wijaya terlebih dulu.
Tapi lagi-lagi Pangeran Guna Wijaya menyerangnya, agar tujuan dari Begawan itu tidak diutamakan lagi, yaitu membunuh Mahapatih Damar Wijaya.
Kemudian Pangeran Kasim Wijaya mencoba menyelamatkan para Ksatria, terutama Mahapatih Damar Wijaya, yang ditargetkan akan dibunuh terlebih dulu oleh Begawan tersebut.
__ADS_1
Ternyata saat itu Mahapatih Damar Wijaya juga sudah menyadarinya, bahwa dirinya menjadi target utama yang akan dibunuh oleh Begawan sakti Ludoyo.