PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
157. Hancurnya gunung kelud


__ADS_3

Kemudian dalam perjalanan menuju Gunung Kelud, Mahapatih Damar Wijaya beserta para pasukannya sedikit menemui kendala.


Saat mereka menyeberangi sebuah sungai, tiba-tiba datanglah arus yang begitu besar dari atas, dan banyak para pasukan yang terbawa arus tersebut saat menyeberangi Sungai itu.


Memang mereka melewati jalur khusus yang dapat dengan cepat tiba di Gunung Kelud, tapi ternyata jalur itu sangat membahayakan.


Sebenarnya para pasukan Mahapatih Damar Wijaya, bukan sekedar hanyut terbawa arus sungai itu, Tapi sebelumnya para pasukan tersebut juga banyak yang terjebak dan terhisap oleh lumpur hidup waktu di dalam perjalanan.


Kini mereka harus berjuang melawan arus sungai yang menerjang mereka semua.


Kemudian singkat cerita saat situasinya sudah kondusif, karena para pasukan sudah berhasil menyeberangi sungai tersebut, meskipun telah jatuh banyak korban karena terbawa olah derasnya air sungai itu, tapi semangat para pasukan tak pernah pudar sedikitpun.


Mereka semua yang tersisa malah antusias Ingin secepatnya sampai di Gunung Kelud, dan ikut berjuang bersama para pasukan yang berada di sana, untuk menghancurkan kejahatan Begawan Sakti Ludoyo.


"ampun Paman Mahapatih, Apa sebaiknya kita harus beristirahat dulu sebentar, untuk memulihkan mental dan semangat para pasukan kita", kata Pangeran Kasim Wijaya kepada pamannya tersebut yaitu Mahapatih Damar Wijaya.


"Baiklah keponakanku, Sepertinya kita memang harus beristirahat sebentar untuk memulihkan tenaga maupun mental kita, Lagian Sebentar lagi kita sudah hampir tiba di Gunung Kelud, jadi kita butuh tenaga untuk bersiap bertempur di sana", Mahapatih Damar Wijaya menjawab.


Kemudian di Gunung Kelud Pertarungan para Ksatria melawan Begawan Sakti Ludoyo semakin sengit.


Saat itu Begawan Sakti Ludoyo yang menjadi dua wujud atau dua bagian, Salah satu bagian diantaranya terbang ke atas gunung tersebut.


Dia menggunakan kesaktiannya untuk menghancurkan Gunung itu.


Sedangkan satu bagiannya lagi Menghadang para Ksatria agar tidak mengganggu tujuannya tersebut.


Tapi Pangeran Guna Wijaya tahu akan hal itu, maka dari itu dia segera terbang juga dan menghampiri Begawan Sakti Ludoyo, yang berusaha akan menghancurkan Gunung Kelud.


Pangeran Guna Wijaya bisa terbang karena dia memiliki salah satu dari ketiga jurus Kala, yaitu jurus kala pati.


Saat itu para Ksatria yang lainnya sedang bertarung melawan Salah satu wujud dari Begawan Sakti Ludoyo.


Tapi hanya dengan waktu sekejap para Ksatria tersebut dapat dikalahkan dengan mudah oleh Begawan itu.


"hahaha... Aku tidak akan membunuh kalian, tapi aku akan menghancurkan kalian beserta Gunung ini", kata Begawan Sakti Ludoyo yang melawan para Ksatria tersebut.


"Lihatlah kengerian yang saat ini akan terjadi di depan mata kalian semua, rasa panik dan ketakutan akan menyelimuti diri kalian", ucap Begawan tersebut.


Ternyata Begawan Sakti Ludoyo telah mengurung semua orang di dalam Gunung Kelud, dia telah menutup Gunung itu dengan sebuah perisai Sakti yang tak terlihat dan tak bisa tertembus oleh siapapun.


Pantas saja Pangeran Guna Wijaya meskipun dia sudah terbang, dia tak bisa menjangkau Salah satu wujud dari Begawan Sakti Ludoyo, yang sedang terbang di atas gunung tersebut.

__ADS_1


Sebab Pangeran Guna Wijaya ternyata terhalang oleh perisai Sakti tersebut, yang telah menyelubungi Gunung Kelud.


"kalau cuma perisai Seperti ini tak akan bisa menghalangiku", kata Pangeran Guna Wijaya yang akan menghancurkan Perisai itu dengan pedang Naga apinya atau pedang legendaris.


Tapi apa boleh buat, saat Pangeran Guna Wijaya akan menebas perisai itu dengan pedangnya tersebut, ternyata tiba-tiba terjadi gempa Dahsyat di gunung itu.


Lalu Gunung itu meletus dengan hebatnya.


Waktu itu Pangeran Guna Wijaya Sudah Terlambat untuk bisa menyelamatkan Gunung Kelud dari kehancuran.


Dan niatan untuk menghancurkan perisai yang menyelubungi Gunung itu, akhirnya dia batalkan.


Sebab Dia merasa Percuma saja jika Perisai itu hancur, karena dengan meletusnya gunung tersebut, otomatis akan jatuh banyak korban para Ksatria maupun para pasukan yang berada di gunung itu.


"hahaha... Tamatlah riwayat kalian, kalian semua akan mati bersama hancurnya Gunung Kelud ini", ocehan Salah satu wujud Begawan Sakti Ludoyo yang sedang bertarung melawan para Ksatria tersebut.


Setelah berkata atau mengoceh seperti itu, Begawan tersebut segera menghilang dari hadapan para Ksatria itu.


"Kanda Pangeran Guntur Wijaya bagaimana ini, jika kita hanya diam saja, kita semua akan mati disini", kepanikan yang melanda Pangeran Jati Wijaya.


"Mandala dengan kemampuan teleportasimu, kau bisa membawa Berapa banyak orang keluar dari gunung ini", kata Pangeran Guntur Wijaya.


"mohon ampun pangeran, dengan sisa Cakra yang hamba miliki saat ini, hamba hanya bisa membawa dua orang saja keluar dari gunung ini", jawab Mandala.


Kemudian para pasukan atau para prajurit yang sedang bertempur dari kedua kubu, mereka semua berhamburan penyelamatan diri masing-masing dari letusan Gunung Kelud tersebut.


Tapi apa daya, dari kepanikan tersebut banyak juga para prajurit yang gugur atau meninggal, akibat terkena hujan batu yang disemburkan oleh gunung Kelud dari dalam perut bumi.


Batu-batu yang disemburkan oleh gunung Kelud tersebut sangat panas sekali.


Seseorang yang terkena batu-batu itu, dengan seketika akan mati terbakar.


Semua Para Ksatria, mereka juga merasakan kepanikan yang luar biasa.


Di dalam situasi yang seperti itu, rasa panik, khawatir, cemas dan was-was, bahkan putus asa menyelimuti diri mereka semua.


Lalu semakin lama Gunung Kelud, keadaannya semakin mencemaskan.


Bukan hanya muntahan batu api dari dalam perut bumi, tapi juga semburan lahar yang dikeluarkan oleh gunung tersebut, mulai rata mengaliri setiap sisi dari gunung itu.


Belum lagi ditambah guncangan gempa yang begitu Dahsyat di gunung itu, sehingga banyak menimbulkan longsor di setiap permukaan tanah dari gunung tersebut.

__ADS_1


Lalu di sisi lain, rombongan Mahapatih Damar Wijaya, juga merasakan dampak dari letusan Gunung Kelud itu, Sebab mereka semua sebenarnya hampir sampai di gunung itu.


Bahkan dari tempat peristirahatan mereka, Gunung Kelud tersebut sudah nampak terlihat.


"Paman Mahapatih Damar Wijaya, Coba lihat, apa yang terjadi dengan Gunung Kelud", kata Pangeran Kasim Wijaya kepada pamannya sembari menunjuk ke arah gunung tersebut.


"Apakah ini dampak dari pertarungan Pangeran Guna Wijaya, melawan Begawan Sakti Ludoyo", Mahapatih Damar Wijaya berkata.


"Dimas Mahapatih, sepertinya Gunung Kelud bukan cuma hanya meletus saja, tapi Gunung itu sepertinya juga akan hancur lebur", ucap Prabu silendra wangi, saudara tertua dari kakak iparnya Mahapatih Damar Wijaya, yaitu maharatu Kencana wangi, Ibu dari pangeran Guna Wijaya.


"lantas jika memang itu terjadi, apakah kita semua tetap akan menuju ke Gunung Kelud", tanya Pangeran Kasim Wijaya kepada pamannya yaitu Mahapatih Damar Wijaya.


Kemudian para pasukan yang sedang berhamburan di Gunung Kelud, mereka dan gunung itu, tapi apa daya karena Gunung itu sudah terbentang oleh perisai Sakti, jadinya para pasukan seperti dikurung di dalam sebuah sangkar Yang sebentar lagi akan hancur luluh lantah.


Lalu Mahapatih Damar Wijaya yang mengamati Gunung Kelud dari kejauhan, Beliau juga merasa bahwa Gunung itu telah terselubungi oleh perisai Sakti, sehingga para orang yang berada di sana tidak akan pernah bisa keluar dari gunung tersebut.


Saat itu Pangeran Kasim Wijaya mencoba melakukan telepati kepada Pangeran Guna Wijaya, untuk mencari tahu tentang informasi yang sedang terjadi di Gunung Kelud.


Tapi nyatanya usaha itu pun gagal, sebab kemampuan telepati Pangeran Kasim Wijaya, tidak mampu menembus perisai yang menyelubungi gunung tersebut.


Otomatis perisai Sakti itu telah menjadi penghalang semua kekuatan yang berada di luar Gunung Kelud.


"Bagaimana keponakanku, Apa kau sudah terhubung dengan pangeran Guna Wijaya melalui telepatimu", tanya Mahapatih Damar Wijaya kepada Pangeran Kasim Wijaya.


"Maaf paman Mahapatih, telepati saya tidak bisa terhubung dengan kanda Pangeran Guna Wijaya, sepertinya perisai Sakti itu telah menjadi penghalangnya", jawab Pangeran Kasim Wijaya kepada pamannya tersebut.


Setelah itu gempa yang berada di Gunung Kelud semakin menjadi-jadi, dan Mahapatih Damar Wijaya beserta rombongannya yang masih berada di kejauhan dari gunung itu, mereka juga merasakan dampak dari gempa yang sangat dahsyat tersebut.


Lalu Mahapatih Damar Wijaya segera memutuskan bahwa mereka tidak segera menuju ke Gunung Kelud.


Mereka harus menunggu kondisi stabil dulu, baru mereka segera menuju ke Gunung itu secepatnya.


Tapi saat itu Mahapatih Damar Wijaya, benar-benar dihadapkan oleh sebuah Dilema yang luar biasa.


Di sisi lain Mahapatih Damar Wijaya, harus segera membantu keponakannya, yaitu Pangeran Guna Wijaya, yang sedang berjuang melawan Begawan Sakti Ludoyo.


Dan di sisi lain beliau juga harus memikirkan keselamatan para pasukannya yang dia bawa saat ini, sebab jika beliau memaksa memerintahkan para pasukannya untuk segera menuju ke Gunung Kelud, hal itu akan malah memperburuk keadaan, karena keadaan Gunung Kelud saat ini sudah tidak bisa dijamah lagi oleh manusia.


Singkat cerita Gunung Kelud meledak dan hancur luluh lantah tak tersisa.


Peperangan tersebut kini semakin mencekam dengan hancurnya gunung kelud.

__ADS_1


Apakah hal ini menjadi pertanda bahwa kekalahan para Ksatria sudah di ujung tanduk.


__ADS_2