
Lalu Sanjaya dan Mandala membawa ibu dan juga adik perempuan Kasim pergi ke kerajaan suryaloka guna untuk menghadap kepada Mahapatih Damarwijaya.
Singkat cerita, setibanya di kerajaan suryaloka, ibu dan adik perempuan Kasim segera dihadapkannya kepada Mahapatih Damarwijaya.
Mahapatih Damarwijaya waktu itu melayangkan pertanyaan pertanyaan kepada ibu nya Kasim.
Pertanyaan pertanyaan tersebut yang jelas menyangkut masalah tentang sil silahnya.
Ibu nya Kasim waktu di hujani pertanyaan pertanyaan itu, dia sangat lancar sekali menjelaskan tentang sil silahnya tersebut.
Dulu ibunya Kasim adalah gadis desa biasa, kedua orang tuanya adalah seorang petani di salah satu desa terpencil yang masih berada pada wilayah suryaloka.
Dan ibunya Kasim adalah anak tunggal dari kedua orang tuanya itu.
Jadi kedua orang tua ibunya Kasim sangat menyayangi anak tunggalnya tersebut yaitu ibunya Kasim.
Saat ibunya Kasim menginjak usia remaja, dia bertemu dengan mendiang Pangeran Muradwijaya saat beliau masih muda dulu.
Waktu itu saat Pangeran Muradwijaya muda akan pergi kesebuah hutan untuk berburu, tiba-tiba beliau bertemu dan mengenal ibunya Kasim pada saat itu.
Saat itu Pangeran Muradwijaya muda bertemu ibunya Kasim saat Pangeran Muradwijaya muda sedang berjalan melintasi persawahan.
Sebab beliau ternyata tinggal disebuah desa yang berada diluar perbatasan suryaloka.
Dan ketepatan sekali desa dimana beliau yaitu Pangeran Muradwijaya muda tinggal, jaraknya tidak jauh dari desa dimana ibunya Kasim itu berada.
Setelah mereka berdua bertemu pada waktu itu, akhirnya mereka berdua jadi semakin akrab karena ternyata mereka berdua sering ketemuan juga.
Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya mereka berdua menikah dan hidup bahagia, dan dikaruniai dua orang anak.
Tapi dari pernikahan itu, Pangeran Muradwijaya muda tidak pernah menunjukkan siapa sebenarnya jati diri itu.
__ADS_1
Dan sampai tiba pada waktunya, dimana kedua anaknya sudah beranjak dewasa, akhirnya Pangeran Muradwijaya menceritakan tentang siapa sebenarnya dirinya.
Setelah kedua anaknya itu tahu bahwa ternyata ayahnya tersebut adalah seorang darah biru dan seorang pangeran suryaloka, kedua anaknya dan juga istrinya sempat tidak percaya.
Saat istri dan kedua anaknya tidak percaya dengan pengakuan darinya, akhirnya sebagai bukti akan kebenaran, Pangeran Muradwijaya yang pada waktu itu dikenal dengan nama Sutrisno, beliau memberikan kedua buah benda kepada istrinya.
Benda tersebut ialah lencana emas dan keris pusaka emas.
Akhirnya dengan kedua benda itu, Pangeran Muradwijaya atau biasa dikenal dengan sebutan Sutrisno, beliau bisa meyakinkan istri dan juga kedua anaknya bahwa sebenarnya beliau adalah seorang pangeran suryaloka.
Dan setelah Pangeran Muradwijaya pergi meninggalkan istri dan juga kedua anaknya tersebut.
Tapi sebelum beliau pergi, beliau sempat berpesan pada kedua anaknya, bahwa suatu saat nanti, kedua anaknya tersebut harus bisa diakui oleh keluarga Wijaya, sebab bagaimanapun kedua anaknya itu adalah darah daging dari seorang pangeran suryaloka yaitu Pangeran Muradwijaya.
Kemudian beberapa waktu kemudian, istri dan kedua anak dari Pangeran Muradwijaya alias Sutrisno, mereka mendengar kabar kematian Pangeran Muradwijaya saat perang kerajaan suryaloka melawan kadipaten karang menjangan pada waktu itu.
Dan akhirnya Kasim putra sulung dari Pangeran Muradwijaya, dia pergi ke kerajaan suryaloka untuk memastikan atau membuktikan apakah Pangeran Muradwijaya itu benar-benar adalah ayahnya.
Ternyata benar, saat Pangeran Muradwijaya akan dikremasi di alun-alun kerajaan suryaloka, Kasim sempat melihat dari jauh, dan apa yang dia lihat ternyata benar, yang akan dikremasi tersebut adalah ayahnya yaitu Pangeran Muradwijaya alias Sutrisno.
Itulah fakta yang bisa ibunya Kasim ceritakan pada Mahapatih Damarwijaya.
Tapi Mahapatih Damarwijaya masih ragu, karena tidak ada bukti kebenaran bahwa mendiang Pangeran Muradwijaya adalah suami dari ibunya Kasim.
"Apa yang bisa anda buktikan pada kami keluarga Wijaya, kalau anda adalah seorang istri dari pangeran suryaloka", kata Mahapatih Damarwijaya kepada ibunya Kasim.
Lalu dengan senang hati, ibunya Kasim mengeluarkan bukti dua buah benda yaitu lencana emas dan keris pusaka emas.
Kemudian dua benda itu diberikan kepada Mahapatih Damarwijaya, saat beliau Mahapatih Damarwijaya menerima kedua benda tersebut, alangkah sangat terkejutnya beliau dengan apa yang ia lihat pada saat itu.
"Apakah benar apa yang aku lihat ini", kata Mahapatih Damarwijaya dalam hatinya.
__ADS_1
Kemudian Mahapatih Damarwijaya memerintahkan prajuritnya untuk memanggil seseorang yang biasa membuat tanda tersebut bagi keluarga Wijaya.
Beberapa saat kemudian, setelah pembuat tanda tersebut datang, Mahapatih Damarwijaya segera menunjukkan kedua benda atau tanda tersebut padanya.
Dan Mahapatih Damarwijaya ingin tahu, apakah kedua benda atau tanda itu benar-benar asli buatan orang tersebut ataukah bukan.
Setelah dilihat dengan seksama dan teliti oleh orang tersebut, ternyata benar, kedua benda atau tanda itu adalah buatannya sewaktu dulu, karena seseorang itu sangat paham sekali suatu benda buatannya tersebut.
Setelah Mahapatih Damarwijaya tahu bahwa kedua benda itu adalah asli tanda dari keluarga Wijaya, akhirnya beliau mengakui bahwa wanita tersebut memang istri dari mendiang Pangeran Muradwijaya.
Kemudian Mahapatih Damarwijaya merundingkan hal tersebut dengan semua pihak keluarga Wijaya.
Waktu itu dalam rapat keluarga tersebut dihadiri oleh putra mahkota suryaloka yaitu Pangeran Gunawijaya, dan kedua adiknya yaitu Pangeran Gunturwijaya dan juga Putri Kumalawijaya yang kebetulan dia sedang berada di istana suryaloka tidak di istana karang menjangan, sebab dia adalah istri dari adipati Mahesasangkala, penguasa kadipaten karang menjangan.
Dan waktu itu juga dihadiri oleh putra dari Mahapatih Damarwijaya yaitu Pangeran Jatiwijaya.
Dan tidak ketinggalan juga disitu juga dihadiri oleh Ratu Kencanawangi ibu dari Pangeran Gunawijaya beserta kedua adiknya tersebut.
Tidak lupa juga Dewi Puspasari istri dari Mahapatih Damarwijaya dan ibu dari Pangeran Jatiwijaya juga hadir di rapat keluarga tersebut.
Dan Mahapatih Damarwijaya juga memanggil penasehat kerajaan suryaloka yaitu begawan Winara.
Kemudian rapat keluarga tersebut sedang berjalan dengan berbagai saran dan pertimbangan yang matang.
Tapi dalam rapat itu juga ada pro dan kontra, karena tidak semudah yang dibayangkan untuk bisa memasukkan seseorang kedalam keluarga besar Wijaya.
Akhirnya setelah melewati banyak pertimbangan yang tak tentu jawabannya, Mahapatih Damarwijaya dan pihak keluarga Wijaya yang lainnya, mereka menyerahkan keputusan tersebut pada penasehat kerajaan yaitu begawan Winara.
Lalu dengan berbagai pertimbangan, saran, cerita dan bukti, akhirnya begawan Winara dengan kebijakannya, beliau memutuskan agar keluarga Wijaya bisa menerima dengan lapang dada kehadiran Kasim beserta ibu dan adiknya sebagai anggota keluarga besar Wijaya.
Dengan keputusan dari begawan Winara, akhirnya keluarga besar Wijaya dengan lapang dada bisa menerima Kasim, ibu dan juga adiknya menjadi bagian dari keluarga besar Wijaya.
__ADS_1
Kemudian Mahapatih Damarwijaya memerintahkan prajuritnya agar membebaskan Kasim dari tahanan kerajaan.
Kasim sangat bahagia sekali karena dirinya telah dibebaskan dari tahanan, dan dia juga sangat bahagia dan senang sekali melihat ibu dan juga adik perempuannya ada di kerajaan suryaloka.