
Kemudian setelah itu Ratu pantai Selatan atau biasa disebut dengan Nyi Roro Kidul, Beliau kembali ke segoro kidul dengan membawa keris pusaka naga sasra miliknya yang telah dicuri oleh nyi Rongkeh Ratu buto ijo yang diberikan pada pak Ujang pengabdi Setia nyi Rongkeh.
Tapi setelah kekalahan pak Ujang, keris tersebut akhirnya kembali pada pemiliknya yaitu Nyi Roro Kidul.
Beberapa hari kemudian pak Ujang yang telah diserahkan kepada Raja Dasabirawa, akhirnya dia telah dijatuhi hukuman mati atas kejahatannya yang tidak bisa diampuni.
Akhirnya waktu hukuman tersebut sudah tiba, pada siang hari dialun alun giriseta hukuman tersebut akan segera dilaksanakan.
Semua para warga desa sentong berbondong bondong datang untuk menyaksikan hukuman tersebut.
Dan pada waktu itu para kesatria kesatria tangguh yang telah berjuang juga turut serta menyaksikan hukuman mati pak Ujang.
Akhirnya hukuman tersebut akan segera dilakukan, tapi sebelum hukuman itu dilakukan, Raja Dasabirawa memberikan pak Ujang kesempatan terakhir untuk berpesan padanya.
Pak Ujang berkata dalam kesempatan terakhir tersebut bahwa dia meminta perlindungan untuk anak dan istrinya pada Raja Dasabirawa, dan Beliau Raja Dasabirawa menyanggupinya.
Lalu setelah itu hukuman tersebut segera dilaksanakan.
Kemudian algojo segera diperintahkan untuk mengeksekusi pak Ujang yang telah dijatuhi hukuman mati.
Lalu beberapa saat kemudian matilah pak Ujang ditempat eksekusi.
Akhirnya berbahagialah semua para warga dengan kematian kepala desa biadab tersebut yaitu pak Ujang.
Kemudian mayat pak Ujang diserahkan kepada keluarganya untuk segera dikebumikan.
Lalu melihat ketegasan dan keadilan Raja Dasabirawa, para rakyatnya bersorak-sorai. "hidup rajaku, hidup rajaku, hidup rajaku".
__ADS_1
Setelah itu Raja Dasabirawa memberikan ucapan terimakasih dan memberikan tanda penghargaan pada seluruh para kesatria kesatria yang telah berjuang mengatasi masalah kejahatan pak Ujang.
Lalu Raja Dasabirawa menyambut para kesatria kesatria tersebut di istana nya dengan mengadakan acara makan bersama dengan para keluarga kerajaan.
Lalu setelah itu, Raja Dasabirawa memerintahkan para utusan untuk menyita semua harta pak Ujang, dan membegikannya kepada para korban korbannya tersebut sebagai bentuk penebusan dosa dosa pak Ujang yang telah dia lakukan pada mereka semua yaitu para korbannya.
Sedangkan istri dan anak pak Ujang yang masih hidup, oleh Raja Dasabirawa diberikan tempat tinggal didesa lain yang masih dibawah kekuasaan giriseta, dan diberikan bekal yang cukup untuk bisa menyambung hidupnya.
Sebab Raja Dasabirawa menghindari terjadinya amukan para warga jika istri dan anak pak Ujang tetap tinggal didesa sentong, maka dari itu Raja Dasabirawa memindahkan istri dan anak pak Ujang kedesa lain demi keamanan, karena itu adalah tanda mewujudkan pesan terakhir pak Ujang saat dia akan dieksekusi.
Beberapa saat kemudian didesa sentong, ki Maung memakamkan salah satu muridnya yaitu Untung yang telah tewas saat pertempuran tersebut. ki Maung sangat sedih dengan kematian muridnya tersebut, tapi di dalam kesedihan itu, ki Maung juga sangat bangga karena Untung telah gugur sebagai seorang pahlawan.
Pemakaman tersebut dihadiri oleh para kesatria kesatria hebat yaitu Harun, Pangeran Jatiwijaya, Jatmiko, Kedasih, Sanjaya, Mandala dan kedua senopati Balawarman beserta Balamarwan.
Kemudian setelah selesainya proses pemakaman tersebut, Pangeran Jatiwijaya bertanya pada ki Maung, apakah dia akan segera pergi ke suryaloka untuk mencari tahu keberadaan anak-anaknya yang telah hilang beberapa tahun yang lalu.
Kemudian ki Maung bertanya pada Pangeran Jatiwijaya akan rasa penasarannya selama ini padanya? Sebenarnya ada tujuan apa seorang pangeran suryaloka atau biasa dipanggil Pangeran Jatiwijaya, pergi mengembara beserta para kesatria kesatria tersebut.
Lalu Pangeran Jatiwijaya menceritakan semua hal tentang perjalanan mereka selama ini.
Setelah ki Maung mengetahui cerita tersebut dari Pangeran Jatiwijaya, lalu hati seorang kesatrianya terketuk, dia beserta muridnya yaitu Harun ingin bergabung dan ikut serta dalam misi mengemban tugas dari Nyi Roro Kidul, untuk menyatukan para pendekar aliran putih guna untuk memerangi kekuatan aliran hitam suatu saat nanti yang akan menghancurkan tanah Jawa ini.
Alangkah senangnya Pangeran Jatiwijaya mendengar keputusan ki Maung yang memutuskan akan bergabung dengannya.
Beberapa saat kemuadian para kesatria kesatria tersebut segera menuju ke penginapan untuk melihat keadaan pendekar Marlan yang sedang dalam perawatan.
Ternyata Marlan yaitu adik dari Ruslan, sudah membaik kondisinya.
__ADS_1
Marlan juga akan ikut bergabung dengan para kesatria kesatria tersebut guna menjalankan misi kebaikan. Marlan mengetahui tentang cerita misi tersebut juga dari Pangeran Jatiwijaya.
Dan sebenarnya Marlan adalah orang yang baik, tapi dirinya sudah terikat balas Budi pada pak Ujang waktu itu, tapi setelah kematian pak Ujang, kini Marlan sudah terbebas dari belenggu balas Budi tersebut, dan dia berhak memutuskan jalan hidupnya saat ini untuk bergabung dengan Pangeran Jatiwijaya.
"Baiklah, sekarang kita pergi ke suryaloka dulu untuk mengantarkan ki Maung mancari keberadaan anak-anaknya", kata Pangeran Jatiwijaya.
"Ampuan Pangeran Jatiwijaya, bagaimana dengan perjalanan misi Pangeran saat ini jika Pangeran mengantarkan Hamba ke suryaloka", kata ki Maung.
"Tenang saja ki Maung, ini juga termasuk sebagaian perjalanan dari misi tersebut", jawab Pangeran Jatiwijaya.
Mendengar jawaban tersebut, ki Maung sangat berterimakasih pada kebaikan Pangeran Jatiwijaya, dan dia berjanji akan Setia mengabdi padanya sampai ajal menjemput.
Kemudian berangkatlah para kesatria kesatria tersebut ke suryaloka.
Sekarang dengan bertambahnya anggota baru yaitu ki Maung, Harun dan juga Marlan, bertambah kuatlah kubu Pangeran Jatiwijaya.
Kini jumlah mereka bertambah menjadi sepuluh kesatria kesatria hebat yang akan mengemban misi tersebut yaitu Pangeran Jatiwijaya, Jatmiko, Kedasih, kedua senopati Balawarman dan Balamarwan, Sanjaya, Mandala, ki Maung, Harun dan juga Marlan.
Dengan bergabungnya ketiga pendekar tersebut membuat Pangeran Jatiwijaya berlega hati karena dirinya merasa bisa menggantikan peran Pangeran Gunawijaya untuk sementara waktu.
Kemudian sambil menunggu kehadiran Pangeran Gunawijaya kembali dari kahyangan, kini Pangeran Jatiwijaya beserta para kesatria kesatria tersebut meneruskan perjalanan misi itu dengan penuh semangat dalam diri.
Kini pendekar Marlan sangat bahagia sekali karena dia sudah bisa menemukan kehidupan yang dia idamkan selama ini.
Marlan juga mendapat bimbingan dari Pangeran Jatiwijaya untuk menyempurnakan jurusnya yaitu jurus pukulan naga api nya.
Marlan yang masih muda harus banyak mendapatkan bimbingan dari Pangeran Jatiwijaya, karena pendekar sehebat Marlan sayang sekali jika sampai salah jalan kembali seperti hal nya saat Marlan mengabdikan diri pada pak Ujang yang sangat biadab tersebut.
__ADS_1
Pangeran Jatiwijaya juga sangat antusias ingin menjadikan Marlan sebagai pendekar hebat yang berjalan dijalan yang benar. Ia berjanji pada Marlan akan selalu membimbingnya pada kebenaran dan kebaikan.